Breaking News
light_mode
Trending Tags

Invisible Labor Ibu Rumah Tangga dalam Perspektif Ekonomi

  • account_circle Sutanti Idris
  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • visibility 28
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah masyarakat modern yang semakin sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi, ada satu jenis pekerjaan yang justru sering luput dari pengakuan: pekerjaan domestik ibu rumah tangga. Aktivitas memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, mendampingi pendidikan keluarga, menjaga kesehatan emosional anggota rumah tangga, hingga memastikan seluruh ritme keluarga berjalan stabil, sering dianggap sebagai “kewajiban biasa” seorang perempuan. Padahal, jika dihitung secara ekonomi, pekerjaan tersebut memiliki nilai yang sangat besar.

Ironisnya, pekerjaan yang paling menentukan kualitas generasi masa depan justru menjadi pekerjaan yang paling minim apresiasi finansial. Inilah yang disebut sebagai invisible labor — kerja yang nyata, melelahkan, produktif, tetapi tidak terlihat dalam statistik ekonomi formal.

Dalam perspektif ekonomi modern, ukuran produktivitas masih terlalu berpusat pada pekerjaan yang menghasilkan pendapatan langsung. Akibatnya, ibu rumah tangga sering dianggap “tidak bekerja” hanya karena tidak menerima gaji bulanan. Padahal jika seluruh pekerjaan domestik itu dialihkan kepada tenaga profesional, keluarga harus membayar biaya besar untuk pengasuh anak, guru privat, koki, cleaning service, konselor keluarga, hingga manajer rumah tangga.

Artinya, seorang ibu sejatinya menjalankan banyak profesi sekaligus dalam satu waktu.

Sayangnya, masyarakat masih sering menilai nilai seseorang dari seberapa besar penghasilannya, bukan dari seberapa besar kontribusinya terhadap keberlangsungan kehidupan. Perspektif inilah yang perlu diluruskan. Sebab ekonomi sejatinya bukan hanya tentang uang yang berputar di pasar, tetapi juga tentang bagaimana manusia mempertahankan kualitas hidupnya.

Ibu rumah tangga adalah fondasi ekonomi yang paling dasar. Ketika seorang ibu menjaga stabilitas rumah tangga dengan baik, maka produktivitas anggota keluarga lainnya ikut meningkat. Anak tumbuh lebih sehat secara emosional, suami dapat bekerja lebih fokus, dan lingkungan keluarga menjadi lebih stabil. Dampaknya bahkan bisa dirasakan hingga skala sosial dan nasional.

Negara dengan kualitas keluarga yang baik umumnya memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih kuat. Maka sesungguhnya, pekerjaan domestik bukan aktivitas kecil. Ia adalah investasi sosial jangka panjang.

Sebagai perempuan, saya memandang bahwa nilai seorang perempuan tidak selalu harus diukur dari seberapa tinggi jabatan publik yang dimiliki. Menjadi ibu rumah tangga yang cerdas, terdidik, dan mampu membangun kualitas generasi juga merupakan bentuk kepemimpinan yang luar biasa. Perempuan modern tidak seharusnya dipaksa memilih antara keluarga atau intelektualitas. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Pendidikan tinggi justru membuat perempuan lebih sadar bahwa pekerjaan domestik memiliki nilai strategis dalam pembangunan manusia. Karena itu, ibu rumah tangga tidak boleh lagi diposisikan sebagai kelompok “tidak produktif”. Mereka adalah penggerak ekonomi yang bekerja tanpa jam istirahat dan sering kali tanpa penghargaan yang layak.

Lebih jauh lagi, fenomena invisible labor juga menunjukkan adanya ketimpangan emosional dalam rumah tangga. Banyak ibu yang kelelahan secara mental karena seluruh pekerjaan domestik dianggap otomatis menjadi tanggung jawabnya. Padahal membangun keluarga adalah kerja kolektif, bukan beban satu pihak saja. Kesadaran ini penting agar tercipta relasi keluarga yang lebih sehat, setara, dan saling menghargai.

Di era digital saat ini, perempuan semakin memiliki ruang untuk menyuarakan realitas tersebut. Banyak ibu rumah tangga yang kini tetap berkembang secara intelektual, aktif menulis, berbicara di forum publik, membangun komunitas, bahkan melanjutkan pendidikan tinggi tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu. Ini membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas besar untuk bertumbuh di berbagai ruang sekaligus.

Sudah waktunya masyarakat berhenti meremehkan pekerjaan domestik hanya karena tidak tercatat dalam slip gaji. Sebab tidak semua pekerjaan bernilai besar selalu dibayar dengan uang. Ada pekerjaan yang nilainya justru terlihat dari lahirnya anak-anak yang sehat, keluarga yang kuat, dan generasi yang berkualitas.

Dan di balik banyak keluarga hebat, sering kali ada seorang ibu yang bekerja dalam diam, tanpa panggung, tanpa sorotan, tetapi memegang peranan ekonomi yang sangat besar bagi kehidupan.

Invisible labor bukan tentang pekerjaan kecil yang tidak penting. Invisible labor adalah bentuk kontribusi besar yang terlalu lama dibuat tidak terlihat.

  • Penulis: Sutanti Idris

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kevin Lapendos Tegas Bantah Tudingan Gerakan Ditunggangi: “Ini Gerakan Saya, Bukan Pesanan Siapa Pun”

    Kevin Lapendos Tegas Bantah Tudingan Gerakan Ditunggangi: “Ini Gerakan Saya, Bukan Pesanan Siapa Pun”

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Di tengah memanasnya isu tambang ilegal (PETI) di Kabupaten Pohuwato, nama aktivis muda Sandri, yang lebih dikenal dengan sebutan Kevin Lapendos, kembali mencuat. Namun kali ini bukan karena aksinya di lapangan, melainkan karena tudingan miring yang mencoba menggiring opini publik seolah-olah gerakannya telah “ditunggangi” oleh pihak tertentu. Sebuah unggahan akun media sosial baru-baru ini menyebut […]

  • Syuriyah dan Wibawa Kepemimpinan di Nahdlatul Ulama

    Syuriyah dan Wibawa Kepemimpinan di Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Kamis, 6 Okt 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Dalam struktur kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU), Syuriyah merupakan pimpinan tertinggi organisasi. Lembaga ini memiliki tugas utama membina, mengarahkan, serta mengawasi pelaksanaan setiap keputusan yang akan maupun sedang dijalankan oleh organisasi. Kedudukan Syuriah berada di posisi tertinggi karena di dalamnya berhimpun para ulama sepuh yang memiliki basis keilmuan agama yang kuat. Hal ini sejalan dengan karakter […]

  • Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak

    Intelektual NU Sentil Keras Seskab: Jawaban “Pokoknya Ada” Cermin Akuntabilitas yang Retak

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 650
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Intelektual muda Nahdlatul Ulama, Muhammad Aras Prabowo, mengkritik keras pernyataan Sekretaris Kabinet, Teddy, yang menyebut sumber anggaran program pasar murah di Monas dengan ungkapan “pokoknya ada”. Pernyataan tersebut dinilai problematik secara etik, administratif, dan epistemik dalam tata kelola keuangan negara. Menurut Aras, ungkapan tersebut mencerminkan lemahnya kesadaran terhadap prinsip dasar akuntabilitas publik dalam […]

  • WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    WALHI Tolak Perpanjangan MoU Pemerintah–Freeport, Dinilai Perpanjang Krisis Ekologis di Papua

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 185
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menilai perpanjangan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Indonesia dan Freeport-McMoRan Inc terkait kelanjutan operasi PT Freeport Indonesia (PTFI) hingga seumur cadangan tembaga dan emas di Papua sebagai kebijakan yang berpotensi melanjutkan krisis ekologis dan kemanusiaan di Tanah Papua. Penilaian tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even […]

  • GUSDURian Makassar dan Bawaslu Sulsel Gelar Bincang Demokrasi Bahas Tantangan Gen Z di Era Digital

    GUSDURian Makassar dan Bawaslu Sulsel Gelar Bincang Demokrasi Bahas Tantangan Gen Z di Era Digital

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Makassar, nulondalo.com – Komunitas GUSDURian Makassar bekerja sama dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Selatan serta organisasi kepemudaan (OKP) pegiat demokrasi menggelar Bincang Demokrasi #1 pada Jumat, 31 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula Bawaslu Sulsel dan menjadi ruang diskusi awal dalam mengawal demokrasi di tengah tantangan era digital. Bincang demokrasi perdana tersebut mengangkat […]

  • Idul Fitri, Pakarena, dan Harmoni Jiwa: Ketika Tradisi Menari Mengajarkan Kesucian Hati

    Idul Fitri, Pakarena, dan Harmoni Jiwa: Ketika Tradisi Menari Mengajarkan Kesucian Hati

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 391
    • 0Komentar

    Idul Fitri selalu datang sebagai momentum kembalinya manusia kepada fitrah. Setelah sebulan penuh menjalani puasa, menahan lapar, dahaga, dan berbagai dorongan hawa nafsu, umat Islam merayakan hari kemenangan dengan penuh kegembiraan. Namun kemenangan itu sesungguhnya bukan hanya kemenangan fisik karena berhasil berpuasa, melainkan kemenangan spiritual karena mampu menata kembali diri menuju kesucian jiwa. Idul Fitri […]

expand_less