Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Gorontalo Menyalakan Api Revolusi Lebih Dini: Pendang Kalengkongan dan Sejarah yang Terlupakan

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
  • visibility 1.230
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sejarah, sebagaimana ia ditulis dan diwariskan, tak selalu adil pada semua tokoh yang turut membentuknya. Ada nama-nama yang diabadikan, dipatungkan, dan diajarkan dari generasi ke generasi. Namun ada pula yang perlahan menghilang—bukan karena perannya kecil, melainkan karena narasi tak selalu ramah pada mereka yang bekerja dalam diam.

Di Gorontalo, ada satu tanggal yang setiap tahun diperingati dengan khidmat: 23 Januari 1942. Sebuah tanggal monumental, ketika rakyat Gorontalo dengan berani menyatakan diri merdeka dari penjajahan Belanda—lebih dari tiga tahun sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945 dikumandangkan di Jakarta. Dalam ingatan kolektif, nama Nani Wartabone bergema sebagai tokoh utama peristiwa heroik itu. Ia memang sentral, orator ulung, penggerak massa, dan simbol perlawanan rakyat.

Di balik sorotan terhadap Nani Wartabone, ada nama-nama lain yang menopang peristiwa 23 Januari 1942 dengan risiko yang sama besar, keberanian yang setara, dan pengorbanan yang nyata. Salah satu nama itu adalah Pendang Kalengkongan—seorang tokoh yang nyaris tak disebut, tetapi justru memegang kunci keberhasilan revolusi Gorontalo.

Gorontalo dan Bara Revolusi yang Menyala Lebih Awal

Ketika Perang Dunia II mengguncang dunia, peta kekuasaan kolonial di Hindia Belanda mulai rapuh. Jepang merangsek masuk ke Asia Tenggara, sementara Belanda terdesak dan kehilangan kendali atas banyak wilayah. Di tengah kekacauan global itu, para pemuda dan tokoh pergerakan di Gorontalo membaca momentum dengan jernih.

Dipimpin oleh Abdul Kadir Wartabone—kelak dikenal sebagai Nani Wartabone—sebuah gerakan revolusioner disusun secara rapi dan senyap. Gerakan ini melibatkan banyak unsur: tokoh adat, pemuda, ulama, pegawai pemerintahan kolonial yang berpihak pada rakyat, serta tokoh-tokoh Kristen Minahasa yang bertugas di Gorontalo. Perjuangan ini bersifat lintas identitas, disatukan oleh satu tekad: mengakhiri penjajahan.

Komunikasi menjadi urat nadi gerakan. Tanpa kendali informasi, tanpa pemutusan jalur komando kolonial, deklarasi kemerdekaan lokal bisa berujung kegagalan. Di titik inilah, peran Pendang Kalengkongan menjadi tak tergantikan.

Pendang Kalengkongan: Operator Sunyi Revolusi

Pendang Kalengkongan adalah seorang Kristen taat asal Minahasa yang menjabat sebagai Kepala Kantor Pos dan Telegraf di Gorontalo pada masa kolonial. Ia juga sempat menjadi Kepala Pos Polisi Gorontalo. Dua jabatan ini menempatkannya di posisi yang sangat strategis—menguasai arus komunikasi dan informasi resmi pemerintahan Hindia Belanda.

Dalam banyak catatan lisan dan ingatan kolektif para pelaku sejarah lokal, Kalengkongan disebut sebagai tokoh yang memutus jalur komunikasi antara Pemerintah Hindia Belanda di Gorontalo dengan pusat kekuasaan kolonial di luar Sulawesi. Tindakan ini bukan sekadar administratif. Ia adalah langkah revolusioner yang berisiko tinggi. Kesalahan sekecil apa pun bisa berujung penangkapan, penyiksaan, bahkan hukuman mati. Namun Kalengkongan memilih berpihak pada rakyat.

Pada 23 Januari 1942, ia menjadi salah satu tokoh yang mengibarkan bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di halaman Kantor Pos dan Telegraf Gorontalo. Pengibaran itu bukan seremoni kosong. Ia adalah deklarasi terbuka bahwa kekuasaan kolonial telah runtuh. Tak lama setelahnya, pasukan rakyat Gorontalo menangkap pimpinan pemerintahan Belanda di kantor pusat pemerintahan—kini dikenal sebagai rumah dinas gubernur.

Tanpa penguasaan komunikasi, tanpa pengendalian informasi, peristiwa itu hampir mustahil terjadi. Kalengkongan bukan hanya saksi sejarah. Ia adalah pelaku inti sejarah.

Tidak Masuk Komite, Terhapus dari Narasi

Ironisnya, dalam struktur resmi perjuangan, Pendang Kalengkongan tidak tercatat sebagai anggota Komite 12—komite perjuangan yang dipimpin oleh Kusno Danupoyo sebagai ketua dan Nani Wartabone sebagai wakil ketua. Hingga kini, tak ada penjelasan tunggal mengapa namanya absen.

Sebagian peneliti menduga faktor perbedaan latar agama dan dinamika politik internal menjadi sebab mengapa Kalengkongan perlahan disisihkan dari narasi resmi. Namun apapun alasannya, fakta di lapangan menunjukkan bahwa ia berada di lingkaran terdalam perjuangan.

Sejarah mungkin tidak mencatatnya dalam struktur, tetapi penjajah mencatatnya sebagai ancaman.

Setelah Belanda tumbang dan Jepang masuk, Pendang Kalengkongan justru ditangkap dan dibuang ke Pulau Morotai di Kepulauan Maluku. Pembuangan ini menjadi bukti paling kuat bahwa perannya nyata dan berbahaya bagi penguasa kolonial baru. Penjajah tak pernah membuang orang yang tidak berpengaruh.

Sejumlah sejarawan dan aktivis sejarah lokal kemudian mengusulkan istilah “Tri Tunggal Kemerdekaan Gorontalo”, yang terdiri dari:

  • Nani Wartabone, penggerak massa dan simbol perlawanan,

  • Kusno Danupoyo, arsitek strategi perjuangan,

  • Pendang Kalengkongan, operator kunci komunikasi dan pengibar pertama Merah Putih.

Namun dalam ingatan publik, hanya dua nama yang hidup. Kalengkongan tetap berada di pinggir sejarah. Tak ada monumen besar, tak ada buku pelajaran khusus, hanya sepotong nama jalan dan fragmen cerita lisan yang nyaris pudar. Padahal, tanpa perannya, deklarasi 23 Januari 1942 bisa gagal total.

Pendang Kalengkongan bukan satu-satunya tokoh Kristen yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Gorontalo. Ada pula nama-nama seperti J. Poluan, J.J.F. Paat, J.A. Lasut, Th. Tumewu, A. Kondowangko, dan A. Tombeng—tokoh-tokoh Kristen Minahasa yang memegang posisi strategis dan berpihak pada rakyat Gorontalo.

Kehadiran mereka menegaskan satu hal penting: kemerdekaan Indonesia dibangun lintas iman dan lintas suku. Gorontalo sejak awal adalah ruang perjumpaan antara Islam dan Kristen, antara penduduk lokal dan pendatang, yang disatukan oleh semangat anti-kolonialisme.

Meluruskan Sejarah, Merawat Keadilan Ingatan

Sejarah sering dikatakan ditulis oleh para pemenang. Namun di era keterbukaan informasi hari ini, kita memiliki kewajiban moral untuk meninjau ulang narasi-narasi yang timpang. Mengangkat kembali nama Pendang Kalengkongan bukanlah upaya menafikan peran tokoh lain, melainkan melengkapi sejarah agar lebih adil dan utuh.

Gorontalo telah menyalakan api revolusi lebih dini. Api itu tidak mungkin menyala tanpa banyak tangan yang bekerja dalam senyap. Pendang Kalengkongan adalah simbol dari nasionalisme yang melampaui sekat identitas, dan bukti bahwa keberanian sejati tak selalu berdiri di panggung utama.

Kini, setiap 23 Januari, saat Hari Patriotik Gorontalo diperingati, sudah sepatutnya kita menyebut kembali satu nama yang lama dilupakan—Pendang Kalengkongan, sang pengibar Merah Putih, sang penggerak sunyi dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tempat Kemarin, Kedai Baru Favorit Mahasiswa dan Aktivis di Pusat Kota Gorontalo Play Button photo_camera 4

    Tempat Kemarin, Kedai Baru Favorit Mahasiswa dan Aktivis di Pusat Kota Gorontalo

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 382
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah kedai kopi baru bernama Tempat Kemarin perlahan menjelma menjadi ruang favorit anak muda lintas generasi di Kota Gorontalo. Mulai dari mahasiswa, aktivis, hingga warga umum, kedai ini ramai dikunjungi terutama pada sore hingga malam hari. Terletak di Jalan Samratulangi, Kelurahan Limba U-1, Kecamatan Kota Selatan, posisi kedai ini terbilang sangat strategis. Di […]

  • Kolaborasi SEMA-HABAR Koter Bersama Puskesmas Jailolo Adakan Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis

    Kolaborasi SEMA-HABAR Koter Bersama Puskesmas Jailolo Adakan Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 336
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maluku Utara – SEMA-HABAR Kota Ternate Bersama Puskesmas Jailolo dan Himpa Pabos Melakukan Pengecekan Dan Pengobatan Gratis Di Desa Payo dan Pateng Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat, Rabu 20 Mei 2026. Menurut Riwan Basir, Ketua Sentral Mahasiswa Halmahera Barat (SEMA-HABAR) Kota Ternate, Program Pengobatan Gratis yang di lakukan merupakan tanggung jawab pemerintah dalam Memberikan Kesehatan […]

  • Wujudkan Generasi Emas, Kemkomdigi Perkuat Komunikasi Publik dan Konten Positif

    Wujudkan Generasi Emas, Kemkomdigi Perkuat Komunikasi Publik dan Konten Positif

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus memperkuat kapasitas dan jejaring komunikasi publik pemerintah agar makin adaptif, profesional, dan kolaboratif di tengah derasnya transformasi digital. Upaya itu diwujudkan melalui tiga kegiatan strategis yang digelar serentak di Denpasar, Bali, Rabu (29/10/2025), yakni Indonesia.go.id (IGID) Menyapa, Forum Media Monitoring (FoMo), dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Standardisasi Konten Pemerintah. Ketiga […]

  • PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan

    PSAK: Pernyataan Standar Akhlak Keikhlasan

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 535
    • 0Komentar

    Di negeri yang segala sesuatunya ingin distandarkan, dari Standar Nasional Pendidikan sampai Standar Operasional Prosedur parkir motor di minimarket, kita mengenal PSAK sebagai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Biasanya tebal, serius, dan membuat mahasiswa akuntansi lebih cepat mengantuk daripada khutbah tarawih 23 rakaat plus witir tiga. Tapi Ramadhan ini, izinkan saya mengusulkan PSAK versi lain: Pernyataan […]

  • Rachmat Gobel Wujudkan Hilirisasi dan Ketahanan Pangan Nasional

    Rachmat Gobel Wujudkan Hilirisasi dan Ketahanan Pangan Nasional

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 233
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Gobel Group dalam usianya yang hampir 70 tahun meneguhkan pengabdiannya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk petani dan nelayan Indonesia. Perusahaan ini terus tumbuh kuat dan menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem ekonomi negara ini. Komitmen terhadap sektor pertanian ini telah menjadi bagian dari perjalanan perusahaan sejak generasi pendiri. Sejarah mencatat pada tahun […]

  • Inilah Kelompok Pemberi Sumbangan Inflasi Gorontalo

    Inilah Kelompok Pemberi Sumbangan Inflasi Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Perkembangan harga berbagai komoditas pada Juni 2025 di Provinsi Gorontalo secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Gorontalo terjadi inflasi y-on-y sebesar 0,80 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,87 pada Juni 2024 menjadi 107,72. Selain itu Provinsi Gorontalo mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,37 persen dan […]

expand_less