Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kemerdekaan Petani Dimulai dari Jalan Menuju Kebun

  • account_circle Apriyanto Rajak
  • calendar_month 47 menit yang lalu
  • visibility 44
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Menjelang 17 Agustus, suasana di Desa Tolondadu II dan Desa Sondana, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara, berubah. Sepanjang jalan desa, ratusan bendera Merah Putih dipasang berjejer. Bendera-bendera itu diikat pada tiang bambu kecil dan ditancapkan dengan jarak kurang lebih tiga meter.

Ratusan bendera tersebut sengaja ditancapkan tepat di tengah pembatas jalan raya, membentang rapi sepanjang jalan desa. Sementara itu, di halaman dan depan rumah-rumah warga, bendera Merah Putih juga tak ketinggalan berkibar. Pemandangan tersebut menjadi wujud nyata rasa nasionalisme dan cinta tanah air masyarakat dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026.

Pemandangan Merah Putih yang memenuhi jalan desa itu mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan sekadar sebuah peristiwa yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan adalah sesuatu yang seharusnya hadir dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh rakyat, termasuk mereka yang setiap hari bekerja di kebun dan ladang.

Di tengah semarak peringatan kemerdekaan tersebut, ada hal yang perlu kita renungkan, sejauh mana kemerdekaan telah dirasakan oleh seluruh rakyat, termasuk petani yang setiap hari bekerja di kebun dan ladang?

Bagi sebagian petani di pelosok desa, kemerdekaan bukan hanya tentang upacara dan pengibaran bendera. Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk bekerja dengan layak, memperoleh akses yang memadai, serta menikmati hasil kerja keras tanpa dibebani persoalan dasar yang seharusnya dapat diatasi melalui pembangunan. Salah satu persoalan tersebut adalah akses jalan menuju kebun.

Petani merupakan bagian penting dari kehidupan bangsa. Dari tangan merekalah berbagai bahan pangan dan komoditas dihasilkan. Setiap hari mereka bekerja di bawah terik matahari, menghadapi hujan, merawat tanaman, dan mempertaruhkan tenaga serta waktu demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memasok kebutuhan masyarakat.

Namun, kerja keras itu kerap berhadapan dengan kondisi infrastruktur yang belum memadai. Realitas tersebut dapat ditemukan di perkebunan Landaso, Desa Sondana, serta perkebunan Mopusi, Tolondadu, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

Di wilayah ini tidak semua petani mendapatkan akses jalan yang bagus. Hanya sebagian kecil yang kebunnya dapat dijangkau kendaraan. Sebagian besar lainnya masih harus melalui jalan rusak, berlumpur, dan berbatu. Kondisi semakin menyulitkan ketika musim hujan tiba. Kendaraan roda dua tidak selalu mampu mencapai lokasi, sementara kebutuhan untuk mengangkut pupuk, peralatan, maupun hasil pertanian tetap ada. Dalam keadaan tertentu, petani terpaksa berjalan kaki untuk mencapai kebun atau membawa hasil panen menuju titik yang dapat dijangkau kendaraan.

Sebagian besar petani di daerah ini menanam cengkeh, cokelat, cabai, jagung, pisang, dan berbagai komoditas lainnya. Komoditas-komoditas ini dirawat dari waktu ke waktu dan menjadi sumber pendapatan utama keluarga. Cengkeh dan cokelat membutuhkan penanganan pascapanen yang tepat waktu. Cabai mudah rusak jika terlambat dipasarkan. Jagung dan pisang menjadi pelengkap untuk kebutuhan dan pendapatan tambahan.

Persoalannya bukan semata-mata tentang sulitnya akses jalan tani. Kondisi jalan memiliki dampak langsung terhadap biaya dan pendapatan petani. Ketika kendaraan sulit masuk, biaya angkut meningkat. Waktu perjalanan bertambah dan tenaga yang seharusnya digunakan untuk mengelola kebun ikut terkuras. Hasil panen pun membutuhkan waktu lebih lama untuk dibawa keluar.

Bagi komoditas yang mudah mengalami penurunan kualitas, keterlambatan tersebut dapat berpengaruh terhadap harga jual. Pada akhirnya, infrastruktur jalan tani yang belum merata menjadi bagian dari cerita petani selama bertahun-tahun. Sesungguhnya, jalan menuju kebun merupakan bagian dari rantai ekonomi pertanian. Dari rumah, petani membutuhkan jalan untuk membawa bibit, pupuk, obat tanaman, dan peralatan produksi. Setelah panen, akses yang sama diperlukan untuk mengangkut hasil pertanian menuju tempat pengumpulan, pasar, atau pembeli.

Dengan demikian, jalan pertanian tidak dapat dipandang hanya sebagai akses fisik. Ia merupakan bagian dari sistem yang menentukan seberapa efisien kegiatan pertanian dapat berlangsung. Karena itu, memperbaiki jalan menuju kebun bukan sekadar memudahkan kendaraan melintas. Perbaikan akses dapat membantu menekan biaya angkutan, mempercepat distribusi hasil panen, memperluas akses pasar, serta memberi petani ruang yang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan.

Berdasarkan laporan Balai Riset dan Pengembangan Pertanian (BRMP) Sulawesi Utara pada 24 Oktober 2025, jalan usaha tani masih menjadi salah satu persoalan yang ditemukan dalam pelaksanaan pendampingan program strategis Kementerian Pertanian di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

Dalam kegiatan tersebut, BRMP Sulawesi Utara bersama Dinas Pertanian Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan mengidentifikasi sejumlah permasalahan infrastruktur pertanian di lapangan, antara lain kondisi jalan usaha tani, kerusakan bendungan dan saluran irigasi, serta keterbatasan alat dan mesin pertanian.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan akses dan infrastruktur pertanian masih menjadi tantangan dalam mendukung kegiatan usaha tani di Bolsel. Karena itu kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung seperti jalan usaha tani menjadi semakin penting. Peningkatan produksi pertanian perlu diikuti dengan peningkatan akses menuju lahan agar mobilitas petani, sarana produksi, dan hasil pertanian dapat berlangsung secara lebih efektif.

Padahal, di sisi yang lain, para petani juga tak abai menjalankan kewajibannya sebagai warga negara. Mereka turut berkontribusi melalui berbagai kewajiban yang ikut dipikul, antara lain pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan atas tanah atau kebun yang digarap. Dengan kata lain, meskipun belum semua mendapatkan akses jalan tani yang layak, kewajiban tetap dilaksanakan setiap tahun.

Momentum HUT ke-81 Republik Indonesia dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali persoalan tersebut. Pemerintah desa bersama pemerintah daerah perlu memetakan kondisi jalan pertanian, menentukan tingkat kebutuhannya, dan menyusun prioritas berdasarkan kewenangan, kemampuan anggaran, serta manfaat bagi masyarakat.

Sebab, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari panjang jalan yang dibangun atau banyaknya proyek yang dikerjakan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar pembangunan mampu mengurangi beban masyarakat dan membuka kesempatan ekonomi bagi mereka yang selama ini bekerja di wilayah yang sulit dijangkau.

Kemerdekaan seharusnya tidak berhenti di gapura desa, halaman kantor pemerintahan, atau tempat berlangsungnya upacara. Maknanya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Sebab petani adalah bagian dari kekuatan ekonomi desa dan salah satu penopang ketahanan pangan nasional.

Pada akhirnya, ketika ratusan Merah Putih berkibar di sepanjang jalan Desa Tolondadu II dan Desa Sondana, semangat kemerdekaan tidak hanya tampak dalam warna merah dan putih yang menghiasi desa. Semangat itu juga seharusnya menjadi pengingat bahwa pembangunan harus terus berjalan hingga ke wilayah-wilayah tempat masyarakat menggantungkan hidupnya.

Bagi petani, salah satu wujud kemerdekaan yang nyata ketika mereka dapat menuju kebun dengan aman dan mudah: mulai dari membawa pupuk, kebutuhan produksi lainnya, maupun mengangkut hasil panen dengan biaya dan waktu yang efisien. Karena itu, jalan menuju kebun bukan sekadar persoalan tanah, batu, lumpur, atau aspal. Di baliknya terdapat aktivitas ekonomi, penghidupan keluarga, keberlangsungan usaha tani, dan masa depan bangsa yang dipertaruhkan.

  • Penulis: Apriyanto Rajak
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kesalehan yang “Dipertontonkan”

    Kesalehan yang “Dipertontonkan”

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2020
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Hari ini orang beramai-ramai memposting pelaksanaan Shalat Idul Fitri di setiap rumah, sekalipun tidak semua karena ada sebagian orang lain yang Shalat di Masjid maupun di lapangan karena kekesalan mereka terhadap pemerintah yang menutup Masjid dan membuka pasar dan mall di tengah pandemic corona. Setelah Shalat Idul Fitri saya dan keluarga menikmati burasa, acar ikan […]

  • Menjemput Hari Raya Idul Fitri, FPPMB dan Pemdes Bobawa Gelar Bukber Dengan Masyarakat 

    Menjemput Hari Raya Idul Fitri, FPPMB dan Pemdes Bobawa Gelar Bukber Dengan Masyarakat 

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Forum Pemuda Pelajar Mahasiswa Bobawa (FPPMB) menggelar agenda buka puasa bersama di Masjid Al-Fajri, Desa Bobawa, Kecamatan Makian Barat, Kabupaten Halmahera Selatan. Jum’at, 28 Maret 2025. Acara ini melibatkan masyarakat, badan syara, serta pemerintah desa dengan tujuan mempererat tali silaturahmi antarwarga. Kepala Desa Bobawa, Ludin Halek, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang berbuka bersama, […]

  • Abu Dzar al-Ghiffari, Para Ahlu Suffah dan Akar Tasawuf dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #21)

    Abu Dzar al-Ghiffari, Para Ahlu Suffah dan Akar Tasawuf dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #21)

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Abu Dzar al-Ghifari adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena kehidupan zuhudnya. Ia berasal dari kabilah Ghifar, sebuah kabilah Arab yang tinggal di jalur perdagangan antara Makkah dan Syam. Sebelum masuk Islam, kabilah ini dikenal keras dan hidup dari merampok kafilah dagang. Namun Abu Dzar memiliki sifat yang berbeda dari kebanyakan orang […]

  • PA GMNI Haltim Apresiasi kinerja Bupati dan Mendukung Program Pemerintah Halmahera Timur 

    PA GMNI Haltim Apresiasi kinerja Bupati dan Mendukung Program Pemerintah Halmahera Timur 

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Halmahera Timur (PA GMNI Haltim) mendukung Bupati Halmahera Timur, Ubaid Yakub, bersama Sekretaris Daerah Ricky Chairul Richfat dalam melakukan koordinasi dengan Direktorat Pembangunan Kawasan Transmigrasi di Kementerian Transmigrasi. Dukungan tersebut disampaikan oleh Ketua PA GMNI Haltim, Mardedi Totomo pada Rabu (19/11/2025) “PA GMNI memberikan apresiasi serta mendukung kerja kerja pemerintah daerah […]

  • Ini Profil Anwar Sanjaya yang Disorot MUI: Dari Lulusan Tata Boga hingga Tersandung Konten Erotis di Siaran Ramadan

    Ini Profil Anwar Sanjaya yang Disorot MUI: Dari Lulusan Tata Boga hingga Tersandung Konten Erotis di Siaran Ramadan

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 524
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Anwar Sanjaya mendadak menjadi sorotan tajam publik setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi merekomendasikan sanksi atas penampilannya dalam program televisi selama Ramadan 1447 Hijriah. Sosok yang selama ini dikenal sebagai presenter jenaka dan menghibur itu kini justru menuai kritik karena dinilai melampaui batas etika penyiaran. Dalam laporan hasil pemantauan siaran Ramadan […]

  • Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

    Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 1.001
    • 0Komentar

    Catatan Etnografis tentang Kepemimpinan, Dunia Usaha, dan Etika Merawat Kota Tulisan ini saya rampungkan di tengah malam—ketika jarum jam bergerak ke angka kecil di penghujung Januari, dan Februari 2026 mengintip dari balik kalender. Kota sedang senyap. Jalan-jalan lengang. Namun di kepala saya justru berdenyut percakapan, gestur, dan resonansi sosial yang belum ingin reda: bahwa saya […]

expand_less