Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ritual Rindu Buaya dan Restu Tanah

  • account_circle Suaib Pr
  • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
  • visibility 104
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Masyarakat Pattae di Dusun Kurra, Desa Kurra Mapilli (Kurma), Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, masih teguh merawat tradisi leluhur mereka yang disebut mappande rindu (ritual memberi makan buaya). Tradisi ini berakar pada keyakinan bahwa di antara manusia terdapat sosok yang bersaudara dengan buaya.

Karena itu, hubungan dengan hewan tersebut dijaga melalui penghormatan dan persembahan, sebagai wujud kesetiaan pada ikatan kosmologis antara manusia dan alam. Menurut keterangan warga setempat, tradisi tersebut tidak dilakukan setiap tahun, melainkan hanya sekali dalam tiga atau empat tahun.

Rangkaian ritual itu dimulai dari seorang sando (dukun) yang sekaligus sebagai tetua adat yang dipercaya menentukan hari baik. Setelah hari baik ditetapkan, kabar disampaikan kepada masyarakat yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pa’bijaga (pawang buaya).

Begitu pengumuman keluar, warga berkumpul untuk bermusyawarah. Ada yang ditugaskan mencari kayu bakar, ada pula yang mengambil bambu muda untuk membuat lamang. Semua orang punya peran. Laki-laki diwajibkan menyediakan ayam jantan merah berkaki putih, jika tidak ada, benang putih harus diikat di kaki ayam sebelum disembelih.

Perempuan pun memiliki kewajiban: menyediakan ayam berkaki putih. Ketika semua persyaratan terpenuhi, masyarakat berkumpul di sebuah tempat yang disebut salo atau linrung tepat di muara sungai.

Pagi hari, pukul tujuh pagi, para lelaki mulai sibuk membuat para-para; rak kayu sederhana sebagai tempat sesaji. Di atasnya, sando melarungkan banno (brondong jagung atau padi), darah ayam, telur, dan nasi.

Sementara itu, para perempuan mencuci beras, memasukkannya ke dalam bambu muda, lalu dibakar oleh para lelaki. Mereka juga membuat nasu kadundung, masakan sederhana yang hanya menggunakan garam, daun kedondong, dan bawang merah, tanpa tambahan penyedap buatan.

Di atas para-para, daun sirih dan pinang wajib hadir. Pinang dibelah menjadi beberapa bagian, lalu dialasi daun sirih, tanpa wadah lain selain daun itu sendiri. Semua ini menjadi simbol kesucian dan penghormatan pada tradisi.

Selain mappande rindu, ada pula tradisi mappande lita’, sebuah ritual yang dilakukan sebelum membuka lahan besar atau mendirikan rumah. Pelaksanaan ritual ini menggunakan ayam berwarna hitam, ditemani sirih dan pinang.

Para pelaku ritual ini percaya bahwa tanah dan pepohonan memiliki penjaga. Karena itu, sebelum menebang hutan atau mendirikan rumah, mereka harus terlebih dahulu meminta izin dengan cara melakukan ritual khusus.

Dalam prosesi tersebut, ayam hitam disembelih sebagai tanda penghormatan kepada penjaga alam, agar manusia tidak merusak tanpa restu. Dengan demikian, kedua tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan cara masyarakat Kurra menjaga hubungan dengan leluhur, sesama, dan alam.

Solidaritas dan Simbol

Jika ditelaah lebih jauh, tradisi atau ritual mappande rindu dan mappande lita’, memperlihatkan bagaimana masyarakat bekerja bersama. Setiap orang punya peran; laki-laki, perempuan, tetua adat, hingga pawang. Ini menunjukkan bahwa ritual bukan sekadar urusan spiritual, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial.

Perangkat ritual, seperti ayam dengan warna tertentu, sirih dan pinang, serta nasi dalam bambu; sarat makna simbolik. Kesederhanaan bahan itu menegaskan kesucian dan penghormatan, sekaligus mengingatkan bahwa hidup mesti dijalani dengan sederhana, jauh dari keserakahan, sebagai wujud hormat kepada alam dan leluhur.

Menurut Ridwan Alimuddin (2026) kearifan lokal masa lampau yang memuliakan buaya sebagai “nenek” atau “saudara” memiliki fungsi ekologis sebagai mekanisme perlindungan habitat yang kini telah runtuh akibat tekanan populasi, alih fungsi lahan, dan praktik perikanan destruktif.

Hal yang sama juga pada tradisi ritual mappande lita’ yang menggambarkan adab ekologis, bahwasanya kendati manusia mempunyai posisi istimewa sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, namun  mereka tidak boleh seenaknya menjarah alam, apalagi dengan pendekatan keserakahan.

Menyelami makna filosofis dibalik tradisi mappande lita’, tidak hanya sekadar mengingatkan bahwa betapa Tanah sangat sakral bagi masyarakat Pattae yang mendiami Dusun Kurra, tetapi juga mengkonfirmasi bahwasanya manusia di atas bumi harus senantiasa mengedepan keadaban dalam berinteraksi, termasuk pada alam.

Dalam tradisi lokal masyarakat Pattae, relasi manusia dengan alam adalah relasi suci yang erat kaitannya dengan perilaku manusia. Karena itu, dalam tradisi lisan, sering diucapkan nasihat yang sekaligus menjadi mantra kehidupan mereka, berbunyi:

“Papiai ampemu, papiai kedomu, anna teka loppona lita, turunni madokona lita nasaba makanjjai ampemu, makanjjai kedomu, makanjai gau-gau’mu,”. (Perbaiki akhlakmu, sikap dan perilakumu saat berjalan di muka bumi, maka malaikat tanah ikut bergembira. Sehingga suburnya tanah senantiasa terjaga karena akhlak, sikap dan perilakumu”.

Pada akhirnya, tradisi atau ritual mappande rindu dan mampande lita’, tidak sekadar dokumentasi budaya, tetapi juga refleksi kritis. Ia mengingatkan bahwa tradisi yang mungkin dianggap “mistis” sebenarnya menyimpan logika ekologis dan etika sosial yang sangat relevan untuk masa kini. Apalagi di era modern, pesan “hidup selaras dengan alam” terasa semakin mendesak.

  • Penulis: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tenggeyamo, Sidang Isbat ala Gorontalo menentukan Awal Ramadan dan 1 Syawal

    Tenggeyamo, Sidang Isbat ala Gorontalo menentukan Awal Ramadan dan 1 Syawal

    • calendar_month Rabu, 5 Mar 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 192
    • 0Komentar

    Tradisi Tenggeyamo diketahui ada sejak zaman kesultanan Gorontalo dan hingga kini masih digelar setiap tahun. Sebelum penetapan, biasanya agenda diawali dengan ceramah tentang asal-muasal bulan Ramadan sambil menunggu hasil sidang isbat dari pemerintah dalam menentukan awal Ramadan dan 1 Syawal. Gelaran Tanggeyamo biasanya dilakukan di rumah adat atau di rumah dinas kepala daerah di Gorontalo. […]

  • Polda Sumut Amankan Dua Ekskavator Diduga untuk PETI di Madina

    Polda Sumut Amankan Dua Ekskavator Diduga untuk PETI di Madina

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 285
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim gabungan dari Kepolisian Daerah Sumatera Utara mengamankan dua unit alat berat jenis ekskavator yang diduga akan digunakan untuk aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, Senin (2/3/2026) pagi. Penindakan dilakukan sekitar pukul 06.00 WIB oleh personel Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) bersama Satuan Brimob di dua […]

  • KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah Play Button

    KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 421
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas: masjid-masjid kembali penuh, lantunan ayat suci terdengar lebih panjang dari biasanya, dan umat Islam berbondong-bondong menunaikan salat Tarawih. Namun di balik semarak itu, tidak sedikit pertanyaan yang terus berulang dari tahun ke tahun tentang sejarahnya, dalilnya, hingga perbedaan jumlah rakaat yang sering memantik perbincangan. Wakil Rais Syuriyah […]

  • Setelah Sawah Hilang Setengah Juta Hektare, Negara Menggelar Rapat

    Setelah Sawah Hilang Setengah Juta Hektare, Negara Menggelar Rapat

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 316
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah pusat akhirnya memperketat pengendalian alih fungsi lahan sawah setelah Indonesia kehilangan sekitar 554 ribu hektare sawah dalam kurun waktu 2019–2024. Langkah tersebut dibahas dalam pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/1/2026). Usai pertemuan, Nusron Wahid menyampaikan […]

  • Komisi VI DPR RI Soroti Dampak Tol Trans Sumatera terhadap UMKM di Jambi

    Komisi VI DPR RI Soroti Dampak Tol Trans Sumatera terhadap UMKM di Jambi

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 269
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi VI DPR RI melakukan Kunjungan Kerja Spesifik untuk mengevaluasi proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di Kota Jambi, Jumat (10/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, dampak pembangunan tol terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu perhatian utama. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya, menyampaikan bahwa isu dampak tol terhadap […]

  • Sekali lagi, Tentang Tudingan Ijazah Palsu

    Sekali lagi, Tentang Tudingan Ijazah Palsu

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Roy Suryo sejak awal bersuara lantang soal dugaan kejanggalan dalam ijazah mantan presiden Joko Widodo. Ia bahkan menyatakan bahwa foto dalam ijazah tersebut bukanlah Jokowi, melainkan sepupunya. Sebelumnya ada Bambang Tri Mulyono, ada Rismon Sianipar, ada Dr Tifa sebagai pihak yang terus memperkarakan keaslian ijazah Jokowi. Mereka yakin betul sedang memperjuangkan “kebenaran”—bukan hanya soal selembar […]

expand_less