Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ritual Rindu Buaya dan Restu Tanah

  • account_circle Suaib Pr
  • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
  • visibility 138
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Masyarakat Pattae di Dusun Kurra, Desa Kurra Mapilli (Kurma), Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, masih teguh merawat tradisi leluhur mereka yang disebut mappande rindu (ritual memberi makan buaya). Tradisi ini berakar pada keyakinan bahwa di antara manusia terdapat sosok yang bersaudara dengan buaya.

Karena itu, hubungan dengan hewan tersebut dijaga melalui penghormatan dan persembahan, sebagai wujud kesetiaan pada ikatan kosmologis antara manusia dan alam. Menurut keterangan warga setempat, tradisi tersebut tidak dilakukan setiap tahun, melainkan hanya sekali dalam tiga atau empat tahun.

Rangkaian ritual itu dimulai dari seorang sando (dukun) yang sekaligus sebagai tetua adat yang dipercaya menentukan hari baik. Setelah hari baik ditetapkan, kabar disampaikan kepada masyarakat yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pa’bijaga (pawang buaya).

Begitu pengumuman keluar, warga berkumpul untuk bermusyawarah. Ada yang ditugaskan mencari kayu bakar, ada pula yang mengambil bambu muda untuk membuat lamang. Semua orang punya peran. Laki-laki diwajibkan menyediakan ayam jantan merah berkaki putih, jika tidak ada, benang putih harus diikat di kaki ayam sebelum disembelih.

Perempuan pun memiliki kewajiban: menyediakan ayam berkaki putih. Ketika semua persyaratan terpenuhi, masyarakat berkumpul di sebuah tempat yang disebut salo atau linrung tepat di muara sungai.

Pagi hari, pukul tujuh pagi, para lelaki mulai sibuk membuat para-para; rak kayu sederhana sebagai tempat sesaji. Di atasnya, sando melarungkan banno (brondong jagung atau padi), darah ayam, telur, dan nasi.

Sementara itu, para perempuan mencuci beras, memasukkannya ke dalam bambu muda, lalu dibakar oleh para lelaki. Mereka juga membuat nasu kadundung, masakan sederhana yang hanya menggunakan garam, daun kedondong, dan bawang merah, tanpa tambahan penyedap buatan.

Di atas para-para, daun sirih dan pinang wajib hadir. Pinang dibelah menjadi beberapa bagian, lalu dialasi daun sirih, tanpa wadah lain selain daun itu sendiri. Semua ini menjadi simbol kesucian dan penghormatan pada tradisi.

Selain mappande rindu, ada pula tradisi mappande lita’, sebuah ritual yang dilakukan sebelum membuka lahan besar atau mendirikan rumah. Pelaksanaan ritual ini menggunakan ayam berwarna hitam, ditemani sirih dan pinang.

Para pelaku ritual ini percaya bahwa tanah dan pepohonan memiliki penjaga. Karena itu, sebelum menebang hutan atau mendirikan rumah, mereka harus terlebih dahulu meminta izin dengan cara melakukan ritual khusus.

Dalam prosesi tersebut, ayam hitam disembelih sebagai tanda penghormatan kepada penjaga alam, agar manusia tidak merusak tanpa restu. Dengan demikian, kedua tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan cara masyarakat Kurra menjaga hubungan dengan leluhur, sesama, dan alam.

Solidaritas dan Simbol

Jika ditelaah lebih jauh, tradisi atau ritual mappande rindu dan mappande lita’, memperlihatkan bagaimana masyarakat bekerja bersama. Setiap orang punya peran; laki-laki, perempuan, tetua adat, hingga pawang. Ini menunjukkan bahwa ritual bukan sekadar urusan spiritual, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial.

Perangkat ritual, seperti ayam dengan warna tertentu, sirih dan pinang, serta nasi dalam bambu; sarat makna simbolik. Kesederhanaan bahan itu menegaskan kesucian dan penghormatan, sekaligus mengingatkan bahwa hidup mesti dijalani dengan sederhana, jauh dari keserakahan, sebagai wujud hormat kepada alam dan leluhur.

Menurut Ridwan Alimuddin (2026) kearifan lokal masa lampau yang memuliakan buaya sebagai “nenek” atau “saudara” memiliki fungsi ekologis sebagai mekanisme perlindungan habitat yang kini telah runtuh akibat tekanan populasi, alih fungsi lahan, dan praktik perikanan destruktif.

Hal yang sama juga pada tradisi ritual mappande lita’ yang menggambarkan adab ekologis, bahwasanya kendati manusia mempunyai posisi istimewa sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, namun  mereka tidak boleh seenaknya menjarah alam, apalagi dengan pendekatan keserakahan.

Menyelami makna filosofis dibalik tradisi mappande lita’, tidak hanya sekadar mengingatkan bahwa betapa Tanah sangat sakral bagi masyarakat Pattae yang mendiami Dusun Kurra, tetapi juga mengkonfirmasi bahwasanya manusia di atas bumi harus senantiasa mengedepan keadaban dalam berinteraksi, termasuk pada alam.

Dalam tradisi lokal masyarakat Pattae, relasi manusia dengan alam adalah relasi suci yang erat kaitannya dengan perilaku manusia. Karena itu, dalam tradisi lisan, sering diucapkan nasihat yang sekaligus menjadi mantra kehidupan mereka, berbunyi:

“Papiai ampemu, papiai kedomu, anna teka loppona lita, turunni madokona lita nasaba makanjjai ampemu, makanjjai kedomu, makanjai gau-gau’mu,”. (Perbaiki akhlakmu, sikap dan perilakumu saat berjalan di muka bumi, maka malaikat tanah ikut bergembira. Sehingga suburnya tanah senantiasa terjaga karena akhlak, sikap dan perilakumu”.

Pada akhirnya, tradisi atau ritual mappande rindu dan mampande lita’, tidak sekadar dokumentasi budaya, tetapi juga refleksi kritis. Ia mengingatkan bahwa tradisi yang mungkin dianggap “mistis” sebenarnya menyimpan logika ekologis dan etika sosial yang sangat relevan untuk masa kini. Apalagi di era modern, pesan “hidup selaras dengan alam” terasa semakin mendesak.

  • Penulis: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • HUT ke-13 Kolaka Timur, Gubernur Sultra Ajak Jadikan Momentum Refleksi dan Percepatan Pembangunan

    HUT ke-13 Kolaka Timur, Gubernur Sultra Ajak Jadikan Momentum Refleksi dan Percepatan Pembangunan

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 211
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, mengajak seluruh elemen pemerintah dan masyarakat menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Kabupaten Kolaka Timur sebagai momentum refleksi, evaluasi, serta penguatan komitmen dalam mempercepat pembangunan daerah. Hal tersebut disampaikan Gubernur dalam sambutan tertulis pada Upacara Peringatan HUT Kabupaten Kolaka Timur yang dibacakan oleh Sekretaris […]

  • Bulan Ramadhan, Bulan Penghematan atau Pemborosan?

    Bulan Ramadhan, Bulan Penghematan atau Pemborosan?

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Dr. Momy Hunowu, M.Si
    • visibility 208
    • 0Komentar

    Secara matematis, living cost pada bulan Ramadhan berkurang 30-50% lantaran seharian tidak berurusan dengan meja makan. Faktanya berkata lain, pengeluaran justru berlipat-lipat.  Lihat saja, meja makan saat berbuka penuh sesak dengan berbagai menu. Ada nasi dan lauknya. Lauknya ada yang berkuah, goreng dan bakar. Belum lagi sayurnya. Tak sampai di situ. Ada bubur ayam dan […]

  • Kepedulian Pemerintah dan LSM, Korban Petasan Rakitan Dijenguk di RS Wahidin

    Kepedulian Pemerintah dan LSM, Korban Petasan Rakitan Dijenguk di RS Wahidin

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 218
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros — Seorang anak berinisial MA (8), warga Lingkungan Allu, Kelurahan Baji Pamai, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar setelah menjadi korban petasan rakitan. Peristiwa tersebut menimbulkan keprihatinan mendalam dari berbagai pihak, khususnya pemerintah kecamatan dan elemen masyarakat sipil. Sebagai wujud kepedulian terhadap warganya, Camat […]

  • Tradisi Doa Tolak Bala di Hari Asyura

    Tradisi Doa Tolak Bala di Hari Asyura

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Mubarak Idrus
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Tepat pukul 20.00 wita, jamaah Tarekat Khalwatiyah mulai memadati halaman masjid Baitul Izzah yang terletak di Jl. Baji Bicara 7. Beberapa di antaranya menenteng makanan yang akan disajikan selepas acara doa asyura dan tolak bala. Doa Asyura dan Tolak Bala merupakan salah satu amalan yang rutin dilakukan oleh Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassari. Seperti tahun-tahun […]

  • Kasus Oknum Polisi Naik Penyidikan, Kapolres Maros Tegas: Tak Ada Perlindungan

    Kasus Oknum Polisi Naik Penyidikan, Kapolres Maros Tegas: Tak Ada Perlindungan

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 333
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros — Kepolisian Resor (Polres) Maros resmi menaikkan status dugaan kasus penganiayaan yang melibatkan oknum personel Polri ke tahap penyidikan. Langkah ini diambil setelah penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Maros melakukan serangkaian pemeriksaan saksi dan mengantongi alat bukti yang dinilai cukup. Kapolres Maros, AKBP Douglas Mahendrajaya, menegaskan bahwa institusinya berkomitmen penuh untuk menangani […]

  • Data Valid Landasan Kebijakan Program HIV/AIDS

    Data Valid Landasan Kebijakan Program HIV/AIDS

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa secara resmi membuka kegiatan Pertemuan Validasi Data Penemuan dan Pengobatan HIV/AIDS serta Penelusuran ODHIV Hilang Semester I Tahun 2025 yang digelar oleh Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Gorontalo di Yulia Hotel Kota Gorontalo. Kadinkes Anang menegaskan bahwa pertemuan ini sangat strategis dalam mendukung roadmap nasional menuju Ending AIDS […]

expand_less