Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jakarta Bukan Indonesia: Menimbang Federalisme dan Otoritas Kharismatik

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • visibility 216
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Perdebatan mengenai bentuk negara tidak pernah benar-benar usai. Ia muncul kembali setiap kali ketimpangan pembangunan melebar, distribusi sumber daya dipersoalkan, atau hubungan pemerintah pusat dan daerah dipenuhi rasa saling curiga. Pertanyaan yang mengemuka bukan lagi sekadar apakah Indonesia harus tetap menjadi negara kesatuan, melainkan apakah pola penyelenggaraannya yang masih menyisakan watak sentralistik masih memadai untuk mengelola negara kepulauan yang terbentang ribuan kilometer, dihuni ratusan etnis, bahasa, dan kebudayaan.

Membicarakan federalisme tidak berarti mengajak Indonesia mengganti bentuk negara. Yang sedang diuji adalah apakah sistem politik yang ada masih mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Tidak ada bentuk negara yang berlaku universal. Amerika Serikat, Jerman, Kanada, Australia, Swiss, India, dan Malaysia memilih federalisme karena perjalanan sejarah, kondisi geografis, serta kemajemukan sosial mereka. Prancis dan Jepang bertahan sebagai negara kesatuan karena pengalaman sejarahnya mengarah ke sana. Bentuk negara selalu merupakan hasil kompromi antara sejarah, budaya politik, dan kebutuhan masyarakat, bukan sebuah doktrin yang berlaku untuk semua bangsa.

Indonesia menyimpan ironi yang unik. Kita memiliki satu konstitusi, tetapi hidup dalam ruang-ruang sosial yang sangat berbeda. Aceh memiliki pengalaman sejarah yang berbeda dengan Papua. Kalimantan menghadapi persoalan yang berbeda dengan Jawa. Sulawesi memiliki karakter sosial yang berbeda dengan Nusa Tenggara. Keragaman ini membuat kebutuhan setiap daerah tidak selalu dapat dijawab melalui kebijakan yang dirumuskan dari satu pusat kekuasaan.

Selama ini Jakarta bukan hanya menjadi ibu kota pemerintahan, tetapi juga pusat imajinasi politik Indonesia. Banyak kebijakan lahir dari ruang birokrasi yang jauh dari realitas masyarakat daerah. Bukan berarti pemerintah pusat tidak bekerja, tetapi jarak geografis sering kali berubah menjadi jarak sosial. Yang muncul kemudian bukan sekadar ketimpangan pembangunan, melainkan perasaan bahwa daerah hanya menjadi pelaksana keputusan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak sepenuhnya mengalami persoalan mereka.

Federalisme menawarkan logika yang berbeda. Urusan yang menyangkut kepentingan nasional—pertahanan, hubungan luar negeri, kebijakan moneter, keamanan, dan konstitusi—tetap berada di tangan pemerintah pusat. Pendidikan, kesehatan, kebudayaan, tata ruang, pengelolaan sumber daya, hingga pelayanan publik lebih banyak diserahkan kepada pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat. Gagasan ini bertumpu pada prinsip subsidiarity: keputusan sebaiknya diambil sedekat mungkin dengan warga yang akan merasakan dampaknya.

berbagai literatur mengungkapkan bahwa demokrasi tumbuh dari kebiasaan masyarakat mengurus urusannya sendiri, bukan semata-mata dari pemilu. Montesquieu juga membaca bahwa kekuasaan yang terlalu terpusat selalu membawa risiko penyalahgunaan wewenang, ia juga memperlihatkan bahwa banyak persoalan publik justru lebih efektif diselesaikan melalui banyak pusat pengambilan keputusan yang saling bekerja sama daripada bergantung pada satu pusat komando.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rahmat Aries Bawa Asta Aksi ke Forum ASEAN

    Rahmat Aries Bawa Asta Aksi ke Forum ASEAN

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Prestasi membanggakan kembali diraih Kabupaten Luwu Utara. Rahmat Aries, seorang penyandang disabilitas yang menjabat sebagai Perencana Ahli Pertama di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Luwu Utara, terpilih mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi YSEALI Summit 2025 yang berlangsung di Penang, Malaysia. YSEALI (Young Southeast Asian Leaders Initiative) merupakan program kepemimpinan yang digagas oleh Pemerintah Amerika Serikat melalui […]

  • Langkah Terhadang Lapak: Menata Ulang Empati di Ruang Kota

    Langkah Terhadang Lapak: Menata Ulang Empati di Ruang Kota

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Kebijakan yang Menuai Tanya  Beberapa waktu terakhir, masyarakat Gorontalo dikejutkan oleh pernyataan Walikota yang memperkenankan pedagang berjualan di trotoar di ruas Jalan eks Andalas (John Ario Katili) dan Tanggidaa (Cokroaminoto). Pernyataan tersebut, meski berniat baik untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), justru menimbulkan pertanyaan di kalangan pemerhati tata kota, arsitek, dan masyarakat umum: Apakah […]

  • Dinas PPPA Provinsi Gorontalo Dipertahankan di Tengah Wacana Peleburan

    Dinas PPPA Provinsi Gorontalo Dipertahankan di Tengah Wacana Peleburan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, menegaskan pentingnya mempertahankan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai lembaga mandiri, menyusul wacana peleburan dengan Dinas Sosial. Penegasan ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan FGD percepatan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pengarusutamaan Gender (PUG) di Kantor Dinas PPPA Provinsi Gorontalo, Selasa (1/6/2025). Dalam sambutannya, Wagub Idah […]

  • Laporan Langit

    Laporan Langit

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan audit tahunan yang paling jujur: audit hati. Bedanya dengan audit laporan keuangan, auditor Ramadhan tidak bisa diajak negosiasi, tidak bisa diundang buka puasa bersama, dan tidak mengenal istilah “koreksi minor”. Ia langsung tembus ke niat. Dalam bahasa akuntansi, Ramadhan mengajarkan kita satu sistem pencatatan paling canggih: double entry dunia–akhirat. Dalam akuntansi modern, […]

  • Aktivis Pohuwato Desak Gubernur Gusnar Ismail Advokasi Revisi Permen ESDM 18/2025

    Aktivis Pohuwato Desak Gubernur Gusnar Ismail Advokasi Revisi Permen ESDM 18/2025

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 427
    • 0Komentar

    nulondalo.com  –  Aktivis asal Kabupaten Pohuwato, Muhajir Laindi, mendesak Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail untuk mengambil langkah lebih konkret dalam menyelesaikan persoalan pertambangan rakyat di daerah tersebut. Ia meminta pemerintah provinsi tidak hanya berfokus pada percepatan penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR), tetapi juga aktif mengadvokasi revisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 18 Tahun 2025 yang dinilai belum […]

  • Hak Interpelasi DPRD : Jalan Terang dalam Polemik BSG

    Hak Interpelasi DPRD : Jalan Terang dalam Polemik BSG

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Bayangkan anda adalah masyarakat Gorontalo. Hari ini anda membaca berita hangat yang informasinya ‘begini’, keesokan harinya ‘begitu’. Hari ini anda memahami informasi resmi dari pemangku kebijakan, tiba – tiba besoknya informasi tersebut diklarifikasi oleh mereka sendiri pula. Inilah realita masyarakat Gorontalo, terkekang dalam polemik Bank SulutGo (BSG) yang kebijakannya berpusar disitu saja yang membuat masyarakatnya […]

expand_less