Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Gus Yahya dan Ikhtiar Menguatkan Khidmah Keagamaan NU

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
  • visibility 60
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NULONDALO.COM – Satu periode membersamai KH Yahya Cholil Staquf dalam kepengurusan PBNU 2022–2026 memberikan banyak pengalaman dan pelajaran bagi saya. Tentu setiap masa kepemimpinan memiliki dinamika, tantangan, kekurangan, sekaligus capaian yang kelak akan dinilai secara lebih jernih oleh sejarah. Namun, ada satu hal yang sejak awal saya tangkap dari Gus Yahya: kesadarannya bahwa Nahdlatul Ulama pertama-tama adalah jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah—organisasi keagamaan dan kemasyarakatan—dan kata diniyyah berada di depan.

Saya masih ingat ketika Gus Yahya meminta saya ikut membantu beliau sebagai Wakil Ketua Umum PBNU. Dalam percakapan itu, beliau menekankan bahwa NU adalah jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah. Karena itu, menurut beliau, bidang keagamaan harus memperoleh perhatian yang sungguh-sungguh dan menjadi salah satu poros utama kerja PBNU.

Kepercayaan tersebut tentu merupakan amanah yang berat. Saya kemudian banyak berkoordinasi dan bekerja bersama orang-orang yang memiliki perhatian besar terhadap khazanah keislaman, fikih, dan pemikiran keagamaan NU. Di antaranya Gus Ulil Abshar Abdalla, Kiai Tajul mafakhir, Gus Fahrur Rozi, Gus Aab, Kiai Mahbub, Gus Silahuddin, Kiai Khodri, Gus Aniq, dan banyak kiai, akademisi, serta kader NU lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu.

Dari kerja bersama itulah lahir dan berkembang berbagai ikhtiar di bidang keagamaan. Ada Halaqah Fikih Peradaban, penguatan metodologi istinbath hukum, seminar-seminar keagamaan, penataan berbagai Peraturan Perkumpulan NU (Perkum), serta sejumlah agenda lain untuk memperkuat tradisi intelektual dan kelembagaan NU. Bersamaan dengan itu, melalui Digdaya Persuratan, tata kelola administrasi organisasi juga mulai diarahkan menjadi lebih tertib dan terdigitalisasi.

Perhatian kepengurusan periode ini terhadap turats dan khazanah keislaman Nusantara juga merupakan hal yang patut dicatat. Bersama Kiai Tajul dan kawan-kawan, saya berkesempatan terlibat dalam sejumlah kerja untuk menggali, menghimpun, dan menghadirkan kembali warisan intelektual para ulama. Di antaranya penyusunan Majmū‘ Mu’allafāt Ulama Indonesia, yang menghimpun karya-karya ulama Nusantara, serta penyusunan kitab Tsaquf al-Akhyar menjelang Seminar Internasional Fikih Peradaban.

Bagi saya, ikhtiar semacam ini penting karena NU tidak boleh tercerabut dari akar keilmuannya. Membicarakan masa depan NU dan peradaban dunia harus berjalan beriringan dengan merawat sanad keilmuan, membaca kembali turats, dan mengenalkan karya para ulama Nusantara kepada generasi berikutnya. Berpikir tentang masa depan tidak berarti meninggalkan khazanah masa lalu. justru dari akar keilmuan yang kuat itulah NU dapat memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan baru.

Program-program tersebut tentu bukan karya satu atau dua orang. Semuanya merupakan hasil kerja kolektif banyak kiai, pengurus, lembaga, dan kader NU. Namun, saya kira patut dicatat bahwa Gus Yahya memberikan ruang dan dukungan organisatoris agar berbagai ikhtiar tersebut dapat berjalan dan berkembang.

Saya juga menyaksikan sendiri bagaimana Gus Yahya menempatkan bidang keagamaan dalam struktur kepengurusan. Ketika pernah muncul usulan agar Wakil Ketua Umum yang membidangi sektor lain ditempatkan secara urutan di atas Wakil Ketua Umum bidang keagamaan, Gus Yahya tetap meminta agar Wakil Ketua Umum yang membidangi keagamaan ditempatkan pada urutan pertama dan langsung setelah Ketua Umum.

Bagi sebagian orang, urutan seperti itu mungkin terlihat sebagai persoalan administratif yang sederhana. Tetapi bagi saya, keputusan tersebut menggambarkan cara pandangnya tentang identitas dasar NU: sebesar apa pun NU berkembang dalam bidang sosial, ekonomi, politik kebangsaan, pendidikan, teknologi, dan berbagai bidang lainnya, ruh utamanya tetaplah khidmah keagamaan.

Tentu kepemimpinan Gus Yahya selama satu periode tidak berlangsung tanpa perdebatan. Ada keputusan yang mendapatkan dukungan, ada pula yang mengundang kritik. Itu merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi sebesar NU. Saya sendiri tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam setiap persoalan. Tetapi perbedaan pandangan tidak semestinya membuat kita kehilangan kemampuan untuk mengakui hal-hal baik yang telah dikerjakan.

Beberapa warisan periode ini menurut saya layak dijaga dan dikembangkan: Digdaya, Halaqah Fikih Peradaban, perhatian terhadap turats dan karya ulama Nusantara, penguatan sistem dan Perkum NU, serta pengembangan metodologi istinbath melalui berbagai seminar dan forum keilmuan. Yang sudah baik perlu diteruskan, yang masih kurang perlu disempurnakan, dan yang belum selesai perlu dituntaskan.

Secara pribadi, saya juga menyadari bahwa berbagai kepercayaan yang kemudian saya terima dari banyak kiai, pengurus, dan warga NU selama beberapa tahun terakhir tidak dapat dilepaskan dari keputusan Gus Yahya yang memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi Wakil Ketua Umum PBNU. Amanah itu memperluas ruang khidmah saya sekaligus mempertemukan saya dengan begitu banyak kiai, kader, dan jaringan NU di berbagai daerah.

Karena itu, untuk kepercayaan dan kesempatan berkhidmah tersebut, saya menyampaikan terima kasih kepada Gus Yahya. Kepercayaan seseorang sering kali membuka jalan bagi tumbuhnya kepercayaan dari banyak orang lainnya. Dalam perjalanan khidmah saya selama satu periode ini, saya tidak melupakan bahwa salah satu pintu itu dibukakan oleh Gus Yahya.

Pada akhirnya, jabatan dalam NU datang dan pergi, sedangkan khidmah kepada jam’iyyah harus terus berjalan. Setiap kepemimpinan menerima warisan dari pendahulunya, kemudian mempunyai kewajiban untuk merawat yang baik, memperbaiki yang kurang, dan menghadirkan pembaruan sesuai kebutuhan zamannya.

Karena itu, kepada Gus Kikin, Ketua Umum PBNU yang mendapat amanah untuk periode berikutnya, saya menaruh harapan besar. Semoga beliau dapat meneruskan hal-hal baik yang telah dibangun pada masa Gus Yahya, sekaligus menyempurnakan apa yang masih memerlukan perbaikan. Terutama, saya berharap khidmah keagamaan tetap ditempatkan sebagai ruh utama PBNU, tradisi keilmuan dan turats para ulama terus diperkuat, serta seluruh potensi besar yang dimiliki NU dapat dirangkul untuk bekerja bersama.

Setiap zaman mempunyai tantangannya dan setiap pemimpin mempunyai caranya. Yang tidak boleh berubah adalah tujuan kita: menjaga agama, merawat jam’iyyah, dan menghadirkan kemaslahatan sebesar-besarnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

 

Penulis KH Zulfa Mustofa

Waketum PBNU masa khidmat 2022- 2026

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Bias Oversimplifikasi Bekerja

    Ketika Bias Oversimplifikasi Bekerja

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 339
    • 0Komentar

    (Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Pernyataan Gus Ulil bahwa “menolak zero mining adalah goblok” secara teknis memang benar. Zero mining itu mustahil. Peradaban modern tidak berdiri tanpa mineral—ponsel, kendaraan listrik, panel surya, hingga kabel listrik di rumah kita semuanya lahir dari aktivitas tambang. Tidak ada yang membantah itu. […]

  • Israel Serang Jembatan Strategis di Lebanon, Dikhawatirkan Jadi Awal Invasi Darat

    Israel Serang Jembatan Strategis di Lebanon, Dikhawatirkan Jadi Awal Invasi Darat

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 306
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pasukan Israel menyerang Jembatan Qasmiyeh pada Minggu, sebuah jalur vital yang menghubungkan wilayah selatan Lebanon dengan bagian lain negara itu, dalam eskalasi terbaru konflik di perbatasan kedua negara. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyebut serangan tersebut sebagai “pendahuluan invasi darat,” sekaligus memperingatkan bahwa langkah itu bertujuan memutus konektivitas geografis wilayah selatan. “Ini adalah upaya […]

  • Wali Kota Geram! Anak SMP Terseret Kasus Pelecehan, Pengawasan Diminta Diperketat

    Wali Kota Geram! Anak SMP Terseret Kasus Pelecehan, Pengawasan Diminta Diperketat

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 244
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wali Kota Kota Gorontalo, Adhan Dambea, kembali mengingatkan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk meningkatkan pengawasan penggunaan handphone di kalangan anak-anak. Peringatan ini disampaikan menyusul maraknya kasus pelecehan yang terjadi di Kota Gorontalo, yang bahkan diduga melibatkan pelaku dari kalangan pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Belum lama ini ada kasus pelecehan yang terduga pelakunya […]

  • Ancaman Infiltrasi Ideologi Terlarang dan Pemberhentian Kepala Daerah

    Ancaman Infiltrasi Ideologi Terlarang dan Pemberhentian Kepala Daerah

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Muhammad Makmun Rasyid
    • visibility 229
    • 0Komentar

    Posisi kepala daerah di Indonesia tidak dapat dipahami semata sebagai jabatan administratif. Dalam kerangka negara hukum yang berlandaskan Pancasila, kepala daerah adalah aktor konstitusional yang memikul mandat ganda: menjalankan roda pemerintahan daerah serta menjaga integritas ideologi negara. Loyalitas terhadap konstitusi tidak cukup ditunjukkan melalui sumpah jabatan; ia harus diwujudkan dalam kebijakan, tindakan, dan sikap selektif […]

  • Gelar Konsolidasi, Gus Yayan Optimis Kader PKB Gorontalo Duduki Posisi Strategis 2029

    Gelar Konsolidasi, Gus Yayan Optimis Kader PKB Gorontalo Duduki Posisi Strategis 2029

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo, menggelar sosialisasi hasil Muktamar PKB Tahun 2024 serta Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Simpel dan SMS PKB di Hotel Grand Q, Kota Gorontalo, 15/02/25. Dalam sambutannya, Ketua DPW PKB Gorontalo Muhammad Dzikyan menegaskan, bahwa PKB terus bergerak maju untuk menjadikan partai ini sebagai kekuatan politik modern, […]

  • PWNU Gorontalo Gelar Lomba Da’i Cilik pada Pekan Ekonomi Syariah 2025

    PWNU Gorontalo Gelar Lomba Da’i Cilik pada Pekan Ekonomi Syariah 2025

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Dalam rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo akan menggelar Lomba Da’i Cilik, sebuah ajang yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat dakwah dan pemahaman nilai-nilai ekonomi syariah sejak usia dini. Kegiatan ini akan berlangsung pada 28–30 Oktober 2025 di pelataran Kantor PWNU Gorontalo, Jalan Samratulangi No. 346, Kelurahan Limba U […]

expand_less