Breaking News
light_mode
Trending Tags

Jika Ahmadiyah Mengakui Nabi Muhammad SAW, Maka Saya Ahmadiyah

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
  • visibility 224
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kira-kira pertama kali saya mendengar nama Ahmadiyah, itu sekitar tahun 1994 ketika masih duduk di bangku Madrasah Aliyah Limboto. Salah seorang guru saya menjelaskan tentang teologi pemikiran Islam. Guru  saya lulusan IAIN Alauddin Makassar jurusan aqidah filsafat.

Disela-sela ia menjelaskan  tentang pemikiran Islam, ia menyentil soal Ahmadiyah , selain Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Syi’ah dan Sunni.  Guru saya hanya menjelaskan sedikit tentang Ahmadiyah yang dianggap sebagai kelompok (jama’ah) yang meyakini akan datang diakhir zaman seorang Imam Mahdi dan itu adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908)1997.

Sontak saja penjelasan Guru saya membuat saya tercengang, karena hal ini berbeda dengan penjelasan yang saya terima dari ustadz ketika masih belajar di pesantren yang mengatakan bahwa Imam Mahdi itu adalah seseorang yang mengaku Nabi.  Jelas ini membuat saya bertanya-tanya apa benar Mirza Ghulam Ahmad adalah orang yang dijanjikan oleh Allah SWT bersama Nabi Isa, a.s yang akan menghancurkan Dajjal ketika hari kiamat tiba.

Sebagai orang yang pernah mondok (santri) saya harus sami’na wa’atho’na kepada Guru atau ustadz yang ada di pesantren. Saat itulah kebencian saya kepada Ahmadiyah mulai muncul.

Di tahun 1996, ketika saya masuk PMII, organisasi ini mengantarkan saya pada perjumpaan-perjumpaan lintas iman dalam kerangka membangun solidaritas  antar sesama dari berbagai agama dan kelompok keagamaan termasuk Ahmadiyah.  Saya dan sahabat-sahabat aktivis PMII Cabang Manado sering terlibat dalam kerja-kerja lintas iman sebagai konsekuensi dari pemahaman kami atas pluralisme agama.

Disinilah saya berjumpa dengan beberapa orang Ahmadiyah Manado dan Motoboi Besar, Kotamobagu. Kehadiran Ahmadiyah di daerah Sulawesi Utara khususnya di Motoboi Besar tahun 1925 tidak bisa dipisahkan dari sosok Yahya Pontoh.  Dari beliau, kehadiran Ahmadiyah mulai diterima di lingkungan keluarga, tetangga dan masyarakat sekitar Motoboi Besar.

Kemudian hadirlah nama-nama seperti Mansoor Ahmad Kadengkang, Abdul Karim P. Dorumeat, dan Abdul Hanan Komangki yang mengabdi dalam dakwah Ahmadiyah, termasuk kehadiran mubaligh muda Muhammad Yakub yang saat ini sebagai Mubda Wilayah Sulawesi Selatan yang pernah menjalankan pengabdiannya sebagai mubaligh di Kota Manado.

Perjumpaan saya berikutnya dengan Ahmadiyah ketika saya belajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, konsentrasi pada program Religion and Cross Cultural Studies (CRCS) di tahun 2000.

Disinilah saya semakin intens berjumpa dengan saudara-saudara saya dari Ahmadiyah. Yang patut dicatat selama saya di Yogyakarta, saya tidak pernah mendownload tulisan-tulisan di internet, alasannya sangat sederhana karena saya ingin menghindari tulisan-tulisan yang memojokkan Ahmadiyah yang ditulis oleh para pembenci Ahmadiyah.

Artinya saya belajar langsung dari penjelasan, keterangan dan pengakuan dari saudara-saudara saya di Ahmadiyah mengenai siapa sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad dan bagaimana ajaran-ajarannya dalam Ahmadiyah.  Dari mereka saya mulai memahami dan merubah cara pandang saya yang tadinya benci (1990), kemudian berubah menjadi cinta (2003) kepada Ahmadiyah.

Pada tahun 2004 setelah saya selesai dari CRCS-UGM,  kemudian saya kembali ke Gorontalo pada tahun 2005, saya berjumpa dengan Pak Nanang seorang Mubaligh Ahmadiyah Gorontalo. Saya bertemu beliau karena dipertemukan oleh Mas Fikri, beliau adalah direktur LKIS Yogyakarta di masa itu. Kami bertemu di salah satu hotel, namanya hotel Karawang di jantung Kota Gorontalo.

Melalui perjumpaan dengan Pak Nanang, saya mendapatkan buku terjemahan dari mereka yang ditulis langsung oleh pendirinya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, bukunya berjudul Filsafat Ajaran Islam yang judul aslinya Islami Ushul Ki Filsafat (bahasa Urdu) yang terbit pertama kali di tahun 1977.

Buku ini membahas soal keadaan jasmani, akhlak dan rohani manusia, keadaan manusia sesudah mati, tujuan hidup manusia dan cara mencapainya,  dampak perbuatan amal manusia di dunia dan akhirat, jalan dan saran untuk mendapatkan ilmu makrifat Ilahi. Buku ini menarik karena menggambarkan tentang kebenaran dan kebesaran agama Islam sesuai Al-Qur’an, Sunnah dan Hadits Nabi SAW.

Pada tahun 2022 saya berjumpa dengan Mubaligh Ahmadiyah Muhammad Yaqup, Pak Iwan, dan Pak Bambang ditemani sahabat saya Arfan Nusi ketua Rumah Moderasi Beragam IAIN Sultan Amai Gorontalo. Kami terlibat dalam diskusi sejak dari rumah makan Coto Daeng Tata, dilanjutkan ke masjid Ahmadiyah Kota Makassar (shalat Ashar berjamaah) sampai bersambung ke perkebunan milik Ahmadiyah di Kabupaten Gowa dan dipertemukan dengan Pak Nadzir Mubaligh Wilayah Gowa (sampai shalat magrib berjamaah).

Setelah shalat saya mengingat pernyataan sinis dari orang-orang yang membenci Ahmadiyah bahwa “jika shalat di tempatnya Ahmadiyah, maka setelah shalat sajadah yang dipakai oleh orang di luar Ahmadiyah dicuci karena dianggap bernajis”. Anggapan itu salah dan tidak terbukti.

Perjumpaan saya beberapa kali dengan para mubaligh Ahmadiyah dan terlibat dalam diskusi panjang melalui pertanyaan-pertanyaan kritis kepada mereka. Telah menjawab keraguan dan kebencian saya kepada Ahmadiyah. Jika ada persepsi atau pendapat dan bahkan anggapan bahwa Ahmadiyah adalah sesat, bukan Islam dan bukan kelompok jamaah yang tidak mengakui Nabi Muhammad SAW adalah Nabi, maka saya pastikan jawabannya adalah salah besar.

Tuduhan-tuduhan negatif dan menyesatkan pasti berasal dari sekelompok orang yang suka menyebarkan fitnah, kebencian, berita hoax dan memang tidak menghendaki adanya persaingan dalam rekrutmen jamaah atau anggota. Sebenarnya kelompok-kelompok atau pribadi orang dengan karakter dan pemikirannya seperti itu mengindikasikan bahwa sebenarnya mereka bukanlah kaum Muslim yang beriman kepada Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Nabiyullah utusan Allah SWT.

Para pembenci dan tukang hasud adalah orang-orang atau kelompok yang tidak ingin hidup bertetangga dengan jama’ah Ahmadiyah ketika berada di surga, padahal belum tentu mereka (para pembenci dan penghasut) masuk surga. Karena cara atau sikap dan pandangan mereka tidak menunjukan akhlak Nabi SAW.

Mereka tidak ingin kalah bersaing dalam merebut hati ummat, padahal Allah SWT menekankan fastabiqul Khairaat “berlomba-lombalah dalam kebajikan”. Bukan untuk menghantam dan meracuni pikiran ummat dengan segala produk pemahaman yang  mengkonstruksi kebencian. Jelas I ni salah dan merupakan rangkaian perbuatan setan yang mendiami dan menguasai nafsu lawwamah (nafsu budak setan).

Sebagai orang yang belajar antropologi saya menyaksikan langsung praktek-praktek keagamaan mereka seperti shalat, bacaan-bacaan dzikir, adzan dan iqomah, termasuk simbol agama seperti mimbar khutbah jum’ah dan kalender Islam yang bertuliskan Laa Ilaaha Illa Allah, Muhammad Rasulullah.  Artinya mereka melaksanakan sholat 5 waktu (bahkan mereka sangat dianjurkan untuk melaksanakan shalat tahajud dan dhuhah) setiap harinya.

Mereka shalat dimulai dari niat dan takbir dan diakhiri dengan salam. Tidak ada yang berbeda dengan shalat umat Islam pada umumnya. Mereka mengumandangkan adzan, iqomah dan bahkan syahadat dengan lafaz Laa Ilaaha Illah Allah, Muhammad Rasulullah. Tidak seperti yang dituduhkan oleh orang lain melalui ceramah  dan tulisan-tulisan lepas yang mengatakan bahwa Ahmadiyah sahadatnya berbeda dengan umat Islam lainnya. Itu tidak benar, buktinya sahadatnya mereka sama dengan syahadat umat Islam lainnya dengan tidak melafazkan “wa asyhadu anna Mirza Ghulam Ahmad Rasulullah” seperti yang dituduhkan selama ini.

Jamaah Ahmadiyah sangat mencintai Nabi, bahkan pendirinya Mirza Ghulam Ahmad pernah menyatakan keagungan derajat Rasulullah SAW dengan ungkapan “Saya laksana debu yang menempel di terompah Rasulullah SAW”. Bahkan ungkapan kecintaan lainnya beliau kepada Rasulullah “Siang dan malam aku bersimpuh bagai debu di jalan Kekasihku, Tanda apa lagi yang mengisyaratkan kehormatan dan rezeki terhormat.” (Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; Ruhani Khazain, 1984). Ini menunjukan kecintaan pendiri dan jamaahnya kepada Nabi Muhammad SAW.

Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang atau kelompok orang kepada ahmadiyah sebagai agama di luar Islam, kelompok yang sesat dan menyesatkan dan tidak bersyahadat kepada Nabi Muhammad SAW, adalah bentuk tipu muslihat yang sengaja dimainkan untuk menghalau gerakan dakwah dari Ahmadiyah. Umat Islam dicekoki dan diracuni pikirannya dengan tipu muslihat murahan dengan menjual ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi untuk melegitimasi pendapat mereka demi memperturutkan hawa nafsunya yang sedang bermasalah. Kelompok-kelompok pembenci ini suka berhalusinasi, menghayal dan bermimpi bak di siang bolong.

Jika mereka tidak pernah berhenti dengan menuduh Ahmadiyah sebagai aliran sesat, maka saya tidak akan pernah berhenti untuk membersamai saudara-saudara saya di Ahmadiyah untuk ikut membantu dan menjaga eksistensi mereka terutama di Gorontalo. Ahmadiyah, sekali lagi, bukanlah aliran yang sesat atau yang telah keluar dari Islam, karena mereka beriman kepada Allah, Nabi Muhammad, al-Qur’an, Malaikat dan hari penghabisan, qadha dan qadar.

Jika demikian, dimana letak kesesatan Ahmadiyah. Mereka berdakwah dengan santun dan penuh adab, mereka anti dengan aksi kekerasan dari kelompok mutasyaddid (islam garis keras). Mereka membaca al-Qur’an dengan baik, mereka menjalankan sunnah Rasulullah SAW, bahkan mereka rela menghidmatkan diri dan keluarganya (sejak masih dalam kandungan) untuk dakwah Islamiyyah., hal ini jarang terjadi di kelompok-kelompok agama lainnya.

Sebagai penutup dari tulisan sederhana ini, saya hendak mengatakan, jika ajaran-ajaran Ahmadiyah bersandar pada al-Qur’an dan Hadits Nabi, mengakui Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul, melaksanakan sunnah Nabi, mengajarkan kebaikan, maka saya adalah bagian dari keluarga besar Ahmadiyah.

Oleh: Dr. Samsi Pomalingo ,MA(Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Musrenbang Baji Pa’mai: Perkuat Pertanian dan Layanan Publik Lewat Jalan Tani dan Kantor Lurah

    Musrenbang Baji Pa’mai: Perkuat Pertanian dan Layanan Publik Lewat Jalan Tani dan Kantor Lurah

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Kelurahan Baji Pa’mai, Kecamatan Maros Baru, menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tahun 2026 dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027. Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Pemerataan Pembangunan Wilayah, Konektivitas dan Infrastruktur yang Terintegrasi dan Adaptif.” Penekanan utama pada pembangunan jalan tani dan pembangunan kantor lurah sebagai prioritas di tengah […]

  • Kegetiran di balik Wisuda Siswa dan Sumbangan ‘Sukarela’ Sekolah

    Kegetiran di balik Wisuda Siswa dan Sumbangan ‘Sukarela’ Sekolah

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Saya tetap datang meski acara telah berada di penghujung. Wajah sumringah sang putri dan semangatnya untuk hadir bak serdadu yang mau merangsek ke markas musuh, membuat saya tak tega. Saya datang demi melihatnya tersenyum di atas panggung, meski hanya sekejap. Dan di atas segalanya ini adalah tentang  rasa syukur. Maka hadirlah saya tepat ketika semua orang […]

  • Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

    Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
    • visibility 927
    • 0Komentar

    Saya mulai dengan mengapresiasi kritik saudara Tarmizi Abbas terhadap tulisan saya tentang “Makuta Ilmu”—belakangan saya rubah jadi “Mahkota Ilmu”—sebagai paradigma keilmuan UIN Sultan Amai Gorontalo nanti. Saya senang sekali dikritisi, sejak kemarin tulisan seperti ini memang ditunggu. Dialektika melalui tulisan belakangan jarang terjadi di lingkungan kampus. Seringkali sebuah gagasan dibalas dengan kalimat singkat satir, sindiran, […]

  • Kadis Pendidikan Maros Resmikan SDN 215 Inpres Taipa, Sekolah Berbasis Karakter dan Life Skill

    Kadis Pendidikan Maros Resmikan SDN 215 Inpres Taipa, Sekolah Berbasis Karakter dan Life Skill

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Suasana haru dan kebanggaan menyelimuti SDN 215 Inpres Taipa, Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, saat bangunan sekolah yang telah lama dinantikan akhirnya diresmikan, baru-baru ini. Peresmian tersebut langsung dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maros, Andi Wandi Bangsawan Putra Patabai, S.STP., MM, disaksikan para guru se-Kecamatan Maros Baru, jajaran Dinas […]

  • Inilah Komoditas Gorontalo yang Diekspor Melalui Daerah Lain

    Inilah Komoditas Gorontalo yang Diekspor Melalui Daerah Lain

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Ada yang menarik dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo terkait ekspor sejumlah komoditas asal daerah ini. Dwi Alwi Astuti Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo menyebut sebagian komoditas yang berasal dari Provinsi Gorontalo diekspor melalui pelabuhan/bandara di provinsi lain. Komoditas tersebut adalah kelompok komoditas Ikan dan Udang/Kepiting (HS 03) senilai US$58.762 diekspor melalui Bandara […]

  • “Re-historiografi Gorontalo”

    “Re-historiografi Gorontalo”

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Dalam sebuah obrolan melalui whatsApp, sahabat saya Arief Abbas mencoba mengajak saya untuk membincang kembali Gorontalo, yang dimaksud adalah “Re-historigrafi Gorontalo”. Menurut Arief selama ini sejarah Gorontalo hanya menjelaskan Sultan Amai, Matolodulakiki, Raja Eyato dan beberapa lainnya. Bagi Arief banyak hal soal Gorontalo yang kurang diulas misalnya Wato, Dayango, Sejarah mengenai orang-orang tertindas/terpinggirkan dan lain […]

expand_less