Praka Mohammad Basri, Babinsa Desa Buti yang Selalu Siap Berdiri di Garda Terdepan untuk Warga
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 12
- print Cetak

Praka Mohammad Basri, saat membantu mengeluarkan puing-puing material, akibat dari kebakaran rumah warga di Desa Buti/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NULONDALO.COM-BOALEMO- Di balik seragam loreng yang dikenakannya, Praka Mohammad Basri bukan sekadar menjalankan tugas sebagai Bintang Pembina Desa (Babinsa) di Desa Buti, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, Kamis (20/8/26).
Seperti yang diutarakan Husain Thalib, salah seorang warga, menilai kepedulian Basri terhadap masyarakat bukan sesuatu yang dibuat-buat.
Menurut Husain, kepedulian tersebut terlihat dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat, mulai dari olahraga, kegiatan keagamaan, bahkan saat masyarakat mengalami musibah.
“Kepedulian beliau memang asli dari dalam hati. Baik itu dari segi olahraga, keagamaan, maupun saat masyarakat diterpa musibah, beliau terdepan dan itu bukan sekadar dibuat-buat,” ujar Husain.
Sementara itu, bagi Basri sendiri semangat untuk terus hadir membantu warga bersumber dari cara pandangnya terhadap masyarakat.
Ia tidak melihat warga sebagai orang lain, melainkan bagian dari kehidupannya.
“Karena masyarakat adalah bagian dari keluarga saya. Dari masyarakat saya berasal dan kelak saya akan kembali,” ucap Basri.
Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana Basri memaknai tugasnya sebagai Babinsa.
Bukan hanya soal seragam, pangkat, atau kewajiban kedinasan, tetapi tentang bagaimana seorang aparat hadir di tengah masyarakat, mendengar keluhan mereka, membantu ketika dibutuhkan, dan membangun rasa kekeluargaan.
Baginya, menjadi Babinsa bukan hanya tentang menjalankan tugas kedinasan, tetapi juga bagaimana hadir dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Ketika warga menghadapi persoalan maupun musibah, ia berupaya menjadi salah satu orang yang berada di barisan terdepan untuk memberikan bantuan.
Ia menuturkan, selama bertugas di Desa Buti, salah satu hal yang paling berkesan baginya adalah kuatnya kerja sama dan semangat gotong royong masyarakat.
Menurutnya, kebersamaan tersebut menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi berbagai persoalan di tengah masyarakat.
“Yang paling berkesan bagi saya di Desa Buti adalah kerja sama dan gotong royong,” ujar Basri.
Kedekatan Basri dengan masyarakat juga terlihat ketika warga mengalami musibah.
Saat mendengar kabar adanya warga yang membutuhkan pertolongan, ia mengaku tidak ingin menunggu terlalu lama.
“Kalau mendapat informasi ada warga yang membutuhkan bantuan, saya bergegas ke TKP dan menindaklanjutinya,” katanya.
Musibah yang dialami warga, seperti kebakaran, juga menjadi sesuatu yang menyentuh perasaannya.
Basri mengaku merasakan kesedihan dan duka yang mendalam ketika melihat masyarakat harus kehilangan harta benda maupun tempat tinggal akibat musibah.
“Saya merasakan sedih dan berduka yang mendalam ketika melihat musibah seperti ini,” ungkapnya.
Namun, tugas sebagai Babinsa tidak selalu mudah.
Salah satu tantangan yang dihadapi Basri adalah ikut memberantas peredaran minuman keras sekaligus membangun hubungan kekeluargaan dengan masyarakat.
Baginya, menjaga keamanan dan ketertiban tidak cukup hanya dengan pendekatan formal.
Hubungan yang dekat dan komunikasi yang baik menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana masyarakat yang aman dan harmonis.
“Memberantas miras dan membangun kekeluargaan,” tuturnya ketika ditanya mengenai tantangan selama menjalankan tugas di tengah masyarakat.
Basri menilai komunikasi dan kepercayaan merupakan modal utama dalam menjalankan tugas sebagai Babinsa.
Tanpa komunikasi yang baik, menurutnya, akan sulit memahami persoalan yang dihadapi warga.
“Menjalin komukasi adalah hal yang sangat penting, karena itu modal utama dalam bermasyarakat,” pungkasnya.
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar