Antara Opini WTP dan Realitas Publik: Menguji Makna Akuntabilitas Negara
- account_circle Nuruma banyal
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 106
- print Cetak

Nuruma Banyl, mahasiswa Akuntansi UNUSIA semester 4 yang memiliki ketertarikan pada isu akuntabilitas publik, audit keuangan negara, dan evaluasi kebijakan fiskal.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Selama hampir satu dekade terakhir, pemerintah Indonesia konsisten meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Capaian ini sering dijadikan simbol keberhasilan pengelolaan keuangan negara. Ketepatan waktu penyampaian laporan pun semakin memperkuat kesan bahwa akuntabilitas fiskal berjalan dengan baik. Namun, di balik capaian tersebut, berbagai kritik terhadap kebijakan anggaran tetap bermunculan—mulai dari efektivitas program sosial, efisiensi belanja, hingga dugaan pemborosan proyek pemerintah. Di sinilah muncul pertanyaan yang tidak bisa diabaikan: apakah keberhasilan administratif benar-benar mencerminkan keberhasilan yang dirasakan masyarakat?
Masalah ini sebenarnya bukan sekadar soal data atau laporan, tetapi soal cara kita memahami akuntabilitas itu sendiri. Menurut Mark Bovens (2007), akuntabilitas adalah hubungan di mana pihak yang diberi amanah wajib menjelaskan dan mempertanggungjawabkan tindakannya kepada pihak yang memberi amanah. Artinya, akuntabilitas tidak berhenti pada penyusunan laporan yang sesuai standar, tetapi juga mencakup penilaian atas hasil dan dampaknya. Dalam konteks ini, opini WTP baru menjawab “apakah laporan sudah benar”, tetapi belum menjawab “apakah kebijakannya berhasil”.
Hal ini sejalan dengan pandangan Christopher Pollitt dan Geert Bouckaert (2011) yang menyatakan bahwa reformasi sektor publik sering terlalu fokus pada kepatuhan prosedur, sementara aspek kinerja justru terabaikan. Akibatnya, keberhasilan sering diukur dari seberapa rapi administrasi, bukan dari seberapa besar dampaknya. Inilah yang membuat laporan terlihat “baik”, tetapi realitas di lapangan belum tentu mencerminkan hal yang sama.
- Penulis: Nuruma banyal

Saat ini belum ada komentar