IGIC 2026: Faried F. Saenong Sebut Imam Masjid Harus Menjadi Diplomat Peradaban
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 24
- print Cetak

Ketua Panitia International Grand Imam Conference (IGIC) 2026, Faried F. Saenong, Ph.D., menyampaikan sambutan pada Seminar Nasional Bridging to International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 dan MTQ Imam Masjid Provinsi Banten 2026 di Masjid Raya Baitul Mukhtar, BSD City, Tangerang, Jumat (3/7). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan pentingnya peran imam masjid sebagai diplomat peradaban yang mampu menjawab tantangan global.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANGERANG, NULONDALO.COM – Ketua Panitia International Grand Imam Conference (IGIC) 2026, Faried F. Saenong, Ph.D., menegaskan bahwa imam masjid di era global tidak lagi cukup menjalankan fungsi sebagai pemimpin ritual keagamaan.
Menurutnya, imam juga harus tampil sebagai diplomat peradaban yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan berbagai tantangan kemanusiaan kontemporer.
Pernyataan tersebut disampaikan Faried saat membuka Seminar Nasional Bridging to International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 dan MTQ Imam Masjid Provinsi Banten 2026 di Masjid Raya Baitul Mukhtar, BSD City, Tangerang, Jumat (3/7).
Menurut Faried, seminar tersebut menjadi ruang strategis untuk membangun paradigma baru kepemimpinan imam masjid yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“IGIC 2026 ingin menghadirkan imam masjid sebagai pemimpin umat yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan tantangan kemanusiaan kontemporer. Imam harus menjadi penjaga moderasi, penggerak transformasi sosial, sekaligus diplomat peradaban yang membawa pesan Islam rahmatan lil ‘alamin kepada dunia,” ujarnya.
Ia menilai, peran imam saat ini semakin strategis di tengah berbagai tantangan global, mulai dari penyebaran ujaran kebencian, disinformasi, konflik sosial, hingga menguatnya paham ekstremisme. Karena itu, imam dituntut mampu menghadirkan dakwah yang menyejukkan, inklusif, dan membangun dialog.
Pandangan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, yang menekankan bahwa imam masjid memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat.
Menurutnya, imam harus menjadi agen perdamaian, penebar persatuan, serta garda terdepan dalam menangkal hoaks, ujaran kebencian, dan paham ekstremisme sehingga masjid menjadi pusat pembinaan umat sekaligus ruang dialog yang menyejukkan.
Dalam seminar tersebut, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof. Dr. Muhammad Ishom, M.A., memaparkan materi bertajuk “Reposisi Imam Masjid: Dari Pemimpin Ritual Menuju Diplomat Peradaban.”
Ia menegaskan bahwa imam perlu melampaui fungsi ritual menuju peran sebagai diplomat peradaban melalui penguatan soft diplomacy Islam wasatiyah.
“Imam masjid harus melampaui fungsi ritual menuju peran sebagai diplomat peradaban melalui penguatan soft diplomacy Islam wasatiyah, sehingga masjid menjadi pusat lahirnya dialog, kolaborasi, dan solusi bagi persoalan kemanusiaan global,” katanya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Provinsi Banten, Prof. Dr. Ahmad Tholabi, S.Ag., S.H., M.H., M.A., menekankan pentingnya penguatan kapasitas intelektual dan kepemimpinan imam agar mampu menghadirkan dakwah yang adaptif, inklusif, serta relevan dengan dinamika masyarakat modern.
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar