Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Penulis yang Hidup dan Mati di Era AI

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • visibility 286
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dunia penulisan sedang mengalami turbulensi seiring dengan munculnya Artificial Intelligence (AI). Penulis-penulis baru berbasis AI bermunculan. Para penulis konvensional mulai merasakan ruang yang dulu mereka kuasai tak lagi eksklusif. Dunia yang sebelumnya otentik dan terbentuk melalui proses panjang kini  ditantang dengan hadirnya tulisan-tulisan yang lahir dari mesin. Lebih cepat secara proses, lebih rapi secara struktur, dan lebih massif secara gerakan.

Ini berarti bahwa revolusi sedang terjadi. Seperti revolusi-revolusi sebelumnya, selalu ada yang tersingkir. Dalam setiap perubahan besar, ada yang mati, tetapi ada pula yang menemukan cara baru untuk hidup. Sejarah biasanya selalu berpihak pada mereka yang mampu menyesuaikan diri. Dari tulisan tangan ke mesin ketik, dari mesin ketik ke komputer, dan kini ke AI—perubahan adalah keniscayaan. Pilihan paling rasional bukan menolak, melainkan menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas.

Penulis konvensional yang bersikeras mempertahankan cara kerja lama tanpa adaptasi, pelan-pelan akan tertinggal dan bisa jadi, mati. Mereka mungkin mampu menjaga orisinalitas, tetapi kecepatan produksi yang timpang membuat mereka dikalahkan oleh penulis yang memanfaatkan mesin.

Namun di sisi lain, penulis baru yang lahir di era AI juga menghadapi tantangan tersendiri. Jika mereka tidak memiliki kerangka ide yang jelas, mereka akan tampak seperti orang yang mengetahui segalanya, padahal sesungguhnya tidak memahami apa-apa. Pengetahuan yang mereka produksi bersifat eksplisit, tetapi tidak memiliki kedalaman tacit. Tulisan mereka terlihat cerdas, sistematis, bahkan mengesankan. Namun ketika dibaca lebih dalam, ia terasa seperti produk—bukan pergulatan. Mereka hakikatnya bukan penulis, melainkan operator atau mungkin kurir teks. Mereka  mungkin hidup secara teknis, tetapi pada dasarnya mati secara intelektual.

Sebagai penulis yang tumbuh dalam dunia konvensional dan kini memasuki dunia AI, saya merasakan dua kenikmatan yang berbeda. Di dunia lama, saya menikmati proses panjang memelihara ide. Menyelesaikan satu novel dalam hitungan tahun menghadirkan kepuasan yang tidak tergantikan. Sementara di dunia AI, saya menemukan kenikmatan lain: kecepatan dan presisi. Sebuah gagasan dapat segera diuji, dirapikan, dan dipertajam dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Pertanyaannya kemudian: mungkinkah dua kenikmatan itu dipertemukan? Bagi saya, jawabannya sangat mungkin. Justru di sanalah tantangan sekaligus peluangnya. Untuk itu saya mengusulkan sebuah pendekatan yang saya sebut iterative curation—sebuah cara kerja yang menjaga kedaulatan ide di tangan penulis, sambil tetap adaptif terhadap ritme produksi di era AI.

Dalam pendekatan ini, ide tidak boleh lahir dari mesin. Ia lahir dari kegelisahan penulis sendiri, dari posisi ideologis yang jelas. Penulis tidak harus mengetahui segalanya, tetapi ia harus tahu di mana ia berdiri. Penulis tidak boleh hanya datang dengan prompting, tetapi gagasan.  Penulis yang memiliki posisi ideologis biasanya terlihat dalam gagasan-gagasan yang ia tawarkan.

Setelah ide matang, penulis menyusun alur: paragraf demi paragraf, arah argumentasi, teori yang hendak dipakai. Ia menentukan medan sebelum mesin masuk membantu. Pada tahap ini, AI hanya berfungsi sebagai asisten teknis—membantu menyusun kerangka, merapikan struktur, atau menawarkan variasi formulasi.

Langkah selanjutnya dan paling penting dalam metode ini adalah kurasi. Penulis membaca kembali teks yang sudah disusun AI dengan sikap kritis. Ia memangkas bagian yang berlebihan. Ia memastikan teori yang digunakan relevan, bukan sekadar cocokologi.  Membongkar kalimat yang terlalu steril dan terlalu rapi. Menjaga agar teks tetap memiliki jiwa, bukan sekadar nikmat dibaca. Juga, memastikan teks itu sesuai dengan “karakter” yang telah penulis miliki selama ini. Seringkali AI berhasil memproduksi kombinasi diksi canggih yang melampui kemampuan kita, tetapi kita harus rendah hati mengatakan, itu bukan saya. 

Setelah proses kurasi selesai, penulis dapat melakukan penyuntingan langsung secara mandiri atau “merendam” kembali naskah tersebut ke dalam AI sebagai tahap penyuntingan akhir. Jika masih menggunakan AI pada tahap ini, perintah harus sangat jelas dan terbatas: AI hanya diberi mandat untuk merapikan tata bahasa, memperbaiki struktur kalimat yang janggal, serta menyempurnakan aspek teknis kebahasaan. Ia tidak boleh menambah gagasan, tidak boleh mengganti posisi argumentasi, dan tidak boleh menyisipkan ide baru. Fungsi AI pada fase ini sebagai editor teknis. Dengan pembatasan ini, kedaulatan makna tetap berada di tangan penulis, sementara presisi bahasa dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan identitas dan otoritas intelektualnya.

Dengan demikian, cara kerja Iterative Curation melampaui sekadar prompting. Ia adalah metode yang memastikan manusia tetap menjadi pusat makna dalam setiap proses penulisan. Kedaulatan gagasan tetap berada di tangan penulis, sementara AI berperan sebagai alat bantu yang membuat teks lebih halus, rapi, dan mudah dibaca. Fungsi AI di sini menyempurnakan ekspresi bukan menciptakan ide.

Artinya di era AI saat ini, persoalannya bukan lagi apakah mesin bisa menggantikan para penulis. Persoalannya adalah: apakah penulis masih mau bersusah untuk hadir utuh dan sadar penuh dalam tulisannya? Atau menyerahkan seluruhnya kepada mesin.

Penulis : Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ombudsman Periksa Dugaan Pungli di MTsN 3 Gorontalo, Dana Infaq Mulai Dikembalikan

    Ombudsman Periksa Dugaan Pungli di MTsN 3 Gorontalo, Dana Infaq Mulai Dikembalikan

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Gorontalo melakukan pemeriksaan terhadap dugaan praktik pungutan liar (pungli) di MTs Negeri 3 Kabupaten Gorontalo, Kamis (31/07). Pemeriksaan ini dipimpin langsung oleh Kepala Keasistenan Pemeriksaan Laporan Masyarakat, Wahiyudin Mamonto, dan menghadirkan sejumlah pihak terkait dalam upaya klarifikasi dan penelusuran kasus. Dalam pemeriksaan itu dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar Seminar Akhir Kajian Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring

    Bappeda Gorontalo Gelar Seminar Akhir Kajian Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar Seminar Akhir Kajian Potensi dan Dampak Sistem Usaha Tani Konservasi Jagung di Lahan Miring. Kegiatan yang merupakan hasil kolaborasi antara Bappeda Provinsi Gorontalo, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dan Universitas Ichsan Gorontalo ini berlangsung di Living Lab Fakultas Pertanian UNG pada Kamis (20/11/2025). kegiatan ini  dibuka oleh Kepala […]

  • Kiai Ahmad Masduki Ajak Nahdliyin Teladani Rasulullah dan Hormati Hasil Muktamar NU ke-35

    Kiai Ahmad Masduki Ajak Nahdliyin Teladani Rasulullah dan Hormati Hasil Muktamar NU ke-35

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 74
    • 0Komentar

    KABUPATEN GORONTALO, NULONDALO.COM – Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Gorontalo, KH Ahmad Masduki Al-Jabalani, mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dalam seluruh aspek kehidupan serta menghormati hasil keputusan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Ajakan tersebut disampaikan Kiai Ahmad Masduki saat memberikan sambutan dalam kegiatan Ta’dim Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan […]

  • DPRD Gorontalo Setujui Ranperda Kepemudaan Jadi Perda

    DPRD Gorontalo Setujui Ranperda Kepemudaan Jadi Perda

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 265
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyelenggaraan Kepemudaan untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (Perda). Persetujuan tersebut diambil dalam Rapat Paripurna DPRD ke-67 yang digelar, Senin (29/12/2025). Rapat paripurna tersebut dihadiri Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, serta jajaran pemerintah daerah dan anggota […]

  • Terbongkar! Empat Anggota TNI Diduga Dalang Penyiraman Air Keras Aktivis

    Terbongkar! Empat Anggota TNI Diduga Dalang Penyiraman Air Keras Aktivis

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 334
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Andrie Yunus, memasuki babak baru. Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengungkap keterlibatan empat anggota TNI yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka. Komandan Puspom TNI, Mayjen TNI Yusri Nuryanto, menyatakan bahwa pengungkapan kasus ini bermula dari penyelidikan internal yang […]

  • Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

    Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 301
    • 0Komentar

    Pengangguran agaknya dijadikan media Reproduksi Ketimpangan, alih alih fokus pada Transformasi yang menyentuh Struktur. Belakangan ini, pembicaraan soal pengangguran kembali ramai. Ada yang menyebut anak muda sekarang terlalu pemilih, terlalu banyak gengsi, atau tidak tahan proses. Di sisi lain, generasi muda merasa hidup mereka memang sedang tidak baik-baik saja: biaya hidup naik, lapangan kerja makin […]

expand_less