Breaking News
light_mode
Trending Tags

Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
  • visibility 267
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak keluarga Indonesia, ayah itu ibarat “aset tetap”. Kalau ada, sering tidak disadari nilainya. Kalau tidak ada, barulah neraca keuangan keluarga terasa jomplang. Fenomena fatherless, baik ayah pergi secara fisik, emosional, maupun spiritual, bukan cuma soal anak kehilangan figur panutan, tetapi juga soal neraca keluarga yang tiba-tiba timpang sebelah. Dalam bahasa akuntansi NU: ini bukan sekadar missing person, tapi missing control.

Gus Dur pernah berkelakar, “Kalau hidup ini terlalu serius”, nanti kita dikira laporan audit. Maka mari kita bahas fatherless dengan serius tapi sambil senyum, agar tidak stres seperti ibu rumah tangga yang akhir bulan dompetnya tinggal kartu ATM dan doa.

Dalam banyak keluarga, ayah adalah “kepala anggaran”. Entah ia paham akuntansi atau tidak, yang penting ia tahu satu rumus sakti: gaji masuk, istri pusing, anak sekolah. Ketika ayah tidak hadir, maka ibu naik jabatan otomatis: dari bendahara, manajer keuangan, direktur operasional, sampai auditor internal. Lengkap. Tanpa SK, tanpa tunjangan, tanpa rapat evaluasi tahunan, karena evaluasinya harian, tiap kali anak minta uang jajan.

Akuntansi keluarga dalam kondisi fatherless berubah drastis. Kalau dulu pencatatan keuangan cukup diingat di kepala ayah (“tenang, ada ayah”), kini semua harus ditulis. Ibu mulai akrab dengan buku kecil: sebelah kanan pemasukan, sebelah kiri pengeluaran, dan di bawahnya catatan kaki: “utang tetangga belum dibayar, semoga ingat.” Ini bukan sekadar pembukuan, tapi jihad administratif.

Secara ekonomi, keluarga fatherless adalah contoh nyata efisiensi tingkat tinggi. Kalau istilah akademik menyebut cost leadership, di rumah tangga namanya “hemat pol”. Minyak goreng diukur pakai rasa, beras ditakar pakai intuisi, dan lauk disesuaikan dengan saldo e-wallet. Ibu-ibu NU sudah lama mempraktikkan akuntansi biaya tanpa pernah ikut seminar. Mereka tahu kapan harus belanja harian, kapan harus puasa belanja sambil bilang ke anak, “Ini latihan tirakat.”

Dampak sosialnya? Jangan salah. Keluarga fatherless justru sering lebih kuat jejaringnya. Tetangga, keluarga besar, grup pengajian, dan warung kopi menjadi sistem supporting governance. Di sinilah modal sosial bekerja. Kalau ayah tidak ada, ada pak RT. Kalau pak RT sibuk, ada kiai. Kalau kiai tidak sempat, ada grup WhatsApp ibu-ibu yang informasinya lebih cepat dari laporan keuangan triwulanan.

Dalam perspektif NU, gotong royong ini bukan sekadar bantuan, tapi bagian dari sistem ekonomi moral. Bukan CSR, tapi sedekah real time. Akuntansi keluarga tidak lagi bicara laba, tapi keberkahan. Karena dalam keluarga fatherless, yang dicari bukan sekadar surplus anggaran, tapi cukup untuk hidup dengan tenang dan anak tidak minder di sekolah.

Aspek spiritual justru menjadi “modal tak tercatat” yang paling kuat. Banyak ibu dalam keluarga fatherless mengganti peran ayah dengan doa. Kalau ayah biasanya bilang, “Tenang, ada saya,” maka ibu bilang, “Tenang, ada Allah.” Ini bukan retorika, tapi strategi bertahan hidup. Gus Dur pernah berkata, “Tuhan tidak perlu dibela, tapi manusia perlu ditolong.” Dalam konteks ini, iman menjadi buffer psikologis dan spiritual menghadapi tekanan ekonomi.

Namun humor Gus Dur juga mengingatkan kita untuk kritis. Jangan sampai fatherless dianggap wajar lalu negara cuci tangan. Kalau terlalu banyak keluarga fatherless, itu bukan takdir semata, tapi bisa jadi hasil kebijakan ekonomi yang membuat ayah sibuk di luar rumah, jauh secara emosional, atau terpinggirkan secara sosial. Akuntansi keluarga boleh rapi, tapi kalau sistem di luar rumah berantakan, ibu terus yang jadi korban.

Fatherless dalam akuntansi keluarga juga mengajarkan satu hal penting: transparansi. Anak-anak sering lebih tahu kondisi ekonomi rumah. Tidak ada lagi ilusi “ayah pasti bisa”. Yang ada adalah dialog jujur: “Uang kita segini, kebutuhan segini, jadi harus bagi-bagi.” Ini pendidikan ekonomi paling mahal, tapi gratis. Anak belajar sejak dini bahwa uang itu terbatas, tapi akal dan doa tidak.

Akhirnya, keluarga fatherless mengajarkan kita bahwa akuntansi bukan cuma soal angka, tapi soal nilai. Tentang siapa yang menanggung beban, siapa yang mengalah, dan siapa yang tetap tersenyum meski neraca keuangannya defisit. Dalam humor NU, ini disebut nrimo ing pandum tapi tetap usaha. Dalam bahasa Gus Dur: hidup boleh berat, tapi jangan sampai kehilangan tawa.

Karena kalau keluarga fatherless masih bisa tertawa, mencatat keuangan dengan jujur, saling menguatkan secara sosial, dan bertahan secara spiritual, maka sesungguhnya mereka sedang mengajarkan akuntansi paling luhur: akuntansi kemanusiaan.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Hanya Zakat, Ekonom NU Dorong Optimalisasi Wakaf dan Sedekah untuk Pengentasan Kemiskinan

    Tak Hanya Zakat, Ekonom NU Dorong Optimalisasi Wakaf dan Sedekah untuk Pengentasan Kemiskinan

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pernyataan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, terkait potensi dan pengelolaan dana umat kembali memantik diskursus publik mengenai peran keuangan sosial Islam dalam pembangunan nasional. Menanggapi hal tersebut, Ekonom Nahdlatul Ulama, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., menegaskan bahwa pengelolaan dana umat tidak boleh berhenti pada zakat semata. “Zakat adalah fondasi. Namun, ekosistem dana […]

  • Buron Interpol Kasus Suap PTSL Rp1,7 Miliar Ditangkap di Malaysia, Dibawa ke Jakarta

    Buron Interpol Kasus Suap PTSL Rp1,7 Miliar Ditangkap di Malaysia, Dibawa ke Jakarta

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 160
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri melalui Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol Indonesia berhasil menangkap buron internasional bernama Jimmy Lie yang telah masuk dalam daftar red notice sejak 22 September 2025. Jimmy Lie diketahui merupakan tersangka dalam kasus dugaan suap senilai Rp1,7 miliar terkait pengurusan sertifikat tanah melalui program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap […]

  • PWNU Gorontalo Desak PBNU Segera Akhiri Konflik, Dorong Percepatan Muktamar photo_camera 15

    PWNU Gorontalo Desak PBNU Segera Akhiri Konflik, Dorong Percepatan Muktamar

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo bersama seluruh PCNU se-Provinsi Gorontalo menekankan perlunya penyelesaian cepat atas dinamika internal yang tengah terjadi di PBNU. Pernyataan ini disampaikan melalui Surat Pernyataan Nomor 373/PW.01/A.II.07.99/27/12/2025 yang dirilis pada 2 Desember 2025. Ketua PWNU Gorontalo, Drs. H. Ibrahim T. Sore, menegaskan bahwa konflik internal PBNU tidak boleh berlarut-larut […]

  • Ukasyah bin Mihshan: Sahabat Yang Menuntut Balas Kepada Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #15)

    Ukasyah bin Mihshan: Sahabat Yang Menuntut Balas Kepada Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #15)

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Ukasyah bin Mihshan adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad  yang dikenal karena keberanian, kesetiaan, dan kedekatannya dengan Rasulullah dalam berbagai peperangan serta kehidupan sehari-hari. Ia berasal dari suku Bani Asad. Biografi lengkapnya tidak banyak tercatat, tetapi riwayat sejarah menunjukkan bahwa Ukasyah ikut serta dalam berbagai ekspedisi militer penting, termasuk Perang Badr, Uhud, dan Khandaq. Ia dikenal […]

  • Penyaluran BLT Dana Desa Triwulan IV, 39 Warga Majannang menerima photo_camera 2

    Penyaluran BLT Dana Desa Triwulan IV, 39 Warga Majannang menerima

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 100
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Pemerintah Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) Triwulan IV Tahun Anggaran 2025 di Kantor Desa Majannang, kamis (18/12/2025). Penyaluran ini mencakup periode Oktober, November, dan Desember. Sebanyak 39 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menerima bantuan tunai dengan total Rp900 ribu per orang, masing-masing Rp300 ribu per bulan […]

  • Pesantren Kilat Ramadhan The Nusa Institute Tekankan Iman, Akhlak, dan Kesadaran Ekologis Generasi Muda

    Pesantren Kilat Ramadhan The Nusa Institute Tekankan Iman, Akhlak, dan Kesadaran Ekologis Generasi Muda

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 185
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Lembaga riset dan pengembangan keislaman The Nusa Institute menyelenggarakan kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan 1447 H pada 6–8 Maret 2026 di Aula PKUMI kawasan Masjid Istiqlal. Kegiatan ini mengusung tema “Iman Naik, Akhlak Baik, Lingkungan Asri”, sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan spiritual, akhlak, serta kesadaran ekologis bagi generasi muda Muslim. Pesantren kilat ini […]

expand_less