Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Metafora Londo Ireng, dari Penjajahan yang Berubah Menjadi Cara Berpihak

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 18 jam yang lalu
  • visibility 5
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sebuah negara bisa merdeka secara politik, memiliki bendera, konstitusi, dan pemerintahan sendiri. Namun, kemerdekaan tidak selalu berarti rakyatnya terbebas dari praktik-praktik yang dahulu menjadi ciri kolonialisme. Penjajahan memang telah berakhir sebagai sistem pemerintahan, tetapi cara kerjanya bisa tetap hidup dalam bentuk yang lebih halus. Ia berpindah dari medan perang ke ruang-ruang kebijakan, dari moncong senapan ke bahasa pembangunan, dari penguasaan wilayah ke penguasaan cara berpikir.

Dalam sejarah Indonesia, kita mengenal istilah Londo Ireng. Sebutan ini ditujukan kepada sebagian pribumi yang menjadi serdadu KNIL, tentara kolonial Hindia Belanda. Mereka lahir, tumbuh, dan hidup bersama masyarakat yang sama, tetapi memilih mengabdikan diri kepada pemerintah kolonial. Karena itu, Londo Ireng sejak awal tidak sekadar menunjuk pada profesi atau identitas, melainkan pada sebuah pilihan politik, berpihak kepada kekuasaan yang menindas bangsanya sendiri.

Hari ini, istilah itu tidak lagi kita pakai untuk menyebut serdadu KNIL. Namun contohnya masih terasa beragam dan dekat. Londo Ireng dapat dibaca sebagai metafora bagi siapa pun yang menjadikan kepentingan publik sebagai barang yang bisa ditukar dengan jabatan, proyek, akses, atau keuntungan pribadi. Bukan karena mereka berkebangsaan asing, melainkan karena keberpihakannya perlahan menjauh dari rakyat.

Kita tidak sulit menemukan gejala semacam itu. Hutan ditebang atas nama investasi, pesisir direklamasi atas nama pembangunan, tanah masyarakat dialihkan demi proyek strategis, sementara mereka yang kehilangan ruang hidup justru diminta memahami bahwa semua itu adalah konsekuensi dari kemajuan. Yang dipersoalkan bukan lagi apakah kebijakan itu adil, melainkan seberapa cepat ia dapat dijalankan.

pemikiran Edward Said Melalui Orientalism, Said memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga membentuk cara orang melihat kenyataan. Pengetahuan, bahasa, dan narasi bukan sesuatu yang netral. Semuanya dapat dipakai untuk menentukan siapa yang dianggap penting, siapa yang boleh didengar, dan siapa yang harus disingkirkan.

Analisa said terasa relevan ketika kita menyaksikan bagaimana kata-kata seperti pembangunan, investasi, hilirisasi, atau kepentingan nasional begitu mudah memperoleh tempat dalam perdebatan publik. Tentu istilah-istilah itu tidak salah. Persoalannya muncul ketika kata-kata tersebut dipakai sebagai tameng untuk menghindari pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang menanggung akibatnya?

Tidak sedikit masyarakat yang kehilangan tanah karena proyek pembangunan. Nelayan kehilangan wilayah tangkap akibat reklamasi. Hutan yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan berubah menjadi konsesi perusahaan. Anehnya, mereka yang mempertanyakan keadaan itu justru sering dicap sebagai anti-kemajuan atau penghambat investasi. Bahasa akhirnya tidak lagi sekadar menjelaskan kenyataan, tetapi ikut menentukan kenyataan mana yang dianggap sah untuk dipercaya.

Edward Said mengulik bahwa dominasi akan bertahan selama ia berhasil membentuk cara orang memahami dunia. Sebuah kebijakan yang merugikan masyarakat dapat diterima sebagai sesuatu yang lumrah apabila terus-menerus dibungkus dengan narasi tentang pertumbuhan ekonomi dan kepentingan nasional. Lama-kelamaan, yang semula terasa janggal berubah menjadi kebiasaan.

Maka makna Londo Ireng perlu dibaca kembali. Ia bukan lagi tentang seragam KNIL atau sejarah kolonial semata. Ia adalah sikap yang menempatkan kepentingan segelintir orang di atas kepentingan bersama. Ia hadir ketika jabatan dipandang sebagai jalan menuju kekayaan, bukan sebagai amanah. Ia muncul ketika sumber daya alam diperlakukan semata-mata sebagai komoditas, bukan sebagai warisan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Yang membuat keadaan ini semakin rumit ialah kenyataan bahwa semuanya sering dibungkus dengan simbol-simbol kebangsaan. Pidato dipenuhi kata “rakyat”, “Indonesia”, dan “nasionalisme”. Namun ukuran keberpihakan tidak pernah ditentukan oleh seberapa sering kata-kata itu diucapkan. Ia terlihat dari keputusan yang diambil ketika kepentingan rakyat berbenturan dengan kepentingan modal atau kekuasaan.

Karena itu, kritik tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi negara. Justru kritik adalah cara agar negara tidak kehilangan arah. Edward Said pernah menulis bahwa tugas seorang intelektual adalah menyampaikan kebenaran di hadapan kekuasaan, bukan menyesuaikan kebenaran agar terasa nyaman bagi penguasa. Ketika pengetahuan hanya dipakai untuk membenarkan keputusan yang sudah dibuat, ia kehilangan fungsi etiknya.

Sejatinya, Londo Ireng bukanlah sosok yang tinggal di masa lalu. Ia adalah kemungkinan yang selalu hadir dalam setiap zaman. Ia muncul setiap kali kepentingan rakyat disisihkan demi keuntungan segelintir orang. Ia hidup ketika bahasa dipakai untuk menutupi ketidakadilan, ketika kekuasaan lebih sibuk menjaga dirinya sendiri daripada melayani masyarakat.

Kemerdekaan tidak cukup dipahami sebagai peristiwa yang diperingati setiap bulan Agustus. Kemerdekaan juga harus terus diperjuangkan dalam cara kita menyusun kebijakan, mengelola kekayaan alam, dan menentukan kepada siapa negara benar-benar berpihak. Sebab sebuah bangsa tidak hanya dapat kehilangan kedaulatannya karena diduduki oleh bangsa lain. Ia juga dapat kehilangan makna kemerdekaannya ketika kekuasaan yang lahir dari bangsanya sendiri perlahan menjauh dari rakyat yang seharusnya dilayaninya.

Penulis Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPW PKB Gorontalo 2026–2031 Resmi Dilantik, Dzikyan Tegaskan Konsolidasi hingga Ranting

    DPW PKB Gorontalo 2026–2031 Resmi Dilantik, Dzikyan Tegaskan Konsolidasi hingga Ranting

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 290
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo periode 2026–2031 resmi dilantik dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Ballroom Movenpick Hotel Jakarta City Centre, Jalan Pecenongan, Jakarta Pusat. Pelantikan tersebut menandai dimulainya babak baru kepemimpinan PKB Gorontalo dengan fokus pada penguatan struktur dan kerja nyata di tengah masyarakat. Ruang pelantikan yang […]

  • Akuntan Langit

    Akuntan Langit

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 326
    • 0Komentar

    Di bulan Ramadhan, banyak orang tiba-tiba rajin menghitung. Ada yang menghitung jumlah rakaat tarawih, ada yang menghitung hari menuju Lebaran, dan ada pula yang sibuk menghitung diskon di pusat perbelanjaan. Namun, di balik semua hitung-hitungan itu, ada satu sistem akuntansi yang jauh lebih canggih daripada software keuangan mana pun: akuntansi langit. Jika akuntan di dunia […]

  • Abu Madhura; Muadzin Yang Semula Mengejek Azan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #26)

    Abu Madhura; Muadzin Yang Semula Mengejek Azan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #26)

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Pada edisi sebelumnya, saya menulis Abdullah ibn Umm Maktum sebagai partner muadzin Bilal ibn Rabah. Keduanya adalah muadzin yang ditunjuk Nabi untuk pelaksanaan salat di Madinah. Dari sekitar Masjid Nabawi, suara azan mereka menjadi penanda waktu bagi kehidupan kaum Muslim di kota itu. Pasca peristiwa Fathul Makkah, Nabi Kembali ke Mekkah dan membangun Mekkah dengan […]

  • Gerakan Nurani Bangsa Desak Presiden Hentikan Kekerasan dan Kembalikan Kepercayaan Publik

    Gerakan Nurani Bangsa Desak Presiden Hentikan Kekerasan dan Kembalikan Kepercayaan Publik

    • calendar_month Selasa, 2 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Gerakan Nurani Bangsa yang digerakkan sejumlah tokoh lintas agama, intelektual, dan budayawan menyampaikan seruan moral kepada Presiden Prabowo Subianto terkait situasi sosial politik yang belakangan ini memanas akibat gelombang aksi unjuk rasa di berbagai daerah. Dalam pernyataannya, Gerakan Nurani Bangsa meminta Presiden selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan menjadikan kemanusiaan dan keberpihakan kepada rakyat sebagai […]

  • Terkuak! Kurir Kepercayaan Ko Erwin Ditangkap, Jaringan Sabu 1 Kg Dibongkar Bareskrim

    Terkuak! Kurir Kepercayaan Ko Erwin Ditangkap, Jaringan Sabu 1 Kg Dibongkar Bareskrim

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 335
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergerakan jaringan narkotika kelas kakap yang dikendalikan Erwin Iskandar alias Ko Erwin mulai terendus aparat. Setelah melakukan penyelidikan senyap selama berbulan-bulan, tim dari Bareskrim Polri akhirnya berhasil menangkap satu figur kunci dalam rantai distribusi sabu, Patrisius, kurir kepercayaan yang selama ini bergerak di bawah radar. Penangkapan dilakukan di sebuah rumah kontrakan di kawasan […]

  • Rachmat Gobel Wujudkan Hilirisasi dan Ketahanan Pangan Nasional

    Rachmat Gobel Wujudkan Hilirisasi dan Ketahanan Pangan Nasional

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Gobel Group dalam usianya yang hampir 70 tahun meneguhkan pengabdiannya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk petani dan nelayan Indonesia. Perusahaan ini terus tumbuh kuat dan menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem ekonomi negara ini. Komitmen terhadap sektor pertanian ini telah menjadi bagian dari perjalanan perusahaan sejak generasi pendiri. Sejarah mencatat pada tahun […]

expand_less