Abu Lubabah, Kisah Pengkhianatan dan Pertobatan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #10)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
- visibility 234
- print Cetak

ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Abu Lubabah bin Abd al-Mundzhir adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar, berasal dari suku Aws di Madinah. Nama aslinya Basyir bin ‘Abd al-Mundhir. Ia termasuk Muslim awal di Madinah dan terlibat dalam fase-fase penting komunitas setelah hijrah. Dalam Perang Badr, ia ditugaskan menjaga Madinah sehingga tidak hadir di medan tempur, tetapi tetap dihitung sebagai bagian dari partisipasi dan bagian dari strategi.
Namanya paling banyak disebut dalam peristiwa yang terjadi setelah Perang Khandaq pada tahun 5 H/627 M. Setelah pasukan dari kaum kafir yang mengepung Madinah mundur, perhatian diarahkan kepada Bani Qurayzah, yang dituduh melanggar perjanjian dengan Nabi Muhammad pada masa krisis tersebut. Kaum Muslimin kemudian mengepung benteng mereka. Situasi ini sensitif secara militer dan politik, karena Madinah baru saja menghadapi ancaman dari luar dan stabilitas internal menjadi faktor krusial.
Dalam kondisi terdesak, Bani Qurayzah meminta agar Abu Lubabah diutus menemui mereka. Permintaan itu berkaitan dengan hubungan lama antara suku Aws—suku Abu Lubabah—dan Bani Qurayzah sebelum Islam. Ketika memasuki benteng, ia ditanya apakah mereka sebaiknya menerima keputusan Nabi. Ia menjawab agar mereka tunduk kepada keputusan tersebut. Namun, menurut riwayat Ibn Ishaq dan al-Tabari, pada saat yang sama ia memberi isyarat dengan cara menggerakkan tangan ke arah lehernya. Ia sedang menunjukkan kepada Bani Qurayzah kalau mereka akan dihukum berat.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar