Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Fleksibilitas

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
  • visibility 195
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Fleksibilitas semakin sering digunakan dalam sistem kerja terkini, baik di korporasi maupun lembaga pemerintah. Flexibility work arragment (FWA) mulai diterapkan perlahan sebagai sistem kerja. Ia diposisikan sebagai respons atas perubahan digital yang menuntut kecepatan, keterbukaan, dan efisiensi.

Pola kerja tidak lagi terikat secara ketat pada ruang dan waktu. Kantor bukan lagi satu-satunya locus kerja, dan jam kerja tidak lagi sepenuhnya linear. WFA atau work from anywhere mulai digunakan dan sepertinya akan menjadi tren di hari-hari selanjutnya.  

Namun, fleksibilitas pada dasarnya hanya membuka ruang. Ia bukan solusi yang bekerja dengan sendirinya, melainkan instrumen yang sangat bergantung pada kapasitas penggunanya. Di sinilah letak persoalan yang sering diabaikan. Ketika fleksibilitas diadopsi tanpa kesiapan yang memadai, yang terjadi bukanlah peningkatan kinerja, tetapi pergeseran masalah dalam bentuk yang lebih halus dan sulit dikenali.

Kunci dari penggunaan fleksibilitas terletak pada kreativitas. Kreativitas dalam konteks ini tidak harus dipahami sebagai inovasi besar atau terobosan spektakuler, melainkan kemampuan menjaga kerja tetap terarah di tengah kelonggaran sistem. Ia mencakup inisiatif, ketepatan membaca situasi, serta kemampuan menemukan cara kerja yang tetap produktif tanpa bergantung pada kontrol yang kaku. Kreativitas memberi struktur pada fleksibilitas, memastikan bahwa ruang yang terbuka tidak berubah menjadi ruang kosong yang tidak menghasilkan nilai.

Tanpa kreativitas, fleksibilitas kehilangan fungsi strategisnya. Kerja memang tetap berlangsung, aktivitas tetap terlihat, tetapi tidak ada peningkatan kualitas maupun dampak. Dalam kondisi seperti ini, fleksibilitas justru menciptakan ilusi kerja. Sistem tampak berjalan, koordinasi terlihat aktif, tetapi substansi melemah. Apa yang terlihat sebagai adaptasi sebenarnya hanyalah reproduksi dari pola lama dalam bentuk yang lebih longgar dan tidak lagi terukur secara jelas.

Kunci kedua adalah komitmen. Fleksibilitas yang tidak diiringi dengan komitmen yang kuat berpotensi memperlemah akuntabilitas. Ketika kehadiran fisik tidak lagi menjadi ukuran utama, maka tanggung jawab seharusnya berpindah pada hasil kerja. Namun, tanpa komitmen yang jelas, perpindahan ini tidak terjadi secara utuh. Ukuran kinerja menjadi kabur, sementara mekanisme kontrol tidak cukup kuat untuk menggantikan fungsi pengawasan langsung. Akibatnya, penurunan kinerja tidak selalu terbaca sebagai kegagalan, tetapi terserap dalam sistem yang tampak modern dan adaptif.

Dalam konteks birokrasi, kondisi ini menjadi lebih kompleks. Fleksibilitas sering kali diadopsi tanpa diikuti dengan pembaruan sistem evaluasi yang memadai. Akibatnya, fleksibilitas tidak mempercepat kerja, tetapi justru menciptakan ruang abu-abu dalam tanggung jawab. Batas antara produktif dan tidak produktif menjadi tidak jelas. Organisasi tetap berjalan, tetapi tanpa kepastian bahwa arah yang ditempuh benar-benar menghasilkan dampak bagi publik.

Dalam situasi ini, fleksibilitas bukan hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga berpotensi menjadi legitimasi baru bagi stagnasi. Ia memberikan kesan progresif, namun tanpa perubahan substantif. Organisasi terlihat bergerak mengikuti zaman, padahal yang terjadi hanyalah penyesuaian di permukaan tanpa transformasi nyata pada cara kerja dan hasil yang dicapai.

Karena itu, fleksibilitas tidak cukup untuk menjawab tantangan kerja modern. Ia perlu ditempatkan secara proporsional sebagai instrumen yang harus dikaitkan dengan tiga hal utama: kreativitas, komitmen, dan ukuran kinerja yang jelas. Kreativitas menjaga arah, komitmen menjaga konsistensi, dan ukuran kinerja memastikan akuntabilitas tetap terjaga. Tanpa ketiganya, fleksibilitas hanya akan menjadi ruang longgar yang tidak produktif, sekaligus menyulitkan upaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.

Fleksibility Work Arrangement (FWA) hanya akan bermakna apabila mampu menghasilkan nilai dan budaya baru. Jika tidak, ia hanya menjadi cara lain untuk mempertahankan stagnasi dalam wajah yang lebih baru.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Desak Copot Kapolres dan Kanit Tipiter Maros, KOMAKS Aksi Demo

    Desak Copot Kapolres dan Kanit Tipiter Maros, KOMAKS Aksi Demo

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 161
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Koalisi Mahasiswa Anti Korupsi (KOMAKS) menyelenggarakan aksi damai di tiga titik, yakni di depan Polda Sulawesi Selatan, Polres Maros, dan DPRD Kabupaten Maros. Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat terkait pentingnya penegakan hukum dan perlindungan lingkungan hidup, khususnya di wilayah Kabupaten Maros. Rabu (17/12/2026). Aksi tersebut melibatkan mahasiswa, perwakilan lembaga, serta […]

  • Ummu Waraqah: Imam Salat Perempuan Pertama dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #5)

    Ummu Waraqah: Imam Salat Perempuan Pertama dalam Islam (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #5)

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Dalam sejarah Islam, banyak perempuan tampil sebagai figur yang memberi kontribusi penting dalam membentuk kehidupan spiritual umat. Khadijah dikenal karena keteguhan dan dukungannya pada masa awal dakwah, baik secara moral maupun material. Aisyah menjadi rujukan utama dalam periwayatan hadis dan persoalan-persoalan hukum, menunjukkan kedalaman pengetahuan dan ketajaman intelektualnya. Fatimah dihormati karena kesederhanaan, keteguhan sikap, dan […]

  • Siswa SMA Negeri 1 Mananggu Galang Dana Bantu Korban Kebakaran di Desa Buti

    Siswa SMA Negeri 1 Mananggu Galang Dana Bantu Korban Kebakaran di Desa Buti

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 80
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM-MANANGGU- Siswa yang tergabung dalam tiga organisasi sekolah, yakni Pramuka, OSIS, dan ROHIS, SMA Negeri 1 Mananggu, melakukan aksi penggalangan dana untuk membantu korban kebakaran rumah di Desa Buti, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, Selasa (18/8/26). Pembina OSIS SMA Negeri 1 Mananggu, Kasim Dihuma, mengungkapkan bahwa siswa yang tergabung dalam tiga organisasi tersebut dibagi menjadi beberapa […]

  • Pertemuan Penuh Makna! Ini Harapan Besar dari Safari Idulfitri di Gorontalo

    Pertemuan Penuh Makna! Ini Harapan Besar dari Safari Idulfitri di Gorontalo

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 311
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Kunjungan Safari Idulfitri 1447 Hijriah yang dilakukan Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, disambut hangat oleh Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, bersama Wakil Bupati Tonny S. Junus di Rumah Dinas Bupati, Selasa (24/03/2026). Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban ini menjadi bagian dari tradisi tahunan pasca-Idulfitri yang tidak hanya dimaknai sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai […]

  • Larangan Petasan dan Narkoba Ditegaskan, Camat Maros Baru Ajak Warga Jaga Kondusifitas

    Larangan Petasan dan Narkoba Ditegaskan, Camat Maros Baru Ajak Warga Jaga Kondusifitas

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 172
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros— Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, kesiapsiagaan dan penjagaan keamanan terus diperketat oleh berbagai instansi dan institusi di Kabupaten Maros. Langkah ini dilakukan guna memastikan keamanan, ketertiban, serta kenyamanan masyarakat selama momentum akhir tahun, sejalan dengan Surat Edaran Bupati Maros terkait pengamanan Nataru. Menindaklanjuti surat edaran tersebut, Camat Maros Baru, A. […]

  • Dari Pasar Ambuwa, Pesan Menjaga Alam dan Masa Depan Gorontalo

    Dari Pasar Ambuwa, Pesan Menjaga Alam dan Masa Depan Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 301
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Suasana Pasar Ambuwa di Desa Huntu Selatan, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (6/6/2026), terasa berbeda dari biasanya. Pasar yang dikelola para seniman setempat itu tidak hanya menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas, tetapi juga dikenal sebagai tempat menikmati beragam kuliner lokal khas Gorontalo. Pasar Ambuwa sengaja dipilih sebagai lokasi peringatan Hari Lingkungan Hidup […]

expand_less