Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Refleksi HUT RI 81, Membaca Kepemimpinan Nasional

  • account_circle Sakti
  • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
  • visibility 74
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Penulis Ahmad Takbir Abadi

Setiap momentum Hari Ulang Tahun Republik Indonesia semestinya bukan sekadar ritual tahunan dengan upacara, bendera, dan pidato tentang keberhasilan.

Ia adalah jeda untuk bercermin, sudah sejauh mana republik ini menunaikan janji kemerdekaannya? Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia telah melewati pergantian rezim, pergantian presiden, pergolakan politik, krisis ekonomi, hingga Reformasi.

Pemimpin datang silih berganti membawa keyakinan bahwa mereka akan memperbaiki negeri. Kita patut menghargai setiap ikhtiar itu. Tetapi sejarah tidak hanya mencatat niat para penguasa, sejarah pada akhirnya akan mengadili hasilnya. Sebab kemerdekaan bukan warisan yang cukup dikenang, melainkan janji yang harus terus dibuktikan.

Hari ini kita melihat kepemimpinan nasional dengan berbagai gagasan besar, kedaulatan pangan, hilirisasi, pengelolaan sumber daya alam, pemerataan ekonomi, hingga pembangunan manusia.

Dalam Paradoks Indonesia dan Solusinya, Prabowo Subianto pernah menguraikan kegelisahan tentang negeri yang kaya sumber daya tetapi masih berhadapan dengan ketimpangan dan persoalan kesejahteraan.

Gagasan tersebut terdengar sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih berkeadilan. Namun republik tidak boleh hanya hidup dari gagasan. Ia harus diuji oleh kenyataan.

Sebab di antara pidato tentang kesejahteraan dan kehidupan rakyat, selalu ada jurang yang harus diawasi, siapa yang sebenarnya menerima manfaat dari kebijakan negara? Kekayaan alam boleh berlimpah, investasi boleh tumbuh, pembangunan boleh dipercepat, tetapi apabila rakyat hanya menjadi penonton dari kemakmuran, maka kita sedang merayakan pertumbuhan tanpa keadilan.

Makan Bergizi Gratis adalah contoh lain. Memberi makan anak-anak bangsa adalah pekerjaan mulia, sebuah bentuk rahmah dan it‘ām al-tha‘ām, semangat memberi makan kepada mereka yang membutuhkan.

Tetapi justru karena niatnya mulia, jangan sampai kebijakan itu berubah menjadi ladang ekonomi bagi mereka yang paling kuat.

Ketika negara menggelontorkan anggaran besar, pertanyaan publik tidak boleh berhenti pada berapa piring makanan yang dibagikan.

Kita harus bertanya siapa yang menguasai rantai pasoknya, siapa yang menjadi pemasok, siapa yang menentukan harga, dan apakah petani, nelayan, peternak, UMKM serta koperasi benar-benar mendapatkan ruang utama.

Negara jangan sampai berniat memberi makan anak bangsa, tetapi keuntungan ekonominya justru lebih banyak mengalir kepada mereka yang sudah lama menguasai pasar.

Kita juga patut waspada ketika peran negara, terutama kekuatan militer, semakin memasuki ruang-ruang sipil. Indonesia telah membayar mahal harga sebuah sejarah ketika kekuasaan terlalu jauh mencampuri kehidupan sipil.

Reformasi 1998 lahir dengan salah satu pesan paling penting, supremasi sipil, demokrasi, dan kebebasan warga harus dijaga. Karena itu, kritik tidak boleh diperlakukan sebagai ancaman dan kebebasan berekspresi tidak boleh dianggap sebagai pembangkangan.

Hannah Arendt mengingatkan pentingnya ruang publik sebagai tempat warga hadir, berbicara, dan berbeda. Negara yang kuat bukan negara yang membuat rakyat takut berbicara, negara yang kuat adalah negara yang cukup percaya diri untuk mendengar suara yang tidak menyenangkannya.

Di tingkat daerah, semangat sentralisasi juga terasa semakin kuat. Otonomi daerah yang dahulu diharapkan menjadi napas Reformasi jangan sampai perlahan kehilangan makna karena daerah hanya menjadi pelaksana kebijakan pusat.

Efisiensi anggaran memang penting, tetapi efisiensi tidak boleh berubah menjadi amputasi kewenangan. Daerah memiliki persoalan yang tidak selalu bisa dibaca dari Jakarta.

Begitu pula berbagai program seperti Koperasi Merah Putih harus diuji substansinya, apakah benar-benar lahir dari kebutuhan rakyat atau hanya menjadi proyek administratif yang namanya indah tetapi manfaatnya belum tentu terasa? Koperasi seharusnya menjadi alat kedaulatan ekonomi rakyat, bukan sekadar papan nama yang dicat merah putih.

Aristoteles memandang negara sebagai jalan menuju kehidupan yang baik, sementara Amartya Sen menempatkan manusia dan kebebasannya sebagai ukuran penting pembangunan.

Karena itu, ukuran keberhasilan republik sesungguhnya sederhana, apakah rakyat semakin sejahtera, semakin bebas, semakin berdaya, dan semakin bermartabat?

Kritik terhadap pemerintah bukan berarti membenci Indonesia. Justru terkadang kritik adalah bentuk cinta yang paling jujur. Kita tidak sedang ingin menjatuhkan republik, kita sedang mengingatkan agar republik tidak kehilangan arah.

Sebab mencintai bangsa tidak berarti wajib memuji setiap keputusan penguasa. Ada kalanya cinta justru menuntut keberanian untuk berkata, ini keliru, ini harus diperbaiki, dan jangan membawa republik terlalu jauh dari cita-cita pendiri bangsa.

Pada akhirnya, Indonesia adalah tanah tumpah darah yang kita cintai. Kita tidak memiliki negeri lain untuk diwariskan kepada anak-anak kita.

Maka setiap 17 Agustus seharusnya bukan hanya menjadi perayaan kemenangan, tetapi juga ruang untuk mengoreksi perjalanan.

Kita berharap kepemimpinan nasional semakin peka terhadap rakyat yang sedang terjepit, semakin rendah hati menerima kritik, semakin adil mendistribusikan kekuasaan dan sumber daya, serta semakin sadar bahwa republik bukan milik penguasa, melainkan milik seluruh rakyat.

Sebab merah putih tidak hanya berkibar di tiang upacara, ia seharusnya berkibar di dalam nurani setiap penyelenggara negara.

Kemerdekaan bukan sesuatu yang selesai diproklamasikan pada 1945. Kemerdekaan adalah janji yang setiap generasi wajib tunaikan dan setiap kekuasaan wajib berani mempertanggungjawabkannya.

  • Penulis: Sakti

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Trump Hadapi Tekanan di Tengah Eskalasi Perang Iran, Sekutu Menjauh dan Harga Energi Melonjak

    Trump Hadapi Tekanan di Tengah Eskalasi Perang Iran, Sekutu Menjauh dan Harga Energi Melonjak

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 341
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menghadapi tekanan yang kian besar pada pekan ketiga konflik dengan Iran, di tengah lonjakan harga energi global, retaknya hubungan dengan sekutu, serta ketidakjelasan arah akhir operasi militer. Trump pada Jumat (waktu setempat) menyatakan bahwa pertempuran “telah dimenangkan secara militer.” Namun, klaim tersebut bertolak belakang dengan situasi di lapangan, […]

  • Membaca Sastra agar Tidak Kehilangan Kemampuan melihat nuansa dan kehilangan Rasa

    Membaca Sastra agar Tidak Kehilangan Kemampuan melihat nuansa dan kehilangan Rasa

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Belakangan ini saya semakin memahami mengapa Gus Dur begitu dekat dengan dunia sastra. Padahal beliau adalah seorang ulama dengan dasar keilmuan agama yang sangat kuat, seorang pemikir Islam, sekaligus tokoh bangsa yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mengurus persoalan umat dan negara. Namun di tengah kesibukan membaca kitab, berdiskusi tentang agama, dan terlibat dalam berbagai […]

  • PP KMHDI Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis: 1.376 Siswa Jadi Korban Keracunan

    PP KMHDI Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis: 1.376 Siswa Jadi Korban Keracunan

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Bertepatan dengan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Ketua Departemen Organisasi Pengurus Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP KMHDI), I Dewa Gede Ginada Darma Putra, menyampaikan kritik keras terhadap implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Program MBG resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 […]

  • Tingkat Hunian Kamar Hotel Bintang di Gorontalo Naik 3,64 Persen

    Tingkat Hunian Kamar Hotel Bintang di Gorontalo Naik 3,64 Persen

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Provinsi Gorontalo pada Mei 2025 sebesar 32,90 persen naik 3,64 poin dibandingkan bulan April 2025. “Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel merupakan gambaran produktivitas usaha jasa akomodasi,” kata Dwi Alwi Astuti Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Selasa (1/7/2025). Dwi Alwi menjelaskan peningkatan TPK hotel […]

  • Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar Seminar Hasil Kajian Pariwisata dan Pendidikan

    Bappeda Provinsi Gorontalo Gelar Seminar Hasil Kajian Pariwisata dan Pendidikan

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 182
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Gorontalo – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar Seminar Hasil Kajian Pariwisata dan Pendidikan yang berlangsung di Resto Onato By Swiss 18, Senin (24/11/2025). Seminar ini memaparkan dua kajian strategis, yakni “Optimalisasi Kebutuhan Ruang Destinasi Pariwisata Unggulan Provinsi Gorontalo” serta “Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah karena Faktor Sosial Ekonomi Keluarga di Provinsi […]

  • Gorontalo Menyalakan Api Revolusi Lebih Dini: Pendang Kalengkongan dan Sejarah yang Terlupakan

    Gorontalo Menyalakan Api Revolusi Lebih Dini: Pendang Kalengkongan dan Sejarah yang Terlupakan

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 1.146
    • 0Komentar

    Sejarah, sebagaimana ia ditulis dan diwariskan, tak selalu adil pada semua tokoh yang turut membentuknya. Ada nama-nama yang diabadikan, dipatungkan, dan diajarkan dari generasi ke generasi. Namun ada pula yang perlahan menghilang—bukan karena perannya kecil, melainkan karena narasi tak selalu ramah pada mereka yang bekerja dalam diam. Di Gorontalo, ada satu tanggal yang setiap tahun […]

expand_less