Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jakarta Bukan Indonesia: Menimbang Federalisme dan Otoritas Kharismatik

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 15 jam yang lalu
  • visibility 19
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Banyaknya ketimpangan semacam ini disebut sebagai structural violence. Seperti istilah yg dipopukerkan Johan Galtung Kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk senjata atau konflik terbuka. Ia juga dapat muncul melalui sistem yang membuat sebagian kelompok terus-menerus menikmati keuntungan, sementara kelompok lain hanya menjadi penyedia sumber daya. Tidak mengherankan jika banyak gerakan separatis di berbagai negara lahir bukan pertama-tama karena perbedaan identitas, melainkan karena pengalaman panjang diperlakukan tidak adil.

Tentu federalisme bukan tanpa masalah. Kekuasaan yang dibagi ke daerah dapat melahirkan oligarki baru apabila tidak diimbangi institusi yang kuat dan pengawasan yang sehat. Alih-alih mendekatkan negara kepada rakyat, federalisme justru bisa menciptakan “raja-raja kecil” yang menguasai sumber daya lokal. Karena itu, persoalannya bukan sekadar memilih antara negara kesatuan atau federal, melainkan membangun tata kelola yang mampu mencegah konsentrasi kekuasaan, baik di pusat maupun di daerah.

Trauma terhadap federalisme di Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari pengalaman Republik Indonesia Serikat pada 1949 yang lahir dalam konteks politik kolonial Belanda. Pengalaman itu membuat federalisme identik dengan ancaman disintegrasi. Padahal, pengalaman sejarah tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa federalisme bertentangan dengan nasionalisme. Banyak negara federal justru memiliki integrasi nasional yang sangat kuat.

Yang sering terlupakan ialah bahwa persatuan tidak identik dengan pemusatan kekuasaan. Bangsa bertahan bukan hanya karena memiliki bendera dan konstitusi yang sama, tetapi karena setiap wilayah merasa diperlakukan sebagai bagian yang setara. Negara menjadi kuat ketika keadilan dapat dirasakan hingga ke pinggiran, bukan hanya ketika kewenangan terkumpul di ibu kota.

Ada kepercayaan saya secara personal bahwa pembangunan bukan sekadar memperbesar negara, melainkan memperbesar kemampuan masyarakat untuk menentukan nasibnya sendiri. Negara yang terlalu dominan berisiko mematikan kreativitas lokal. Sebaliknya, masyarakat yang diberi ruang mengambil keputusan akan tumbuh menjadi warga negara yang lebih bertanggung jawab. Pemikiran itu terasa semakin relevan ketika desentralisasi sering kali dipahami hanya sebagai pembagian anggaran, bukan pembagian kepercayaan.

Namun persoalan Indonesia tampaknya lebih rumit daripada sekadar memilih bentuk negara. Yang lebih sulit diubah adalah budaya politik yang telah berumur sangat panjang.

Max Weber membedakan tiga sumber legitimasi kekuasaan: rasional-legal, tradisional, dan kharismatik. Konstitusi Indonesia dibangun di atas fondasi rasional-legal, tetapi kehidupan politik sehari-hari masih bergerak melalui hubungan personal. Kedekatan dengan tokoh, patronase, loyalitas kepada figur, pengaruh bangsawan lokal, maupun kharisma pemimpin agama sering kali lebih menentukan daripada kekuatan institusi. Politik dinasti terus bertahan bukan semata karena lemahnya hukum, melainkan karena masyarakat masih memberi makna besar kepada hubungan personal dalam kehidupan politik.

Warisan kolonial memang memperkuat pola patron-klien melalui sistem pemerintahan tidak langsung. Akan tetapi, akar hubungan patronase telah lebih dahulu hidup dalam struktur kerajaan-kerajaan Nusantara. Kolonialisme hanya menemukan pola tersebut, merawatnya, lalu menjadikannya alat administrasi. Setelah Indonesia merdeka, pola itu tidak menghilang. Ia berganti wajah menjadi patronase politik, distribusi jabatan, dan pertukaran loyalitas dengan akses terhadap sumber daya negara.

karena itulah perdebatan tentang federalisme belum menyentuh akar persoalan. Kita sibuk memperdebatkan bentuk negara, sementara budaya politik yang menopang negara hampir tidak pernah dipersoalkan. Sebaik apa pun desain konstitusi, ia akan bekerja sesuai watak masyarakat yang menghidupkannya. Federalisme dapat berubah menjadi oligarki lokal. Negara kesatuan pun dapat berubah menjadi sentralisme yang menyingkirkan daerah. Yang menentukan bukan hanya bentuk negaranya, tetapi juga kebudayaan politik yang menggerakkannya.

Indonesia sedang mengarah tidak hanya pada defisit ekonomi tapi juga defitpsit Truth, lalu lupa bahwa Kepercayaan lahir ketika masyarakat merasa didengar, memiliki ruang menentukan masa depannya, dan melihat negara sebagai milik bersama, bukan milik segelintir elite di pusat maupun di daerah. Persatuan yang dibangun di atas rasa adil selalu lebih kokoh daripada persatuan yang hanya bergantung pada konsentrasi kekuasaan.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penyebab Menteri KKP Jatuh Pingsan Terungkap, Diduga Akibat Kelelahan

    Penyebab Menteri KKP Jatuh Pingsan Terungkap, Diduga Akibat Kelelahan

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 206
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Penyebab Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono jatuh pingsan saat memimpin upacara pelepasan jenazah di Jakarta akhirnya terungkap. Berdasarkan keterangan pihak KKP, Trenggono diduga mengalami kelelahan akibat aktivitas dan agenda kerja yang padat dalam beberapa hari terakhir. Insiden tersebut terjadi saat Menteri Trenggono memimpin upacara penghormatan dan pelepasan jenazah pegawai KKP […]

  • Idul Fitr: Ketika Kapal-kapal Bersiap Kembali

    Idul Fitr: Ketika Kapal-kapal Bersiap Kembali

    • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Terhitung 1 Syawal 2022/1 Mei 2022, kita berpisah dengan Ramadan dan menyambut hari baru. Hari ini kita berlebaran. Kumandang takbir yang agung bersahut-sahutan. Ada perasaan haru kembali ke fitr (suci); namun ada perasaan tidak kuat menahan kepergian Ramadan yang berlalu begitu cepat. Sebab Ramadan, bagaimana pun juga, adalah bulan yang agung. Farid Essack, seorang sarjana kenamaan Afrika […]

  • Spirit Qurban: Manifestasi Iman dan Solidaritas Kemanusiaan

    Spirit Qurban: Manifestasi Iman dan Solidaritas Kemanusiaan

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Amsar A. Dulmanan
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Ibadah qurban merupakan  simbol spiritual paling mendalam pada tradisi Islam. Qurban tidak sekadar ritual penyembelihan hewan pada momentum Idul Adha, melainkan representasi perjalanan batin manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkuat relasi kemanusiaan. Dalam tindakan qurban terkandung pesan pengorbanan, keikhlasan, ketundukan, dan solidaritas sosial yang melampaui makna formal ibadah. Di tengah kehidupan modern […]

  • LBH PB PMII Kecam Dugaan Illegal Logging CV AEM di Sula, Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan dan Copot Kepala UPTD KPH Kepulauan Sula

    LBH PB PMII Kecam Dugaan Illegal Logging CV AEM di Sula, Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan dan Copot Kepala UPTD KPH Kepulauan Sula

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 223
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Lembaga Bantuan Hukum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (LBH PB PMII) mengecam keras dugaan skandal illegal logging yang melibatkan CV Anugerah Empat Mandiri (AEM) di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Perusahaan tersebut diduga kuat melakukan penebangan kayu di luar koordinat izin yang telah ditentukan, yang merupakan pelanggaran berat terhadap hukum kehutanan di […]

  • Dilepas ke Papua, 450 Prajurit Yonif 713 Diingatkan Disiplin dan Profesional

    Dilepas ke Papua, 450 Prajurit Yonif 713 Diingatkan Disiplin dan Profesional

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Oleh karena itu, ia meminta seluruh personel menjaga kekompakan dan saling melindungi satu sama lain. Menurutnya, setiap prajurit Yonif 713 bukan hanya menjalankan tugas militer, tetapi juga membawa nama baik kesatuan dan daerah Gorontalo. “Jaga kehormatan diri, kesatuan, dan daerah. Kalian adalah representasi Gorontalo di medan tugas,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menekankan agar seluruh prajurit […]

  • Dari Pesantren untuk Masa Depan Khatamun Nabiyyin dan BSI Bersinergi Tingkatkan Literasi Keuangan serta Investasi Emas Syariah

    Dari Pesantren untuk Masa Depan Khatamun Nabiyyin dan BSI Bersinergi Tingkatkan Literasi Keuangan serta Investasi Emas Syariah

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Di antara peserta, seorang mahasantriwati bernama Nur Izza Khairunnisa terlihat serius mencatat setiap materi di buku kecilnya sejak awal kegiatan. “Selama ini saya kira urusan harta dan ibadah itu dua jalan yang berbeda. Ternyata menjaga harta dari riba dan menumbuhkannya dengan cara halal juga bagian dari amanah yang harus kita tunaikan. Kalau kita membiarkan harta […]

expand_less