Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ramadan dan Jurang Kesenjangan

  • account_circle Suaib Prawono
  • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
  • visibility 282
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadan selalu hadir dengan semarak yang khas. Beragam ekspresi keagamaan mencuat ke ruang publik, mulai pengajian rutin, ceramah agama, semarak majelis taklim, hingga seruan sahur jelang dini hari. Ramadan seolah telah menjadi panggung besar ekspresi keagamaan.

Selain dimaknai sebagai bulan suci, juga diyakini sebagai bulan penuh berkah; bulan yang dirindukan umat Islam karena pahala amal ibadah dilipatgandakan. Mungkin karena itu, syiar keagamaan saat bulan Ramadan tiba seolah tak mengenal jeda.

Namun, di balik semarak itu tersimpan paradoks. Ramadan yang sejatinya mengajarkan pengendalian diri, justru sering kali berubah menjadi bulan pelampiasan hasrat konsumsi.

Data menunjukkan, jumlah sampah meningkat hingga 20% selama Ramadan, sebagian besar berasal dari sisa makanan dan kemasan plastik. Tak hanya itu, negara ini juga tercatat sebagai penghasil sampah makanan terbesar di Asia Tenggara, dengan angka mencapai 20,93 juta ton per tahun.

Fenomena ini sungguh ironis, terlebih di tengah ancaman perubahan iklim. Suhu bumi yang terus meningkat melampaui ambang kritis 1,5°C membawa dampak serius: krisis pangan, terganggunya kesejahteraan ekonomi, hingga masalah kesehatan fisik dan mental.

Pertanyaannya kemudian: apakah esensi puasa benar-benar tercermin dalam perilaku umat? Ataukah kita hanya sekadar memindahkan jadwal makan tanpa benar-benar menahan diri?

Jika fenomena ini terus dibiarkan, bukan mustahil peradaban manusia akan menghadapi kehancuran. Otto Scharmer, dosen senior di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan co-founder Presencing Institute, mengidentifikasi tiga jurang kesenjangan yang menurut saya menarik untuk ditelaah secara bersama, yaitu;

Pertama, jurang sosial. Di tengah gegap gempita kemajuan peradaban, jurang sosial semakin nyata terlihat. Segelintir orang menguasai kekayaan dunia, sementara jutaan lainnya masih berjuang untuk sekadar bertahan hidup.

Ironisnya, delapan orang terkaya di dunia memiliki harta yang setara dengan separuh populasi manusia. Ketimpangan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin keterputusan manusia dengan sesamanya.

Solidaritas yang seharusnya menjadi perekat masyarakat kian rapuh, digantikan oleh marjinalisasi dan eksklusivitas. Akibatnya, keutuhan sosial yang menjadi fondasi peradaban perlahan terkikis.

Kedua, selain jurang sosial, dunia juga menghadapi jurang ekologis yang semakin menganga. Lingkungan mengalami penghancuran dalam skala besar: perubahan iklim yang ekstrem, kebakaran hutan yang meluas, hingga pandemi yang mengguncang kehidupan global.

Konsumsi sumber daya manusia kini setara dengan 1,5 planet, padahal kita hanya memiliki satu bumi. Bahkan di Amerika Serikat, laju konsumsi melampaui kapasitas lima planet bumi. Fenomena ini lahir dari keterputusan manusia dengan alam.

Demi ambisi pembangunan, hak-hak lingkungan diabaikan, seolah bumi hanyalah objek eksploitasi tanpa batas. Padahal, setiap kerusakan yang terjadi adalah peringatan bahwa keseimbangan alam tidak bisa ditawar.

Jurang ketiga yang tak kalah mengkhawatirkan adalah jurang spiritual. Di balik kemajuan teknologi dan derasnya arus modernitas, manusia justru kehilangan makna hidup.

Kesenjangan spiritual tampak dari meningkatnya masalah kesehatan mental, budaya konsumtif yang berlebihan, serta tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan. Lebih dari 800 ribu orang setiap tahun memilih mengakhiri hidupnya melalui bunuh diri; angka yang jauh melampaui korban tewas akibat perang.

Fenomena ini menunjukkan keterputusan manusia dengan dirinya sendiri. Ketika jiwa kehilangan arah, peradaban pun menjadi hampa, sekadar bergerak tanpa tujuan yang bermakna.

Ketiga jurang kesenjangan ini menjadi cermin yang relevan untuk menelaah fenomena populisme keagamaan di Indonesia. Ramadan seharusnya menjadi momentum refleksi: bukan sekadar ritual, melainkan kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, dengan alam, dan dengan diri sendiri.

Jika Ramadan hanya dimaknai sebagai “pesta konsumsi”, jurang sosial, ekologis, dan spiritual akan semakin melebar. Namun bila dijalani dengan kesadaran penuh, Ramadan bisa menjadi jembatan untuk menutup jurang-jurang itu: membangun solidaritas sosial, menjaga kelestarian bumi, dan menumbuhkan spiritualitas yang bermakna.

Pada akhirnya, Ramadan memberi kita pilihan sederhana; sekadar menahan lapar dan dahaga, atau perjalanan menuju manusia yang lebih peduli, bijak, dan utuh. Singkatnya, puasa hadir sebagai latihan spiritual untuk menundukkan ego dengan mengasah kesadaran sosial, ekologis dan spiritual.

Penulis: Korwil GUSDURian Sulampapua

  • Penulis: Suaib Prawono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sorotan Kekayaan Kepala Daerah, Unggahan Pengasuh Ponpes di Pohuwato Jadi Perbincangan

    Sorotan Kekayaan Kepala Daerah, Unggahan Pengasuh Ponpes di Pohuwato Jadi Perbincangan

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 751
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di tengah riuhnya sorotan terhadap kekayaan Bupati Pohuwato, Saipul Mbuinga, sebuah unggahan dari Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Kabupaten Pohuwato, KH. Abdullah Aniq Nawawi atau yang akrab disapa Gus Aniq, turut menarik perhatian publik. Unggahan yang dibuat pada 12 Maret 2026 tersebut dinilai relevan dengan maraknya perbincangan mengenai gaya hidup dan kekayaan sejumlah […]

  • Abu Hurairah: Sahabat yang Namanya Hidup dalam Ribuan Hadis (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #28)

    Abu Hurairah: Sahabat yang Namanya Hidup dalam Ribuan Hadis (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #28)

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 411
    • 0Komentar

    Nama Abu Hurairah tentu tidak asing di telinga umat Islam. Namanya sering muncul dalam kitab-kitab hadis, dalam ceramah, bahkan dalam pelajaran agama di sekolah. Ia dikenal sebagai sahabat yang meriwayatkan hadis Nabi dalam jumlah yang sangat banyak. Namun, di balik nama yang begitu sering disebut itu, tidak banyak orang benar-benar mengenal siapa dirinya. Nama asli […]

  • Bantuan Kemensos Tiba di Maros Baru, Camat A. Rudi Pimpin Langsung Penyaluran untuk Korban Puting Beliung

    Bantuan Kemensos Tiba di Maros Baru, Camat A. Rudi Pimpin Langsung Penyaluran untuk Korban Puting Beliung

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Pemerintah bergerak cepat merespons bencana angin puting beliung yang melanda Dusun Tekolabbua, Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Bantuan logistik dari Kementerian Sosial Republik Indonesia melalui Dinas Sosial Kabupaten Maros resmi disalurkan kepada warga terdampak, Sabtu (11/01/2025). Penyaluran bantuan dipimpin langsung oleh Camat Maros Baru, A. Rudi, S.IP, M.M, sebagai bentuk […]

  • Koalisi Desak Presiden Hentikan Proyek Jalan 135 Km di Merauke, Diduga Langgar AMDAL dan HAM

    Koalisi Desak Presiden Hentikan Proyek Jalan 135 Km di Merauke, Diduga Langgar AMDAL dan HAM

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 514
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua mendesak Presiden Republik Indonesia dan Menteri Pertahanan untuk segera menghentikan pembangunan jalan akses sepanjang 135 kilometer di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Desakan ini disampaikan menyusul dugaan bahwa proyek sarana prasarana ketahanan pangan tersebut dijalankan tanpa memenuhi ketentuan lingkungan hidup serta berpotensi melanggar hak masyarakat […]

  • Prabowo Resmikan Pabrik Kendaraan Listrik di Magelang, Tegaskan Indonesia Bangkit

    Prabowo Resmikan Pabrik Kendaraan Listrik di Magelang, Tegaskan Indonesia Bangkit

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 312
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden RI, Prabowo Subianto, meresmikan fasilitas perakitan kendaraan komersial listrik milik PT VKTR Sakti Industries di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026). Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan industri kendaraan listrik nasional sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih di Indonesia. Dalam sambutannya, Presiden menegaskan bahwa industrialisasi merupakan tahapan krusial dalam kebangkitan […]

  • Gusnar Bongkar 3 Agenda Besar Gorontalo, HMI Diminta Jadi Motor Perjuangan

    Gusnar Bongkar 3 Agenda Besar Gorontalo, HMI Diminta Jadi Motor Perjuangan

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 288
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, mengajak seluruh kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk ikut memperjuangkan tiga program strategis pemerintah provinsi. Ajakan tersebut disampaikan saat kegiatan Halal Bihalal KAHMI/HMI – FORHATI/KOHATI yang turut dihadiri Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Rabu (8/4/2026). Tiga program yang dimaksud yakni perluasan […]

expand_less