Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Penulis yang Hidup dan Mati di Era AI

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • visibility 314
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dunia penulisan sedang mengalami turbulensi seiring dengan munculnya Artificial Intelligence (AI). Penulis-penulis baru berbasis AI bermunculan. Para penulis konvensional mulai merasakan ruang yang dulu mereka kuasai tak lagi eksklusif. Dunia yang sebelumnya otentik dan terbentuk melalui proses panjang kini  ditantang dengan hadirnya tulisan-tulisan yang lahir dari mesin. Lebih cepat secara proses, lebih rapi secara struktur, dan lebih massif secara gerakan.

Ini berarti bahwa revolusi sedang terjadi. Seperti revolusi-revolusi sebelumnya, selalu ada yang tersingkir. Dalam setiap perubahan besar, ada yang mati, tetapi ada pula yang menemukan cara baru untuk hidup. Sejarah biasanya selalu berpihak pada mereka yang mampu menyesuaikan diri. Dari tulisan tangan ke mesin ketik, dari mesin ketik ke komputer, dan kini ke AI—perubahan adalah keniscayaan. Pilihan paling rasional bukan menolak, melainkan menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas.

Penulis konvensional yang bersikeras mempertahankan cara kerja lama tanpa adaptasi, pelan-pelan akan tertinggal dan bisa jadi, mati. Mereka mungkin mampu menjaga orisinalitas, tetapi kecepatan produksi yang timpang membuat mereka dikalahkan oleh penulis yang memanfaatkan mesin.

Namun di sisi lain, penulis baru yang lahir di era AI juga menghadapi tantangan tersendiri. Jika mereka tidak memiliki kerangka ide yang jelas, mereka akan tampak seperti orang yang mengetahui segalanya, padahal sesungguhnya tidak memahami apa-apa. Pengetahuan yang mereka produksi bersifat eksplisit, tetapi tidak memiliki kedalaman tacit. Tulisan mereka terlihat cerdas, sistematis, bahkan mengesankan. Namun ketika dibaca lebih dalam, ia terasa seperti produk—bukan pergulatan. Mereka hakikatnya bukan penulis, melainkan operator atau mungkin kurir teks. Mereka  mungkin hidup secara teknis, tetapi pada dasarnya mati secara intelektual.

Sebagai penulis yang tumbuh dalam dunia konvensional dan kini memasuki dunia AI, saya merasakan dua kenikmatan yang berbeda. Di dunia lama, saya menikmati proses panjang memelihara ide. Menyelesaikan satu novel dalam hitungan tahun menghadirkan kepuasan yang tidak tergantikan. Sementara di dunia AI, saya menemukan kenikmatan lain: kecepatan dan presisi. Sebuah gagasan dapat segera diuji, dirapikan, dan dipertajam dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Pertanyaannya kemudian: mungkinkah dua kenikmatan itu dipertemukan? Bagi saya, jawabannya sangat mungkin. Justru di sanalah tantangan sekaligus peluangnya. Untuk itu saya mengusulkan sebuah pendekatan yang saya sebut iterative curation—sebuah cara kerja yang menjaga kedaulatan ide di tangan penulis, sambil tetap adaptif terhadap ritme produksi di era AI.

Dalam pendekatan ini, ide tidak boleh lahir dari mesin. Ia lahir dari kegelisahan penulis sendiri, dari posisi ideologis yang jelas. Penulis tidak harus mengetahui segalanya, tetapi ia harus tahu di mana ia berdiri. Penulis tidak boleh hanya datang dengan prompting, tetapi gagasan.  Penulis yang memiliki posisi ideologis biasanya terlihat dalam gagasan-gagasan yang ia tawarkan.

Setelah ide matang, penulis menyusun alur: paragraf demi paragraf, arah argumentasi, teori yang hendak dipakai. Ia menentukan medan sebelum mesin masuk membantu. Pada tahap ini, AI hanya berfungsi sebagai asisten teknis—membantu menyusun kerangka, merapikan struktur, atau menawarkan variasi formulasi.

Langkah selanjutnya dan paling penting dalam metode ini adalah kurasi. Penulis membaca kembali teks yang sudah disusun AI dengan sikap kritis. Ia memangkas bagian yang berlebihan. Ia memastikan teori yang digunakan relevan, bukan sekadar cocokologi.  Membongkar kalimat yang terlalu steril dan terlalu rapi. Menjaga agar teks tetap memiliki jiwa, bukan sekadar nikmat dibaca. Juga, memastikan teks itu sesuai dengan “karakter” yang telah penulis miliki selama ini. Seringkali AI berhasil memproduksi kombinasi diksi canggih yang melampui kemampuan kita, tetapi kita harus rendah hati mengatakan, itu bukan saya. 

Setelah proses kurasi selesai, penulis dapat melakukan penyuntingan langsung secara mandiri atau “merendam” kembali naskah tersebut ke dalam AI sebagai tahap penyuntingan akhir. Jika masih menggunakan AI pada tahap ini, perintah harus sangat jelas dan terbatas: AI hanya diberi mandat untuk merapikan tata bahasa, memperbaiki struktur kalimat yang janggal, serta menyempurnakan aspek teknis kebahasaan. Ia tidak boleh menambah gagasan, tidak boleh mengganti posisi argumentasi, dan tidak boleh menyisipkan ide baru. Fungsi AI pada fase ini sebagai editor teknis. Dengan pembatasan ini, kedaulatan makna tetap berada di tangan penulis, sementara presisi bahasa dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan identitas dan otoritas intelektualnya.

Dengan demikian, cara kerja Iterative Curation melampaui sekadar prompting. Ia adalah metode yang memastikan manusia tetap menjadi pusat makna dalam setiap proses penulisan. Kedaulatan gagasan tetap berada di tangan penulis, sementara AI berperan sebagai alat bantu yang membuat teks lebih halus, rapi, dan mudah dibaca. Fungsi AI di sini menyempurnakan ekspresi bukan menciptakan ide.

Artinya di era AI saat ini, persoalannya bukan lagi apakah mesin bisa menggantikan para penulis. Persoalannya adalah: apakah penulis masih mau bersusah untuk hadir utuh dan sadar penuh dalam tulisannya? Atau menyerahkan seluruhnya kepada mesin.

Penulis : Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akhirnya Anjing Masuk Surga

    Akhirnya Anjing Masuk Surga

    • calendar_month Sabtu, 26 Feb 2022
    • account_circle Dr. Hi. Mansur Basie
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Kalau ada hewan atau binatang yang berterima kasih (numpang viral) karena hiruk pikuk social media dua hari terakhir ini, maka binatang itu adalah anjing. Betapa tidak, tanpa diminta “persetujuannya”, ia disebut dan diviralkan oleh mungkin dari lebih separuh penduduk negeri +62. Berdasarkan laporan We Are Social dari situs dataIndonesia.com, jumlah pengguna aktif media sosial di […]

  • Tokoh Moral Itu Telah Pergi

    Tokoh Moral Itu Telah Pergi

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 299
    • 0Komentar

    Pagi 31 Januari 2026, saat saya sedang mengikuti sertifikasi dai yang diselenggarakan PB DDI di Hotel UIN Alauddin Makassar, kabar duka itu datang tiba-tiba: Bapak Salim S. Mengga mengembuskan napas terakhir setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit di Makassar. Informasi itu saya baca lewat grup WhatsApp. Kaget, saya terdiam sejenak, menundukkan kepala, lalu membacakan […]

  • Belanja Non-Prioritas dalam APBN: Siapa yang Menentukan Skala Kepentingan?

    Belanja Non-Prioritas dalam APBN: Siapa yang Menentukan Skala Kepentingan?

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rahma Diva Febryana
    • visibility 330
    • 0Komentar

    Pada 22 Januari 2025, Presiden Prabowo Subianto menetapkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi belanja APBN dan APBD. Kebijakan ini menargetkan penghematan sebesar Rp306,69 triliun, dengan fokus pada pemangkasan belanja yang dianggap “non-prioritas” seperti perjalanan dinas, seminar, alat tulis kantor, hingga kegiatan seremonial. Secara normatif, langkah ini patut diapresiasi karena berupaya mengurangi pemborosan […]

  • Kolonialisme Digital

    Kolonialisme Digital

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Sonny Madjid
    • visibility 467
    • 0Komentar

    Setelah perang nilai tukar mata uang, bio farma-bio teknologi, narasi sistem global kini sudah masuk pada perang berbasis teknologi (cybernwar, big data, AI, dll). Pertanyaan besarnya adalah siapa yang menguasai teknologi, maka dia mengendalikan, apa kepentingannya, siapa yang diuntungkan? Kita semua tahu, penguasaan algoritma yang menyangkut infrastruktur data global, platform digital dikuasai segelintir korporasi dan […]

  • Polda NTB Catat Penurunan Kriminalitas Signifikan Sepanjang 2025, Wakapolda Apresiasi Dukungan Masyarakat

    Polda NTB Catat Penurunan Kriminalitas Signifikan Sepanjang 2025, Wakapolda Apresiasi Dukungan Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 202
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mataram — Wakil Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Wakapolda NTB), Brigjen Pol. Hari Nugroho, memimpin Jumpa Pers Akhir Tahun 2025 Polda NTB pada Senin (29/12/2025) pukul 08.00 WITA di Gedung Sasana Dharma Polda NTB. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk komitmen Polda NTB untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat terkait capaian kinerja […]

  • SAKTI Sentil Banyak Mahasiswa di Majannang: Pintar di Luar, Membisu di Kampung Sendiri 

    SAKTI Sentil Banyak Mahasiswa di Majannang: Pintar di Luar, Membisu di Kampung Sendiri 

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Desa Majannang kembali menjadi sorotan setelah salah satu tokoh pemuda desa, Sakti, melontarkan kritik keras terhadap kondisi sebagian pemuda di Dusun Taipa, Desa Majannang, yang dinilai mulai kehilangan kepedulian terhadap masa depan desanya sendiri. Menurut Sakti, banyak pemuda saat ini lebih memilih diam dan acuh terhadap berbagai persoalan sosial di desa. Bahkan, […]

expand_less