Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Apakah Indonesia sudah dalam Cengkeraman Masyarakat Paliatif?

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
  • visibility 138
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kita hidup dalam realitas yang serba aneh. Informasi datang menerjang setiap detik, jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk benar-benar meresapi apa yang terjadi. Setiap hari, layar ponsel kita dijejali berita korupsi, lahan yang dirampas, sungai yang tercemar, hingga ketimpangan yang makin lebar. Semua ada di sana, bisa diakses hanya dengan satu sapuan jari. Namun, di tengah banjir informasi ini, muncul satu pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah kita masih benar-benar “hadir” saat menyaksikan semua itu?

Masalahnya bukan lagi soal kekurangan data. Kita justru kelebihan informasi. Masalah sebenarnya adalah bagaimana informasi itu sering kali hanya lewat begitu saja tanpa sempat mengendap menjadi kesadaran. Korupsi sudah dianggap berita rutin. Bencana alam menjadi siklus tahunan yang kita anggap “nasib”. Ketimpangan sosial kita lihat seperti pemandangan di pinggir jalan yang perlahan-lahan tak lagi kita hiraukan. Apa yang dulunya memicu amarah, sekarang mungkin hanya membuat kita menghela napas, lalu lanjut menelusuri konten berikutnya.

Inilah semacam ambiguisutas era digital, kita tahu banyak, tapi sedikit sekali yang kita rasakan. Kita menonton penderitaan orang lain seperti sedang menonton hiburan—semuanya serba cepat, gampang berganti, dan mudah dilupakan.

Filsuf Byung-Chul Han menyebut kondisi ini sebagai Palliative Society atau masyarakat paliatif. Kita sedang terobsesi dengan kenyamanan. Segala hal yang menyakitkan, yang memicu konflik, yang membuat cemas, atau yang menuntut tanggung jawab moral, dianggap sebagai “gangguan” yang harus segera disingkirkan. Kita membangun sistem di mana kita tidak perlu lagi berlama-lama menghadapi sesuatu yang pahit.

Saat kita merasa gelisah, ada hiburan yang siap mengalihkan. Saat kecewa, ada konsumsi yang menawarkan pelarian. Saat cemas melihat dunia yang makin rusak, ruang digital menyediakan arus konten tanpa henti untuk menenggelamkan rasa itu. Kita kehilangan nyali untuk berdiam diri bersama rasa sakit, padahal sering kali justru dari sanalah kesadaran yang jujur lahir.

Jika menggunakan kerangka Paulo Freire justru seakan menantang kita. Karena Berbeda dengan kecenderungan kita yang ingin selalu “baik-baik saja” dan menghindari rasa sakit, Freire justru percaya bahwa kesadaran kritis lahir dari keberanian untuk berhadapan dengan realitas, sepedih apa pun itu. Baginya, kesadaran tidak tumbuh dari jarak yang aman, melainkan dari keterlibatan.

Freire pernah berargumen bahwa “perasaan adalah fakta”. Ini bukan sekadar kata-kata puitis. Ia ingin menegaskan bahwa emosi bukanlah musuh dari logika. Emosi adalah salah satu cara paling jujur bagi manusia untuk memahami dunia. Seorang petani yang marah karena tanahnya dirampas, atau nelayan yang cemas melihat lautnya mati, mungkin tidak menggunakan bahasa akademis yang rumit. Namun, mereka merasakan sesuatu yang “salah”. Perasaan tidak nyaman itulah titik awal dari sebuah kesadaran.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tinggalkan Jagung Priatno Sejahtera Menanam Kakao

    Tinggalkan Jagung Priatno Sejahtera Menanam Kakao

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo dikenal memiliki bentang alam pertanian jagung yang dihiasi hamparan kebun jagung di lereng-lereng bukit. Meskipun indah dipandang mata tetapi pesona kebun jagung itu ternyata menyimpan bahaya besar, yakni erosi permukaan tanah (top soil) karena pengolahan lahan tanpa terasering atau teknik konservasi tanah. Menghadapi kondisi ini, hati Priatno (45) galau. Pria Jawa transmigran asal Banyumas Jawa […]

  • Kalau Sudah Tahu Merugikan, Tapi Masih Nekat Nikah Siri… Ya Sudah

    Kalau Sudah Tahu Merugikan, Tapi Masih Nekat Nikah Siri… Ya Sudah

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 255
    • 0Komentar

    “Nikah siri itu lebih banyak merugikan perempuan. Jadi nikah siri kalau di keputusan MUI sah, tapi itu haram. Kenapa? Nyaktiti orang lain. Membuat perempuan itu kurang sempurna mendapatkan haknya,” tegasnya.

  • Koordinator Bidang Pendidikan dan Ekonomi DPP GENINUSA: Efisiensi Anggaran Tidak Harus Mengorbankan Lembaga Strategis

    Koordinator Bidang Pendidikan dan Ekonomi DPP GENINUSA: Efisiensi Anggaran Tidak Harus Mengorbankan Lembaga Strategis

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Presiden Republik Indonesia, pada 22 Januari 2025 yang lalu telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025, yang berfokus pada efisiensi belanja dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2025. Inpres tersebut menyasar sejumlah kementerian di Kabinet Merah Putih, termasuk Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan […]

  • BINUS University Perluas Akses Pendidikan, PusGita Jangkau Sekolah Terpencil di Sulawesi Selatan

    BINUS University Perluas Akses Pendidikan, PusGita Jangkau Sekolah Terpencil di Sulawesi Selatan

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Keterbatasan akses internet masih menjadi salah satu tantangan utama bagi dunia pendidikan di berbagai wilayah pelosok Indonesia. Di saat sekolah-sekolah di perkotaan semakin akrab dengan pembelajaran berbasis digital, tidak sedikit siswa di daerah terpencil yang masih mengandalkan koleksi buku yang terbatas. Menjawab persoalan tersebut, BINUS University menghadirkan PusGita (Perpustakaan Digital Offline) versi […]

  • Covid-19 dan “Matinya” Agama

    Covid-19 dan “Matinya” Agama

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Corona Virus Disease (Covid-19) di Indonesia telah menyerang banyak jiwa manusia. Tidak mengenal yang tua maupun yang muda, laki-laki atau perempuan, bahkan anak-anak ikut menjadi korban dari ganasnya virus ini. Negara“kewalahan” melawan serangan virus corona. Beberapa program telah diberlakukan oleh pemerintah untuk menangani dan memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan ini. Sebut saja physical distancing (jaga jarak), […]

  • DVI Identifikasi 20 Jenazah Korban Longsor Bandung Barat, 18 Masih Proses

    DVI Identifikasi 20 Jenazah Korban Longsor Bandung Barat, 18 Masih Proses

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri berhasil mengidentifikasi 20 jenazah korban longsor di Kabupaten Bandung Barat. Seluruh jenazah yang telah teridentifikasi tersebut telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Berdasarkan data sementara hingga Senin (26/1) pukul 18.30 WIB, Tim SAR gabungan telah mengevakuasi dan mengirimkan sebanyak 38 kantong jenazah ke pos DVI untuk […]

expand_less