Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Post-Tarbiyah : Akhir Politik Kebencian

  • account_circle Almunauwar Bin Rusli
  • calendar_month 18 jam yang lalu
  • visibility 83
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sejak pertama kali Asef Bayat menggempur ruang publik melalui pemikiran Post-Islamism: The Changing Faces of Political Islam (2013), negara yang berpenduduk mayoritas Muslim-termasuk Indonesia- tiba-tiba tersentak karena ternyata tubuh Islam  tidak pernah mengalami stagnasi tapi terus memperlihatkan sinyal transformasi. Para kaum Islamis terdidik pun segera banting setir lalu  melayangkan protes tanpa ampun apabila Islam bukanlah sebuah ajaran monolitik di bawah ancaman sistem teokratis. Islam mesti diizinkan tumbuh, berkembang lalu ‘berdansa’  dengan nilai-nilai demokrasi, sekularisme, dan modernitas.

Sampai hari ini, post-Islamisme masih menjadi kritik berbobot guna merumuskan kembali posisi serta fungsi agama dalam area kewargaan global yang disebut Kymlicka (1995) cenderung memunculkan berbagai konflik horizontal seperti menuntut pengakuan serta dukungan terhadap identitas kultural. Jika analisis Bayat berfokus pada bagaimana interpretasi atas Islam mendekonstruksi sistem keyakinan demi tata pemerintahan yang baik, maka tulisan ini menitikberatkan pada bagaimana interpretasi atas Islam merekonstruksi sistem pendidikan agar kompatibel dengan semangat pembangunan. Pertanyaannya, apa argumentasi inti dari gagasan post-tarbiyah ? Lantas, bagaimana peran post-tarbiyah dalam mengakhiri politik kebencian?

Dari Polarisasi ke Unifikasi Islam

Institusi tarbiyah merupakan ‘pabrik ideologi’ dimana dasar-dasar pengetahuan tentang syariat Islam disosialisasikan, ditanamkan dan dibiasakan sejak usia dini hingga mendorong terjadinya pembentukan makna melalui jalur yang disebut Hall (1997) sebagai sirkuit budaya (circuit of culture).  Dari perspektif ini, makna syariat Islam diproduksi lewat kurikulum, direpresentasikan lewat figur kiai, ustadz atau murabbi, dibentuk melalui identitas kesalehan, dikonsumsi melalui busana, bahasa dan mualamah serta dijaga oleh regulasi masing-masing jamaah. Adapun post-tarbiyah saya definisikan sebagai proses peralihan legitimasi (transfer of legitimacy) untuk memindahkan pengakuan, wewenang atau kekuasaan dari pihak ulama konservatif ke pihak intelektual progresif yang beraliran organisasi keislaman tradisionalis, modernis maupun revivalis.

Post-tarbiyah muncul dari refleksi sosiologis saya atas kekecewaan generasi kelas menengah Muslim terhadap perseteruan ideologi klasik seperti isu taklid, westernisasi, hingga purifikasi yang sebetulnya tidak memberi keuntungan praktis apapun bagi kualitas pembangunan lokal di Indonesia.  Polarisasi semacam ini selalu bernada deterministik, kontroversial hingga provokatif. Mereka tak pernah rela melepaskan kacamata kuda. Mengaku paham pluralitas tapi tak berani melintas batas. Gejolak polarisasi Islam memang sering dipicu oleh perpecahan otoritas keilmuan (Azra, Dijk & Kaptein,2010), perebutan tafsir keagamaan (Kersten, 2015), serta kepentingan kuasa golongan (Hadiz, 2016). Polarisasi yang tak terkendalikan memicu peningkatan suhu politik kebencian  hingga menendang umat dari esensi ajaran Islam yang komunitarian.

Pada titik krusial ini, saya mengamati jika para generasi intelektual progresif mulai mengobati penyakit fanatisme golongan melalui proyek unifikasi Islam. Mereka meyakini bahwa  nilai revivalisme Islam membentuk ketahanan keluarga, nilai modernisme Islam membentuk ketahanan industri sedangkan nilai tradisionalisme Islam membentuk ketahanan masyarakat. Idealnya, manusia yang memiliki karakter Salaf (revivalis) akan bekerja secara profesional, rasional, dan kompetitif (modernis) tanpa kehilangan identitas kebudayaan dan kedekatan spiritualnya dengan Tuhan (tradisionalis). Revivalisme adalah akar, modernisme adalah batang dan tradisionalisme adalah tanah. Ketiganya saling bergantung pada ekosistem yang sama.

  • Penulis: Almunauwar Bin Rusli

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar FGD: Penataan Kembali Wilayah Aglomerasi sebagai Strategi Akselerasi Pembangunan Regional

    Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar FGD: Penataan Kembali Wilayah Aglomerasi sebagai Strategi Akselerasi Pembangunan Regional

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Urgensi Penataan Kembali Wilayah Aglomerasi: Sebuah Strategi Akselerasi Pembangunan Regional, Pemerataan, dan Peningkatan Kinerja Central Place”. Kegiatan berlangsung di Aula Prof. Kadir Abdussamad, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo, Kamis (6/11/2025). Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Wahyudin A. Katili, yang hadir mewakili Gubernur Provinsi […]

  • ASPETI Resmi Ajukan Keberatan Administratif ke Menteri ESDM Terkait Tarif Denda Pertambangan

    ASPETI Resmi Ajukan Keberatan Administratif ke Menteri ESDM Terkait Tarif Denda Pertambangan

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 218
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Jakarta – Perkumpulan Asosiasi Penambang Tanah Pertiwi (ASPETI) secara resmi melayangkan surat keberatan administratif kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia pada 5 Januari 2026. Langkah hukum ini diambil sebagai respon terhadap terbitnya Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 391.K/MB.01/MEM.B/2025 yang mengatur tarif denda administratif pelanggaran kegiatan usaha pertambangan di kawasan hutan. […]

  • Respons Berbeda soal Pandji: PKS Sebut Kritik Sehat, FPI Nilai Penistaan Agama

    Respons Berbeda soal Pandji: PKS Sebut Kritik Sehat, FPI Nilai Penistaan Agama

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 274
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sikap berbeda ditunjukkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Front Persaudaraan Islam (FPI) dalam merespons materi stand-up comedy Mens Rea yang dibawakan komika Pandji Pragiwaksono. PKS menilai materi tersebut sebagai bagian dari kritik yang sehat dalam demokrasi, sementara FPI menilai sebagian isi pertunjukan mengandung penistaan agama dan layak diproses hukum. Sekretaris Jenderal PKS, Muhammad […]

  • Putra Banggai Kepulauan Kevin Lapendos Desak Polres dan Pemda Tuntaskan Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi

    Putra Banggai Kepulauan Kevin Lapendos Desak Polres dan Pemda Tuntaskan Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Dugaan penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di Kabupaten Banggai Kepulauan kembali menuai sorotan. Kali ini, kritik keras datang dari putra kandung Banggai Kepulauan, Kevin Lapendos, aktivis asal Desa Kalumbatan, Kecamatan Totikum Selatan, yang sementara melanjutkan studinya di Gorontalo. Kevin yang cukup aktif mengawal isu-isu nasional dan juga isu daerah sering kali menyampaikan kritikannya melalui […]

  • PAD Maros 2025 Pecah Rekor, Tembus Rp329,5 Miliar

    PAD Maros 2025 Pecah Rekor, Tembus Rp329,5 Miliar

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Maros sepanjang tahun 2025 mencatatkan capaian gemilang. Total PAD yang berhasil dihimpun mencapai Rp329.562.919.533, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 yang terealisasi sebesar Rp283.056.990.320. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Maros, Muh Ferdiansyah, menyebut capaian tersebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan PAD Kabupaten Maros, sekaligus melampaui […]

  • Gubernur Gorontalo: Islamic Centre Dorong Pertumbuhan Wilayah dan Kurangi Kepadatan Kota

    Gubernur Gorontalo: Islamic Centre Dorong Pertumbuhan Wilayah dan Kurangi Kepadatan Kota

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Nulondalo.com –  Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyatakan pembangunan Gorontalo Islamic Centre bertujuan mendorong pertumbuhan berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, sosial budaya, hingga kemasyarakatan. Gusnar mengatakan, pembangunan berskala besar tersebut diharapkan mampu mengurangi tekanan ruang wilayah Kota Gorontalo agar tidak semakin padat. “Yang terpenting dalam pembangunan ini adalah pengembangan wilayah agar bisa tumbuh lebih […]

expand_less