Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Fatherless: Ayah Hilang di Neraca

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
  • visibility 397
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak keluarga Indonesia, ayah itu ibarat “aset tetap”. Kalau ada, sering tidak disadari nilainya. Kalau tidak ada, barulah neraca keuangan keluarga terasa jomplang. Fenomena fatherless, baik ayah pergi secara fisik, emosional, maupun spiritual, bukan cuma soal anak kehilangan figur panutan, tetapi juga soal neraca keluarga yang tiba-tiba timpang sebelah. Dalam bahasa akuntansi NU: ini bukan sekadar missing person, tapi missing control.

Gus Dur pernah berkelakar, “Kalau hidup ini terlalu serius”, nanti kita dikira laporan audit. Maka mari kita bahas fatherless dengan serius tapi sambil senyum, agar tidak stres seperti ibu rumah tangga yang akhir bulan dompetnya tinggal kartu ATM dan doa.

Dalam banyak keluarga, ayah adalah “kepala anggaran”. Entah ia paham akuntansi atau tidak, yang penting ia tahu satu rumus sakti: gaji masuk, istri pusing, anak sekolah. Ketika ayah tidak hadir, maka ibu naik jabatan otomatis: dari bendahara, manajer keuangan, direktur operasional, sampai auditor internal. Lengkap. Tanpa SK, tanpa tunjangan, tanpa rapat evaluasi tahunan, karena evaluasinya harian, tiap kali anak minta uang jajan.

Akuntansi keluarga dalam kondisi fatherless berubah drastis. Kalau dulu pencatatan keuangan cukup diingat di kepala ayah (“tenang, ada ayah”), kini semua harus ditulis. Ibu mulai akrab dengan buku kecil: sebelah kanan pemasukan, sebelah kiri pengeluaran, dan di bawahnya catatan kaki: “utang tetangga belum dibayar, semoga ingat.” Ini bukan sekadar pembukuan, tapi jihad administratif.

Secara ekonomi, keluarga fatherless adalah contoh nyata efisiensi tingkat tinggi. Kalau istilah akademik menyebut cost leadership, di rumah tangga namanya “hemat pol”. Minyak goreng diukur pakai rasa, beras ditakar pakai intuisi, dan lauk disesuaikan dengan saldo e-wallet. Ibu-ibu NU sudah lama mempraktikkan akuntansi biaya tanpa pernah ikut seminar. Mereka tahu kapan harus belanja harian, kapan harus puasa belanja sambil bilang ke anak, “Ini latihan tirakat.”

Dampak sosialnya? Jangan salah. Keluarga fatherless justru sering lebih kuat jejaringnya. Tetangga, keluarga besar, grup pengajian, dan warung kopi menjadi sistem supporting governance. Di sinilah modal sosial bekerja. Kalau ayah tidak ada, ada pak RT. Kalau pak RT sibuk, ada kiai. Kalau kiai tidak sempat, ada grup WhatsApp ibu-ibu yang informasinya lebih cepat dari laporan keuangan triwulanan.

Dalam perspektif NU, gotong royong ini bukan sekadar bantuan, tapi bagian dari sistem ekonomi moral. Bukan CSR, tapi sedekah real time. Akuntansi keluarga tidak lagi bicara laba, tapi keberkahan. Karena dalam keluarga fatherless, yang dicari bukan sekadar surplus anggaran, tapi cukup untuk hidup dengan tenang dan anak tidak minder di sekolah.

Aspek spiritual justru menjadi “modal tak tercatat” yang paling kuat. Banyak ibu dalam keluarga fatherless mengganti peran ayah dengan doa. Kalau ayah biasanya bilang, “Tenang, ada saya,” maka ibu bilang, “Tenang, ada Allah.” Ini bukan retorika, tapi strategi bertahan hidup. Gus Dur pernah berkata, “Tuhan tidak perlu dibela, tapi manusia perlu ditolong.” Dalam konteks ini, iman menjadi buffer psikologis dan spiritual menghadapi tekanan ekonomi.

Namun humor Gus Dur juga mengingatkan kita untuk kritis. Jangan sampai fatherless dianggap wajar lalu negara cuci tangan. Kalau terlalu banyak keluarga fatherless, itu bukan takdir semata, tapi bisa jadi hasil kebijakan ekonomi yang membuat ayah sibuk di luar rumah, jauh secara emosional, atau terpinggirkan secara sosial. Akuntansi keluarga boleh rapi, tapi kalau sistem di luar rumah berantakan, ibu terus yang jadi korban.

Fatherless dalam akuntansi keluarga juga mengajarkan satu hal penting: transparansi. Anak-anak sering lebih tahu kondisi ekonomi rumah. Tidak ada lagi ilusi “ayah pasti bisa”. Yang ada adalah dialog jujur: “Uang kita segini, kebutuhan segini, jadi harus bagi-bagi.” Ini pendidikan ekonomi paling mahal, tapi gratis. Anak belajar sejak dini bahwa uang itu terbatas, tapi akal dan doa tidak.

Akhirnya, keluarga fatherless mengajarkan kita bahwa akuntansi bukan cuma soal angka, tapi soal nilai. Tentang siapa yang menanggung beban, siapa yang mengalah, dan siapa yang tetap tersenyum meski neraca keuangannya defisit. Dalam humor NU, ini disebut nrimo ing pandum tapi tetap usaha. Dalam bahasa Gus Dur: hidup boleh berat, tapi jangan sampai kehilangan tawa.

Karena kalau keluarga fatherless masih bisa tertawa, mencatat keuangan dengan jujur, saling menguatkan secara sosial, dan bertahan secara spiritual, maka sesungguhnya mereka sedang mengajarkan akuntansi paling luhur: akuntansi kemanusiaan.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Annanguru Syahid; Orang Pambusuang Harus Berterima Kasih ke Gus Dur

    Annanguru Syahid; Orang Pambusuang Harus Berterima Kasih ke Gus Dur

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 437
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Polewali Mandar— Malam itu, langit Pambusuang tampak pekat. Rinai hujan turun perlahan, seolah menyapa tanah yang basah dengan kelembutan. Usai salat Magrib, meski langit masih gelap, hujan mulai reda. Di depan Masjid At-Taqwa, panggung berukuran 4 x 4 meter ditata dengan cermat. Pengeras suara yang sejak sore terbungkus terpal dibuka, sementara beberapa ruas jalan […]

  • Kasus Amsal Sitepu Disorot DPR, Sanksi Pidana Mengintai Oknum Jaksa

    Kasus Amsal Sitepu Disorot DPR, Sanksi Pidana Mengintai Oknum Jaksa

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 304
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kasus yang menjerat Amsal Christy Sitepu menjadi sorotan serius Komisi III DPR RI. Dalam rapat bersama jajaran kejaksaan, DPR menegaskan bahwa setiap dugaan penyimpangan oleh aparat penegak hukum tidak boleh dibiarkan dan harus berujung pada sanksi tegas, termasuk pidana. Anggota Komisi III DPR RI, Safaruddin, menegaskan bahwa aturan mengenai sanksi terhadap penuntut umum […]

  • Wagub Gorontalo Temukan Tingginya Sisa Makanan Saat Sidak Dapur MBG di Bone Bolango

    Wagub Gorontalo Temukan Tingginya Sisa Makanan Saat Sidak Dapur MBG di Bone Bolango

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Valdi Pontoh
    • visibility 194
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, menemukan tingginya jumlah makanan terbuang serta sejumlah catatan terkait standar pengelolaan dapur saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bone Bolango, Kamis (11/6/2026). Sidak yang dimulai sejak pukul 05.00 Wita tersebut menyasar SPPG Ulanta di Kecamatan Suwawa, SPPG Tilong […]

  • Pengelolaan APBD Gorontalo Prioritaskan Agro-maritim

    Pengelolaan APBD Gorontalo Prioritaskan Agro-maritim

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memastikan pelaksanaan APBD 2025 saat ini akan bergerak dinamis. Selain disusun sebelum pelantikan dirinya bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, kondisi fiskal mengalami efisiensi yang membutuhkan penyesuaian di berbagai jenis belanja. “Pengelolaan anggaran tahun ini akan berlangsung dinamis dan penuh penyesuaian. Namun kita tetap optimis untuk mencapai target-target pembangunan secara […]

  • Polemik P-BMR Kian Memanas, Ersad Mamonto Soroti Epistemik dan Kuasa, KNPI Boltara Ancam Gabung Gorontalo

    Polemik P-BMR Kian Memanas, Ersad Mamonto Soroti Epistemik dan Kuasa, KNPI Boltara Ancam Gabung Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 391
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Isu pembentukan Provinsi Bolaang Mongondow Raya (P-BMR) kembali memantik perdebatan tajam di Sulawesi Utara. Setelah Muhamad Ersad Mamonto menyampaikan kritik konseptual terhadap fondasi historis dan relasi kuasa dalam wacana P-BMR, penolakan keras juga datang dari Ketua KNPI Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Donal Palandi. Dalam responsnya terhadap tulisan Tyo Mokoagow berjudul: “Dekonstruksi PBMR”, Ersad […]

  • Respon Cepat Gempa Sulut, Rumah Zakat Kirim Relawan ke Wilayah Terdampak

    Respon Cepat Gempa Sulut, Rumah Zakat Kirim Relawan ke Wilayah Terdampak

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 318
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Merespons gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara, Rumah Zakat bergerak cepat dengan menerjunkan tim relawan ke lokasi terdampak, Jumat (3/4/2026). Tim respon kemanusiaan dipimpin oleh Koordinator Relawan Rumah Zakat Gorontalo, Sandy Syafrudin Nina, yang telah berangkat sejak pukul 07.00 WITA dari Gorontalo. Dengan estimasi perjalanan darat sekitar delapan jam, […]

expand_less