Dilema BBM: Ketika APBN Menjadi Korban dan Ketidakpastian Global
- account_circle Rif’atu Darojah
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 83
- print Cetak

Rif’atu Darojah, mahasiswi Akuntansi UNUSIA semester 4, yang aktif mengkaji isu-isu ekonomi publik, kebijakan fiskal, dan dinamika energi nasional.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sejatinya adalah instrumen paling vital dalam menggerakkan roda ekonomi nasional. Secara formal, APBN berfungsi sebagai alat otorisasi, perencanaan, dan distribusi untuk memastikan kesejahteraan rakyat. Namun, memasuki tahun 2026, realitas di lapangan jauh dari teks ideal di buku-buku ekonomi. Kita sedang menyaksikan sebuah drama besar di mana APBN tidak lagi sekadar menjadi alat pembangunan, melainkan menjadi bantalan dari benturan yang menanggung beban ego politik dan ketidakstabilan global.
Masalah ini bermula dari asumsi makro yang terlalu optimistis. Dalam menyusun draf anggaran, pemerintah menetapkan Indonesia Crude Price (ICP) atau asumsi harga minyak mentah pada angka yang nyaman, yakni sekitar USD 80-an per barel. Angka ini adalah fondasi jika harga minyak dunia stabil di titik tersebut, APBN kita akan sehat-sehat saja.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Seusai menghadap Presiden di Istana Negara, Bahlil menyampaikan bahwa stabilitas harga BBM subsidi masih sejalan dengan kondisi pasokan energi nasional yang terjaga.
“Saya sampaikan kepada publik, bahwa insyaallah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, baik itu bensin, maupun LPG. Insyaallah aman, dan sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden, bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun.” tegas Bahlil di Istana Negara, Kamis (16/4). Kemudian, dalam wawancara yang sama beliau menambahkan, “Doain, ini kan tergantung dengan harga ICP, tapi kalau sampai dengan 100 dolar itu sudah garis merah BBM. Dan sekarang harga rata-rata ICP Januari sampai dengan sekarang itu tidak lebih dari USD77. Jadi kita itu baru split USD7”.
- Penulis: Rif’atu Darojah

Saat ini belum ada komentar