Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Paradoks Pendidikan Papua

  • account_circle Almunauwar Bin Rusli
  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • visibility 28
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ketika film “Pesta Babi : Kolonialisme di Zaman Kita (2026)” muncul di ruang publik, hampir segenap masyarakat sipil Indonesia terperangah dengan model pembangunan di Papua. Terlepas dari pro dan kontra, namun terlihat jelas bahwa infrastruktur pendidikan yang layak masih menjadi barang langka di tanah adat mereka. Di sisi lain, barak militer dan eskavator adalah pemandangan tanpa sensor. Bagi saya,  keterbelakangan Papua bukan disebabkan kutukan Tuhan tapi karena adanya aksi mencurangi konstitusi. Jika masyarakat Papua tidak dihina seperti kera, tak mungkin mereka terus meneriakkan “cukimai” sambil membawa panah, tombak hingga belati tulang kasuari. Jika hasil sumber daya alam Papua tidak dikorupsi oleh pemerintah pusat, daerah dan pengusaha swasta, tak mungkin mereka bernasionalisme ganda lalu minta berpisah. Tulisan ini jangan dianggap sebagai alat provokasi massa melainkan sebuah upaya untuk meninjau kembali arti penting martabat manusia.

Pembangunan Tanpa Kebenaran

Setiap pembangunan selalu berurusan dengan sistem pendidikan. Namun,  Data BPS (2025) memberitahu kita bahwa tingkat pendidikan masyarakat Indonesia masih didominasi oleh tamatan SD (sekitar 22,27%), sedangkan tamatan perguruan tinggi (Diploma hingga S3) hanya 6,82%. Sedangkan angka anak yang tidak pernah sekolah atau putus sekolah masih cukup tinggi seperti di  Papua Barat (2,12%), dan  Papua (2,0%). Pertanyaannya,  Apakah orang Papua haram mengkritik pembangunan? Apakah karena stigma keterbelakangan sehingga mereka cukup menjadi penonton ketimbang pemain di lapangan? Atau, jangan-jangan karena penampilan mereka yang lusuh sehingga membuat kita jijik untuk bertemu? Memenjarakan masyarakat Papua dalam kebodohan adalah sebuah kejahatan. Marx pernah berujar jika kebodohan tidak akan pernah membantu siapapun.

Dalam perspektif Bank Dunia (2025), kebodohan merupakan cacat karakter personal yang muncul karena ketidaktahuan dan hilangnya potensi manusia akibat kegagalan sistemik dari minimnya pengalaman pembelajaran (suboptimal learning experience) dan kurangnya modal manusia  (human capital deficit). Bangunan yang hampir roboh, fasilitas yang timpang, jarak yang terjal, dan kurangnya tenaga pengajar sering menjadi bayang-bayang kegelisahan Papua. Tentu kita mengerti bahwa kebodohan adalah pintu masuk bagi kemiskinan. Masalah kemiskinan di tengah kekayaan alam Papua betul-betul sulit dipahami oleh akal sehat manusia. Bank Dunia (2025) mendefinisikan kemiskinan sebagai bentuk kehilangan kesejahteraan multidimensi seperti ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup dasar yakni makanan, pakaian, dan perumahan serta minimnya akses ke pendidikan, kesehatan, dan partisipasi dalam masyarakat.

Data BPS (2025) pun menjelaskan jumlah penduduk miskin di Indonesia  sebesar 23,36 juta orang. Adapun wilayah dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia adalah Provinsi Papua Pegunungan dengan angka kemiskinan mencapai 30,03%,  Papua Tengah 28,9%, Papua Barat 20,66%, Papua Selatan 19,71%, dan Papua 19,16%. Kalau memang Prabowo sudah ‘dibaptis’ menjadi presiden sosialis, maka  saya rasa dia cukup berpengetahuan bahwa masalah  ketertinggalan Papua harus diselesaikan dengan tindakan kritis bukan dikaburkan dengan progam makan bergizi gratis. Memberi makan orang memang mulia, tapi merampas aset koruptor jauh lebih berharga. Tanaman petani yang subur tidak perlu diberi pupuk mahal tapi hanya cukup membunuh hama yang nakal.

Menagih Moral Pemerintah 

Dalam Political Order in Changing Societies (1968) Huntington mengatakan bahwa apabila tingginya hasrat masyarakat untuk berpartisipasi dalam politik tidak diimbangi dengan pelembagaan politik yang terstruktur, maka akan memicu kekerasan dan kudeta. Oleh karenanya, sebelum memikirkan bentuk demokrasi, negara-negara berkembang lebih membutuhkan pemerintahan yang kuat, efektif, dan stabil. Sedangkan dalam State-Building: Governance and World Order in the 21st Century (2004), Fukuyama mengatakan jika kapasitas dan peran institusi  negara sangat penting untuk diperkuat. Kebijakan pasar bebas (neo-lib) yang memangkas habis intervensi pemerintah akan memperdalam jurang kemiskinan, konflik sosial, dan runtuhnya layanan publik dasar. Meskipun begitu, Fukuyama mengingatkan kita bahwa yang harus dikuatkan dari negara adalah kapasitasnya dalam menegakkan hukum dan pelayanan, bukan memperluas bidang campur tangannya secara serampangan. Akhirnya, Fukuyama berkesimpulan jika setiap negara mutlak perlu membutuhkan kelembagaan yang kuat, bersih, dan meritokratis agar mampu merespons tantangan keamanan serta kesejahteraan di abad ke-21.

Penutup

Para pengajar sekolah rakyat dan sekolah garuda harus  mencintai orang Papua tanpa tapi-tapi. Mereka harus tahu cara bertahan di gunung dan hutan, bukan hanya di hotel apalagi restoran. Tidak guna kita mendidik orang yang sudah ataupun mendekati pintar namun dengan sadar mengabaikan mereka yang sedangkan membaca A B C D saja susahnya minta ampun. Sekolah harus operasional. Sekolah harus fungsional. Sekolah harus diorganisasikan secara lokal. Sekolah harus berwawasan global. Dan terpenting, sekolah harus membuat murid menyadari siapa dirinya, posisinya, dan akan seperti apa dia kelak.  Berhentilah membicarakan polemik pendidikan negeri ini. Berhentilah memaki keterbelakangan. Berhentilah menjaga jarak dengan mereka yang terpojok di pedalaman. Jangan sampai anjing pelacak tentara lebih pintar daripada anak mama-mama Papua. Ingat, hanya orang-orang sekolah yang berani melawan kejahatan pemerintah. Sekian !

Penulis Dosen IAIN Manado Sulawesi Utara

  • Penulis: Almunauwar Bin Rusli

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Manfaat Kapulaga untuk Wanita, dari Redakan Nyeri Haid hingga Jaga Kecantikan

    Manfaat Kapulaga untuk Wanita, dari Redakan Nyeri Haid hingga Jaga Kecantikan

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Manfaat kapulaga untuk wanita tidak hanya terbatas pada membantu meredakan nyeri haid. Rempah aromatik ini juga dikenal memiliki berbagai khasiat alami yang mendukung kesehatan tubuh dan kecantikan dari dalam. Kandungan antioksidan, vitamin, dan mineral di dalam kapulaga membuatnya kerap dimanfaatkan sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Kapulaga merupakan rempah yang berasal dari biji […]

  • Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital

    Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Julkifli Gadeang
    • visibility 375
    • 0Komentar

    Oleh: Julkifli Gadeang Hari ini, sebuah persoalan tidak perlu benar-benar penting untuk menjadi perhatian publik. Ia hanya perlu viral. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai upaya menghakimi dinamika ruang digital yang terus berkembang, melainkan sebagai refleksi kritis atas perubahan cara masyarakat membangun dan memahami opini publik di era teknologi informasi. Di tengah derasnya arus komunikasi digital, […]

  • Cicil Emas Tanpa Cemas, Kanwil IX Ajak Masyarakat Nikmati Momen Emas Bersama Pegadaian

    Cicil Emas Tanpa Cemas, Kanwil IX Ajak Masyarakat Nikmati Momen Emas Bersama Pegadaian

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    PT Pegadaian terus menghadirkan inovasi layanan keuangan yang memudahkan masyarakat dalam berinvestasi emas. Melalui program Promo Cicilan Emas Pegadaian, masyarakat kini dapat menikmati kemudahan bertransaksi cicil emas dengan lebih hemat, aman, dan praktis melalui aplikasi digital Pegadaian. Promo dengan kode SERUMULIA15 memberikan keuntungan berupa potongan uang muka sebesar Rp 15 ribu per gram dengan maksimal […]

  • Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Serius

    Gerakan Nurani Bangsa: Demokrasi Indonesia Mengalami Kemunduran Serius

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 278
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menilai demokrasi Indonesia tengah menghadapi tantangan serius yang berpotensi melemahkan prinsip-prinsip dasar demokrasi, mulai dari kebebasan sipil, supremasi sipil, hingga kebebasan pers. Penilaian tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers Pesan Kebangsaan Awal Tahun 2026, yang digelar di Grha Pemuda, Kompleks Gereja Katedral, Jalan Katedral No. 7B, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026), […]

  • Karomah Palsu

    Karomah Palsu

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 260
    • 0Komentar

    Di banyak pengajian NU, sering kita dengar nasihat klasik: “Nandur pari ojo ngarep panen jagung.” Menanam padi jangan berharap panen jagung. Sayangnya, dalam dunia investasi bodong, pepatah ini dibalik: modal ditanam sedikit, yang dijanjikan panen raya, bahkan sebelum subuh. Investasi bodong adalah fenomena ekonomi yang aneh tapi nyata. Ia bukan sekadar persoalan keuangan, melainkan gabungan […]

  • Trilogi Patriotik : Spionase Saripa, Taktik Dua Belas, dan Wasiat Hijau Nani Wartabone yang Terlupakan

    Trilogi Patriotik : Spionase Saripa, Taktik Dua Belas, dan Wasiat Hijau Nani Wartabone yang Terlupakan

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Sandy Syafrudin Nina
    • visibility 472
    • 0Komentar

    Refleksi 84 Tahun Hari Patriotik Gorontalo Beberapa hari yang lalu, sebelum tanggal yang diperingati sebagai hari patriotik Gorontalo, saya berziarah ke makam pahlawan Gorontalo, pak Nani. Saya berdoa untuk beliau, dan para pejuang yang ikut serta bersama beliau dalam membebaskan Gorontalo dari penjajahan. Lalu tepat hari ini, di tanggal 23 Januari 2026, saya ingin kita […]

expand_less