Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jakarta Bukan Indonesia: Menimbang Federalisme dan Otoritas Kharismatik

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • visibility 142
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Perdebatan mengenai bentuk negara tidak pernah benar-benar usai. Ia muncul kembali setiap kali ketimpangan pembangunan melebar, distribusi sumber daya dipersoalkan, atau hubungan pemerintah pusat dan daerah dipenuhi rasa saling curiga. Pertanyaan yang mengemuka bukan lagi sekadar apakah Indonesia harus tetap menjadi negara kesatuan, melainkan apakah pola penyelenggaraannya yang masih menyisakan watak sentralistik masih memadai untuk mengelola negara kepulauan yang terbentang ribuan kilometer, dihuni ratusan etnis, bahasa, dan kebudayaan.

Membicarakan federalisme tidak berarti mengajak Indonesia mengganti bentuk negara. Yang sedang diuji adalah apakah sistem politik yang ada masih mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Tidak ada bentuk negara yang berlaku universal. Amerika Serikat, Jerman, Kanada, Australia, Swiss, India, dan Malaysia memilih federalisme karena perjalanan sejarah, kondisi geografis, serta kemajemukan sosial mereka. Prancis dan Jepang bertahan sebagai negara kesatuan karena pengalaman sejarahnya mengarah ke sana. Bentuk negara selalu merupakan hasil kompromi antara sejarah, budaya politik, dan kebutuhan masyarakat, bukan sebuah doktrin yang berlaku untuk semua bangsa.

Indonesia menyimpan ironi yang unik. Kita memiliki satu konstitusi, tetapi hidup dalam ruang-ruang sosial yang sangat berbeda. Aceh memiliki pengalaman sejarah yang berbeda dengan Papua. Kalimantan menghadapi persoalan yang berbeda dengan Jawa. Sulawesi memiliki karakter sosial yang berbeda dengan Nusa Tenggara. Keragaman ini membuat kebutuhan setiap daerah tidak selalu dapat dijawab melalui kebijakan yang dirumuskan dari satu pusat kekuasaan.

Selama ini Jakarta bukan hanya menjadi ibu kota pemerintahan, tetapi juga pusat imajinasi politik Indonesia. Banyak kebijakan lahir dari ruang birokrasi yang jauh dari realitas masyarakat daerah. Bukan berarti pemerintah pusat tidak bekerja, tetapi jarak geografis sering kali berubah menjadi jarak sosial. Yang muncul kemudian bukan sekadar ketimpangan pembangunan, melainkan perasaan bahwa daerah hanya menjadi pelaksana keputusan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak sepenuhnya mengalami persoalan mereka.

Federalisme menawarkan logika yang berbeda. Urusan yang menyangkut kepentingan nasional—pertahanan, hubungan luar negeri, kebijakan moneter, keamanan, dan konstitusi—tetap berada di tangan pemerintah pusat. Pendidikan, kesehatan, kebudayaan, tata ruang, pengelolaan sumber daya, hingga pelayanan publik lebih banyak diserahkan kepada pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat. Gagasan ini bertumpu pada prinsip subsidiarity: keputusan sebaiknya diambil sedekat mungkin dengan warga yang akan merasakan dampaknya.

berbagai literatur mengungkapkan bahwa demokrasi tumbuh dari kebiasaan masyarakat mengurus urusannya sendiri, bukan semata-mata dari pemilu. Montesquieu juga membaca bahwa kekuasaan yang terlalu terpusat selalu membawa risiko penyalahgunaan wewenang, ia juga memperlihatkan bahwa banyak persoalan publik justru lebih efektif diselesaikan melalui banyak pusat pengambilan keputusan yang saling bekerja sama daripada bergantung pada satu pusat komando.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Abu Lubabah, Kisah Pengkhianatan dan Pertobatan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #10)

    Abu Lubabah, Kisah Pengkhianatan dan Pertobatan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #10)

    • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Abu Lubabah bin Abd al-Mundzhir adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar, berasal dari suku Aws di Madinah. Nama aslinya Basyir bin ‘Abd al-Mundhir. Ia termasuk Muslim awal di Madinah dan terlibat dalam fase-fase penting komunitas setelah hijrah. Dalam Perang Badr, ia ditugaskan menjaga Madinah sehingga tidak hadir di medan tempur, tetapi tetap dihitung […]

  • Ramadhan Yang Robek

    Ramadhan Yang Robek

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 258
    • 0Komentar

    Oleh : Asrul G.H. Lasapa – (Pegiat Dakwah Gorontalo) Puasa merupakan kawah candradimuka yang menjadi tempat melatih dan menggembleng seseorang agar memiliki mental spiritual yang agung dan mulia. Ritual puasa tidak hanya sekedar penampakan simbolitas permukaan yang nyata berupa tidak makan, minum dan hubungan seksual semata, tetapi puasa adalah kemampuan pengendalian jiwa dari keterpurukan emosional. […]

  • Semarak HUT ke-80 RI di SD Negeri 40 Kota Ternate Penuh Warna dan Antusiasme

    Semarak HUT ke-80 RI di SD Negeri 40 Kota Ternate Penuh Warna dan Antusiasme

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, SD Negeri 40 Kota Ternate menggelar rangkaian lomba yang memadukan nuansa kebudayaan dan semangat kebersamaan. Dua kegiatan utama yang digelar adalah lomba tarian daerah pada 5–7 Agustus 2025 dan lomba gerak jalan yang menjadi penutup pada 9 Agustus 2025. Kepala SD Negeri 40 Kota Ternate […]

  • Proyek Sekolah Rakyat Jadi Sorotan dalam Reses Muhammad Dzikyan di Boalemo

    Proyek Sekolah Rakyat Jadi Sorotan dalam Reses Muhammad Dzikyan di Boalemo

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 183
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Proyek pembangunan Sekolah Rakyat berskala provinsi dengan nilai anggaran sekitar Rp134 miliar menjadi salah satu sorotan utama masyarakat dalam kegiatan reses Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Daerah Pemilihan Pohuwato–Boalemo, Muhammad Dzikyan, di Desa Bongo Dua, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Jumat (6/2/2026). Dalam dialog bersama warga, sejumlah masyarakat mempertanyakan dampak langsung pembangunan tersebut terhadap perekonomian […]

  • Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

    Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

    • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Dalam dunia keuangan, laporan laba rugi sering jadi primadona. Investor melihatnya, direksi memamerkannya, media mengutipnya. Tapi bagi seorang akuntan, neraca—ya, struktur aset, kewajiban, dan ekuitas—adalah panggung sesungguhnya di mana kekuatan dan kelemahan suatu entitas benar-benar bisa dinilai. Maka ketika saya membaca laporan keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo (BSG) per 31 Desember 2024, […]

  • Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga (poto: Istimewah)

    Wagub Sulbar Salim S Mengga Wafat, Ini Kronologi Lengkapnya

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 296
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kabar duka menyelimuti Sulawesi Barat. Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayjen TNI (Purn) Salim S Mengga, meninggal dunia pada Sabtu, 31 Januari 2026, sekitar pukul 06.40 Wita. Salim S Mengga mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Siloam Makassar. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menyampaikan bahwa almarhum wafat akibat sakit, tanpa merinci […]

expand_less