Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bendera dan Gugatan Nasionalisme

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
  • visibility 154
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada pemandangan tak biasa menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Bendera bergambar tengkorak tersenyum, bertopi jerami berkibar di berbagai penjuru. Rumah-rumah memasangnya. Di tembok ada gambarnya. Truk, mobil dan motor memansangnya, sementara anak muda dengan bangga memajang di media sosialnya. Bendera yang dikenal sebagai Jolly Roger itupun berkibar di angkasa dan medsos. Gambar tengkorak tersenyum itu seakan mengancam sekaligus mengejek kekuasaan yang berdiri angkuh.

Fenomena ini tidak betul betul baru. Sebelumnya pencinta anime One Piece, yg mengenal baik karakter Mongkey D Lutfy , sering menginlbarkan Jolly Roger dalam berbagai even. Tetapi maraknya menjelang hari kemerdekaan yg disakrakkan itu jelas mencuri perhatian. Reaksi beragam menguar di jagat maya dan dunia nyata. Yang tenang menanggapinya santai; “itu hanya kreativitas, kritik yg satir karena situasi yg getir.” Tetapi yg reaksioner kebakaran jenggot. Dibilangnya itu pelecehan simbol negara. Mengapa ia berkibar saat merah putih yang seharusnya mengangkasa? Kekuasaan segera pasang kuda kuda, jika perlu tindakan represif.

Lantas muncullah tanya, gejala apa ini? Tidakah itu menunjukkan mereka yang mengibarkan bendera tersebut sedang menghianati nasionalisme? Tetapi nasionaisme yang mana dulu? Apakah seperti yg disebut Miichael Billig, banal nationalism, yg setiap senin upacara bendera atau di tiap acara instansi di hotel menyanyi lagu Indonesia raya? Ataukah nasionalisme yang selalu bicara soal kedaulatan, cinta tanah air, tetapi dibelakang bersekutu dengan negara adikuasa di luar sana tanpa peduli menyulitkan rakyat atau tidak.
Jika nasionalisme itu yang dimaksud, maka justru yang mengibarkan bendera one peace itu tegah mengekspresikan simbol perlawanan, kedaulatan dan pembebasan. Bukankah Jolly Roger, si kelompok Topi Jerami, memang simbol identitas bagi karakter-karakter yang menolak tunduk pada tirani. Monkey D. Luffy dan kawan-kawannya berlayar bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan membebaskan (diri sendiri dan orang lain) dari belenggu ketidakadilan.

Sering kali memang negara cenderung memaksakan nasionalisme yang dinginkannya. State-led nationalism, begitu istilahnya. Nasionalisme ini dikonstruksi dan digerakkan secara aktif oleh negara melalui berbagai institusi resmi, media, pendidikan, dan kebijakan publik. Tujuannya adalah untuk membentuk identitas nasional yang seragam, mendukung legitimasi kekuasaan, serta mengarahkan loyalitas warga kepada negara atau tepatnya rezim berkuasa, dengan simbol-simbol resminya. Berani menyempal dari simbol simbol itu, Anda bisa dituduh macam macam, dari penghianat negara, tidak cinta tanah air, bahkan bisa dituduh makar .

Padahal seturut kata Pierre Bourdieu simbol memang punya kuasa, tetapi kuasa itu tak selalu abadi. Ketika simbol nasional dipaksakan secara kaku dan tak memberi ruang bagi ekspresi kultural baru, maka yang terjadi adalah alienasi, bukan menggerakkan cinta tanah air. Mereka yang mengibarkan bendera One Piece tidak otomatis anti-Indonesia, melainkan mereka yang menuntut bentuk nasionalisme yang lebih inklusif, lentur, dan menyenangkan.

Nasionalisme abad 21, tidak bisa lagi terjebak dalam kebanggaan simbol. Dalam Lessons for the 21st Century, Yuval Noah Harari menekankan nasionalisme harus bergeser dari simbol menuju solidaritas pada nilai. Jika tidak, ia akan terjebak dalam chauvinisme yang rentan melahirkan represi.
Karena itu saat bendera One Piece dipersoalkan, yang pasang bendera direpresi, namun diam pada pengrusakan lingkungan, ketimpangan sosial, atau kekerasan negara, maka yang dibela bukanlah nasionalisme, melainkan simbol kosong tanpa keadilan

Last but not least, daripada menanggapi fenomena bendera One Piece dengan kemarahan dan paranoia, mengapa tidak kita anggap saja sebagai bagian dari karnaval kemerdekaan yang kaya warna? Ingatlah ketika Gus Dur menyikapi pengibaran bendera bintang kejora pada masa pemerintahannya dengan santai, “Tidak usah risau, bila bendera merah putih masih berkibar lebih tinggi, anggap saja bendera lainnya umbul umbul.

Indonesia Negeri Tercinta, Merah Putih Kebanggaan kita (*)

Penulis memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

    Budaya Konsumtif dan Pemanasan Global: Tanpa Sadar Kita Sedang Merusak Bumi

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle  Fadli Bina
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Mengonsumsi bukan lagi soal pemenuhan kebutuhan melainkan hanya soal hasrat agar tetap eksis. Dewasa ini mengonsumsi sepertinya merupakan hal yang mesti dilakukan agar kita dianggap tetap ada. Karena dalam budaya konsumtif nilai seseorang tidak diukur lagi dari kualitas pengetahuannya melainkan dari apa yang ia konsumsi. Hal ini juga terjadi dalam mengkonsumsi makananan. Meski kita tidak […]

  • Banjir Rusak Jembatan Darurat di Galela Utara, Kementerian PU Turunkan Alat Berat

    Banjir Rusak Jembatan Darurat di Galela Utara, Kementerian PU Turunkan Alat Berat

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 264
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Curah hujan tinggi yang melanda Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, memicu serangkaian bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah. Beberapa sungai meluap, longsor terjadi di berbagai titik, rumah warga terendam banjir, hingga infrastruktur vital mengalami kerusakan. Dampak terparah terjadi di Kecamatan Galela Utara, tepatnya di Kali Aru yang berada di perbatasan Desa Bobisingo dan Desa […]

  • Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Refleksi Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025 Oleh : Pepy Al-Bayqunie (Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Di Indonesia, demokrasi kerap tampil meriah hanya saat pemilu. Angka, statistik, dan pesta politik menjadi hal yang paling mencolok. Namun, setelah hiruk pikuk itu usai, demokrasi sering kembali sepi. Ia menyusut menjadi prosedur […]

  • Abu Lubabah, Kisah Pengkhianatan dan Pertobatan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #10)

    Abu Lubabah, Kisah Pengkhianatan dan Pertobatan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #10)

    • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 461
    • 0Komentar

    Abu Lubabah bin Abd al-Mundzhir adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar, berasal dari suku Aws di Madinah. Nama aslinya Basyir bin ‘Abd al-Mundhir. Ia termasuk Muslim awal di Madinah dan terlibat dalam fase-fase penting komunitas setelah hijrah. Dalam Perang Badr, ia ditugaskan menjaga Madinah sehingga tidak hadir di medan tempur, tetapi tetap dihitung […]

  • Detik-Detik Mencekam Kebakaran Panti Jompo Manado, Lansia Terpanggang Saat Tidur!

    Detik-Detik Mencekam Kebakaran Panti Jompo Manado, Lansia Terpanggang Saat Tidur!

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 261
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Malam Minggu (28/12/2025) menjadi malam yang penuh duka bagi Panti Werdha Damai, Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado. Sebanyak 16 lansia meninggal dunia dalam kebakaran hebat, sementara belasan lainnya selamat tetapi mengalami luka bakar dan trauma mendalam. Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Alamsyah P. Hasibuan, menjelaskan bahwa pihak kepolisian dan Polda […]

  • 793 Sapi untuk Kesejahteraan Warga Gorontalo

    793 Sapi untuk Kesejahteraan Warga Gorontalo

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo menyerahkan bantuan sapi kepada masyarakat Kabupaten Gorontalo. Kegembiraan masyarakat terlihat saat menerima bantuan sapi dari Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Kamis (23/10/2025). Gubernur Gorontalo menyerahkan bantuan ternak sapi di tiga kecamatan, yaitu Limboto Barat, Limboto, dan Telaga Biru. Total ada sebanyak 793 ekor sapi akan disalurkan ke seluruh kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo sebagai bagian […]

expand_less