Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bangsa yang Pandai Bertahan, Tapi Tak Lagi Percaya Perubahan, Ketika Sabar Berubah Menjadi Kepasrahan Sosial

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
  • visibility 304
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam kamus kehidupan sehari-hari, kata sabar sering diperlakukan seperti obat mujarab untuk segala luka sosial. Ia terdengar menenangkan, penuh kebijaksanaan, bahkan dianggap sebagai jawaban paling aman atas berbagai persoalan hidup. Namun di balik itu, ada kekeliruan yang diam-diam terus dipelihara: kita terlalu sering mencampuradukkan antara kesabaran dan kepasrahan. Padahal keduanya lahir dari ruang batin yang sangat berbeda.

Sabar adalah kemampuan bertahan tanpa kehilangan arah. Sementara pasrah, dalam banyak keadaan, adalah titik ketika seseorang berhenti percaya bahwa keadaan masih mungkin diubah.

Orang yang sabar masih menyimpan harapan, meski tipis. Ia tetap bekerja meski hasil belum tampak, tetap melangkah walau berkali-kali gagal. Ada tenaga batin yang membuatnya terus bergerak. Sebaliknya, kepasrahan biasanya tumbuh dari kelelahan yang terlalu panjang—ketika seseorang merasa usaha tidak lagi memiliki arti apa-apa. Di titik itu, manusia berhenti melawan bukan karena sudah mencapai ketenangan spiritual, melainkan karena terlalu letih untuk berharap.

Sayangnya, dalam kehidupan sosial kita hari ini, kata sabar sering berubah fungsi menjadi alat penjinak keadaan. Ia dipakai bukan untuk menguatkan, melainkan untuk meredam suara.

Buruh yang upahnya tertinggal jauh dari kenaikan harga kebutuhan pokok diminta sabar. Mahasiswa yang dipaksa bergulat dengan biaya pendidikan yang semakin mahal diminta sabar. Warga yang bertahun-tahun hidup dengan jalan rusak, pelayanan publik yang lamban, dan hukum yang terasa tajam ke bawah namun lunak ke atas juga diminta sabar. Pada akhirnya, kesabaran perlahan kehilangan makna moralnya. Ia berubah menjadi kebiasaan menelan kecewa.

Yang lebih berbahaya, masyarakat kemudian mulai menganggap ketimpangan sebagai sesuatu yang normal. Kalimat seperti, “Memang beginilah negara kita,” terdengar sederhana, tetapi di situlah akar kepasrahan bekerja paling halus. Ketika sebuah bangsa kehilangan keyakinan bahwa keadaan bisa diperbaiki, maka yang runtuh bukan hanya optimisme, melainkan juga keberanian warga negaranya.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jaga Defisit di Bawah 3 Persen, Airlangga Hartarto Ungkap Strategi Pemerintah Hadapi Kenaikan Energi

    Jaga Defisit di Bawah 3 Persen, Airlangga Hartarto Ungkap Strategi Pemerintah Hadapi Kenaikan Energi

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 503
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pemerintah terus memperkuat ketahanan fiskal nasional di tengah tekanan global, terutama kenaikan harga energi. Hal ini ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (19/03/2026). Dalam keterangannya, Airlangga menyebut Presiden menekankan pentingnya menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali […]

  • Mens Rea, Panji, dan Kegagalan Tawa: Komedi sebagai Medan Pertarungan Ideologi Kontemporer

    Mens Rea, Panji, dan Kegagalan Tawa: Komedi sebagai Medan Pertarungan Ideologi Kontemporer

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 437
    • 0Komentar

    Apa yang terjadi dengan Panji, terutama melalui apa yang disebut sebagai panggung mens rea-nya, bukanlah sekadar polemik tentang kebebasan berekspresi atau batas kelucuan. Ia adalah simptom. Sebuah penanda diskursif bahwa komedi, dalam konfigurasi sosial-politik kontemporer, telah kehilangan kepolosannya. Komedi tidak lagi bekerja sebagai ruang relaksasi makna, melainkan sebagai arena serius tempat subjek, memori, dan kuasa saling […]

  • PAD Bone Bolango Baru 21,75 Persen, Pemda Gaspol Digitalisasi dan Intensifikasi Pendapatan

    PAD Bone Bolango Baru 21,75 Persen, Pemda Gaspol Digitalisasi dan Intensifikasi Pendapatan

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 283
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bone Bolango pada awal 2026 masih jauh dari target. Hingga Maret, realisasi PAD baru mencapai 21,75 persen, mendorong pemerintah daerah untuk bergerak lebih cepat, agresif, dan inovatif dalam mengoptimalkan pendapatan. Sekretaris Daerah Bone Bolango, Iwan Mustapa, menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin berjalan dengan pola biasa. Optimalisasi PAD […]

  • Mahasiswa UNUSIA Gugat UU Pesantren ke MK, Soroti Ketidakadilan Anggaran dan Politik Pengakuan Negara

    Mahasiswa UNUSIA Gugat UU Pesantren ke MK, Soroti Ketidakadilan Anggaran dan Politik Pengakuan Negara

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Ikbal
    • visibility 293
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) menggelar diskusi publik bertajuk “Menguak Politik Pengakuan dan Keadilan Anggaran Pesantren yang Bersyarat” di Aula Kampus A UNUSIA, Rabu (10/6/2026). Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk memperkuat argumentasi mahasiswa UNUSIA yang tengah mengajukan Judicial Review (JR) atau uji materiil terhadap Pasal 48 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren […]

  • Medan Ekstrem dan Kabut Tebal, Tim SAR Amankan Jenazah Korban Kedua ATR 42-500

    Medan Ekstrem dan Kabut Tebal, Tim SAR Amankan Jenazah Korban Kedua ATR 42-500

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, PANGKEP — Operasi pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, kembali membuahkan hasil. Satu jenazah korban kedua berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan di medan pegunungan yang ekstrem, Senin (19/1/2026). Korban ditemukan oleh Saiful Malik, anggota Komunitas Pencinta Alam Arai Sulawesi Selatan, […]

  • Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan

    Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 560
    • 0Komentar

    Pasca Eid al-Fitr, saya mendapati satu pemandangan yang hampir selalu berulang setiap tahun, orang-orang bergerak menuju tempat-tempat ziarah. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berombongan dengan tetangga, ada pula yang menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk singgah sebentar, membaca doa, lalu pulang. Salah satu titik yang paling ramai adalah kawasan Masjid Nuruttaubah Imam Lapeo. […]

expand_less