Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Pagula: Ulama Pesisir dan Penemu Pukat Cincin dari Gorontalo

  • account_circle Abdul Kadir Lawero
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 246
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah riak ombak pesisir Kota Gorontalo, sejarah mencatat nama seorang ulama yang hidupnya sederhana, namun penuh pengaruh. Sosok itu adalah KH. Nahar Akadji, yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Pagula—sebuah panggilan penuh makna yang mencerminkan kelembutan, kearifan, dan manisnya akhlak beliau.

Di Gorontalo, penyebutan ulama memang berbeda. Tak ada istilah “Kiai” seperti di Jawa atau “Tuan Guru” seperti di Lombok. Masyarakat lebih akrab dengan sebutan lokal seperti Ti Guru, Ti Kali, Ti Bapu, Ti Paci, Ti Aba, Ti Ka’i, atau Ti Danggu, Ti Katinggi, Ti Kapende, Ti Ka’i—panggilan yang berasal dari ciri sosial dan fisik seseorang. Namun, meski tidak membawa gelar kiai dalam sebutannya, KH. Nahar Akadji diakui sebagai salah satu ulama besar di pesisir Gorontalo.

Lahir dari Kesederhanaan, Hidup dalam Keberkahan

KH. Nahar Akadji lahir pada 17 Agustus 1926 di Kelurahan Pohe, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Ia tumbuh di tengah keluarga nelayan yang hidup bersahaja. Ayahnya melaut, ibunya menjaga rumah tangga. Tapi dari rumah sederhana itulah tumbuh semangat belajar dan cinta terhadap agama yang luar biasa.

Sejak muda, Pagula sudah terbiasa tidur di rumah guru atau kerabat hanya demi menghadiri majelis ilmu. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Rakyat (SR) Kayubulan dan kemudian melanjutkan pendidikan agama di Madrasah Al-Fatah (PP Al-Huda). Di sinilah ia berguru kepada ulama besar KH. Abas Rauf dan mulai menyelami kitab-kitab klasik seperti Ihya Ulumuddin dan Irsyadul Ibad.

Mengajar Sejak Usia Muda, Merangkul Semua Kalangan

Pada usia 23 tahun, Pagula sudah mengajar kitab kuning. Ia tidak menetap di satu tempat, tapi berpindah-pindah dari kampung ke kampung, menggelar pengajian di rumah-rumah warga. Murid-muridnya datang dari berbagai usia dan lapisan masyarakat.

Yang membuat beliau istimewa bukan hanya ilmunya, tapi juga caranya mendidik. Ia dikenal sabar, tidak keras, dan sangat ngemong. Bagi murid-muridnya, ia bukan hanya guru agama, tetapi juga pembimbing spiritual yang penuh kasih.

Membangun Masjid Lewat Arisan: Solusi dari Rakyat untuk Rakyat

Ketika masyarakat pesisir kesulitan beribadah karena masjid yang jauh, Pagula menggagas solusi sederhana namun revolusioner: arisan warga. Melalui sistem gotong royong ini, setiap warga menyisihkan sedikit dari hasil arisan untuk membangun masjid. Tidak ada paksaan, tidak ada iuran besar, hanya semangat kolektif yang disemai dari hati.

Hasilnya luar biasa. Masjid akhirnya berdiri kokoh. Guru beliau, KH. Abas Rauf, bahkan diberi kehormatan meletakkan batu pertama. Ini bukan hanya pembangunan fisik, tapi juga kebangkitan spiritual dan sosial masyarakat.

Penemu Pukat Cincin: Ketika Ulama Jadi Inovator

Pagula juga dikenal sebagai penemu pukat cincin, sebuah alat tangkap ikan yang menjadi berkah bagi para nelayan. Desainnya sederhana tapi sangat efektif. Berkat alat ini, hasil tangkapan masyarakat pesisir meningkat drastis.

Menurut Irfan Akadji, salah satu putranya, pukat buatan Pagula terkenal hingga luar Gorontalo. Nelayan dari Poso, Sulawesi Tengah, bahkan datang langsung untuk belajar dan memesan. Inovasi ini menjadikan beliau bukan sekadar ulama, tapi juga tokoh pemberdaya masyarakat.

Nahar Akadji wafat pada tahun 2010 dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Pohe. Makamnya kini menjadi tempat ziarah yang tak pernah sepi. Letaknya hanya sekitar 20 menit dari pusat kota, melewati pemandangan laut dan perbukitan yang tenang—seolah menggambarkan kehidupan beliau yang sejuk, bersahaja, namun dalam maknanya.

Warisan Manis Seorang “Pagula”

Pagula bukan tokoh besar yang mengejar panggung. Ia tidak dikenal lewat panggung ke panggung atau jabatan. Tapi masyarakatlah yang mengangkat dan mengenangnya sebagai sosok yang manis dalam laku, dalam tutur, dan dalam hati.

Di tengah dunia yang makin gaduh, kisah hidup Pagula menjadi oase. Ia membuktikan bahwa ulama sejati tak perlu banyak gelar—cukup hidup dalam pelayanan dan keikhlasan.

Ia bukan hanya “Ti Guru”, bukan hanya “Kiai”. Ia adalah Pagula—pemanis kehidupan umat dari pesisir Gorontalo.

Penulis aktiv di Perkumpulan Kajian Keagaman dan Budaya (Association for Religious  and Culture Studies, ARCS)

  • Penulis: Abdul Kadir Lawero
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nuzulul Qur’an di Istiqlal Hadirkan Dai Tionghoa Koko Liem, Cerita Perjalanan Masuk Islam

    Nuzulul Qur’an di Istiqlal Hadirkan Dai Tionghoa Koko Liem, Cerita Perjalanan Masuk Islam

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 257
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal berlangsung meriah dan penuh inspirasi. Salah satu momen yang paling menarik perhatian jamaah adalah kehadiran dai kondangan Tionghoa, Koko Liem, yang membagikan kisah perjalanan spiritualnya memeluk Islam dalam dialog inspiratif yang menggugah hati. Dalam paparannya, Koko Liem menjelaskan bahwa kekagumannya terhadap umat Islam berawal dari tradisi membaca […]

  • Di Bawah Bayang APBN: Menguji Akuntabilitas Keuangan Daerah dan BUMD

    Di Bawah Bayang APBN: Menguji Akuntabilitas Keuangan Daerah dan BUMD

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Nurul Izah Rahareng
    • visibility 279
    • 0Komentar

    Diskursus publik mengenai akuntabilitas keuangan negara sering kali hanya terfokus pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Padahal, pengelolaan keuangan publik tidak berhenti di tingkat pusat. Di luar APBN, terdapat ekosistem keuangan yang luas dan kompleks, meliputi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD), hingga Dana Desa. Sektor-sektor tersebut justru kerap […]

  • Board of Peace Tuai Kritik Akademisi, Dinilai Abaikan Palestina dan Melembagakan Ketidakadilan

    Board of Peace Tuai Kritik Akademisi, Dinilai Abaikan Palestina dan Melembagakan Ketidakadilan

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 327
    • 0Komentar

    nulondalo.com –Pembentukan Board of Peace (BoP) oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai mekanisme perdamaian dan rekonstruksi Gaza menuai kritik tajam dari kalangan akademisi dan intelektual Indonesia. Lembaga yang diklaim sebagai terobosan perdamaian global itu dinilai justru mengabaikan prinsip keadilan, hukum internasional, serta keterlibatan substantif rakyat Palestina sebagai pihak paling terdampak konflik. Kritik keras salah […]

  • Perjalanan Spiritual Nabi

    Perjalanan Spiritual Nabi

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 408
    • 0Komentar

    Kita kini berada di penghujung bulan Rajab, bulan ketujuh dalam kalender Hijriah, sebuah bulan yang dimuliakan dan sarat dengan pesan persiapan ruhani. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram dan memelihara, sementara Ramadhan adalah bulan memetik hasil. Maka, akhir Rajab seharusnya menjadi ruang muhasabah: sejauh mana benih-benih kebaikan telah kita […]

  • Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

    Menolak “Ramadan-nya” Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
    • account_circle Tarmizi Abbas
    • visibility 343
    • 0Komentar

    Seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan, kita melihat berbagai flyer, poster dan baliho, bertengger di sudut-sudut kota. Papan-papan iklan itu menampilkan wajah dari para elit yang tersenyum sumringah, mengenakan setelan jas atau baju koko, sarung, bahkan lengkap latar belakang partai politik yang memayungi mereka. Di tengah papan-papan iklan itu, tertulis ucapan menyambut Ramadan. Namun setelah dipikir-pikir, […]

  • Tragedi Laut di Pangkep: Kapal Tujuan Pulau Sarappo Terbalik, Tiga Nyawa Melayang

    Tragedi Laut di Pangkep: Kapal Tujuan Pulau Sarappo Terbalik, Tiga Nyawa Melayang

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 354
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Pangkep — Kapal kayu KLM Fitri Jaya dilaporkan tenggelam setelah terbalik di tengah perjalanan menuju Pulau Sarappo, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, Sabtu (27/12/2025). Insiden kecelakaan laut tersebut menewaskan tiga orang penumpang. Peristiwa tragis ini diduga kuat dipicu oleh cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang melanda perairan setempat. Kapal […]

expand_less