Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Fleksibilitas

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
  • visibility 199
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Fleksibilitas semakin sering digunakan dalam sistem kerja terkini, baik di korporasi maupun lembaga pemerintah. Flexibility work arragment (FWA) mulai diterapkan perlahan sebagai sistem kerja. Ia diposisikan sebagai respons atas perubahan digital yang menuntut kecepatan, keterbukaan, dan efisiensi.

Pola kerja tidak lagi terikat secara ketat pada ruang dan waktu. Kantor bukan lagi satu-satunya locus kerja, dan jam kerja tidak lagi sepenuhnya linear. WFA atau work from anywhere mulai digunakan dan sepertinya akan menjadi tren di hari-hari selanjutnya.  

Namun, fleksibilitas pada dasarnya hanya membuka ruang. Ia bukan solusi yang bekerja dengan sendirinya, melainkan instrumen yang sangat bergantung pada kapasitas penggunanya. Di sinilah letak persoalan yang sering diabaikan. Ketika fleksibilitas diadopsi tanpa kesiapan yang memadai, yang terjadi bukanlah peningkatan kinerja, tetapi pergeseran masalah dalam bentuk yang lebih halus dan sulit dikenali.

Kunci dari penggunaan fleksibilitas terletak pada kreativitas. Kreativitas dalam konteks ini tidak harus dipahami sebagai inovasi besar atau terobosan spektakuler, melainkan kemampuan menjaga kerja tetap terarah di tengah kelonggaran sistem. Ia mencakup inisiatif, ketepatan membaca situasi, serta kemampuan menemukan cara kerja yang tetap produktif tanpa bergantung pada kontrol yang kaku. Kreativitas memberi struktur pada fleksibilitas, memastikan bahwa ruang yang terbuka tidak berubah menjadi ruang kosong yang tidak menghasilkan nilai.

Tanpa kreativitas, fleksibilitas kehilangan fungsi strategisnya. Kerja memang tetap berlangsung, aktivitas tetap terlihat, tetapi tidak ada peningkatan kualitas maupun dampak. Dalam kondisi seperti ini, fleksibilitas justru menciptakan ilusi kerja. Sistem tampak berjalan, koordinasi terlihat aktif, tetapi substansi melemah. Apa yang terlihat sebagai adaptasi sebenarnya hanyalah reproduksi dari pola lama dalam bentuk yang lebih longgar dan tidak lagi terukur secara jelas.

Kunci kedua adalah komitmen. Fleksibilitas yang tidak diiringi dengan komitmen yang kuat berpotensi memperlemah akuntabilitas. Ketika kehadiran fisik tidak lagi menjadi ukuran utama, maka tanggung jawab seharusnya berpindah pada hasil kerja. Namun, tanpa komitmen yang jelas, perpindahan ini tidak terjadi secara utuh. Ukuran kinerja menjadi kabur, sementara mekanisme kontrol tidak cukup kuat untuk menggantikan fungsi pengawasan langsung. Akibatnya, penurunan kinerja tidak selalu terbaca sebagai kegagalan, tetapi terserap dalam sistem yang tampak modern dan adaptif.

Dalam konteks birokrasi, kondisi ini menjadi lebih kompleks. Fleksibilitas sering kali diadopsi tanpa diikuti dengan pembaruan sistem evaluasi yang memadai. Akibatnya, fleksibilitas tidak mempercepat kerja, tetapi justru menciptakan ruang abu-abu dalam tanggung jawab. Batas antara produktif dan tidak produktif menjadi tidak jelas. Organisasi tetap berjalan, tetapi tanpa kepastian bahwa arah yang ditempuh benar-benar menghasilkan dampak bagi publik.

Dalam situasi ini, fleksibilitas bukan hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi juga berpotensi menjadi legitimasi baru bagi stagnasi. Ia memberikan kesan progresif, namun tanpa perubahan substantif. Organisasi terlihat bergerak mengikuti zaman, padahal yang terjadi hanyalah penyesuaian di permukaan tanpa transformasi nyata pada cara kerja dan hasil yang dicapai.

Karena itu, fleksibilitas tidak cukup untuk menjawab tantangan kerja modern. Ia perlu ditempatkan secara proporsional sebagai instrumen yang harus dikaitkan dengan tiga hal utama: kreativitas, komitmen, dan ukuran kinerja yang jelas. Kreativitas menjaga arah, komitmen menjaga konsistensi, dan ukuran kinerja memastikan akuntabilitas tetap terjaga. Tanpa ketiganya, fleksibilitas hanya akan menjadi ruang longgar yang tidak produktif, sekaligus menyulitkan upaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.

Fleksibility Work Arrangement (FWA) hanya akan bermakna apabila mampu menghasilkan nilai dan budaya baru. Jika tidak, ia hanya menjadi cara lain untuk mempertahankan stagnasi dalam wajah yang lebih baru.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siapa Figur Pemecah Kebuntuan di Muktamar NU?

    Siapa Figur Pemecah Kebuntuan di Muktamar NU?

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Sonny Madjid
    • visibility 268
    • 0Komentar

    Residu polemik Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang diterima oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) diprediksi masih terasa hingga pelaksanaan Muktamar NU 2026, yang dijadwalkan Agustus atau Desember mendatang. Selain persoalan IUP batu bara, kehadiran sejumlah tokoh luar negeri yang diduga pendukung zionis Israel sebagai narasumber dalam kaderisasi NU ikut menjadi masalah. Dua hal tersebut yang […]

  • Isra Mi’raj Bukan Sekadar Kisah Mukjizat, Ini Pesan Gus Aniq Nawawi Play Button

    Isra Mi’raj Bukan Sekadar Kisah Mukjizat, Ini Pesan Gus Aniq Nawawi

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 488
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tidak semata-mata dimaknai sebagai kisah mukjizat perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra Mi’raj menyimpan pesan mendalam tentang iman, proses perjuangan, dan makna tawakal dalam kehidupan umat Islam. Pesan tersebut disampaikan KH Abdullah Aniq Nawawi, MA atau Gus Aniq dalam […]

  • Pameran Seni “Sangkut Paut” Kolaborasi dan kreativitas dalam Residensi MTN Lab Gorontalo

    Pameran Seni “Sangkut Paut” Kolaborasi dan kreativitas dalam Residensi MTN Lab Gorontalo

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Pameran seni bertajuk “Sangkut Paut” resmi dibuka, Selasa (25/11/2025) di Hartdisk Studio, Bone Bolango. Pameran ini merupakan hasil proses kreativitas dari program MTN Lab Residence Gorontalo, yang menghadirkan 29 seniman dan 8 kurator dalam kerja kolaboratif selama dua minggu terakhir. Residensi ini memperlihatkan bagaimana gagasan tumbuh ketika praktik seni dirawat melalui kedekatan—antara seniman, kurator, ruang […]

  • Dari Skeptis ke Setuju? Sikap MUI soal Board of Peace Berubah Setelah Bertemu Prabowo

    Dari Skeptis ke Setuju? Sikap MUI soal Board of Peace Berubah Setelah Bertemu Prabowo

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 228
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap keterlibatan Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP) menjadi sorotan setelah pertemuan pimpinan ormas Islam dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026). Jika sebelumnya MUI menyuarakan keraguan, kini organisasi tersebut menunjukkan sikap yang lebih terbuka dengan sejumlah catatan. Wakil Ketua Umum MUI […]

  • Diskusi Nasional Soroti ‘Paradoks Prabowo’ dan Arah Ekonomi-Politik Bangsa

    Diskusi Nasional Soroti ‘Paradoks Prabowo’ dan Arah Ekonomi-Politik Bangsa

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, JAKARTA – Sejumlah organisasi masyarakat sipil dan lembaga kepemudaan menggelar Diskusi Nasional bertajuk “Paradoks Indonesia, Paradoks Prabowo: Kemana Arah Ekonomi-Politik Bangsa?” yang berlokasi di Sekretariat PB PMII, Jl. Salemba Tengah, Jakarta Pusat pada Jum’at, 12 Juni 2026. Acara yang dibuka dengan pembacaan Puisi oleh dua orang KOPRI PMII Ciputat terselenggara atas kolaborasi lintas lembaga, […]

  • Kolaborasi SEMA-HABAR Koter Bersama Puskesmas Jailolo Adakan Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis

    Kolaborasi SEMA-HABAR Koter Bersama Puskesmas Jailolo Adakan Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maluku Utara – SEMA-HABAR Kota Ternate Bersama Puskesmas Jailolo dan Himpa Pabos Melakukan Pengecekan Dan Pengobatan Gratis Di Desa Payo dan Pateng Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat, Rabu 20 Mei 2026. Menurut Riwan Basir, Ketua Sentral Mahasiswa Halmahera Barat (SEMA-HABAR) Kota Ternate, Program Pengobatan Gratis yang di lakukan merupakan tanggung jawab pemerintah dalam Memberikan Kesehatan […]

expand_less