Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Pagula: Ulama Pesisir dan Penemu Pukat Cincin dari Gorontalo

  • account_circle Abdul Kadir Lawero
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 217
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah riak ombak pesisir Kota Gorontalo, sejarah mencatat nama seorang ulama yang hidupnya sederhana, namun penuh pengaruh. Sosok itu adalah KH. Nahar Akadji, yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Pagula—sebuah panggilan penuh makna yang mencerminkan kelembutan, kearifan, dan manisnya akhlak beliau.

Di Gorontalo, penyebutan ulama memang berbeda. Tak ada istilah “Kiai” seperti di Jawa atau “Tuan Guru” seperti di Lombok. Masyarakat lebih akrab dengan sebutan lokal seperti Ti Guru, Ti Kali, Ti Bapu, Ti Paci, Ti Aba, Ti Ka’i, atau Ti Danggu, Ti Katinggi, Ti Kapende, Ti Ka’i—panggilan yang berasal dari ciri sosial dan fisik seseorang. Namun, meski tidak membawa gelar kiai dalam sebutannya, KH. Nahar Akadji diakui sebagai salah satu ulama besar di pesisir Gorontalo.

Lahir dari Kesederhanaan, Hidup dalam Keberkahan

KH. Nahar Akadji lahir pada 17 Agustus 1926 di Kelurahan Pohe, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Ia tumbuh di tengah keluarga nelayan yang hidup bersahaja. Ayahnya melaut, ibunya menjaga rumah tangga. Tapi dari rumah sederhana itulah tumbuh semangat belajar dan cinta terhadap agama yang luar biasa.

Sejak muda, Pagula sudah terbiasa tidur di rumah guru atau kerabat hanya demi menghadiri majelis ilmu. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) Kayubulan dan kemudian melanjutkan pendidikan agama di Madrasah Al-Fatah (PP Al-Huda). Di sinilah ia berguru kepada ulama besar KH. Abas Rauf dan mulai menyelami kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumuddin dan Irsyadul Ibad.

Mengajar Sejak Usia Muda, Merangkul Semua Kalangan

Pada usia 23 tahun, Pagula sudah mengajar kitab kuning. Ia tidak menetap di satu tempat, tapi berpindah-pindah dari kampung ke kampung, menggelar pengajian di rumah-rumah warga. Murid-muridnya datang dari berbagai usia dan lapisan masyarakat.

Yang membuat beliau istimewa bukan hanya ilmunya, tapi juga caranya mendidik. Ia dikenal sabar, tidak keras, dan sangat ngemong. Bagi murid-muridnya, ia bukan hanya guru agama, tetapi juga pembimbing spiritual yang penuh kasih.

Membangun Masjid Lewat Arisan: Solusi dari Rakyat untuk Rakyat

Ketika masyarakat pesisir kesulitan beribadah karena masjid yang jauh, Pagula menggagas solusi sederhana namun revolusioner: arisan warga. Melalui sistem gotong royong ini, setiap warga menyisihkan sedikit dari hasil arisan untuk membangun masjid. Tidak ada paksaan, tidak ada iuran besar, hanya semangat kolektif yang disemai dari hati.

Hasilnya luar biasa. Masjid akhirnya berdiri kokoh. Guru beliau, KH. Abas Rauf, bahkan diberi kehormatan meletakkan batu pertama. Ini bukan hanya pembangunan fisik, tapi juga kebangkitan spiritual dan sosial masyarakat.

Penemu Pukat Cincin: Ketika Ulama Jadi Inovator

Pagula juga dikenal sebagai penemu pukat cincin, sebuah alat tangkap ikan yang menjadi berkah bagi para nelayan. Desainnya sederhana tapi sangat efektif. Berkat alat ini, hasil tangkapan masyarakat pesisir meningkat drastis.

Menurut Irfan Akadji, salah satu putranya, pukat buatan Pagula terkenal hingga luar Gorontalo. Nelayan dari Poso, Sulawesi Tengah, bahkan datang langsung untuk belajar dan memesan. Inovasi ini menjadikan beliau bukan sekadar ulama, tapi juga tokoh pemberdaya masyarakat.

Nahar Akadji wafat pada tahun 2010 dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Pohe. Makamnya kini menjadi tempat ziarah yang tak pernah sepi. Letaknya hanya sekitar 20 menit dari pusat kota, melewati pemandangan laut dan perbukitan yang tenang—seolah menggambarkan kehidupan beliau yang sejuk, bersahaja, namun dalam maknanya.

Warisan Manis Seorang “Pagula”

Pagula bukan tokoh besar yang mengejar panggung. Ia tidak dikenal lewat panggung ke panggung atau jabatan. Tapi masyarakatlah yang mengangkat dan mengenangnya sebagai sosok yang manis dalam laku, dalam tutur, dan dalam hati.

Di tengah dunia yang makin gaduh, kisah hidup Pagula menjadi oase. Ia membuktikan bahwa ulama sejati tak perlu banyak gelar—cukup hidup dalam pelayanan dan keikhlasan.

Ia bukan hanya “Ti Guru”, bukan hanya “Kiai”. Ia adalah Pagula—pemanis kehidupan umat dari pesisir Gorontalo.

Penulis aktiv di Perkumpulan Kajian Keagaman dan Budaya (Association for Religious  and Culture Studies, ARCS)

  • Penulis: Abdul Kadir Lawero
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BNPB Bangun Huntara untuk Korban Banjir Aceh Timur, 44 Unit di Pante Rambong Ditarget Rampung Pekan Ini

    BNPB Bangun Huntara untuk Korban Banjir Aceh Timur, 44 Unit di Pante Rambong Ditarget Rampung Pekan Ini

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 226
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Timur pada akhir November 2025 berdampak signifikan terhadap permukiman warga. Di Gampong Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, lebih dari 75 persen wilayah terendam banjir dengan ketinggian muka air mencapai lebih dari tiga meter. Luapan air yang disertai lumpur dan material sampah menyebabkan kerusakan berat pada rumah warga. […]

  • Bayangkan Jika Anda Seorang LGBT: Sebuah Eksperimen Imajinasi dan Refleksi Sosial-Religius

    Bayangkan Jika Anda Seorang LGBT: Sebuah Eksperimen Imajinasi dan Refleksi Sosial-Religius

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Fanridhal Engo
    • visibility 173
    • 0Komentar

    Bayangkan Jika Anda adalah Seorang Waria atau bagian dari Komunitas LGBT. Ya, saya tahu mungkin terdengar janggal untuk dibayangkan. Namun, saya mengajak Anda sejenak menanggalkan posisi normatif Anda, dan merenungkan situasi ini dengan empati. Apa yang Anda rasakan? Marah, resah, atau merasa didiskriminasi oleh dunia yang tampak semakin modern, namun masih sangat konservatif terhadap keberadaan […]

  • UNU Gorontalo Dampingi Petani Atasi Konflik Satwa

    UNU Gorontalo Dampingi Petani Atasi Konflik Satwa

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Gorontalo yang melakukan penanaman papaya di batas ladang Masyarakat dengan kawasan hutan. Penanaman buah ini merupakan upaya untuk meredam konflik satwa liar dan petani yang hingga kini belum mampu diatasi. Mahasiswa ini menanam bibit papaya dengan jarak tertentu pada bidang lahan, sehingga saat pohon besar dan berbuah nanti kawasan ini […]

  • Deretan Bencana Awal Januari: Banjir Rendam NTB, Korban Tewas Banjir Bandang Sitaro Bertambah Jadi 17 Orang

    Deretan Bencana Awal Januari: Banjir Rendam NTB, Korban Tewas Banjir Bandang Sitaro Bertambah Jadi 17 Orang

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 197
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode 7 Januari 2026 hingga 8 Januari 2026 pukul 07.00 WIB. Berdasarkan pemantauan Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB, bencana yang terjadi masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah, khususnya banjir. Banjir Rendam Sumbawa Barat Peristiwa banjir pertama […]

  • Abu Hurairah: Sahabat yang Namanya Hidup dalam Ribuan Hadis (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #28)

    Abu Hurairah: Sahabat yang Namanya Hidup dalam Ribuan Hadis (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #28)

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 338
    • 0Komentar

    Nama Abu Hurairah tentu tidak asing di telinga umat Islam. Namanya sering muncul dalam kitab-kitab hadis, dalam ceramah, bahkan dalam pelajaran agama di sekolah. Ia dikenal sebagai sahabat yang meriwayatkan hadis Nabi dalam jumlah yang sangat banyak. Namun, di balik nama yang begitu sering disebut itu, tidak banyak orang benar-benar mengenal siapa dirinya. Nama asli […]

  • Aleg DPRD Gorontalo Protes Kegiatan Wajib Kemenag, Soroti Risiko Keselamatan Guru

    Aleg DPRD Gorontalo Protes Kegiatan Wajib Kemenag, Soroti Risiko Keselamatan Guru

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 1.299
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Komisi IV, Muhammad Dzikyan, S.Pd.I, melayangkan protes keras terhadap kebijakan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Gorontalo yang kembali mewajibkan kehadiran guru dan tenaga kependidikan dalam kegiatan seremonial, menyusul pelaksanaan Hari Amal Bakti (HAB) Kemenag awal Januari lalu. Protes tersebut muncul setelah Kanwil Kemenag kembali mengedarkan undangan kegiatan […]

expand_less