Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Festival JAGAT 2026: Belajar Ekologi Lewat Permainan, dari Pesantren untuk Bumi

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
  • visibility 64
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NULONDALO.COM, JOMBANG — Krisis ekologi di Indonesia semakin menuntut hadirnya kesadaran lingkungan yang tidak hanya berhenti pada kampanye dan slogan. Pendidikan ekologis perlu dikemas dengan pendekatan yang dekat, praktis, dan menyenangkan, terutama ketika menyasar anak-anak, remaja, santri, hingga masyarakat luas.

Semangat itulah yang dibawa dalam rangkaian Festival JAGAT (Jejaring Agama untuk Gerakan Alam dan Toleransi) yang digagas jaringan GUSDURian bersama berbagai lembaga keagamaan dan komunitas edukatif lintas daerah.

Salah satu rangkaian kegiatan Festival JAGAT adalah Fun Games & Kelas Belajar (Ekologi) JAGAT yang digelar pada 29–30 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur.

Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar ekologi yang partisipatif, ramah anak, dan tidak monoton. Isu lingkungan yang selama ini kerap disampaikan melalui pendekatan konvensional diterjemahkan ke dalam permainan, praktik, eksperimen, serta aktivitas kreatif yang memungkinkan peserta belajar sambil bermain.

Belajar Ekologi dengan Cara yang Menyenangkan

Fun Games & Kelas Belajar Ekologi JAGAT lahir dari kesadaran bahwa pendidikan lingkungan perlu ditanamkan sejak dini. Karena itu, kegiatan tidak sekadar memberikan pengetahuan mengenai lingkungan, tetapi juga mengajak peserta mengalami langsung proses belajar melalui permainan dan praktik.

Ratusan santri Pondok Pesantren Seblak dan murid sekolah menjadi sasaran utama kegiatan. Namun, cakupannya tidak berhenti pada anak-anak.

Pengurus pesantren, pengelola rumah ibadah lintas iman, guru, pengurus OSIS, hingga masyarakat umum juga dilibatkan agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan kembali di lingkungan masing-masing.

Beragam permainan edukatif disiapkan dalam Fun Games Ekologi. Di antaranya Ular Tangga, Puzzle Mangrove, Tebak Kata Mangrove, dan Engklek yang difasilitasi Komunitas GUSDURian Subang.

Ada pula Ruang Bercerita yang menghadirkan permainan Dakon, Puzzle, dan Flash Card dari Komunitas GUSDURian Semarang.

Sementara Quartet Card Pemilahan Sampah difasilitasi Komunitas GUSDURian Makassar. Peserta juga diajak mengenal Kartu 9 Nilai Utama Gus Dur melalui Komunitas GUSDURian Mojokerto.

Permainan tradisional turut dihadirkan melalui kolaborasi Kampung Sinau dan Kampung Lali Gadget.

Dari Sampah hingga Komposter dan Magot

Jika Fun Games menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran, Kelas Belajar Ekologi menjadi ruang untuk memperdalam pengetahuan sekaligus keterampilan praktis.

Kelas yang digelar pada 30 Agustus 2026 menghadirkan sejumlah materi yang dekat dengan persoalan lingkungan sehari-hari.

Materi tata kelola sampah pesantren akan disampaikan KH. M. Sholahuddin, Pengasuh Pesantren An-Nuqoyyah Sumenep.

Peserta juga dapat belajar pembuatan pupuk cair bersama Komunitas GUSDURian Lombok Tengah, pembuatan lilin aromaterapi bersama Komunitas GUSDURian Majalengka, serta komposter dan biopori bersama GUSDURian Yogyakarta.

Sementara itu, materi pengolahan sampah rumah tangga akan dibawakan Hendrikus Hari Wantoro dari Tim Pelayanan Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Pringgolayan (GSPP), Bantul, Yogyakarta.

Ada pula kelas pengolahan sampah dengan magot bersama GUSDURian Lombok Tengah, eksperimen kopi bersama Komunitas GUSDURian Tasikmalaya, serta manajemen bank sampah komunitas bersama Komunitas GUSDURian Mojokerto.

Rangkaian materi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan ekologi tidak berhenti pada pengetahuan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Peserta didorong memiliki keterampilan yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tiga Tujuan, Tiga Output

Festival JAGAT melalui kegiatan ini membawa tiga tujuan utama.

Pertama, memberikan pendidikan praktis mengenai tata cara pengelolaan dan pengolahan sampah yang tepat guna serta ramah lingkungan.

Kedua, memperkenalkan wawasan mengenai lingkungan hidup dan ekologi, sehingga peserta memiliki kepekaan terhadap kondisi alam dan ekosistem di sekitarnya.

Ketiga, menciptakan proses belajar yang interaktif, partisipatif, dan menyenangkan melalui permainan serta media edukatif.

Dari rangkaian tersebut, terdapat tiga output yang diharapkan lahir.

Masyarakat dan warga pesantren diharapkan memiliki keterampilan untuk mengelola serta mengolah sampah secara mandiri. Mereka juga diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai ekologi.

Lebih dari itu, kegiatan ini ingin meninggalkan pengalaman belajar yang positif dan membekas—bahwa belajar tentang lingkungan tidak harus selalu berlangsung serius, kaku, dan membosankan.

Agama, Komunitas, dan Gerakan Merawat Bumi

Festival JAGAT menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam isu ekologis. Agama, komunitas, lembaga pendidikan, pesantren, dan masyarakat didorong untuk melihat lingkungan sebagai persoalan bersama.

Dengan berpusat di Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, serta melibatkan Pesantren Tebuireng Jombang, Festival JAGAT 2026 diharapkan menjadi ruang perjumpaan sekaligus ruang belajar lintas komunitas.

Kegiatan ini digelar pada Sabtu–Minggu, 29–30 Agustus 2026.

Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam Festival JAGAT 2026, pendaftaran dapat dilakukan melalui: s.id/festivaljagat

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Nataru 2025, PJ Kades Majannang Imbau Warga Patuhi Edaran Bupati Maros

    Jelang Nataru 2025, PJ Kades Majannang Imbau Warga Patuhi Edaran Bupati Maros

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, kesiapsiagaan dan pengamanan oleh berbagai instansi serta institusi terus ditingkatkan guna menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat. Langkah ini sejalan dengan Surat Edaran Bupati Maros terkait pengamanan dan ketertiban selama momentum Nataru. Menindaklanjuti surat edaran tersebut, Penjabat (PJ) Kepala Desa Majannang, Syamsir, secara tegas mengimbau […]

  • Kronologi Pembunuhan Pensiunan JICT Ermanto Usman di Bekasi, Pelaku Sudah Ditangkap Polisi

    Kronologi Pembunuhan Pensiunan JICT Ermanto Usman di Bekasi, Pelaku Sudah Ditangkap Polisi

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 306
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kasus pembunuhan terhadap Ermanto Usman (65) di kawasan Jatibening, Kota Bekasi, mulai menemukan titik terang. Tim Jatanras dari Polda Metro Jaya telah menangkap pelaku pembunuhan yang menewaskan pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal tersebut. Meski demikian, pihak kepolisian hingga kini masih menutup identitas serta jumlah pelaku yang terlibat dalam kasus tersebut. Ditemukan Tewas […]

  • Pemkot Gorontalo Musnahkan 19.754 Miras di Lapangan Padebuolo

    Pemkot Gorontalo Musnahkan 19.754 Miras di Lapangan Padebuolo

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 285
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pemerintah Kota Gorontalo memusnahkan sebanyak 19.754 minuman keras (miras) berbagai jenis, Senin (29/12/2025). Pemusnahan dilakukan di Lapangan Padebuolo, Kecamatan Kota Timur. Ribuan miras tersebut merupakan hasil penegakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2017 tentang pengendalian dan pengawasan minuman beralkohol oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Gorontalo, serta hasil razia Polresta […]

  • Keutamaan Hari Asyura: Hari Besar Penuh Hikmah dan Pelajaran

    Keutamaan Hari Asyura: Hari Besar Penuh Hikmah dan Pelajaran

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Dalam kalender Hijriyah, bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan suci yang dimuliakan oleh Allah SWT. Di antara hari-hari di bulan ini, terdapat satu hari yang memiliki keutamaan luar biasa, yaitu Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Asyura bukan hanya sekadar penanda waktu, namun ia sarat dengan nilai sejarah, spiritualitas, dan pelajaran moral […]

  • Kolonialisme Digital

    Kolonialisme Digital

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Sonny Madjid
    • visibility 474
    • 0Komentar

    Setelah perang nilai tukar mata uang, bio farma-bio teknologi, narasi sistem global kini sudah masuk pada perang berbasis teknologi (cybernwar, big data, AI, dll). Pertanyaan besarnya adalah siapa yang menguasai teknologi, maka dia mengendalikan, apa kepentingannya, siapa yang diuntungkan? Kita semua tahu, penguasaan algoritma yang menyangkut infrastruktur data global, platform digital dikuasai segelintir korporasi dan […]

  • Membayangkan BMR dan Hal-hal yang Belum Selesai

    Membayangkan BMR dan Hal-hal yang Belum Selesai

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Muhamad Ersad Mamonto
    • visibility 1.953
    • 0Komentar

    Tulisan yang berjudul “Dekonstruksi PBMR” oleh Tyo Mokoagow, kawan saya, beberapa hari lalu, terus terang menggoda saya untuk menulis. Sebenarnya saya berupaya untuk menghindari menanggapi isu ini, karena telah benar-benar menjadi semacam debat kusir yang tak berkesudahan. Namun tulisan seperti yang Tyo buat adalah sesuatu yang tidak bisa dilewati begitu saja.  Saya sepakat dengan konsepsi […]

expand_less