Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tokoh Lintas Agama Rumuskan 9 Poin ‘Risalah Jagat’ Serukan Taubat Ekologis

  • account_circle Faisal Husuna
  • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
  • visibility 83
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NULONDALO.COM – JOMBANG – Sejumlah tokoh keagamaan, akademisi, hingga aktivis lingkungan hadir sebagai pemantik diskusi dalam rangkaian sesi forum Festival Jagat, yang berlangsung 29 – 30 Agustus, merumuskan 9 point ‘Risalah Jagat’ serukan taubat ekologis.

Forum yang dilaksanakan di Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak tersebut, di hadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Uskup Keuskupan Surabaya Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, penggerak Gerakan Nurani Bangsa Lukman Hakim Saifuddin, Koordinator Seknas Jaringan GUSDURian Jay Akhmad, serta Inayah Wahid.

Selain itu, hadir pula jajaran akademisi dan aktivis jaringan masyarakat sipil, seperti Zainal Abidin Bagir dari Inter-Religious Studies (ICRS), Hening Parlan dari Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Tri Mumpuni (Dewan Pengarah BRIN), Prigi Arisandi (pendiri ECOTON), serta Bambang Tri Daxoko dari Indonesian Institute for Forest and Environment. Diskusi juga diperkaya perspektif teologi dan agraria dari Eko Cahyono (Sajogyo Institute), Roy Murtadho (Pesantren Misykat al-Anwar Bogor), Zaimatus Sa’diyah (akademisi UIN Walisongo Semarang), serta Dewi Anggraeni (akademisi UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan).

Risalah Jagat ini memuat pengakuan bersama atas darurat krisis sosial-ekologi berskala planet, seruan ‘taubat ekologis’ untuk menghentikan praktik ekonomi ekstraktif yang merusak ruang hidup, serta komitmen lintas iman untuk merawat bumi sebagai rumah bersama demi keselamatan generasi mendatang.

Berikut adalah isi seruan ‘Risalah Jagat’ :

  1. Kami turut berduka atas hutan yang terbakar, satwa yang hilang habitatnya, dan masyarakat yang menanggung dampak atas buruknya kualitas udara dan kerusakan ekosistem di Pulau Kalimantan dan pulau-pulau lain di Indonesia. Kami mengakui bahwa krisis sosial ekologi sudah sampai pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kerusakannya sudah sampai pada skala planet yang mengancam keberlangsungan kehidupan, termasuk kehidupan manusia. Perubahan luas dan cepat terjadi di atmosfer, lautan, dan biosfer, sementara kerusakan alam terus memicu berbagai bencana ekstrem di berbagai wilayah dunia.
  2. Kami mengakui bahwa kerusakan masif tersebut merupakan akibat ulah manusia, khususnya sistem ekonomi kapitalistik yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi dan eksploitasi sumber daya alam. Krisis sosial ekologi tidak dapat dipisahkan dari dominasi sistem ekonomi ekstraktif yang terus menarik semakin banyak sumber daya alam dan tenaga manusia ke dalam putaran akumulasi dengan  mengambil lebih banyak daripada yang dapat diberikan kembali. Kami melihat bahwa berbagai upaya global yang telah dilakukan sejauh ini masih sangat tidak memadai untuk menghadapi skala krisis tersebut.
  3. Kami menyadari bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari semesta. Manusia perlu memperhatikan hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan sesama ciptaan Tuhan. Saat ini manusia hidup dalam sistem eksploitatif yang tidak adil dan tidak lestari, yang pada akhirnya dapat mengarah pada kerusakan dan kepunahan kehidupan. Seluruh kehidupan memiliki fungsi untuk mendukung dan mempertahankan kehidupan bersama.
  4. Kami menyadari bahwa krisis sosial ekologi adalah krisis keadilan. Dampaknya tidak dirasakan secara merata. Masyarakat miskin dan terpinggirkan, masyarakat adat, petani, nelayan, kelompok disabilitas, perempuan, anak-anak, dan komunitas yang bergantung pada tanah, air, hutan, dan laut sering menjadi pihak yang paling terdampak. Perempuan sering menanggung beban ekologis secara tidak proporsional. Karena itu, kerja-kerja perawatan dan pemulihan ekosistem harus dihargai dan dibagi secara adil. Perempuan juga harus memiliki ruang yang setara dalam pengambilan keputusan tentang lingkungan dan ruang hidup.
  5. Kami menegaskan bahwa agama memiliki peran penting sebagai ruang moral-etis dan teologis untuk menawarkan solusi pembebasan dan keadilan sosial ekologi. Melalui kesadaran teologis yang berpihak kepada kaum tertindas, nilai-nilai keagamaan dapat diartikulasikan kembali untuk membangun perlawanan moral terhadap keserakahan ekologis. Agama dapat menjadi kekuatan transformatif yang menegaskan bahwa merusak alam dan merampas ruang hidup sesama manusia dan makhluk lainnya merupakan bentuk pengingkaran terhadap mandat penciptaan.
  6. Kami menyerukan taubat ekologis. Taubat ekologis bukan sekadar pengakuan dan penyesalan atas kerusakan yang telah terjadi, melainkan keberanian untuk menegaskan keterlibatan manusia dalam cara hidup yang tidak adil dan tidak lestari, menghentikan praktik dan perilaku yang merusak, memulihkan apa yang telah dirusak, serta mengubah cara berpikir, cara hidup, dan struktur yang melanggengkan eksploitasi. Taubat ekologis berarti bergerak dari dominasi menuju penghormatan, dari eksploitasi menuju perawatan, dan dari keserakahan menuju kecukupan.
  7. Kami menyerukan agar hutan, laut, udara, sungai, dan ekosistem alam lainnya diperlakukan sebagai penyangga kehidupan, bukan sebagai komoditas atau sumber daya untuk ekspansi ekonomi dan pembangunan semata. Kebijakan pembangunan harus menempatkan fungsi ekologis, keberlanjutan ekosistem, dan keselamatan masyarakat sebagai pertimbangan utama dalam setiap keputusan pemanfaatan ruang dan sumber daya alam.
  8. Kami berkomitmen membangun keadilan sosial ekologi melalui gerakan bersama. Kami menolak praktik ekonomi ekstraktif yang mengorbankan manusia dan alam, mendorong produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, memulihkan ekosistem yang rusak, serta melindungi ruang hidup seluruh lapisan masyarakat, serta memperkuat kerja sama lintas agama, kepercayaan, masyarakat adat, komunitas lokal, jaringan intelektual, dan gerakan rakyat untuk keberlanjutan ekosistem dan keadilan antargenerasi.
  9. Kami berkomitmen menjaga bumi sebagai rumah bersama dan memastikan keberlanjutan kehidupan lintas generasi. Merawat bumi berarti merawat kehidupan; merawat kehidupan berarti merawat hubungan dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan seluruh alam semesta. Karena itu, kami menyerukan penguatan kerja sama lintas agama, kepercayaan, masyarakat adat/lokal, jaringan intelektual, dan gerakan rakyat untuk bersama-sama melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan demi membangun masa depan yang adil dan lestari. Mari mengakui krisis, merefleksikan cara hidup, melakukan taubat ekologis, dan bersama-sama merawat bumi serta seluruh kehidupan.
  • Penulis: Faisal Husuna

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Abdul Kadir Diko/FOTO: Istimewa Play Button photo_camera 14

    Gorontalo Green School: Langkah Kecil Menahan Krisis Lingkungan

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Abdullah K. Diko
    • visibility 327
    • 0Komentar

    Kerusakan lingkungan tidak pernah hadir sebagai peristiwa tunggal. Ia tumbuh perlahan—dari tanah yang kehilangan kesuburan, sungai yang kian tercemar, hingga bencana alam yang makin sering dan sulit diprediksi. Dalam banyak kasus, respons kita justru terjebak pada solusi jangka pendek: proyek cepat, jargon hijau, dan seremoni tanam pohon. Padahal, di balik krisis itu terdapat persoalan yang […]

  • Suhayb ar-Rumi: Hijrah yang Dibayar dengan Seluruh Harta (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #12)

    Suhayb ar-Rumi: Hijrah yang Dibayar dengan Seluruh Harta (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #12)

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 328
    • 0Komentar

    Di antara para sahabat Nabi  yang datang dari pinggiran struktur sosial Arab, nama Suhayb bin Sinan atau lebih dikenal dengan nama Suhayb ar-Rumi menempati posisi yang khas. Ia bukan tokoh dari kabilah besar Quraisy yang memiliki perlindungan kuat. Julukan ar-Rumi melekat padanya bukan karena ia berdarah Romawi, melainkan karena masa kecilnya yang panjang di wilayah Bizantium membuatnya fasih […]

  • Ayam Masih Mendominasi Populasi Ternak di Indonesia, Tembus 3,92 Miliar Ekor

    Ayam Masih Mendominasi Populasi Ternak di Indonesia, Tembus 3,92 Miliar Ekor

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 284
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Indonesia tercatat memiliki populasi hewan ternak yang sangat besar pada 2025. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ayam menjadi jenis ternak yang paling mendominasi dengan jumlah mencapai 3,92 miliar ekor. Berdasarkan publikasi yang dirilis melalui platform IndonesiaBaik.id, populasi ayam tersebut mencakup ayam bukan ras (buras) atau ayam kampung, ayam ras pedaging, […]

  • Japesda Kecam Kriminalisasi Warga Popayato, Desak PT IGL Realisasikan Plasma 20 Persen

    Japesda Kecam Kriminalisasi Warga Popayato, Desak PT IGL Realisasikan Plasma 20 Persen

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 271
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Jaring Advokasi Sumberdaya Alam (Japesda) Gorontalo menyatakan sikap tegas atas konflik agraria yang terjadi di Kecamatan Popayato dan Popayato Barat, Kabupaten Pohuwato. Dalam pernyataan resminya tertanggal 23 Mei 2026, Japesda mengecam tindakan kriminalisasi terhadap warga yang memperjuangkan hak plasma 20 persen dari perusahaan perkebunan PT Inti Global Laksana (IGL). Konflik tersebut mencuat setelah […]

  • Reformasi Polri Jalan di Tempat? Mahfud MD Akui Pesimis Implementasi

    Reformasi Polri Jalan di Tempat? Mahfud MD Akui Pesimis Implementasi

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 247
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, mengaku pesimis terhadap implementasi reformasi kepolisian meskipun tim reformasi yang dibentuk pemerintah telah menghasilkan rekomendasi yang dinilainya sangat baik. Pernyataan itu disampaikan Mahfud dalam sebuah diskusi podcast yang membahas pidato Presiden Prabowo Subianto di Gedung DPR RI. Dalam perbincangan tersebut, Mahfud menjelaskan bahwa substansi […]

  • Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

    Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 306
    • 0Komentar

    Dalam kamus kehidupan sehari-hari, kata sabar sering diperlakukan seperti obat mujarab untuk segala luka sosial. Ia terdengar menenangkan, penuh kebijaksanaan, bahkan dianggap sebagai jawaban paling aman atas berbagai persoalan hidup. Namun di balik itu, ada kekeliruan yang diam-diam terus dipelihara: kita terlalu sering mencampuradukkan antara kesabaran dan kepasrahan. Padahal keduanya lahir dari ruang batin yang […]

expand_less