Kenang Romo Benny Susetyo, Tokoh Lintas Agama Serukan Penguatan Toleransi dan Demokrasi
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 11
- print Cetak

Mahfud MD menyampaikan refleksi mengenai kondisi demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia dalam sesi Memorial Lecture mengenang mendiang Romo Benny Susetyo di Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta, Minggu (18/10/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NULONDALO.COM, YOGYAKARTA – Sekitar 200 peserta dari beragam latar belakang agama dan suku berkumpul di Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta, Minggu (18/10/2026), untuk mengenang keteladanan mendiang Romo Benny Susetyo dalam merawat kebhinekaan, kemanusiaan, dan persatuan bangsa.
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, Direktur Jaringan GUSDURian Alissa Wahid, serta perwakilan keluarga Romo Benny, Andreas Eddy Susetyo.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza. Pertemuan ini menjadi ruang refleksi untuk meneruskan perjuangan Romo Benny dalam memperkuat toleransi dan menjaga persatuan di tengah dinamika politik nasional.
Kiai M. Iqbal Ahnaf selaku tuan rumah menyampaikan kebanggaannya dapat memfasilitasi pertemuan para penggerak toleransi. Menurutnya, Pondok Pesantren Bumi Cendekia secara konsisten mendidik santri agar terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat pinggiran dan komunitas lintas iman.
Praktik tersebut menjadi bagian dari upaya meneladani keterbukaan dan penghormatan terhadap keberagaman yang diajarkan oleh Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Kiai Imam Aziz, dan Romo Benny.
Alissa Wahid Kenang Persahabatan Romo Benny dan Gus Dur
Direktur Jaringan GUSDURian, Alissa Wahid, menyoroti persahabatan erat antara Romo Benny dan Gus Dur. Keduanya memiliki rekam jejak panjang dalam membela kelompok rentan dan memperjuangkan kemanusiaan di Indonesia.
Alissa mengenang pertemuan awal keduanya ketika sejumlah tokoh agama menghadapi situasi sulit pada masa Orde Baru, termasuk kasus pembunuhan berantai di Jember dan Banyuwangi yang diikuti tuduhan terhadap sejumlah kiai terkait praktik santet.
“Sejarah perjalanan beliau dengan Gus Dur itu cukup panjang, dimulai dari ketika ada kasus pembunuhan berantai di Jember, Banyuwangi waktu itu,” tutur Alissa.
Kedekatan mereka, lanjut Alissa, tetap terjaga hingga menjelang wafatnya Gus Dur. Ia mengungkapkan bahwa ayahnya sempat menghubungi Romo Benny untuk menyampaikan ucapan Natal sekitar satu pekan sebelum meninggal dunia.
“Romo Benny itu salah satu yang ditelepon oleh Gus Dur satu minggu sebelum Gus Dur wafat. Rupanya Gus Dur itu telepon Romo Benny mengucapkan selamat Natal,” kenangnya.
Bagi Alissa, kisah tersebut menunjukkan hubungan persahabatan lintas iman yang dibangun melalui penghormatan, ketulusan, dan kepedulian terhadap sesama.
Keluarga Dorong Generasi Muda Teruskan Perjuangan
Mewakili keluarga, Andreas Eddy Susetyo menjelaskan alasan Yogyakarta dipilih sebagai lokasi peringatan. Kota tersebut memiliki arti penting dalam perjalanan intelektual dan aktivisme Romo Benny, terutama melalui interaksinya dengan Romo Mangunwijaya.
Menurut Andreas, Romo Mangunwijaya turut membimbing Romo Benny dalam mengembangkan kemampuan menulis.
“Menjelang ditahbiskan dan pada saat penahbisan, Romo Benny itu sering kali ke Yogyakarta. Rupanya dia berinteraksi dengan Romo Mangunwijaya. Romo Mangun yang mengajari beliau menulis,” ungkapnya.
Andreas juga menegaskan pentingnya melibatkan generasi muda agar perjuangan menjaga toleransi dan kemanusiaan terus berlanjut.
“Kita harus mulai gerakan dari yang muda-muda ini,” tambahnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberlanjutan gerakan kebhinekaan membutuhkan partisipasi generasi muda, baik melalui pendidikan, kegiatan sosial, maupun keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat.
Mahfud MD Soroti Ancaman bagi Demokrasi
Dalam sesi Memorial Lecture, Mahfud MD memaparkan perjalanan Indonesia sejak kemerdekaan sekaligus mengingatkan tantangan demokrasi dan penegakan hukum yang dihadapi saat ini.
Mahfud menilai ikatan kebangsaan telah berkembang melalui perjuangan panjang berbagai tokoh bangsa. Namun, ia memperingatkan adanya kecenderungan pergeseran demokrasi substantif menuju demokrasi yang hanya menitikberatkan kemenangan elektoral.
“Demokrasi kita itu bergeser dari demokrasi yang substantif menjadi elektoral otokrasi. Orang mengambil keputusan-keputusan secara sepihak karena merasa menang,” ujar Mahfud.
Ia juga menyoroti praktik yang disebutnya sebagai otokratik legalisme, yakni penggunaan hukum untuk membenarkan kehendak sepihak penguasa.
“Pasangan elektoral otokrasi itu adalah otokratik legalisme. Hukum dijadikan alat untuk membenarkan kehendak yang sepihak meskipun salah. Hukum yang ada, jika tidak sesuai selera, diubah saja,” tegasnya.
Mahfud mengajak masyarakat dan seluruh elemen bangsa untuk terus menyuarakan kebenaran, menjaga optimisme, serta mengawal demokrasi dan penegakan hukum. Menurutnya, cita-cita Indonesia menuju 2045 perlu disertai upaya mewujudkan kemajuan yang adil.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyampaian testimoni secara langsung oleh Ajar Budi Kuncoro, MY Esti Wijayati, dan Ravik Karsidi. Panitia juga menayangkan video testimoni dari Megawati Soekarnoputri, GKR Hemas, Siti Ruhaini Dzuhayatin, dan Garin Nugroho.
Berbagai kesaksian tersebut menjadi bagian dari upaya merawat ingatan kolektif tentang kiprah Romo Benny dalam memperjuangkan toleransi, kemanus
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar