Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (4)

  • account_circle Momy Hunowu
  • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
  • visibility 177
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Banyak orang mengetahui cerita tentang rumah peninggalan Belanda di Huludu Ayumolingo. Namun, hanya segelintir yang mengaku pernah berdiri di depannya. Tidak ada penunjuk jalan, tidak ada koordinat pasti, bahkan masyarakat setempat pun tidak berani menjamin dapat menemukannya kembali. Anehnya, rumah itu justru lebih sering ditemukan oleh mereka yang tidak sedang mencarinya.  Mari kita simak lanjutan kisahnya sambil menikmati sepiring bubur sada plus dabu-dabu lo sagela.

Rumah yang Memilih Siapa yang Menemukannya

Menemukan rumah peninggalan Belanda itu bukanlah perkara mudah, terlebih jika keberangkatannya memang direncanakan. Menurut penuturan para informan, rumah tersebut justru lebih sering ditemukan secara tidak sengaja oleh orang-orang yang sedang melintas di kawasan itu.

Penulis berhasil menemui dua orang yang pernah menyaksikan langsung rumah tersebut. Informan pertama adalah (KS), seorang pencari rotan yang tanpa sengaja menemukan rumah itu ketika menyusuri hutan bersama rekan-rekannya. Informan kedua adalah (SA). Ia menemukan rumah tersebut saat mendampingi Yunus Polahi, Risal dari Suwawa, dan seorang warga negara Kanada bernama Mr. John yang sedang melakukan survei potensi kandungan emas di kawasan tersebut.

Menurut penuturan kedua informan, rumah itu diyakini memiliki penjaga (ladu-ladungo). Penjaganya bukan manusia, melainkan sepasang ayam putih (malua pute) yang oleh masyarakat disebut malua olawe. Ayam itu dipercaya bukan ayam biasa, melainkan makhluk gaib yang hanya dijumpai di sekitar rumah tersebut. Para informan menuturkan bahwa, ekornya menyerupai ular dan tidak pernah berkembang biak. Keberadaannya pun sulit dipastikan. Kadang tampak berkeliaran di sekitar rumah, tetapi pada waktu lain menghilang tanpa jejak. Bagi masyarakat setempat, kemunculan dan lenyapnya ayam-ayam itu semakin menguatkan keyakinan bahwa rumah tersebut berada dalam penjagaan kekuatan yang tak kasatmata.

Untuk mencapai kawasan Huludu Ayumolingo, perjalanan dimulai dari Tiluti dengan mengikuti aliran Sungai Tiluti. Perjalanan dari kampung menuju lokasi biasanya ditempuh selama sekitar dua hari. Para pelintas umumnya bermalam terlebih dahulu di Tiluti sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak perbukitan yang dipenuhi tanaman kayu manis. Dari titik bermalam, perjalanan mendaki hingga ke puncak memerlukan jarak sekitar lima kilometer.

Sesampainya di puncak, Gunung Boliyohuto tampak membentang di sebelah kiri. Dari kejauhan gunung itu terlihat begitu dekat, namun menurut penuturan masyarakat, perjalanan kaki untuk mencapainya justru sangat jauh dan melelahkan. Selain melalui Tiluti, kawasan ini juga dapat diakses dari Monggolito, Kecamatan Mootilango. Akan tetapi, jalur tersebut diyakini lebih panjang dan lebih sulit ditempuh.

Bagi masyarakat setempat, kesulitan mencapai Huludu Ayumolingo bukan semata-mata disebabkan oleh medan yang terjal dan lebatnya hutan. Ada keyakinan lain yang tak kalah penting. Seseorang yang hendak memasuki kawasan itu dianjurkan terlebih dahulu menjalani ladunga liyo. Ladungo merupakan ritual adat yang disertai doa atau mantra tertentu dengan tujuan memohon keselamatan selama perjalanan. Menurut kepercayaan masyarakat, ritual tersebut bertujuan agar seseorang tidak tersesat dan dapat kembali dengan selamat. Selain itu sebagai bentuk permohonan perlindungan agar tidak diganggu oleh makhluk gaib yang diyakini menjaga rumah tua di puncak Huludu Ayumolingo

Gunung Huludu Ayumolingo merupakan daerah tangkapan air yang menjadi hulu bagi dua sungai besar, yakni Sungai Alo dan Sungai Pongawaa. Dari kawasan pegunungan itu, kedua sungai mengalir ke arah yang berbeda. Sungai Alo mengarah ke wilayah Buhu, sedangkan Sungai Pongawaa mengalir menuju Molalahu. Meskipun berpisah sejak dari hulunya, kedua sungai tersebut kembali bertemu di Danau Limboto.

Menurut ingatan masyarakat, debit Sungai Pongawaa yang mengalir ke Molalahu kini jauh berkurang dibandingkan masa lalu. Dahulu alirannya deras dan menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat, sedangkan kini volumenya tidak lagi sebesar yang dikenang para tetua kampung. Penyebab perubahan tersebut masih menjadi perbincangan di kalangan warga dan belum dapat dipastikan. Sebagian mengaitkannya dengan perubahan aliran sungai ke arah wilayah Monano, Gorontalo Utara, sementara yang lain menduga perubahan itu dipengaruhi oleh faktor-faktor alam yang belum banyak dikaji.

Selain menjadi sumber mata air, kawasan Huludu Ayumolingo juga menyimpan sejumlah air terjun. Salah satunya adalah Bontula Layuhu. Di sekitar air terjun inilah, menurut penuturan masyarakat, kerap dijumpai ular berukuran sangat besar. Warga meyakini bahwa tidak setiap orang mampu menghadapi kemunculan ular tersebut. Dibutuhkan kemampuan khusus untuk menghalaunya.

Salah seorang informan menuturkan pengalaman Yunus Polahi ketika berhadapan dengan seekor ular raksasa di kawasan itu. Dengan hanya melemparkan sebatang ranting sambil melafalkan mantra-mantra tertentu, ular tersebut perlahan bergerak menjauh lalu menghilang ke dalam rimbunnya hutan. Menurut penuturan informan, ular itu berwarna kebiru-biruan, berdiameter sebesar drum, dan panjangnya diperkirakan mencapai lima belas meter. Dalam kondisi tertentu, tubuhnya yang membujur di antara pepohonan begitu menyerupai batang kayu tumbang sehingga mudah mengecoh orang yang melintas. Masyarakat percaya, siapa pun yang lengah dapat menjadi korban keganasannya.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, cerita tentang ular raksasa di Bontula Layuhu menjadi petunjuk betapa masyarakat Molalahu mulolo memaknai Huludu Ayumolingo sebagai bentang alam yang menyimpan sumber air dan kekayaan hayati, sekaligus juga ruang sakral yang dihuni kekuatan-kekuatan tak kasatmata. Dalam pandangan mereka, hutan, gunung, sungai, dan seluruh isinya harus diperlakukan dengan hormat. Barangkali karena itulah, hingga kini kawasan tersebut tetap diselimuti rasa segan, bahkan bagi mereka yang telah berkali-kali menjelajahinya.

Bagi masyarakat Molalahu mulolo, kawasan Tupalo tidak membutuhkan papan bertuliskan “Dilarang Menambang.” Penjaganya sudah ada sejak lama. Sebagian orang mungkin menertawakan kisah ayam putih, ular raksasa, atau ladungo. Namun anehnya, orang-orang tua di kampung selalu mengatakan hal yang sama: yang masuk dengan hormat akan dipersilakan pulang, tetapi yang masuk dengan keserakahan belum tentu menemukan jalan kembali. Percaya atau tidak, itu pilihan masing-masing. (BERSAMBUNG).

  • Penulis: Momy Hunowu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polemik NU Gorontalo Kembali Mencuat, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Mengemuka

    Polemik NU Gorontalo Kembali Mencuat, Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan Mengemuka

    • calendar_month Rabu, 5 Okt 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 83
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Polemik di tubuh Nahdlatul Ulama Gorontalo tampaknya belum juga mereda. Dari catatan yang dihimpun redaksi, sejumlah persoalan internal terus bermunculan di organisasi para ulama di ujung utara Pulau Sulawesi tersebut. Beberapa polemik yang sempat mencuat di antaranya pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) yang disebut-sebut berlangsung secara “diam-diam” di Kota Gorontalo, Konfercab di Kabupaten Boalemo […]

  • Kopma Unhas Fair 2025: Menakar Peluang Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

    Kopma Unhas Fair 2025: Menakar Peluang Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Nulondalo.com—Koperasi Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Kopma Unhas) kembali menunjukkan perannya sebagai ruang belajar dan inkubator gagasan ekonomi mahasiswa melalui penyelenggaraan Kopma Unhas Fair 2025, yang digelar pada Sabtu, 13 Desember 2025 di Unhas TV. Mengusung tema “Ekonomi Kolektif, Generasi Inovatif”, kegiatan tahunan ini menjadi refleksi semangat Kopma Unhas dalam membangun kesadaran ekonomi berbasis kebersamaan sekaligus mendorong […]

  • Obat Keras Tanpa Izin Edar Ditemukan di Pasar Tradisional

    Obat Keras Tanpa Izin Edar Ditemukan di Pasar Tradisional

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Tim Kerja Farmasi, Alat Kesehatan, dan PKRT Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Utara melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah pasar tradisional dan menemukan peredaran obat keras tanpa izin yang mengkhawatirkan serta obat tradisional yang tidak memiliki izin edar BPOM yang dicurigai mengandung obat keras. Pasar-pasar yang menjadi lokasi temuan antara lain Pasar Tolinggula, Pasar Dulukapa, Pasar […]

  • Persipura Jayapura Tekuk Deltras FC 1-0 di Stadion Lukas Enembe

    Persipura Jayapura Tekuk Deltras FC 1-0 di Stadion Lukas Enembe

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Ali Doniaw
    • visibility 290
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Persipura Jayapura meraih kemenangan penting usai menundukkan Deltras FC dengan skor tipis 1-0 dalam lanjutan Liga 2 Pegadaian musim 2025/2026 di Stadion Lukas Enembe, Kampung Harapan, Minggu (4/1/2026). Gol tunggal Jeam Kelly Sroyer menjadi penentu tiga poin krusial bagi tim tuan rumah. Pertandingan berjalan dengan intensitas tinggi sejak menit awal. Di hadapan ribuan […]

  • Mengapa Amerika Serikat Enggan Menandatangani UNCLOS? Ini Alasan Strategisnya

    Mengapa Amerika Serikat Enggan Menandatangani UNCLOS? Ini Alasan Strategisnya

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 318
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Amerika Serikat hingga kini belum menandatangani United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), meskipun konvensi tersebut telah menjadi rezim hukum internasional utama yang mengatur tata kelola laut global. Keputusan ini didorong oleh sejumlah pertimbangan strategis, ekonomi, dan politik luar negeri. Salah satu alasan utama penolakan Amerika Serikat terhadap UNCLOS adalah […]

  • Pentingnya Literasi Akuntansi dalam Mengatur Keuangan Rumah Tangga

    Pentingnya Literasi Akuntansi dalam Mengatur Keuangan Rumah Tangga

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Sutanti Idris, S.E., CMC
    • visibility 258
    • 0Komentar

    Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan perkembangan gaya hidup modern, kemampuan mengatur keuangan rumah tangga menjadi hal yang sangat penting. Banyak keluarga menghadapi masalah ekonomi bukan semata karena penghasilan yang kecil, tetapi karena kurangnya kemampuan dalam mengelola keuangan dengan baik. Dalam kondisi inilah literasi akuntansi memiliki peran besar dalam membantu keluarga menciptakan kestabilan finansial, menghindari […]

expand_less