Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menggeser Stigma Negatif Wanita Bercadar

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month Rabu, 26 Okt 2022
  • visibility 134
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Wanita bercadar kembali menjadi isu nasional setelah peristiwa penangkapan seorang wanita bersenjata oleh aparat keamanan di Istana Negara, pada Selasa, 26 Oktober 2022.  Berita ini viral di semua media cetak maupun media online. Oleh karena  wanita bersenjata ini mengenakan cadar dalam penampilannya, maka simbol “cadar” kembali menjadi sorotan yang mengiringi pemberitaan.

Di media terdapat dua judul pemberitaan. Ada media yang menulis judul : “Wanita bercadar dst” dan ada yang menulis judul : “Wanita bersenpi dst” Mengapa  media harus menuliskan kata “wanita bercadar”, bukankah banyak wanita lainnya tak bercadar yang juga berbuat kejahatan, bukankah ini diskriminasi dan pembunuhan karakter ?

Memang banyak wanita yang di luar sana yang tak bercadar bergelimang dengan maksiat dan kemungkaran, seperti prostitusi, miras, judi, narkoba, korupsi dan kejahatan lainnya, akan tetapi jarang kita dengar wanita bercadar yang terlibat langsung dalam jaringan kelompok radikalisme dan terorisme.  Dan satu hal lagi bahwa kejahatan radikalisme dan terorisme merupakan kejahatan “extra ordinary” sehingga media memasukannya sebagai fokus prime news (pemberitaan utama). Nah, Secara kebetulan, atau ada yang menduga sebagai rekayasa atau memang dalam  kesehariannya benar-benar bercadar, maka media menuliskan kata cadar dalam pemberitaannya.

Saya juga tidak habis pikir, mengapa yang sering tampil sebagai “martir” perjuangan yang katanya suci adalah wanita bercadar, apakah dalam kelompok yang mewajibkan wanitanya bercadar terdapat doktrin “Eksklusif”, atau ada kelompok tertentu yang berperan sebagai serigala berbulu domba ? Yang pasti bahwa setiap ada kasus radikalisme dan terorisme, selau saja kita diperhadapkan dengan wanita bercadar. 

Apapun persepsi yang timbul dari kasus ini, semuanya mengalir seperti air dan tidak bisa diremehkan atau diabaikan begitu saja. 

Jika kita merunut daftar kasus radikalisme dan terorisme yang diperankan oleh wanita bercadar yang terjadi di bumi nusantara ini, maka kita tidak asing lagi dengan nama seperti Dita Siska Millenia, Siska Nur Azizah, Dian Yulia Novi alias Ayatun Nisa binti Asnawi, Zakiah Aini dan yang terbaru saat ini adalah Siti Elina yang terduga pendukung organisasi terlarang HTI.

Miris memang. Tampilan yang seharusnya menjadi peneduh dan penyejuk sekaligus antitesa dari  kegamangan budaya fashion semi vulgar bahkan sangat vulgar yang melanda generasi bangsa, justru memunculkan stigma yang membentuk opini negatif cadar yang sulit dibendung.  

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebahagian orang yang phobia terhadap cadar. Alasannya bisa bermacam-macam. Termasuk diantaranya adalah alasan identifikasi dan  terbatasnya komunikasi sosial. 

Keberadaan wanita bercadar dengan mudah kita temukan pada komunitas Islam bermazhab Hambali, Maliki dan sebagian mazhab Syafi’i. Kewajiban  bercadar juga dapat kita temui pada wanita yang tergabung dalam kelompok Jama’ah Tabligh (JT). Wanita  Jama’ah Tabligh dikenal dengan nama Masturah (sosok yang tersembunyi).  Ada pula kelompok lainnya yang mewajibkan pemakaian cadar bagi wanitanya yaitu kelompok Salafi dan Wahabi. Tak perlu ditanya lagi tentang kelompok garis keras (mutasyaddid) yang wanitanya memang identik dengan cadar seperti JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid), JAD (Jama’ah Ansharud Daulah), MMI (Majelis Mujahiddin Indonesia), MIT (Mujahiddin Indonesia Timur), dan kelompok garis keras lainnya.

Bagaimana cadar dalam perspektif Islam. Sampai saat ini, diskursus tentang cadar masih termasuk dalam ranah khilafiyah. Para ulama, baik ulama klasik maupun ulama kontemporer telah menuangkan pendapat mereka dalam kitab yang mereka tulis. Jika pendapat mereka dikumpulkan, maka hanya akan berputar antara mewajibkan, menyunahkan dan memubahkan. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang hukum cadar tersebut, yang pasti bahwa “cadar adalah bagian dari syariat Islam”. 

Faktanya kemudian  adalah cadar sebagai bagian dari ajaran Islam yang mulia tidak berbanding lurus dengan perilaku oknum yang mengenakannya. Tergerusnya citra cadar dalam kehidupan bermasyarakat,  berbangsa dan bernegara merupakan sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu, wanita bercadar yang melakukan upaya “jihad” dengan mengatasnamakan agama harus bertanggung jawab atas citra negatif terhadap cadar. 

Perlu dicamkan bahwa “selama masih ada wanita bercadar yang melakukan tindakan radikalisme dan terorisme, maka Stigmatisasi Negatif terhadap cadar tidak akan pernah hilang”

Apa yang harus dilakukan oleh “wanita-wanita mulia bercadar” agar stigma negatif cadar bisa bergeser ke stigma yang baik ? Kiat berikut ini bisa menjadi bahan pertimbangan :

– Para wanita bercadar baik secara individual maupun kolektif membuat aksi-aksi sosial yang membawa kepada kemaslahatan masyarakat baik terhadap masyarakat muslim maupun non muslim.

2. Menyelenggarakan diskusi, seminar, dan simposium keagamaan tentang cadar dalam perspektif Islam 

3. Menyelenggarakan even-even sosial dan budaya yang bertemakan nasionalisme, kebangsaan dan ke-Indonesiaan, atau

4. Kegiatan strategis lainnya.

Yakinilah bahwa sepuluh wanita mulia bercadar pasti akan mampu mengalahkan satu atau dua wanita bercadar yang diiming-imiming “surga instan” 

Wallahu A’lam

Gorontalo, 26 Oktober 2022

  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IAIN Gorontalo Serahkan Buku “Sepiring Cerita Bersama Jagung–Binthe Molamahu” ke Menteri Pertanian

    IAIN Gorontalo Serahkan Buku “Sepiring Cerita Bersama Jagung–Binthe Molamahu” ke Menteri Pertanian

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 539
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dari arena utama Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke-XVII di Limboto (20/06), kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., berlanjut ke ruang yang tidak biasa bagi pejabat teknis, yakni Kampus IAIN Sultan Amai Gorontalo dalam agenda Silaturahmi dan Tausiyah Swasemada Pangan. Dalam kesempatan tersebut, Rektor IAIN Sultan […]

  • Dilema BBM: Ketika APBN Menjadi Korban dan Ketidakpastian Global

    Dilema BBM: Ketika APBN Menjadi Korban dan Ketidakpastian Global

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rif’atu Darojah
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sejatinya adalah instrumen paling vital dalam menggerakkan roda ekonomi nasional. Secara formal, APBN berfungsi sebagai alat otorisasi, perencanaan, dan distribusi untuk memastikan kesejahteraan rakyat. Namun, memasuki tahun 2026, realitas di lapangan jauh dari teks ideal di buku-buku ekonomi. Kita sedang menyaksikan sebuah drama besar di mana APBN tidak lagi […]

  • GUSDURian Makassar dan Bawaslu Sulsel Gelar Bincang Demokrasi Bahas Tantangan Gen Z di Era Digital

    GUSDURian Makassar dan Bawaslu Sulsel Gelar Bincang Demokrasi Bahas Tantangan Gen Z di Era Digital

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 221
    • 0Komentar

    Makassar, nulondalo.com – Komunitas GUSDURian Makassar bekerja sama dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Selatan serta organisasi kepemudaan (OKP) pegiat demokrasi menggelar Bincang Demokrasi #1 pada Jumat, 31 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula Bawaslu Sulsel dan menjadi ruang diskusi awal dalam mengawal demokrasi di tengah tantangan era digital. Bincang demokrasi perdana tersebut mengangkat […]

  • Komisi VI DPR RI Soroti Dampak Tol Trans Sumatera terhadap UMKM di Jambi

    Komisi VI DPR RI Soroti Dampak Tol Trans Sumatera terhadap UMKM di Jambi

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 269
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi VI DPR RI melakukan Kunjungan Kerja Spesifik untuk mengevaluasi proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di Kota Jambi, Jumat (10/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, dampak pembangunan tol terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu perhatian utama. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya, menyampaikan bahwa isu dampak tol terhadap […]

  • Dugaan Pemerkosaan Mahasiswi, PMII Ternate Minta UNUTARA Bertindak Transparan dan Berkeadilan

    Dugaan Pemerkosaan Mahasiswi, PMII Ternate Minta UNUTARA Bertindak Transparan dan Berkeadilan

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Ikbal Kau
    • visibility 264
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua III Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Ternate, Jumra Upara, mendesak pihak Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) untuk segera mengambil langkah tegas, transparan, dan berkeadilan terkait dugaan tindak kekerasan seksual dan pemerkosaan yang dilaporkan dialami seorang mahasiswi berinisial RL. Jumra menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus yang menimpa korban yang […]

  • Tamim al-Dari dan Lampu Pertama di Masjid Madinah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #22)

    Tamim al-Dari dan Lampu Pertama di Masjid Madinah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #22)

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 388
    • 0Komentar

    Tamim al-Dari adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari wilayah Palestina di kawasan Syam. Sebelum memeluk Islam, Tamim dikenal sebagai seorang rahib atau pendeta Kristen. Ia hidup dalam tradisi keagamaan yang kuat dan terbiasa dengan kehidupan ibadah. Dalam literatur biografi sahabat seperti Al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashab dan Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Tamim disebut sebagai […]

expand_less