Dari Dapur ke Masjid: Maulid Nabi, Walima, dan Ingatan Kepemimpinan Gorontalo dari Masa ke Masa
- account_circle Husin Ali
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 3
- print Cetak

Dr. Husin Ali/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ada sebuah pertanyaan yang terus mengikuti saya sejak senin sore kemarin: siapa sebenarnya yang menggerakkan Walima? Pertanyaan itu muncul ketika saya melihat seorang anak sekolah berlari kecil menuju warung. Di tangannya ada uang seadanya. Ia membeli beberapa butir telur untuk direbus.
Tidak jauh dari situ, seorang ibu berjalan menuju warung lain. Ia membeli bahan untuk membuat kue. Tepung, gula, telur, dan bahan-bahan lain yang sebentar lagi akan berubah menjadi sajian Maulid.
Pemandangan itu sangat biasa. Tidak ada kamera. Tidak ada panggung. Tidak ada panitia yang memberi aba-aba. Tidak ada rapat. Tidak ada surat undangan.
Anak itu berlari dengan urusannya sendiri. Sang ibu berjalan dengan kesibukannya sendiri. Di rumah-rumah lain, mungkin ada orang yang sedang memasak, membuat Kolombengi, menyiapkan nasi, merebus telur, atau menata makanan.
Tetapi semakin lama saya memperhatikan, saya menemukan sesuatu yang menarik. Ternyata mereka semua sedang menuju satu tujuan yang sama.
Telur yang dibeli anak itu. Bahan kue yang dibeli ibu itu. Tangan-tangan yang mengaduk adonan. Orang-orang yang menyiapkan makanan. Semuanya bergerak untuk satu kepentingan sederhana: memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dari situlah saya mulai memahami bahwa kebudayaan besar tidak selalu dimulai oleh gerakan besar. Kadang-kadang, ia hanya dimulai dari seorang anak yang berlari membeli telur.
Tengah Malam, Saya Kembali ke Masjid. Malam semakin larut. Namun rasa ingin tahu saya belum selesai. Menjelang tengah malam, saya kembali mampir ke salah satu masjid. Saya ingin melihat apakah suasana Maulid masih berlangsung. Ternyata, apa yang saya temukan membuat saya berhenti lebih lama.
Di dalam masjid, beberapa orang sedang melantunkan Dikili. Suara mereka mengalir perlahan di tengah malam. Ada pujian kepada Rasulullah SAW. Ada zikir. Ada suara yang mungkin telah dilantunkan oleh generasi-generasi sebelum mereka.
Saya duduk sejenak. Tetapi perhatian saya kemudian tertuju ke bagian lain. Di sana, sekelompok ibu-ibu dan bapak-bapak sedang menyiapkan bubur ayam. Ada yang mengaduk. Ada yang memotong. Ada yang membawa bahan. Ada yang menyiapkan wadah. Ada yang datang, melihat pekerjaan, lalu langsung membantu.
Tidak ada banyak basa-basi. Tidak ada yang tampak sibuk bertanya, siapa ketuanya. Tidak ada yang menunggu perintah. Seseorang datang, lalu mengambil pekerjaan. Seseorang selesai, lalu membantu yang lain. Semuanya mengalir begitu saja. Dan ketika bubur itu akhirnya siap, kami pun menikmatinya bersama. Entah mengapa, malam itu bubur ayam terasa sangat nikmat. Mungkin karena dimasak dengan bumbu sederhana.
Tetapi saya kira bukan itu alasan utamanya. Yang membuatnya terasa nikmat adalah suasananya. Ada kekerabatan. Ada kekeluargaan. Ada rasa bahwa orang-orang yang mungkin sehari-hari sibuk dengan urusan masing-masing, malam itu tiba-tiba menjadi satu keluarga besar.
Di satu sisi, Dikili dilantunkan. Di sisi lain, bubur ayam dimasak. Kemudian semua duduk dan makan bersama. Yang sakral dan yang sosial tidak dipisahkan. Doa berjalan bersama dapur. Zikir berjalan bersama aroma masakan.
Masjid malam itu tidak hanya menjadi tempat ibadah. Ia menjadi rumah besar masyarakat. Tidak Ada Gerakan Besar, Tetapi Semua Bergerak
Dari sore hingga tengah malam, saya mulai melihat satu hal yang sangat menarik. Tidak ada gerakan besar yang menggerakkan semuanya. Tidak ada slogan yang rumit. Tidak ada kampanye partisipasi. Tidak ada teori tentang pemberdayaan masyarakat. Tetapi semua bergerak.
Karena apa?
Karena Rasulullah SAW dilahirkan. Itu saja. Ada yang membeli telur. Ada yang membeli bahan kue. Ada yang membuat Kolombengi. Ada yang menyiapkan nasi. Ada yang membawa lauk. Ada yang memasak bubur. Ada yang melantunkan Dikili. Ada yang membersihkan masjid. Ada yang menyusun Tolangga. Ada yang menyiapkan Toyopo. Ada yang membawa anak-anaknya. Semua mengambil bagian sesuai kemampuannya.
Dan di situlah saya menemukan sesuatu yang mungkin dalam bahasa antropologi disebut sebagai kesadaran kolektif. Mereka tidak harus melakukan hal yang sama. Mereka hanya memiliki makna yang sama.
Kelahiran Rasulullah SAW telah menjadi alasan bagi banyak orang untuk bergerak. Bukan karena keuntungan. Bukan karena jabatan. Bukan karena ingin dipuji. Tetapi karena mereka merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.
Pagi Hari, Masjid Dipenuhi Kehidupan. Pagi hari ini, saya kembali melihat suasana di masjid. Apa yang semalam masih berupa persiapan, pagi ini telah berubah menjadi sebuah peristiwa besar.
Tolangga mulai memenuhi ruang. Toyopo tersusun. Masyarakat berdatangan. Anak-anak datang bersama orang tuanya. Kaum muda berkumpul. Orang-orang tua hadir. Ibu-ibu dan bapak-bapak memenuhi masjid. Tua dan muda bertemu.
Saya berdiri sejenak dan memandang semuanya. Lalu saya membayangkan perjalanan panjang dari semua yang ada di hadapan saya. Sebuah Tolangga yang berdiri indah mungkin berawal dari seorang ibu yang kemarin membeli bahan kue.
Sebuah sajian mungkin berawal dari seorang anak sekolah yang berlari membeli telur. Bubur ayam yang kami nikmati tengah malam berawal dari beberapa orang yang datang dan membantu tanpa diminta.
Dikili yang terus dilantunkan berawal dari generasi-generasi yang menolak membiarkan tradisi itu hilang. Dan pagi ini, semuanya bertemu di masjid. Masjid menjadi titik pertemuan dari begitu banyak ketulusan kecil.
Di hadapan Tolangga dan Toyopo, saya tidak lagi hanya melihat makanan. Saya melihat perjalanan. Dari rumah ke masjid. Dari dapur ke ruang doa. Dari bahan mentah menjadi sajian. Dari rezeki pribadi menjadi makanan bersama. Dari kecintaan kepada Nabi menjadi kebudayaan.
Walima: Ketika Cinta kepada Nabi Menjadi Tindakan
Di sinilah, bagi saya, keindahan Maulid Nabi di Gorontalo menemukan bentuknya. Cinta kepada Nabi Muhammad SAW tidak berhenti dalam ucapan. Ia bergerak. Ia masuk ke dapur. Ia menggerakkan tangan. Ia membeli telur. Ia membuat kue. Ia menyalakan tungku. Ia mengisi Toyopo. Ia menyusun Tolangga. Ia melantunkan Dikili. Ia memasak bubur ayam di tengah malam.
Lalu ia berakhir—atau lebih tepatnya, berlanjut—dalam sebuah tindakan yang sangat manusiawi: berbagi. Kolombengi bukan hanya kue. Ia adalah ingatan. Tolangga bukan hanya susunan makanan. Ia adalah hasil dari kerja banyak tangan.
Toyopo bukan sekadar wadah. Ia adalah simbol bahwa rezeki tidak berhenti di rumah sendiri. Dan Dikili bukan hanya lantunan. Ia adalah suara ingatan yang menghubungkan Gorontalo hari ini dengan Gorontalo dari masa lalu.
Maka Walima sesungguhnya bukan sekadar ritual. Walima adalah cara masyarakat Gorontalo membuat nilai menjadi nyata. Dari Maulid, Saya Membaca Kepemimpinan Gorontalo.
Di tengah semua itu, pikiran saya kemudian berjalan lebih jauh. Saya teringat perjalanan panjang kepemimpinan Gorontalo. Dari masa Sultan Amai, ketika Islam memperoleh jalan penting dalam sejarah Gorontalo. Dari generasi-generasi yang melanjutkan dan memperkuat perjumpaan antara Islam dan adat. Hingga masa Raja Eyato, ketika hubungan antara adat dan syarak menemukan fondasi yang semakin kuat.
Dari perjalanan panjang itulah kita mengenal falsafah besar Gorontalo: Adati hula-hula’a to saraa, saraa hula-hula’a to Kuru’ani. Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah.
Bagi saya, falsafah itu bukan hanya kalimat tentang adat. Ia juga merupakan ingatan tentang kepemimpinan. Para pemimpin Gorontalo pada masa lalu tampaknya memahami bahwa kekuasaan tidak boleh berdiri sendiri.
Kekuasaan membutuhkan nilai. Nilai membutuhkan kebudayaan. Dan kebudayaan membutuhkan masyarakat untuk menghidupkannya. Itulah sebabnya kepemimpinan tidak hanya dapat diukur dari seberapa besar kekuasaan seseorang.
Kepemimpinan harus diukur dari kemampuannya menjaga apa yang dianggap penting oleh masyarakat. Menjaga agama. Menjaga adat. Menjaga pendidikan. Menjaga martabat manusia. Dan menjaga kemampuan masyarakat untuk tetap hidup sebagai sebuah komunitas.
Tolangga Mengajarkan Saya tentang Pemimpin. Pagi ini, ketika melihat Tolangga berdiri tinggi, saya menemukan sebuah pelajaran sederhana. Tolangga memang terlihat menjulang. Tetapi ia tidak berdiri karena satu tangan. Ada banyak orang yang membuatnya berdiri. Ada yang menyediakan bahan. Ada yang memasak. Ada yang membuat kue. Ada yang menyusun. Ada yang membawa. Ada yang menjaga.
Begitu pula seorang pemimpin. Tidak ada pemimpin yang berdiri sendiri. Di bawah jabatan seorang pemimpin ada kepercayaan rakyat. Ada kerja para aparatur. Ada guru yang mendidik anak-anak. Ada petani. Ada nelayan. Ada pedagang. Ada ulama. Ada tokoh adat. Ada ibu-ibu yang menjaga kehidupan keluarga. Ada anak-anak yang sedang menunggu masa depan.
Tolangga mengajarkan satu hal: semakin tinggi seseorang berdiri, semakin ia harus mengingat siapa yang menopangnya. Puncak tidak boleh lupa pada dasar. Toyopo dan Kepemimpinan yang Sampai kepada Rakyat. Toyopo memberi saya pelajaran yang berbeda.
Di dalamnya ada sesuatu yang nyata. Ada makanan. Ada rezeki. Ada hasil kerja. Dan pada akhirnya, semuanya dapat dinikmati bersama.
Maka saya berpikir, bukankah kepemimpinan juga harus demikian? Rakyat tidak hanya membutuhkan pidato tentang kesejahteraan. Mereka membutuhkan manfaat yang nyata. Anak-anak membutuhkan pendidikan yang baik. Guru membutuhkan penghargaan. Keluarga membutuhkan pelayanan. Masyarakat membutuhkan rasa aman. Orang-orang kecil membutuhkan kesempatan.
Karena itu, pemimpin boleh memiliki cita-cita setinggi Tolangga. Tetapi manfaat kepemimpinannya harus sampai ke tangan rakyat seperti Toyopo.
Visi harus tinggi, tetapi manfaat harus dekat. Saya Belajar dari Seorang Anak Sekolah. Pada akhirnya, dari seluruh peristiwa ini, saya justru merasa belajar tentang kepemimpinan bukan pertama-tama dari seorang pemimpin.
Saya belajar dari seorang anak sekolah yang berlari kecil membeli telur. Saya belajar dari seorang ibu yang pergi ke warung membeli bahan kue. Saya belajar dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang memasak bubur ayam di tengah malam. Saya belajar dari para pelantun Dikili yang menjaga tradisi tanpa meminta tepuk tangan. Saya belajar dari masyarakat yang datang membawa apa yang mereka mampu. Mereka semua melakukan satu hal yang sangat penting: Mereka mengambil bagian.
Tidak ada yang bertanya apakah perannya besar. Tidak ada yang terlalu sibuk menghitung jasanya. Tidak semua orang membawa banyak. Tetapi semua membawa sesuatu. Dan dari sesuatu yang kecil-kecil itulah lahir sebuah perayaan besar.
Bukankah sebuah kota, Provinsi bahkan negara juga dibangun dengan cara seperti itu? Bukan hanya oleh wali kota,bupati, Gubernur bahkan Presiden. Bukan hanya oleh pejabat. Bukan hanya oleh orang-orang besar.
Sebuah kota dibangun oleh guru yang datang mengajar. Oleh ibu yang menjaga keluarganya. Oleh pedagang yang membuka usaha. Oleh anak-anak yang belajar. Oleh warga yang peduli kepada tetangganya. Tugas kepemimpinan adalah membuat semua ketulusan itu bertemu dalam sebuah tujuan bersama.
Dari Masa Kerajaan ke Masa Republik. Gorontalo telah melewati banyak zaman. Kerajaan. Kolonialisme. Perjuangan kemerdekaan. Republik. Pemerintahan modern. Sistem telah berubah. Cara memilih pemimpin telah berubah. Jabatan dan lembaga telah berubah. Tetapi pertanyaan tentang kepemimpinan tetap sama: Untuk apa kekuasaan itu digunakan?
Dari Sultan Amai, kita dapat membaca keberanian membuka jalan perubahan. Dari perjalanan generasi setelahnya, kita belajar pentingnya melanjutkan dan menyempurnakan yang baik. Dari Eyato, kita belajar bahwa kekuasaan harus memiliki sendi nilai. Dan dari Nabi Muhammad SAW, kita menemukan teladan tertinggi: bahwa kepemimpinan adalah amanah.
Maka para pemimpin Gorontalo hari ini sesungguhnya memikul warisan yang besar. Mereka tidak cukup hanya membangun kota. Mereka harus menjaga jiwa kota. Tidak cukup hanya membangun infrastruktur. Mereka harus membangun manusia. Tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan.
Mereka harus memastikan manfaat pertumbuhan itu sampai kepada masyarakat. Tidak cukup hanya berbicara tentang budaya. Mereka harus menciptakan ruang agar kebudayaan tetap hidup.
Sebuah Maulid, Sebuah Pelajaran tentang Gerakan. Dari sore, tengah malam, hingga pagi hari ini, saya melihat satu bentuk gerakan yang sangat sederhana tetapi kuat.
Tidak ada yang memulainya dengan slogan besar. Gerakan itu dimulai dari dapur. Dari warung. Dari telur. Dari tepung. Dari tangan yang mengaduk bubur. Dari suara Dikili. Dari langkah-langkah masyarakat menuju masjid. Lalu semuanya berkumpul. Mungkin inilah yang paling saya rasakan dari Maulid tahun ke tahun sejak mulai mengenal arti kehidupan hingga kali ini.
Sebuah masyarakat akan bergerak luar biasa ketika ia memiliki sesuatu yang dicintai bersama. Dan Rasulullah SAW telah menjadi pusat cinta itu. Dari cinta, lahir tindakan. Dari tindakan, lahir kebersamaan. Dari kebersamaan, lahir kebudayaan. Dan dari kebudayaan, sebuah masyarakat menyimpan ingatan tentang dirinya.
Tolangga nanti akan dibongkar. Toyopo akan kosong. Bubur ayam akan habis. Kolombengi akan dimakan. Dikili akan selesai. Jamaah akan pulang. Demikian pula jabatan. Tidak ada jabatan yang abadi. Tidak ada kekuasaan yang selamanya tinggal di tangan seseorang. Tetapi semoga ada satu hal yang tidak pernah habis dari Gorontalo: Kemampuan untuk menemukan kepentingan bersama, lalu bergerak bersama dengan ikhlas.
Seperti seorang anak yang berlari membeli telur. Seperti seorang ibu yang membeli bahan kue. Seperti ibu-ibu dan bapak-bapak yang memasak bubur ayam di tengah malam. Seperti para pelantun Dikili yang menjaga suara tradisi. Seperti masyarakat yang membawa Tolangga dan Toyopo ke masjid.
Mereka datang dari rumah yang berbeda. Mereka memiliki kemampuan yang berbeda. Mereka menjalankan peran yang berbeda. Tetapi karena kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, mereka menemukan satu alasan untuk berkumpul.
Mereka datang untuk berdoa. Dan mungkin, di situlah saya menemukan kembali salah satu kekuatan terbesar Gorontalo. Bukan pada Tolangga yang paling tinggi. Bukan pada Toyopo yang paling banyak. Bukan pada perayaan yang paling meriah. Tetapi pada kemampuan masyarakat Gorontalo mengubah cinta kepada Nabi menjadi tindakan, tindakan menjadi kebersamaan, dan kebersamaan menjadi kebudayaan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Dari dapur ke masjid, saya melihat Gorontalo sedang menceritakan dirinya sendiri.
Penulis : Antropolog / Wakil Sekretaris Tandfiziah PWNU Provinsi Gorontalo / Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo
- Penulis: Husin Ali

Saat ini belum ada komentar