Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kapitalisme Modern Menghendaki Kita Egois dan Rapuh

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 55
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Benteng penangkalnya adalah kebersamaan yang organik, melalui praktik-praktik hidup yang tidak transaksional, tapi didalamnya ada redistribusi kasih sayang, melalui relasi dan ritual yang belum disentuh oleh logika akumulasi. Sungai tidak meminum airnya sendiri. Pohon tidak memakan buah yang tumbuh di dahannya. Matahari tidak menikmati cahaya yang dipancarkannya. Bunga pun tidak mencium harum yang disebarkannya. Alam bekerja dalam logika yang sederhana. Pelajaran soal menemukan arti justru ketika memberi kehidupan bagi yang lain, itulah akar ontologis kita sebagai manusia.

Ungkapan semacam ini sering hadir dalam petuah-petuah lama, pidato keagamaan, atau tulisan reflektif tentang makna hidup. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan makna dan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar nasihat moral. Ia adalah cara manusia membangun pemahaman tentang dirinya sendiri melalui simbol-simbol yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Maka pemikiran Roland Barthes menjadi menarik untuk dibaca kembali. Bagi Barthes, mitos bukanlah dongeng atau cerita khayalan. Mitos adalah cara suatu masyarakat mengubah nilai tertentu menjadi sesuatu yang tampak wajar, alamiah, bahkan seolah-olah merupakan kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Mitos bekerja melalui tanda-tanda. Ia mengambil sesuatu yang konkret lalu memuatnya dengan makna yang lebih luas.

Karena itu, sungai dalam narasi tadi tidak lagi sekadar aliran air. Pohon bukan hanya organisme biologis. Matahari bukan sekadar benda langit. Semuanya berubah menjadi bahasa simbolik yang berbicara tentang kebermanfaatan, pengorbanan, dan hubungan timbal balik antarkehidupan.

Alam memperlihatkan sesuatu yang sering luput dari perhatian manusia modern, tidak ada kehidupan yang benar-benar berdiri sendiri. Sungai mengalir karena hujan turun di tempat lain. Pohon tumbuh karena tanah, air, cahaya, dan mikroorganisme bekerja dalam jaringan yang saling menopang. Bahkan matahari yang tampak begitu perkasa hanya memiliki makna karena ada kehidupan yang menerima dan mengolah energinya.

Di dalam ekosistem, eksistensi selalu bersifat relasional. Sesuatu ada karena terhubung dengan yang lain. Tidak ada pusat yang berdiri sendirian. Ironisnya, pelajaran yang begitu jelas terbentang di alam justru sering bertabrakan dengan cara berpikir yang berkembang dalam masyarakat kontemporer. Kita hidup di zaman yang semakin terhubung secara teknologi, tetapi pada saat yang sama semakin memuliakan gagasan tentang individu yang berdiri sendiri. Kesuksesan dipahami sebagai hasil kerja personal semata. Kekayaan dianggap cerminan kualitas diri. Popularitas diperlakukan sebagai ukuran nilai manusia.

Barthes mungkin akan mengatakan bahwa masyarakat modern juga hidup di bawah mitos-mitosnya sendiri.

Salah satu yang paling dominan adalah mitos tentang manusia yang sepenuhnya mandiri. Sosok self-made man dipuja sebagai lambang keberhasilan. Narasinya sederhana: seseorang bekerja keras, mengalahkan segala hambatan, lalu mencapai puncak dengan kekuatannya sendiri. Kisah ini terdengar heroik, tetapi sering kali mengaburkan kenyataan yang jauh lebih kompleks.

Tidak ada orang yang benar-benar membangun dirinya sendirian. Di belakang seorang profesional yang sukses terdapat guru yang pernah mengajarnya membaca. Di belakang seorang pengusaha terdapat pekerja yang membantu menjalankan usahanya. Di belakang seorang ilmuwan terdapat jaringan pengetahuan yang dikembangkan ribuan orang sebelum dirinya lahir. Bahkan secangkir kopi yang kita minum setiap pagi adalah hasil kerja panjang petani, buruh, sopir, pedagang, dan banyak tangan lain yang tak pernah kita kenal.

Apa yang tampak sebagai pencapaian individual sesungguhnya berdiri di atas fondasi sosial yang sangat luas. Namun mitos individualisme membuat jaringan tersebut nyaris tak terlihat. Ia mengubah hasil kerja kolektif menjadi kisah kepahlawanan personal.

Pandangan ini sejalan dengan tradisi pengetahuan Sejak awal, manusia dipahami sebagai makhluk yang keberadaannya dibentuk melalui relasi. Seorang bayi tidak akan bertahan tanpa pengasuhan. Seorang petani membutuhkan pasar. Seorang dokter membutuhkan pasien. Seorang pemimpin membutuhkan kepercayaan publik. Tidak ada kehidupan manusia yang benar-benar otonom.

Dalam diskursus sosiologi Masyarakat dipandang bukan sekadar kumpulan individu, melainkan jaringan ketergantungan yang saling menopang. Karena itu, membantu orang lain bukan hanya urusan kemurahan hati. Ia merupakan bagian dari mekanisme yang memungkinkan kehidupan sosial tetap berlangsung. Solidaritas bukan tambahan dalam kehidupan bersama, melainkan salah satu syarat keberlangsungannya. Ketika seseorang berbagi pengetahuan, membantu tetangga yang kesulitan, atau menyediakan waktunya untuk mendengarkan orang lain, ia sedang merawat jalinan yang membuat masyarakat tidak runtuh menjadi sekumpulan orang asing yang hidup berdampingan tanpa keterhubungan.

Menariknya, temuan-temuan dalam psikologi modern juga menunjukkan kecenderungan yang serupa. Banyak penelitian menemukan bahwa kepuasan hidup yang paling bertahan lama tidak selalu lahir dari kepemilikan, melainkan dari pengalaman merasa berguna bagi orang lain. Pencapaian memang menghadirkan kebanggaan, tetapi kebermaknaan sering lahir dari kontribusi.

Ada kegembiraan ketika seseorang memperoleh sesuatu yang lama diinginkannya. Namun ada kepuasan yang lebih dalam ketika ia menyadari bahwa kehadirannya membuat hidup orang lain sedikit lebih ringan, sedikit lebih mudah, atau sedikit lebih baik.

Dari sudut pandang ini, kisah tentang sungai, pohon, matahari, dan bunga dapat dibaca sebagai sebuah narasi tandingan terhadap budaya yang terlalu terpesona pada akumulasi. Ia menawarkan ukuran keberhasilan yang berbeda. Bukan tentang seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa besar dampak yang berhasil disebarkan.

Perubahan yang diajarkan alam seperti melalui Daun yang menguning sebelum gugur sering dibaca sebagai lambang kehilangan. Padahal dalam logika biologis, perubahan itu justru merupakan strategi bertahan hidup. Pohon melepaskan sebagian dirinya agar mampu melewati musim yang lebih berat. Yang tampak seperti akhir ternyata merupakan bagian dari proses pembaruan.

Manusia pun bergerak dalam pola yang serupa. Tidak ada kehidupan yang bebas dari kegagalan, penolakan, kehilangan, atau ketidakpastian. Namun pengalaman-pengalaman itulah yang sering membentuk kedalaman cara pandang seseorang terhadap dunia. Banyak orang menjadi lebih bijaksana bukan karena hidupnya selalu mudah, melainkan karena pernah berhadapan dengan kenyataan yang keras dan berhasil melewatinya.

Pada titik tertentu, manusia juga menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh kemampuan dan perhitungannya sendiri, maka pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah sebuah mitos benar atau salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah: cerita seperti apa yang sedang mengarahkan cara kita menjalani hidup?

Apakah kita sedang hidup dalam mitos tentang persaingan yang tak berujung, tentang akumulasi yang tak pernah cukup, tentang nilai manusia yang diukur dari apa yang dimiliki? Ataukah kita memilih mempercayai cerita lain—cerita tentang kebermanfaatan, tentang solidaritas, tentang keyakinan bahwa hidup memperoleh arti ketika keberadaan kita menghadirkan kebaikan bagi kehidupan di sekitar kita?

Kupikir manusia tidak hanya bertahan dengan makanan, teknologi, atau kekayaan. Manusia juga hidup dari cerita-cerita yang memberinya arah. Sebab kehidupan tidak pernah hanya terdiri atas apa yang berhasil kita capai, tetapi juga apa yang berhasil kita pahami dari perjalanan menuju ke sana.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Disclaimer:
Tulisan yang dimuat dalam Rubrik Opini Nulondalo.com sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Isi dan pandangan yang disampaikan tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan redaksi Nulondalo.com. Redaksi tidak bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang timbul dari isi tulisan opini tersebut.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Adanya Dugaan Malpraktik di RS Multazam, Aktivis Gorontalo Desak Pencopotan Dokter Play Button

    Adanya Dugaan Malpraktik di RS Multazam, Aktivis Gorontalo Desak Pencopotan Dokter

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 227
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aktivis Muda Kevin Lapendos melayangkan Dugaan keras kepada Rumah Sakit Multazam Gorontalo dan dokter yang menangani operasi caesar pada 8 Desember 2025 yakni Dr Alfreed Wuisana, Sp.OG, atas dugaan kelalaian medis serius. Kevin menyatakan salah-satu pasien mengalami kegagalan luar biasa setelah operasi, bahkan ada dugaan bahwa satu pasien inisial SRO telah terdaftar untuk […]

  • DPW PKB Gorontalo Resmikan Kantor Baru, Simbol Semangat dan Marwah Partai

    DPW PKB Gorontalo Resmikan Kantor Baru, Simbol Semangat dan Marwah Partai

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo resmi memiliki kantor baru yang berlokasi di Jalan KH. Adam Zakaria, Kota Gorontalo, setelah diresmikan langsung oleh Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Nihayatul Wafiroh, pada Selasa (12/8/2025). Ketua DPW PKB Gorontalo, Muhammad Dzikyan atau yang akrab disapa Gus Yayan, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Nihayah […]

  • Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    Titel Haji; Sejarah tentang Kemuliaan dan Perlawanan

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Di antara sekian ibadah yang dilakukan oleh umat Islam, hanya naik haji ke Baitullah yang mendapatkan titel. Gelarnya melekat seumur hidup. Segera setelah seseorang pulang dari berhaji di Tanah Suci, masyarakat pun menyematkan titel mulia itu di depan namanya—Haji Fulan atau Hajjah Fulanah. Gelar ini bukan sekadar sebutan, tetapi simbol dari suatu perjalanan agung, kedalaman […]

  • Sejak Maret, Ada 5 Kebakaran di Kota Gorontalo, Ini Penyebab Terbesarnya

    Sejak Maret, Ada 5 Kebakaran di Kota Gorontalo, Ini Penyebab Terbesarnya

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 209
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Angka peristiwa kebakaran di Kota Gorontalo kembali menjadi sorotan. Hingga Maret 2026, tercatat sudah lima kejadian kebakaran yang sebagian besar dipicu oleh faktor kelistrikan. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Gorontalo, Ismail Madjid, saat menyerahkan bantuan kepada korban kebakaran di Kelurahan Huangobotu, Selasa (24/3/2026). Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Gorontalo melalui Dinas […]

  • Kesalehan yang “Dipertontonkan”

    Kesalehan yang “Dipertontonkan”

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2020
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Hari ini orang beramai-ramai memposting pelaksanaan Shalat Idul Fitri di setiap rumah, sekalipun tidak semua karena ada sebagian orang lain yang Shalat di Masjid maupun di lapangan karena kekesalan mereka terhadap pemerintah yang menutup Masjid dan membuka pasar dan mall di tengah pandemic corona. Setelah Shalat Idul Fitri saya dan keluarga menikmati burasa, acar ikan […]

  • Banjir Rusak Jembatan Darurat di Galela Utara, Kementerian PU Turunkan Alat Berat

    Banjir Rusak Jembatan Darurat di Galela Utara, Kementerian PU Turunkan Alat Berat

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 159
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Curah hujan tinggi yang melanda Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, memicu serangkaian bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah. Beberapa sungai meluap, longsor terjadi di berbagai titik, rumah warga terendam banjir, hingga infrastruktur vital mengalami kerusakan. Dampak terparah terjadi di Kecamatan Galela Utara, tepatnya di Kali Aru yang berada di perbatasan Desa Bobisingo dan Desa […]

expand_less