Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Dilema BBM: Ketika APBN Menjadi Korban dan Ketidakpastian Global

  • account_circle Rif’atu Darojah
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 398
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kritik tajam harus dikeluarkan pada ketidakmampuan pemerintah dalam melakukan transformasi energi yang nyata. Kita selalu bicara soal kemandirian energi dan transisi ke energi hijau di setiap pidato kenegaraan, namun saat harga minyak dunia naik, kita langsung kelimpungan seperti kebakaran. Ini membuktikan bahwa janji-janji transisi energi itu hanyalah gimmick politik tanpa eksekusi yang serius. Jika sejak sepuluh tahun lalu kita serius membangun infrastruktur transportasi publik berbasis listrik atau memperbaiki sistem logistik nasional, kita tidak akan pernah sesandera ini oleh harga minyak global. Pemerintah terjebak dalam siklus populis mereka takut kehilangan popularitas jika menaikkan harga BBM, sehingga lebih memilih mengorbankan kesehatan APBN. Mereka slalu menggap APBN boleh digunakan dalam segala kondisi.

Bagi saya, sangat ironis ketika kita melihat defisit anggaran membengkak demi memberi napas pada kendaraan bermotor, sementara di sisi lain, anggaran untuk riset, pendidikan, dan kesehatan harus mengalah karena uangnya sudah habis untuk membayar selisih harga bensin. Ini adalah bentuk kegagalan skala prioritas yang fatal. Kita sedang mensubsidi polusi, kemacetan, dan ketergantungan pada asing, sambil mengabaikan investasi pada manusia. Jika terus begini, APBN 2026 hanya akan dikenang sebagai catatan keuangan di mana negara lebih peduli pada kenyamanan pengguna mobil daripada ketahanan ekonomi jangka panjang.

Sebagai penutup, opini saya tegas yakni, Berhentilah memanjakan masyarakat dengan harga bensin yang tidak masuk akal secara ekonomi. Pemerintah harus berani mengambil langkah pahit meskipun tidak populer dengan mencabut subsidi secara bertahap dan mengalihkannya secara langsung (Bantuan Sosial) kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan kepada semua orang yang punya pelat nomor hitam.

APBN adalah uang rakyat, bukan dompet tanpa dasar yang bisa dikuras terus-menerus untuk menutupi ketidakmampuan kita dalam berinovasi. Jangan sampai di masa depan, anak cucu kita tidak lagi mewarisi jembatan atau universitas yang hebat, melainkan hanya mewarisi tumpukan utang luar negeri yang kita buat hari ini hanya agar kita bisa berkendara sedikit lebih murah. Sudah saatnya kita berhenti bersikap naif dan mulai bersikap realistis bahwa bensin murah adalah candu yang pelan-pelan membunuh masa depan fiskal bangsa ini.

Penulis : Mahasiswi Akuntansi UNUSIA Semester 4

  • Penulis: Rif’atu Darojah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Pasar Ambuwa, Pesan Menjaga Alam dan Masa Depan Gorontalo

    Dari Pasar Ambuwa, Pesan Menjaga Alam dan Masa Depan Gorontalo

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 433
    • 0Komentar

    Acara yang terbuka untuk umum itu dihadiri berbagai kalangan, mulai dari aktivis lingkungan, akademisi, komunitas seni, hingga masyarakat umum. Dalam sesi diskusi, peserta diberi kesempatan menyampaikan pandangan dan pertanyaan. Salah satu peserta, Abdul Kadir Lawero, mempertanyakan sejauh mana organisasi masyarakat sipil yang fokus pada isu lingkungan dapat membangun kolaborasi lebih luas dengan tokoh agama dan […]

  • Ummu Athiyah, Sang Juru Rawat di Medan Perang (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #8)

    Ummu Athiyah, Sang Juru Rawat di Medan Perang (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #8)

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 482
    • 0Komentar

    Beberapa riwayat yang dia sampaikan berkaitan dengan tata cara memandikan jenazah perempuan, ketentuan masa berkabung (ihdad), dan kehadiran perempuan dalam shalat Id. Salah satu riwayat penting menyebutkan perintah Nabi  agar perempuan menghadiri shalat Id, termasuk mereka yang sedang menstruasi. Mereka tidak melaksanakan shalat secara fisik, tetapi tetap hadir untuk menyaksikan dan mendengarkan khutbah. Riwayat semacam ini […]

  • Khutbah Jumat : Pasca-Ramadhan, Antara Kesalehan Musiman dan Kesadaran Spiritual

    Khutbah Jumat : Pasca-Ramadhan, Antara Kesalehan Musiman dan Kesadaran Spiritual

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Ramadhan seringkali kita rayakan sebagai puncak kesalehan. Masjid penuh, doa mengalir, dan air mata menjadi mudah menetes. Namun, pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri kita adalah: apakah semua itu bertahan? Ataukah ia sekedar kesalehan musiman? Tulisan khutbah ini tidak hendak meromantisasi Ramadhan, tetapi justru menggugat secara halus: jangan-jangan yang kita alami hanyalah kesalehan yang […]

  • Akuntansi Program Bantuan Sosial: Efektivitas Penyaluran dan Tantangan Pengawasan

    Akuntansi Program Bantuan Sosial: Efektivitas Penyaluran dan Tantangan Pengawasan

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Muhamad Pauzan
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Selain itu, tantangan pengawasan juga berkaitan dengan aspek regulasi dan koordinasi. Meskipun telah ada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), implementasinya belum seragam di seluruh wilayah. Perbedaan interpretasi kebijakan menyebabkan variasi dalam praktik akuntansi. Di sisi lain, keterlibatan banyak pihak—pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat—memerlukan koordinasi yang kuat. Tanpa sinergi yang baik, potensi tumpang tindih program dan […]

  • Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

    Komitmen Negara untuk Buruh; Refleksi Atas Pernyataan Mensestneg

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Nurmawan Pakaya
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Setiap 1 Mei, jalan-jalan ibu kota terasa berbeda. Bukan karena kemacetan, tapi karena gema suara buruh yang menggema dari segala penjuru. Mereka datang bukan hanya membawa spanduk dan bendera serikat pekerja sebagai simbol solidaritas, tapi juga harapan yang terus menyala meski kadang redup oleh kenyataan. Hari Buruh Internasional selalu menjadi cermin tentang siapa kita sebagai […]

  • Investasi Bodong Rugikan Masyarakat, DPR Minta RUU Perampasan Aset Berpihak pada Korban

    Investasi Bodong Rugikan Masyarakat, DPR Minta RUU Perampasan Aset Berpihak pada Korban

    • calendar_month Minggu, 1 Nov 2026
    • account_circle Abdul Fajar
    • visibility 83
    • 0Komentar

    JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menegaskan bahwa pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset harus memberikan perhatian serius terhadap pemulihan kerugian masyarakat yang menjadi korban kejahatan ekonomi. Menurut Sari, regulasi tersebut tidak boleh hanya berorientasi pada upaya merampas aset hasil tindak pidana, tetapi juga harus memastikan bahwa kekayaan yang diperoleh pelaku kejahatan dapat […]

expand_less