Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 193
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bagi kita, penggemar sepak bola Indonesia, wajah Timnas Indonesia kini tampak berbeda. Dulu, kita mengenal pemain-pemain yang tumbuh besar di sini, dengan karakter dan ciri khas lokal yang tak bisa dilepaskan. Namun kini, hampir setiap pemain Timnas yang tampil memiliki tubuh tegap, kulit putih, dan seolah membawa cita rasa Eropa, terutama Belanda. Mereka bukanlah anak-anak Indonesia yang lahir di Nusantara, melainkan anak-anak diaspora yang kini tengah dipanggil untuk menjadi bagian dari proyek besar PSSI, sebuah ambisi untuk membawa sepak bola Indonesia ke level yang lebih tinggi, lebih berkelas, dan lebih siap menghadapi tantangan dunia.

Namun, fenomena ini bukanlah sesuatu yang hanya terjadi di Indonesia. Dunia sepak bola, sejak lama, telah menjadi panggung bagi globalisasi identitas. Negara-negara besar seperti Prancis, Jerman, bahkan Belanda, sudah lebih dulu mengenalkan konsep pemain diaspora atau imigran dalam timnas mereka. Dalam sepak bola, kebangsaan bukan lagi soal di mana seseorang lahir, melainkan soal komitmen, kesempatan, dan—yang paling penting—kesediaan untuk bermain demi satu bendera, satu negara, meskipun darah yang mengalir di tubuh mereka tak selalu berasal dari tanah tersebut.

Di tengah perubahan ini, perdebatan pun muncul. Banyak yang bertanya-tanya, apakah benar orang-orang berwajah Eropa yang bahkan belum fasih berbahasa Indonesia ini bisa menjadi representasi Indonesia? Bukankah kita sudah punya takaran tentang orang Indonesia yang khas?

Di sinilah cultural studies memainkan peran penting. Menurut Stuart Hall, identitas bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan hasil dari negosiasi dan proses yang terus berkembang. Identitas terbentuk dari budaya, kekuasaan, dan imajinasi kolektif.

Benedict Anderson, dengan teorinya tentang “komunitas terbayang,” menyodorkan gagasan bahwa bangsa bukanlah fakta alamiah, melainkan konstruksi ideologis. Kita merasa menjadi satu bangsa karena kita membayangkan diri kita sebagai satu. Dalam sepak bola, imajinasi itu menemukan panggung terbesarnya. Stadion adalah ruang performatif di mana nasionalisme dipertontonkan, dikonsumsi, dan ditafsir ulang.

Nama-nama seperti Jordi Amat, Shayne Pattynama, dan Rafael Struick lebih dari sekadar pemain bola. Mereka adalah simbol baru dari hubungan yang rumit antara Indonesia dan Belanda—sebuah hubungan pascakolonial yang kini mendapat makna baru. Dulu, Belanda adalah penjajah yang menindas, namun sekarang, Belanda menjadi tempat lahirnya potensi-potensi baru untuk Timnas Indonesia. Di sana, bibit-bibit Garuda diasah, dilatih, dan dipersiapkan untuk bertarung di lapangan hijau.

Namun, ada ironi kecil yang terus menggelitik: para pemain ini—yang kini jadi simbol nasionalisme baru—tidak berbicara dalam bahasa Indonesia. Di ruang ganti, mereka bercakap dalam bahasa Belanda dan Inggris. Wawancara pasca-pertandingan dilakukan dengan Bahasa Inggris atau lewat penerjemah. Lagu kebangsaan mereka nyanyikan dengan fasih tetapi dengan aksen Eropa.

Ini adalah jarak yang nyata, sekaligus pengingat bahwa identitas kebangsaan hari ini tidak lagi diikat oleh bahasa ibu, tetapi oleh kesediaan untuk memeluk imajinasi yang sama. Mereka mungkin tidak tumbuh dengan cerita rakyat Nusantara atau belajar Pancasila di sekolah dasar, tapi mereka bersedia menaruh seluruh tubuh dan talentanya untuk satu nama: Indonesia.

Darah Indonesia di tubuh pemain diaspora adalah bibit bagi imajinasi primordial tentang Indonesia. Kita tidak peduli mereka lahir dan tumbuh di Belanda, asalkan ada “sedikit” Indonesia dalam tubuh mereka, itu cukup untuk menyalakan imajinasi kita tentang kejayaan. Ini bukan sekadar soal sepak bola, ini tentang keinginan kolektif untuk merasa berharga di panggung dunia.

Di titik ini, nasionalisme kita mengalami pergeseran. Ernest Gellner mengatakan bahwa nasionalisme bukan muncul dari tradisi, tapi dari modernitas. Kita tidak mewarisi nasionalisme; kita membangunnya, melalui narasi, pendidikan, dan—sekarang—melalui sepak bola. Maka pemain diaspora, terutama dari Belanda, adalah buah dari proyek modern: anak-anak Indonesia di tubuh Belanda, yang kini “dipulangkan” untuk membentuk citra baru tentang kita.

Namun, nasionalisme hari ini lebih subtil dari sekadar gegap gempita. Michael Billig menyebutnya banal nationalism, nasionalisme yang hadir dalam simbol-simbol harian: bendera kecil di pundak jersey, penyebutan “Garuda” di layar televisi, atau nyanyian Indonesia Raya sebelum kick-off. Maka ketika media menyebut Rafael Struick sebagai “pahlawan baru Garuda,” itu bukan sekadar pujian atletik, melainkan penguatan nasionalisme yang banal tapi efektif. Seolah berkata: kita bisa hebat, bahkan lewat darah-darah yang pernah tercerai dari ibu pertiwi.

Ironisnya, narasi ini membuat nasionalisme kita makin bergantung pada eks-Belanda. Negara yang dulu mengeksploitasi kini memberi kita pemain terbaik. Tapi justru di sinilah nasionalisme kontemporer diuji: apakah kita cukup matang untuk menerima bahwa “menjadi Indonesia” tidak selalu berarti lahir di Nusantara, berbicara dalam bahasa ibu, atau tumbuh dengan nasi dan sambal?

Sebaliknya, menjadi Indonesia adalah tentang siapa yang mau membawa kita menuju panggung dunia.

Di lapangan hijau, nasionalisme tidak lagi soal masa lalu. Ia tentang keinginan kolektif untuk menang, untuk diakui, untuk membentuk imajinasi baru tentang Indonesia yang bisa sejajar dengan bangsa manapun.

Jadi, ketika kita berdiri menyanyikan Indonesia Raya bersama para pemain diaspora Belanda, mungkin yang kita rayakan bukan keseragaman identitas, tapi kekuatan imajinasi: bahwa Indonesia bisa, dan akan, berjaya—meski kadang lewat jalur yang tidak konvensional, bahkan paradoksal.

Dan bukankah itu, justru, nasionalisme yang paling otentik?

Oleh :  Pepi Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Khutbah Jumat : Pasca-Ramadhan, Antara Kesalehan Musiman dan Kesadaran Spiritual

    Khutbah Jumat : Pasca-Ramadhan, Antara Kesalehan Musiman dan Kesadaran Spiritual

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Ramadhan seringkali kita rayakan sebagai puncak kesalehan. Masjid penuh, doa mengalir, dan air mata menjadi mudah menetes. Namun, pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri kita adalah: apakah semua itu bertahan? Ataukah ia sekedar kesalehan musiman? Tulisan khutbah ini tidak hendak meromantisasi Ramadhan, tetapi justru menggugat secara halus: jangan-jangan yang kita alami hanyalah kesalehan yang […]

  • Tamim al-Dari dan Lampu Pertama di Masjid Madinah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #22)

    Tamim al-Dari dan Lampu Pertama di Masjid Madinah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #22)

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Tamim al-Dari adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari wilayah Palestina di kawasan Syam. Sebelum memeluk Islam, Tamim dikenal sebagai seorang rahib atau pendeta Kristen. Ia hidup dalam tradisi keagamaan yang kuat dan terbiasa dengan kehidupan ibadah. Dalam literatur biografi sahabat seperti Al-Isti’ab fi Ma’rifat al-Ashab dan Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Tamim disebut sebagai […]

  • Dosen PKUMI Jadi Imam Shalat Jumat di Masjid Negara IKN, Bukti Kualitas Kaderisasi Ulama Istiqlal

    Dosen PKUMI Jadi Imam Shalat Jumat di Masjid Negara IKN, Bukti Kualitas Kaderisasi Ulama Istiqlal

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 256
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kiprah akademik dan dakwah para pengajar Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) kembali mendapat apresiasi di tingkat nasional. Salah satu dosen PKUMI, Dr. Ahmad Zulki, M.Ag, mendapat kehormatan menjadi imam dalam pelaksanaan shalat Jumat di Masjid Negara IKN yang berada di kawasan Ibu Kota Nusantara pada Jumat (13/3/2026). Momentum tersebut menjadi simbol pengakuan […]

  • Moderasi; Kata Kerja Yang Selalu Terbuka

    Moderasi; Kata Kerja Yang Selalu Terbuka

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Saya terlibat cukup lama dalam kerja-kerja moderasi beragama. Bukan hanya dalam bentuk pelatihan, tapi juga merancang metode pembelajaran yang lebih segar dan kontekstual, menyusun pendekatan-pendekatan baru yang lebih hidup — seperti Klinik Moderasi Beragama, Visiting Class, dan Moving Class. Bersama tim kecil, saya mencoba menyebarkan gagasan moderasi sebagai ruang belajar, bukan sekadar slogan. Tapi, jujur […]

  • PERJOSI Soroti Sikap Diam Polres Pangkep soal Dugaan Solar Sitaan untuk Proyek KA

    PERJOSI Soroti Sikap Diam Polres Pangkep soal Dugaan Solar Sitaan untuk Proyek KA

    • calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
    • account_circle Ikbal Kau
    • visibility 106
    • 0Komentar

    PANGKEP, NULONDALO.COM –Ketua Umum Perserikatan Journalist Siber Indonesia (PERJOSI), Salim Djati Mamma, menyesalkan belum adanya respons dari Kasatreskrim Polres Pangkep AKP Abd Halim, S.H., dan Kapolres Pangkep AKBP Aditya Pradana, S.H., S.I.K., terkait konfirmasi mengenai pernyataan Jihan, staf Balai Pengelola Kereta Api Sulawesi Selatan (BPKA Sulsel), tentang asal-usul bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang […]

  • Kapal Nelayan Mati Mesin di Teluk Tomini, Seluruh Awak Berhasil Diselamatkan

    Kapal Nelayan Mati Mesin di Teluk Tomini, Seluruh Awak Berhasil Diselamatkan

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 488
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah kapal nelayan, KM Elnas III, dilaporkan mengalami mati mesin saat beroperasi di perairan Teluk Tomini. Beruntung, seluruh awak kapal berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah dilakukan pencarian oleh tim SAR gabungan. Kejadian ini pertama kali diketahui berdasarkan laporan nakhoda kapal, Rahman, pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 01.00 Wita. Saat itu, KM Elnas […]

expand_less