Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Fleksibilitas

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
  • visibility 229
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Fleksibilitas semakin sering digunakan dalam sistem kerja terkini, baik di korporasi maupun lembaga pemerintah. Flexibility work arragment (FWA) mulai diterapkan perlahan sebagai sistem kerja. Ia diposisikan sebagai respons atas perubahan digital yang menuntut kecepatan, keterbukaan, dan efisiensi.

Pola kerja tidak lagi terikat secara ketat pada ruang dan waktu. Kantor bukan lagi satu-satunya locus kerja, dan jam kerja tidak lagi sepenuhnya linear. WFA atau work from anywhere mulai digunakan dan sepertinya akan menjadi tren di hari-hari selanjutnya.  

Namun, fleksibilitas pada dasarnya hanya membuka ruang. Ia bukan solusi yang bekerja dengan sendirinya, melainkan instrumen yang sangat bergantung pada kapasitas penggunanya. Di sinilah letak persoalan yang sering diabaikan. Ketika fleksibilitas diadopsi tanpa kesiapan yang memadai, yang terjadi bukanlah peningkatan kinerja, tetapi pergeseran masalah dalam bentuk yang lebih halus dan sulit dikenali.

Kunci dari penggunaan fleksibilitas terletak pada kreativitas. Kreativitas dalam konteks ini tidak harus dipahami sebagai inovasi besar atau terobosan spektakuler, melainkan kemampuan menjaga kerja tetap terarah di tengah kelonggaran sistem. Ia mencakup inisiatif, ketepatan membaca situasi, serta kemampuan menemukan cara kerja yang tetap produktif tanpa bergantung pada kontrol yang kaku. Kreativitas memberi struktur pada fleksibilitas, memastikan bahwa ruang yang terbuka tidak berubah menjadi ruang kosong yang tidak menghasilkan nilai.

Tanpa kreativitas, fleksibilitas kehilangan fungsi strategisnya. Kerja memang tetap berlangsung, aktivitas tetap terlihat, tetapi tidak ada peningkatan kualitas maupun dampak. Dalam kondisi seperti ini, fleksibilitas justru menciptakan ilusi kerja. Sistem tampak berjalan, koordinasi terlihat aktif, tetapi substansi melemah. Apa yang terlihat sebagai adaptasi sebenarnya hanyalah reproduksi dari pola lama dalam bentuk yang lebih longgar dan tidak lagi terukur secara jelas.

Kunci kedua adalah komitmen. Fleksibilitas yang tidak diiringi dengan komitmen yang kuat berpotensi memperlemah akuntabilitas. Ketika kehadiran fisik tidak lagi menjadi ukuran utama, maka tanggung jawab seharusnya berpindah pada hasil kerja. Namun, tanpa komitmen yang jelas, perpindahan ini tidak terjadi secara utuh. Ukuran kinerja menjadi kabur, sementara mekanisme kontrol tidak cukup kuat untuk menggantikan fungsi pengawasan langsung. Akibatnya, penurunan kinerja tidak selalu terbaca sebagai kegagalan, tetapi terserap dalam sistem yang tampak modern dan adaptif.

Dalam konteks birokrasi, kondisi ini menjadi lebih kompleks. Fleksibilitas sering kali diadopsi tanpa diikuti dengan pembaruan sistem evaluasi yang memadai. Akibatnya, fleksibilitas tidak mempercepat kerja, tetapi justru menciptakan ruang abu-abu dalam tanggung jawab. Batas antara produktif dan tidak produktif menjadi tidak jelas. Organisasi tetap berjalan, tetapi tanpa kepastian bahwa arah yang ditempuh benar-benar menghasilkan dampak bagi publik.

Dalam situasi ini, fleksibilitas bukan hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga berpotensi menjadi legitimasi baru bagi stagnasi. Ia memberikan kesan progresif, namun tanpa perubahan substantif. Organisasi terlihat bergerak mengikuti zaman, padahal yang terjadi hanyalah penyesuaian di permukaan tanpa transformasi nyata pada cara kerja dan hasil yang dicapai.

Karena itu, fleksibilitas tidak cukup untuk menjawab tantangan kerja modern. Ia perlu ditempatkan secara proporsional sebagai instrumen yang harus dikaitkan dengan tiga hal utama: kreativitas, komitmen, dan ukuran kinerja yang jelas. Kreativitas menjaga arah, komitmen menjaga konsistensi, dan ukuran kinerja memastikan akuntabilitas tetap terjaga. Tanpa ketiganya, fleksibilitas hanya akan menjadi ruang longgar yang tidak produktif, sekaligus menyulitkan upaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.

Fleksibility Work Arrangement (FWA) hanya akan bermakna apabila mampu menghasilkan nilai dan budaya baru. Jika tidak, ia hanya menjadi cara lain untuk mempertahankan stagnasi dalam wajah yang lebih baru.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tiga Jet Tempur AS Ditembak Jatuh di Kuwait, Enam Awak Selamat

    Tiga Jet Tempur AS Ditembak Jatuh di Kuwait, Enam Awak Selamat

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 280
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tiga jet tempur Amerika Serikat jenis F-15E Strike Eagle ditembak jatuh secara tidak sengaja oleh sistem pertahanan udara Kuwait saat operasi tempur aktif di kawasan tersebut, Senin (2/3/2026). Seluruh enam awak pesawat dilaporkan selamat dan dalam kondisi stabil. Insiden itu terjadi di tengah ofensif gabungan Washington bersama Israel terhadap Iran yang telah memasuki […]

  • Sinergi Restorasi UMKM: LP3H Robbani dan 4 Kecamatan di Gorontalo Targetkan 1.000 Sertifikat Halal Gratis Per Kecamatan photo_camera 2

    Sinergi Restorasi UMKM: LP3H Robbani dan 4 Kecamatan di Gorontalo Targetkan 1.000 Sertifikat Halal Gratis Per Kecamatan

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 511
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Upaya penguatan ekonomi kerakyatan di tingkat akar rumput Kabupaten Gorontalo memasuki babak baru. LP3H Robbani secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) bersama empat pemerintah kecamatan untuk fasilitasi Sertifikasi Halal Gratis (Sehati) bagi pelaku UMKM, Kamis (15/1). Pertemuan strategis ini dihadiri langsung oleh perwakilan yayasan, Sandy Syafrudin Nina, bersama Kepala Dinas Koperasi dan UMKM […]

  • Perjumpaan 100 Tokoh, Bisikan Wali dan Masa Depan NU Gorontalo

    Perjumpaan 100 Tokoh, Bisikan Wali dan Masa Depan NU Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 24 Jun 2022
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Rumah besar berpenghuni banyak orang dengan banyak kamar besar serta halaman rumah yang luas, namun tak satupun orang-orang itu terlihat keluar dari rumahnya. Lampu halaman tak menyala, para tetangga tidak pernah disapa, bahkan para tetangga saja tidak mengenal setiap orang yang menghuni rumah besar itu. Karena mereka tak pernah terlihat bekerja menata lingkungan sekitar rumah. […]

  • Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    Belum Genap 100 Hari Bekerja, Adhan Dambea dan Indra Gobel di Demo Kasus Korupsi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Terkait penanganan sejumlah kasus korupsi di Kota Gorontalo yang dinilai lamban, ratusan massa aksi seruduk Kantor Wali Kota Gorontalo, pada Senin (17/3/2025). Pemerintahan Wali Kota Adhan Dambea dan Wakil Wali Kota Indra Gobel diminta untuk tidak tinggal diam dalam penanganan kasus korupsi di Kota Gorontalo yang telah merugikan negara ratusan rupiah. Meski sibuk dalam penanganan […]

  • Warga Gorontalo Utara Soroti Truk Kayu Overload di Tomilito, Desak Penertiban Segera

    Warga Gorontalo Utara Soroti Truk Kayu Overload di Tomilito, Desak Penertiban Segera

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 536
    • 0Komentar

    Gorontalo Utara, nulondalo.com – Seorang warga Gorontalo Utara, Sandy Syafrudin Nina, menyuarakan keprihatinan serius terhadap aktivitas truk pengangkut kayu bermuatan berlebih (overload) yang kerap melintas di wilayah Tomilito. Ia menilai kondisi tersebut bukan sekadar pelanggaran lalu lintas, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat. Dalam kesaksiannya, Sandy mengungkapkan bahwa siang hari, jalanan dari arah Tomilito dipenuhi […]

  • Membaca Indonesia dari Pinggiran: Catatan atas Buku Reset Indonesia

    Membaca Indonesia dari Pinggiran: Catatan atas Buku Reset Indonesia

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Fadhil Hadju
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Indonesia terlalu besar untuk didiskusikan, diurus, dan diperhatikan. Tapi bukannya mustahil. Bangsa yang lahir dari rahim para pemikir ini harus kita diskusikan, harus kita urus, dan harus kita perhatikan. Farid Gaban, Dhandy Laksono, dan kawan-kawan merupakan salah satu orang-orang yang getol menyuarakan persoalan ke-Indonesia-an. Ada beragam cara mereka bersuara. Melalui film dokumenter, dan buku. Salah […]

expand_less