Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jakarta Bukan Indonesia: Menimbang Federalisme dan Otoritas Kharismatik

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
  • visibility 144
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Banyaknya ketimpangan semacam ini disebut sebagai structural violence. Seperti istilah yg dipopukerkan Johan Galtung Kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk senjata atau konflik terbuka. Ia juga dapat muncul melalui sistem yang membuat sebagian kelompok terus-menerus menikmati keuntungan, sementara kelompok lain hanya menjadi penyedia sumber daya. Tidak mengherankan jika banyak gerakan separatis di berbagai negara lahir bukan pertama-tama karena perbedaan identitas, melainkan karena pengalaman panjang diperlakukan tidak adil.

Tentu federalisme bukan tanpa masalah. Kekuasaan yang dibagi ke daerah dapat melahirkan oligarki baru apabila tidak diimbangi institusi yang kuat dan pengawasan yang sehat. Alih-alih mendekatkan negara kepada rakyat, federalisme justru bisa menciptakan “raja-raja kecil” yang menguasai sumber daya lokal. Karena itu, persoalannya bukan sekadar memilih antara negara kesatuan atau federal, melainkan membangun tata kelola yang mampu mencegah konsentrasi kekuasaan, baik di pusat maupun di daerah.

Trauma terhadap federalisme di Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari pengalaman Republik Indonesia Serikat pada 1949 yang lahir dalam konteks politik kolonial Belanda. Pengalaman itu membuat federalisme identik dengan ancaman disintegrasi. Padahal, pengalaman sejarah tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa federalisme bertentangan dengan nasionalisme. Banyak negara federal justru memiliki integrasi nasional yang sangat kuat.

Yang sering terlupakan ialah bahwa persatuan tidak identik dengan pemusatan kekuasaan. Bangsa bertahan bukan hanya karena memiliki bendera dan konstitusi yang sama, tetapi karena setiap wilayah merasa diperlakukan sebagai bagian yang setara. Negara menjadi kuat ketika keadilan dapat dirasakan hingga ke pinggiran, bukan hanya ketika kewenangan terkumpul di ibu kota.

Ada kepercayaan saya secara personal bahwa pembangunan bukan sekadar memperbesar negara, melainkan memperbesar kemampuan masyarakat untuk menentukan nasibnya sendiri. Negara yang terlalu dominan berisiko mematikan kreativitas lokal. Sebaliknya, masyarakat yang diberi ruang mengambil keputusan akan tumbuh menjadi warga negara yang lebih bertanggung jawab. Pemikiran itu terasa semakin relevan ketika desentralisasi sering kali dipahami hanya sebagai pembagian anggaran, bukan pembagian kepercayaan.

Namun persoalan Indonesia tampaknya lebih rumit daripada sekadar memilih bentuk negara. Yang lebih sulit diubah adalah budaya politik yang telah berumur sangat panjang.

Max Weber membedakan tiga sumber legitimasi kekuasaan: rasional-legal, tradisional, dan kharismatik. Konstitusi Indonesia dibangun di atas fondasi rasional-legal, tetapi kehidupan politik sehari-hari masih bergerak melalui hubungan personal. Kedekatan dengan tokoh, patronase, loyalitas kepada figur, pengaruh bangsawan lokal, maupun kharisma pemimpin agama sering kali lebih menentukan daripada kekuatan institusi. Politik dinasti terus bertahan bukan semata karena lemahnya hukum, melainkan karena masyarakat masih memberi makna besar kepada hubungan personal dalam kehidupan politik.

Warisan kolonial memang memperkuat pola patron-klien melalui sistem pemerintahan tidak langsung. Akan tetapi, akar hubungan patronase telah lebih dahulu hidup dalam struktur kerajaan-kerajaan Nusantara. Kolonialisme hanya menemukan pola tersebut, merawatnya, lalu menjadikannya alat administrasi. Setelah Indonesia merdeka, pola itu tidak menghilang. Ia berganti wajah menjadi patronase politik, distribusi jabatan, dan pertukaran loyalitas dengan akses terhadap sumber daya negara.

karena itulah perdebatan tentang federalisme belum menyentuh akar persoalan. Kita sibuk memperdebatkan bentuk negara, sementara budaya politik yang menopang negara hampir tidak pernah dipersoalkan. Sebaik apa pun desain konstitusi, ia akan bekerja sesuai watak masyarakat yang menghidupkannya. Federalisme dapat berubah menjadi oligarki lokal. Negara kesatuan pun dapat berubah menjadi sentralisme yang menyingkirkan daerah. Yang menentukan bukan hanya bentuk negaranya, tetapi juga kebudayaan politik yang menggerakkannya.

Indonesia sedang mengarah tidak hanya pada defisit ekonomi tapi juga defitpsit Truth, lalu lupa bahwa Kepercayaan lahir ketika masyarakat merasa didengar, memiliki ruang menentukan masa depannya, dan melihat negara sebagai milik bersama, bukan milik segelintir elite di pusat maupun di daerah. Persatuan yang dibangun di atas rasa adil selalu lebih kokoh daripada persatuan yang hanya bergantung pada konsentrasi kekuasaan.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LPNU Gorontalo Gelar Buka Puasa Bersama, Bahas Tantangan Ekonomi Warga NU di Era MEA

    LPNU Gorontalo Gelar Buka Puasa Bersama, Bahas Tantangan Ekonomi Warga NU di Era MEA

    • calendar_month Senin, 10 Jun 2019
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 131
    • 0Komentar

    nulondalo.com – PWNU Provinsi Gorontalo menginstruksikan kepada seluruh badan dan lembaga Nahdlatul Ulama di tingkat provinsi untuk mengisi bulan suci Ramadan dengan berbagai kegiatan keagamaan. Menindaklanjuti instruksi tersebut, Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dihadiri oleh jajaran pengurus LPNU serta sejumlah badan otonom (Banom) dan lembaga NU lainnya, […]

  • Resolusi 2026: Memindahkan energi, memperluas Jejaring Play Button

    Resolusi 2026: Memindahkan energi, memperluas Jejaring

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Periode 2019–2025, saat saya memimpin Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), menjadi fase penting dalam pembelajaran kepemimpinan dan pengelolaan program pengembangan sumber daya manusia keagamaan. Berbagai program yang dilaksanakan—mulai dari MB Speak Up, Sekolah Penguatan Moderasi Beragama, hingga Klinik Moderasi Beragama—menjadi laboratorium bagi pengembangan strategi, inovasi, dan implementasi kebijakan moderasi beragama di tingkat operasional. Pengalaman memimpin […]

  • Mengapa Harus Panahan? photo_camera 2

    Mengapa Harus Panahan?

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 380
    • 0Komentar

    Catatan Antropolog tentang Disiplin, Rasa, dan Jalan Pulang pada Diri Ada olahraga yang membuat kita berkeringat. Ada yang memacu adrenalin. Dan ada satu yang membuat kita diam namun justru di sanalah kita menemukan diri sendiri. Panahan adalah yang terakhir. Saya menulis ini sebagai antropolog—dan pengalaman itu diperkaya oleh perjumpaan panjang dengan Bang Ade Permana, seorang […]

  • Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Serius

    Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Serius

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 295
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menilai demokrasi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius yang berpotensi melemahkan prinsip-prinsip dasar demokrasi, mulai dari kebebasan sipil, supremasi sipil, hingga kebebasan pers. Penilaian tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers Pesan Kebangsaan Awal Tahun 2026, yang digelar di Grha Pemuda, Kompleks Gereja Katedral, Jalan Katedral No. 7B, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026), […]

  • Abu Dzar al-Ghiffari, Para Ahlu Suffah dan Akar Tasawuf dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #21)

    Abu Dzar al-Ghiffari, Para Ahlu Suffah dan Akar Tasawuf dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #21)

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Setelah hijrah ke Madinah, Abu Dzar menjadi bagian dari komunitas sahabat yang hidup sangat sederhana di sekitar Masjid Nabawi. Di masjid itu terdapat sebuah serambi beratap yang dikenal sebagai Suffah. Di tempat inilah tinggal sekelompok sahabat yang tidak memiliki rumah atau penghasilan tetap. Mereka dikenal sebagai Ahlu Suffah. Jumlah mereka tidak selalu sama. Kadang sekitar […]

  • Breaking News : Prabowo Serukan Perang Terhadap Sampah

    Breaking News : Prabowo Serukan Perang Terhadap Sampah

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 365
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto menyerukan perang terhadap sampah dan meminta seluruh kepala daerah, kementerian, serta lembaga negara untuk serius menangani persoalan lingkungan. Seruan tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintahan Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026). Dalam arahannya, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia saat ini berada dalam kondisi darurat sampah. […]

expand_less