Kas Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
- visibility 137
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan itu unik. Ia seperti auditor independen yang datang tanpa diundang, memeriksa laporan keuangan batin kita. Bedanya, auditor ini tidak membawa kertas kerja, tapi membawa pahala. Ia tidak bertanya soal aset lancar, tetapi soal amal lancar. Dan yang paling penting, ia tidak bisa “diajak negosiasi”.
Sebagai orang akuntansi, saya sering merenung: mengapa kita begitu teliti menghitung kas di brankas, tetapi jarang menghitung “Kas Langit”? Padahal dalam logika spiritual, justru itulah akun yang paling likuid. Bisa dicairkan kapan saja, bahkan setelah kita tutup buku kehidupan.
Dalam akuntansi, kas adalah aset paling likuid. Dalam Ramadhan, amal adalah aset paling likuid. Sedekah yang biasanya terasa berat, tiba-tiba jadi ringan. Transfer zakat yang biasanya menunggu tanggal gajian, mendadak lebih cepat dari notifikasi promo marketplace. Seolah-olah ada diskon besar-besaran dari langit: beli satu pahala, bonus berkali lipat.
Humor ala Nahdlatul Ulama sering mengajarkan kita satu hal: jangan terlalu serius menjalani hidup, nanti hidupnya kabur. Nahdlatul Ulama itu punya tradisi tawa yang cerdas. Gus Dur bahkan pernah berkata, “Tuhan tidak perlu dibela.” Maka saya tambahkan, “Tuhan juga tidak butuh laporan audit kita, tapi kita yang butuh laporan audit-Nya.”
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar