Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Menertawakan Kekuasaan

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
  • visibility 492
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Orang kecil itu sebenarnya tidak bodoh. Mereka cuma capek. Capek mendengar janji, capek membaca berita korupsi, capek melihat pejabat miskin di LHKPN tapi kaya di pesta pernikahan anaknya. Maka jangan heran kalau rakyat akhirnya memilih tertawa. Karena kalau tidak tertawa, bisa-bisa marah. Dan kalau marah terus, tekanan darah naik, sementara kebijakan tidak pernah turun.

Dalam situasi kebijakan yang tidak pro rakyat, humor justru menjadi bahasa paling jujur. Ketika harga kebutuhan naik, lapangan kerja seret, dan pengangguran makin banyak, rakyat sering bertanya sambil bercanda, “Negara ini kaya atau kita aja yang miskin?” Jawabannya sering muncul dalam bentuk meme, lelucon warung kopi, atau materi stand up comedy yang lebih jujur daripada pidato kenegaraan.

Gus Dur sudah lama membaca situasi ini. Beliau paham, kekuasaan paling takut bukan pada marah, tapi pada ditertawakan. Maka lahirlah humor-humor legendaris. Salah satunya yang paling terkenal: “Gitu aja kok repot.” Ini kalimat pendek, tapi efeknya panjang. Itu bukan cuma soal birokrasi, tapi sindiran keras pada negara yang hobi bikin aturan ribet untuk hal yang seharusnya sederhana—kecuali kalau urusan elite, yang biasanya sederhana tapi dibikin istimewa.

Gus Dur juga pernah bilang, “Kalau orang bodoh memimpin orang pintar, itu namanya musibah. Tapi kalau orang pintar memimpin orang bodoh, itu namanya tragedi nasional.” Kalau kalimat ini dibawakan hari ini, mungkin langsung viral, dituduh provokatif, lalu dibalas dengan klarifikasi panjang yang intinya tidak menjawab apa-apa.

Tradisi humor NU memang khas: ketawa dulu, mikir belakangan. Tapi setelah mikir, baru terasa pedasnya. Cerita kiai yang bertanya, “Pejabat itu amanah atau aman, ya?” terdengar lucu, tapi isinya audit moral. Ini audit sosial versi pesantren: tanpa laporan tebal, tanpa grafik, tapi langsung kena ke hati—dan kadang ke jabatan.

Sementara itu, di panggung stand up comedy, audit sosial tampil lebih terang-terangan. Komika sering bilang, “Di Indonesia itu bukan susah cari kerja, yang susah itu kerja yang gajinya cukup buat hidup.” Penonton tertawa, tapi besok tetap bingung bayar kontrakan. Humor ini bukan hiburan kosong, tapi laporan real-time tentang kegagalan kebijakan ketenagakerjaan.

Roasting juga jadi senjata ampuh. Pejabat di-roasting bukan karena benci, tapi karena mereka minta dipilih. Ada komika yang bilang, “Waktu kampanye, rakyat dikejar-kejar. Setelah terpilih, rakyat disuruh sabar.” Ini kalimat sederhana, tapi lebih jujur daripada laporan kinerja lima tahunan.

Panji Pragiwaksono, misalnya, sering membedah niat di balik kebijakan. Mens rea, katanya. Kalau kebijakan katanya demi rakyat tapi yang untung segelintir orang, berarti ada niat lain. Dan niat itu biasanya tidak lucu—kecuali kalau ditertawakan. Panji pernah menyindir, “Kita ini negara hukum, tapi kadang hukumnya capek sendiri ngejar orang-orang yang larinya pakai jet pribadi.”

Dalam konteks korupsi, humor rakyat bahkan lebih kejam. Ada yang bilang, “Koruptor itu bukan maling, dia cuma pinjam uang rakyat tapi lupa balikin.” Lucu? Iya. Menyakitkan? Jelas. Tapi justru di situlah audit sosial bekerja. Rakyat tidak lagi percaya pada pidato antikorupsi, tapi percaya pada lelucon yang sesuai kenyataan.

Ketika pengawasan legislatif dianggap tidak maksimal, rakyat pun ikut mengawasi dengan caranya sendiri. Kalau wakil rakyat tidur saat rapat, meme langsung muncul. Kalau rapat panjang tapi hasilnya nol, lelucon lebih cepat dari risalah sidang. Ini bukan penghinaan, ini public review versi rakyat.

Menertawakan kekuasaan bukan berarti meremehkan negara. Justru sebaliknya, ini tanda rakyat masih peduli. Selama rakyat masih mau bercanda, berarti harapan belum mati. Karena kalau rakyat sudah tidak tertawa, biasanya tinggal dua pilihan: apatis atau marah.

Maka humor—baik ala Gus Dur, NU, maupun stand up comedy—adalah bentuk audit sosial paling jujur. Ia menjadi check and balance yang tidak tercatat di undang-undang, tapi hidup di kesadaran publik. Kekuasaan boleh alergi kritik, tapi sulit alergi tawa. Karena tawa rakyat, pada akhirnya, adalah laporan audit yang paling sulit dimanipulasi.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

DUKUNG TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akadnya Rapi, Akhlaknya Bolong

    Akadnya Rapi, Akhlaknya Bolong

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Kalau mendengar istilah “korporasi syariah”, banyak orang langsung merasa tenang. Seolah-olah begitu ada kata “syariah”, uang otomatis aman, laporan keuangan jujur, dan direksi langsung rajin tahajud. Padahal, kata Gus Dur, “Tidak semua yang pakai sarung itu kiai”, dan tidak semua yang berlabel syariah itu amanah. Di brosur, korporasi syariah digambarkan bak pesantren modern: bersih, rapi, […]

  • Jangan Jadi Nahdliyyin Imma’ah

    Jangan Jadi Nahdliyyin Imma’ah

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Abdullah Aniq Nawawi
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Ada hadits yang patut direnungkan oleh kita semua, khususnya oleh warga Nahdliyyin yang akhir-akhir ini menyaksikan banyak kejanggalan pada tubuh organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Mulai dari konflik internal hingga kasus-kasus yang menyeret para pengurus dan tokohnya. Nabi bilang begini: لا تَكُونُوا إمعة تَقولُونَ إِن أحسن النَّاس أحسنا وَإِن ظلمُوا ظلمنَا “Janganlah kalian menjadi “imma’ah”. Yaitu […]

  • UMMA Tanamkan Nilai Integritas, Mahasiswa Didorong Jadi Agen Perubahan

    UMMA Tanamkan Nilai Integritas, Mahasiswa Didorong Jadi Agen Perubahan

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Universitas Muslim Maros (UMMA) menegaskan komitmennya mencetak generasi berintegritas melalui Seminar Pendidikan Antikorupsi bertema “Satukan Aksi Basmi Korupsi”, Selasa, 9 Desember 2025, di Baruga A Kantor Bupati Maros. Sebanyak 220 mahasiswa dari tiga fakultas hadir dan mengikuti kegiatan dengan antusias. Seminar ini menghadirkan pemateri dari lintas institusi penegak hukum dan akademisi. Afrizal […]

  • Sekjen Kemenag Dorong Pesantren Ambil Peran di Ruang Publik

    Sekjen Kemenag Dorong Pesantren Ambil Peran di Ruang Publik

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 165
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Pesantren tidak boleh berjalan di ruang hampa. Tradisi keilmuan yang kaya dan mendalam harus terus berdialog dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Pesan inilah yang ditekankan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, saat membuka Evaluasi Program Direktorat Pesantren Tahun 2025 di Tangerang Selatan, dikutip dari laman kemenag.go.id (15/12/2025). Di hadapan para pengelola dan pemangku […]

  • Raih WTP, Gubernur Sherly Didesak Buktikan Komitmen Selamatkan Lingkungan

    Raih WTP, Gubernur Sherly Didesak Buktikan Komitmen Selamatkan Lingkungan

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 213
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Anggota DPRD Maluku Utara, Nazlatan Ukhra Kasuba, mendesak Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda untuk memprioritaskan penyelesaian persoalan kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah di provinsi tersebut. Desakan itu disampaikan Nazlatan saat rapat paripurna DPRD Maluku Utara, Jumat (12/6/2026). Menurut politisi Partai Gerindra itu, masyarakat lebih membutuhkan langkah nyata pemerintah dibanding sekadar capaian […]

  • Danau Limboto: Luka Ekologis yang Terabaikan

    Danau Limboto: Luka Ekologis yang Terabaikan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Dadang Sudardja
    • visibility 1.185
    • 0Komentar

    Setelah lima kali berkunjung ke Gorontalo, barulah pada kunjungan kali ini saya memiliki kesempatan dan waktu untuk menginjakkan kaki di Danau Limboto—sebuah nama yang sejak lama sangat akrab di ingatan saya. Danau ini pertama kali saya kenal ketika masih duduk di bangku SMP, sekitar tahun 1973, melalui pelajaran Ilmu Bumi. Saat itu, Danau Limboto diperkenalkan […]

expand_less