Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • visibility 208
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ketika kita berbicara tentang negara demokrasi modern, pemisahan peran antar institusi keamanan sebenarnya bukan sekadar soal administrasi negara atau pembagian tugas birokratis. Ia adalah fondasi dasar dari negara hukum. Dalam prinsip demokrasi modern, urusan kriminalitas, ketertiban publik, dan keamanan domestik berada di tangan kepolisian serta otoritas sipil. Sementara militer dibentuk untuk menghadapi ancaman eksternal dan menjaga kedaulatan negara dari luar batas teritorial.

Indonesia pernah sampai pada kesadaran itu melalui jalan sejarah yang panjang dan berdarah. Reformasi 1998 bukan hanya momentum pergantian rezim, melainkan upaya kolektif untuk mengakhiri dominasi militer dalam ruang sipil. Pemisahan TNI dan Polri, penghapusan Dwifungsi ABRI, hingga dorongan supremasi sipil lahir dari kesimpulan pahit bahwa demokrasi tidak akan pernah tumbuh sehat jika aparat bersenjata terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan warga negara.

Samuel P. Huntington pernah mengingatkan bahwa profesionalisme militer hanya dapat terjaga ketika tentara dibatasi secara tegas pada fungsi pertahanan negara, sementara urusan sipil dikendalikan oleh otoritas demokratis. Dalam teori objective civilian control, batas antara ruang sipil dan militer bukan sekadar prosedur administratif, melainkan syarat utama agar demokrasi tidak berubah menjadi negara yang dikendalikan logika keamanan. Karena itu, demokrasi tidak selalu runtuh lewat kudeta besar yang dramatis. Ia sering melemah secara perlahan: ketika masyarakat mulai terbiasa melihat aparat bersenjata hadir dalam urusan sipil, ketika kritik dipandang sebagai ancaman stabilitas, dan ketika negara lebih percaya pada pendekatan komando dibanding dialog demokratis. Di titik itulah sebuah bangsa sebenarnya sedang diuji—apakah tetap setia pada cita-cita reformasi, atau diam-diam sedang bergerak mundur menuju kekuasaan yang semakin represif

Namun, belakangan ini arah perjalanan itu terasa mulai berbalik. Kehadiran militer dalam urusan-urusan domestik semakin dianggap wajar: menjaga ruang publik, mengawal proyek pembangunan, terlibat dalam sektor pangan, pendidikan, bahkan masuk ke wilayah yang seharusnya menjadi domain lembaga sipil. Semua ini sering dibungkus dengan bahasa stabilitas nasional, percepatan pembangunan, atau efisiensi negara. Padahal dalam kajian sosiologi politik, meluasnya peran militer ke ruang sipil sering kali menjadi tanda bahwa institusi sipil sedang mengalami pelemahan, atau setidaknya kehilangan kepercayaan untuk menyelesaikan persoalannya sendiri.

Sejarah Indonesia sesungguhnya sudah memberi pelajaran yang mahal tentang hal itu. Pada masa Orde Baru, militer tidak hanya berdiri di garis pertahanan negara, tetapi juga duduk di kursi birokrasi, mengawasi kampus, mengendalikan organisasi masyarakat, hingga menentukan arah politik nasional. Dwifungsi ABRI menciptakan negara yang tampak stabil di permukaan, tetapi menyimpan ketakutan di dalamnya. Kritik dianggap ancaman, oposisi dipandang musuh, dan warga perlahan dibiasakan untuk patuh, bukan berdialog. Reformasi hadir justru untuk membongkar logika kekuasaan seperti itu: mengembalikan militer menjadi institusi pertahanan yang profesional dan membatasi kekuasaan bersenjata agar tidak menelan ruang demokrasi.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Media Thailand Sebut SEA Games ke-33 Ajang Paling Terlupakan dalam Sejarah

    Media Thailand Sebut SEA Games ke-33 Ajang Paling Terlupakan dalam Sejarah

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 225
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Surat kabar ternama Thailand, Thairath, secara terbuka mengakui bahwa SEA Games ke-33 yang digelar di negaranya sendiri merupakan salah satu ajang olahraga paling buruk penyelenggaraannya dan “tidak layak dikenang” dalam sejarah pesta olahraga Asia Tenggara. Dalam artikelnya yang berjudul “SEA Games yang Tidak Layak Dikenang”, Thairath memisahkan secara tegas antara prestasi atlet dan […]

  • Ukasyah bin Mihshan: Sahabat Yang Menuntut Balas Kepada Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #15)

    Ukasyah bin Mihshan: Sahabat Yang Menuntut Balas Kepada Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #15)

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 313
    • 0Komentar

    Ukasyah bin Mihshan adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad  yang dikenal karena keberanian, kesetiaan, dan kedekatannya dengan Rasulullah dalam berbagai peperangan serta kehidupan sehari-hari. Ia berasal dari suku Bani Asad. Biografi lengkapnya tidak banyak tercatat, tetapi riwayat sejarah menunjukkan bahwa Ukasyah ikut serta dalam berbagai ekspedisi militer penting, termasuk Perang Badr, Uhud, dan Khandaq. Ia dikenal […]

  • Dari Maros untuk Indonesia: Chaidir Syam Diganjar Penghargaan Bela Negara

    Dari Maros untuk Indonesia: Chaidir Syam Diganjar Penghargaan Bela Negara

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Komitmen Pemerintah Kabupaten Maros dalam menanamkan nilai-nilai bela negara kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Bupati Maros, Chaidir Syam, menerima Penghargaan Apresiasi Bela Negara 2025 yang digelar oleh Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Markas Besar TNI, di Hotel El Royal Bandung. Penghargaan tersebut […]

  • Warga Kota Timur Keluhkan Variasi Menu MBG, DPRD Kota Gorontalo Siap Lakukan Sidak

    Warga Kota Timur Keluhkan Variasi Menu MBG, DPRD Kota Gorontalo Siap Lakukan Sidak

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 241
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, menuai keluhan dari warga. Seorang warga, Sintia Bumulo, menyoroti variasi menu yang dinilai kurang beragam dan cenderung monoton. Menurut Sintia, program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi siswa tersebut seharusnya dibarengi dengan perencanaan menu yang lebih variatif dan bergizi seimbang. Ia menilai […]

  • Salat Jenazah Ternyata Rumit, KH. Abdul Muin Ungkap Kesalahan yang Sering Terjadi Play Button

    Salat Jenazah Ternyata Rumit, KH. Abdul Muin Ungkap Kesalahan yang Sering Terjadi

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 506
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Salat jenazah yang selama ini dianggap sederhana ternyata menyimpan banyak rincian hukum yang kerap luput dari perhatian jamaah. Hal ini diungkapkan oleh KH. Abdul Muin Mooduto, Ketua MUI Kota Gorontalo sekaligus Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, dalam pengajian menjelang Salat Jumat yang digelar di salah satu masjid di Kota Gorontalo pada 2021. Dalam […]

  • Nu’aiman, Sahabat Nabi Yang Jenaka (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #2)

    Nu’aiman, Sahabat Nabi Yang Jenaka (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #2)

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 344
    • 0Komentar

    Jika Anda periang, suka bercanda, atau kadang sedikit usil, maka kisah Nu’aiman bin Amr bin Rafa’ah menarik untuk anda. Dalam keseharian komunitas Muslim di Madinah pada masa Nabi SAW, ada sahabat yang serius, ada sahabat yang tekun beribadah, dan ada pula yang suka usil. Nu’aiman termasuk yang terakhir: tingkahnya jenaka, sering bercanda, dan mampu membuat […]

expand_less