Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
  • visibility 349
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak keluarga Indonesia, ayah itu ibarat “aset tetap”. Kalau ada, sering tidak disadari nilainya. Kalau tidak ada, barulah neraca keuangan keluarga terasa jomplang. Fenomena fatherless, baik ayah pergi secara fisik, emosional, maupun spiritual, bukan cuma soal anak kehilangan figur panutan, tetapi juga soal neraca keluarga yang tiba-tiba timpang sebelah. Dalam bahasa akuntansi NU: ini bukan sekadar missing person, tapi missing control.

Gus Dur pernah berkelakar, “Kalau hidup ini terlalu serius”, nanti kita dikira laporan audit. Maka mari kita bahas fatherless dengan serius tapi sambil senyum, agar tidak stres seperti ibu rumah tangga yang akhir bulan dompetnya tinggal kartu ATM dan doa.

Dalam banyak keluarga, ayah adalah “kepala anggaran”. Entah ia paham akuntansi atau tidak, yang penting ia tahu satu rumus sakti: gaji masuk, istri pusing, anak sekolah. Ketika ayah tidak hadir, maka ibu naik jabatan otomatis: dari bendahara, manajer keuangan, direktur operasional, sampai auditor internal. Lengkap. Tanpa SK, tanpa tunjangan, tanpa rapat evaluasi tahunan, karena evaluasinya harian, tiap kali anak minta uang jajan.

Akuntansi keluarga dalam kondisi fatherless berubah drastis. Kalau dulu pencatatan keuangan cukup diingat di kepala ayah (“tenang, ada ayah”), kini semua harus ditulis. Ibu mulai akrab dengan buku kecil: sebelah kanan pemasukan, sebelah kiri pengeluaran, dan di bawahnya catatan kaki: “utang tetangga belum dibayar, semoga ingat.” Ini bukan sekadar pembukuan, tapi jihad administratif.

Secara ekonomi, keluarga fatherless adalah contoh nyata efisiensi tingkat tinggi. Kalau istilah akademik menyebut cost leadership, di rumah tangga namanya “hemat pol”. Minyak goreng diukur pakai rasa, beras ditakar pakai intuisi, dan lauk disesuaikan dengan saldo e-wallet. Ibu-ibu NU sudah lama mempraktikkan akuntansi biaya tanpa pernah ikut seminar. Mereka tahu kapan harus belanja harian, kapan harus puasa belanja sambil bilang ke anak, “Ini latihan tirakat.”

Dampak sosialnya? Jangan salah. Keluarga fatherless justru sering lebih kuat jejaringnya. Tetangga, keluarga besar, grup pengajian, dan warung kopi menjadi sistem supporting governance. Di sinilah modal sosial bekerja. Kalau ayah tidak ada, ada pak RT. Kalau pak RT sibuk, ada kiai. Kalau kiai tidak sempat, ada grup WhatsApp ibu-ibu yang informasinya lebih cepat dari laporan keuangan triwulanan.

Dalam perspektif NU, gotong royong ini bukan sekadar bantuan, tapi bagian dari sistem ekonomi moral. Bukan CSR, tapi sedekah real time. Akuntansi keluarga tidak lagi bicara laba, tapi keberkahan. Karena dalam keluarga fatherless, yang dicari bukan sekadar surplus anggaran, tapi cukup untuk hidup dengan tenang dan anak tidak minder di sekolah.

Aspek spiritual justru menjadi “modal tak tercatat” yang paling kuat. Banyak ibu dalam keluarga fatherless mengganti peran ayah dengan doa. Kalau ayah biasanya bilang, “Tenang, ada saya,” maka ibu bilang, “Tenang, ada Allah.” Ini bukan retorika, tapi strategi bertahan hidup. Gus Dur pernah berkata, “Tuhan tidak perlu dibela, tapi manusia perlu ditolong.” Dalam konteks ini, iman menjadi buffer psikologis dan spiritual menghadapi tekanan ekonomi.

Namun humor Gus Dur juga mengingatkan kita untuk kritis. Jangan sampai fatherless dianggap wajar lalu negara cuci tangan. Kalau terlalu banyak keluarga fatherless, itu bukan takdir semata, tapi bisa jadi hasil kebijakan ekonomi yang membuat ayah sibuk di luar rumah, jauh secara emosional, atau terpinggirkan secara sosial. Akuntansi keluarga boleh rapi, tapi kalau sistem di luar rumah berantakan, ibu terus yang jadi korban.

Fatherless dalam akuntansi keluarga juga mengajarkan satu hal penting: transparansi. Anak-anak sering lebih tahu kondisi ekonomi rumah. Tidak ada lagi ilusi “ayah pasti bisa”. Yang ada adalah dialog jujur: “Uang kita segini, kebutuhan segini, jadi harus bagi-bagi.” Ini pendidikan ekonomi paling mahal, tapi gratis. Anak belajar sejak dini bahwa uang itu terbatas, tapi akal dan doa tidak.

Akhirnya, keluarga fatherless mengajarkan kita bahwa akuntansi bukan cuma soal angka, tapi soal nilai. Tentang siapa yang menanggung beban, siapa yang mengalah, dan siapa yang tetap tersenyum meski neraca keuangannya defisit. Dalam humor NU, ini disebut nrimo ing pandum tapi tetap usaha. Dalam bahasa Gus Dur: hidup boleh berat, tapi jangan sampai kehilangan tawa.

Karena kalau keluarga fatherless masih bisa tertawa, mencatat keuangan dengan jujur, saling menguatkan secara sosial, dan bertahan secara spiritual, maka sesungguhnya mereka sedang mengajarkan akuntansi paling luhur: akuntansi kemanusiaan.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kritik Pelindo atas Kemacetan Tanjung Priok, Wasekjen PII: Gagal dalam Manajemen Sistem Logistik

    Kritik Pelindo atas Kemacetan Tanjung Priok, Wasekjen PII: Gagal dalam Manajemen Sistem Logistik

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Panji Sukma Nugraha, menyampaikan kritik tajam terhadap manajemen PT Pelindo seiring kemacetan parah yang terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok beberapa hari terakhir. Menurutnya, insiden ini merupakan bentuk nyata dari kegagalan perencanaan dan pengendalian sistem logistik nasional yang semestinya dapat diantisipasi sejak awal. “Ini bukan sekadar kemacetan lalu […]

  • Membaca Indonesia dari Pinggiran: Catatan atas Buku Reset Indonesia

    Membaca Indonesia dari Pinggiran: Catatan atas Buku Reset Indonesia

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Fadhil Hadju
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Indonesia terlalu besar untuk didiskusikan, diurus, dan diperhatikan. Tapi bukannya mustahil. Bangsa yang lahir dari rahim para pemikir ini harus kita diskusikan, harus kita urus, dan harus kita perhatikan. Farid Gaban, Dhandy Laksono, dan kawan-kawan merupakan salah satu orang-orang yang getol menyuarakan persoalan ke-Indonesia-an. Ada beragam cara mereka bersuara. Melalui film dokumenter, dan buku. Salah […]

  • Metafora Londo Ireng, dari Penjajahan yang Berubah Menjadi Cara Berpihak

    Metafora Londo Ireng, dari Penjajahan yang Berubah Menjadi Cara Berpihak

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Sebuah negara bisa merdeka secara politik, memiliki bendera, konstitusi, dan pemerintahan sendiri. Namun, kemerdekaan tidak selalu berarti rakyatnya terbebas dari praktik-praktik yang dahulu menjadi ciri kolonialisme. Penjajahan memang telah berakhir sebagai sistem pemerintahan, tetapi cara kerjanya bisa tetap hidup dalam bentuk yang lebih halus. Ia berpindah dari medan perang ke ruang-ruang kebijakan, dari moncong senapan […]

  • Akademisi dan Ulama Soroti Pengadaan MacBook Rp25 Juta untuk Anggota DPRD Gorontalo

    Akademisi dan Ulama Soroti Pengadaan MacBook Rp25 Juta untuk Anggota DPRD Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 255
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Rencana pengadaan laptop merek MacBook Air untuk 45 anggota DPRD Provinsi Gorontalo menuai sorotan dari kalangan akademisi dan ulama. Pengadaan tersebut dianggarkan sekitar Rp25 juta per unit dan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Gorontalo. Kebijakan itu menjadi perbincangan publik setelah muncul pertanyaan mengenai urgensi penggunaan perangkat dengan kategori premium […]

  • Stand Up Comedy dalam Perspektif Islam

    Stand Up Comedy dalam Perspektif Islam

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Dr. Mismubarak, S.Hd., M.Ag., CLQ., MMG
    • visibility 248
    • 0Komentar

    Misi utama katauhidan islam yang di ajarkan Nabi Muhammad adalah misi kemanusiaan yang luhur yaitu budi pekerti, moral dan akhlakul karimah. Dengan prinsip kitab suci, maka lahirlah konsep Islam Rahmatan Lil ‘Alamin (Qs. Al-Anbiyah 107). Melalui ayat ini, Tuhan menggambarkan kepribadian Muhammad untuk ditegaskan kepada setiap generasi bahwa Risalah kenabian adalah rahmat yang akan membawa […]

  • KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah Play Button

    KH. Muhyidin Zeni Jelaskan Sejarah dan Dalil Salat Tarawih dalam Perspektif Ahlussunnah

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 357
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ramadan selalu menghadirkan suasana yang khas: masjid-masjid kembali penuh, lantunan ayat suci terdengar lebih panjang dari biasanya, dan umat Islam berbondong-bondong menunaikan salat Tarawih. Namun di balik semarak itu, tidak sedikit pertanyaan yang terus berulang dari tahun ke tahun tentang sejarahnya, dalilnya, hingga perbedaan jumlah rakaat yang sering memantik perbincangan. Wakil Rais Syuriyah […]

expand_less