Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 47
- print Cetak

Muhammad Kamal/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam kamus kehidupan sehari-hari, kata sabar sering diperlakukan seperti obat mujarab untuk segala luka sosial. Ia terdengar menenangkan, penuh kebijaksanaan, bahkan dianggap sebagai jawaban paling aman atas berbagai persoalan hidup. Namun di balik itu, ada kekeliruan yang diam-diam terus dipelihara: kita terlalu sering mencampuradukkan antara kesabaran dan kepasrahan. Padahal keduanya lahir dari ruang batin yang sangat berbeda.
Sabar adalah kemampuan bertahan tanpa kehilangan arah. Sementara pasrah, dalam banyak keadaan, adalah titik ketika seseorang berhenti percaya bahwa keadaan masih mungkin diubah.
Orang yang sabar masih menyimpan harapan, meski tipis. Ia tetap bekerja meski hasil belum tampak, tetap melangkah walau berkali-kali gagal. Ada tenaga batin yang membuatnya terus bergerak. Sebaliknya, kepasrahan biasanya tumbuh dari kelelahan yang terlalu panjang—ketika seseorang merasa usaha tidak lagi memiliki arti apa-apa. Di titik itu, manusia berhenti melawan bukan karena sudah mencapai ketenangan spiritual, melainkan karena terlalu letih untuk berharap.
Sayangnya, dalam kehidupan sosial kita hari ini, kata sabar sering berubah fungsi menjadi alat penjinak keadaan. Ia dipakai bukan untuk menguatkan, melainkan untuk meredam suara.
Buruh yang upahnya tertinggal jauh dari kenaikan harga kebutuhan pokok diminta sabar. Mahasiswa yang dipaksa bergulat dengan biaya pendidikan yang semakin mahal diminta sabar. Warga yang bertahun-tahun hidup dengan jalan rusak, pelayanan publik yang lamban, dan hukum yang terasa tajam ke bawah namun lunak ke atas juga diminta sabar. Pada akhirnya, kesabaran perlahan kehilangan makna moralnya. Ia berubah menjadi kebiasaan menelan kecewa.
Yang lebih berbahaya, masyarakat kemudian mulai menganggap ketimpangan sebagai sesuatu yang normal. Kalimat seperti, “Memang beginilah negara kita,” terdengar sederhana, tetapi di situlah akar kepasrahan bekerja paling halus. Ketika sebuah bangsa kehilangan keyakinan bahwa keadaan bisa diperbaiki, maka yang runtuh bukan hanya optimisme, melainkan juga keberanian warga negaranya.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar