Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • visibility 197
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Karena itu, kecemasan terhadap gejala militerisasi hari ini bukan paranoia yang lahir dari ruang kosong. Ia berangkat dari ingatan sejarah. Samuel P. Huntington, dalam teorinya tentang objective civilian control, pernah menegaskan bahwa profesionalisme militer hanya bisa dijaga ketika tentara fokus pada fungsi pertahanan, bukan ditarik terlalu jauh ke dalam urusan politik dan sosial domestik. Ketika batas antara sipil dan militer mulai kabur, bukan hanya demokrasi yang terancam, tetapi juga profesionalisme tentara itu sendiri. Militer akan semakin sering berhadapan dengan rakyat sipil menggunakan logika komando dan disiplin tempur, sesuatu yang sangat berbeda dari prinsip pelayanan publik dalam negara demokratis.

Bahaya terbesar dari normalisasi militerisasi sebenarnya tidak selalu tampak dalam bentuk represif yang kasar. Kemunduran demokrasi sering berjalan perlahan, nyaris tanpa disadari. Ia dimulai dari kompromi-kompromi kecil yang dianggap sementara, lalu berubah menjadi kebiasaan. Publik mulai terbiasa melihat aparat bersenjata hadir di ruang sipil, dan negara semakin mudah menggunakan pendekatan keamanan untuk menjawab persoalan sosial, ekonomi, bahkan kritik politik. Dalam kondisi seperti itu, dialog dianggap lamban, perdebatan dipandang mengganggu stabilitas, sementara kepatuhan dijadikan ukuran utama ketertiban.

Kita bisa belajar dari banyak negara yang pernah mengalami kemunduran demokrasi secara bertahap. Myanmar adalah contoh paling ekstrem tentang bagaimana dominasi militer yang dibiarkan terlalu kuat pada akhirnya meruntuhkan seluruh bangunan demokrasi. Tentu konteks Indonesia tidak sepenuhnya sama, tetapi sejarah selalu menunjukkan pola yang mirip: demokrasi melemah bukan hanya karena kudeta besar yang dramatis, melainkan karena publik perlahan kehilangan sensitivitas terhadap penyempitan ruang sipil.

Yang paling mengkhawatirkan dari situasi ini sesungguhnya adalah perubahan cara berpikir dalam melihat negara. Ketika setiap persoalan publik diselesaikan dengan pendekatan keamanan, kita sedang bergerak menuju budaya politik yang miskin dialog. Konflik agraria, kritik kebijakan, demonstrasi mahasiswa, hingga persoalan sosial masyarakat tidak lagi dilihat sebagai bagian dari dinamika demokrasi, melainkan sebagai gangguan yang harus ditertibkan. Padahal demokrasi yang sehat justru tumbuh dari keberanian berbeda pendapat, bukan dari keseragaman yang dipaksakan.

Karena itu, menegaskan batas antara wilayah sipil dan militer bukan berarti anti terhadap tentara. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk penghormatan agar militer tetap menjadi institusi yang kuat, profesional, dan terhormat di bidangnya. Negara membutuhkan tentara yang tangguh untuk menjaga perbatasan dan kedaulatan. Tetapi negara juga membutuhkan supremasi sipil yang kokoh agar kekuasaan tidak terkonsentrasi pada satu institusi bersenjata.

kebebasan warga untuk bersuara tanpa rasa takut. Sebab negara yang terlalu bergantung pada pendekatan keamanan lambat laun akan kehilangan kemampuan untuk mendengar rakyatnya sendiri. Reformasi 1998 seharusnya terus dirawat sebagai pengingat bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa banyak aparat hadir di ruang publik, melainkan dari seberapa kuat institusi sipil dan kesadaran demokrasinya mampu berdiri tanpa bayang-bayang senjata.

Reformasi 1998 seharusnya terus diingat bukan sebagai nostalgia politik, melainkan sebagai kesepakatan sejarah: bahwa militer adalah pelindung bangsa di garis pertahanan, bukan pengawas kehidupan sipil warga negara.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Praperadilan Kandas, Yaqut Cholil Qoumas Langsung Ditahan KPK dalam Kasus Kuota Haji Rp622 Miliar

    Praperadilan Kandas, Yaqut Cholil Qoumas Langsung Ditahan KPK dalam Kasus Kuota Haji Rp622 Miliar

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 331
    • 0Komentar

    Pemeriksaan berlangsung selama beberapa jam hingga malam hari. Sekitar pukul 18.45 WIB, Yaqut keluar dari ruang pemeriksaan dengan mengenakan rompi tahanan berwarna oranye dan tangan terborgol. Penyidik KPK kemudian langsung membawanya ke rumah tahanan KPK untuk menjalani masa penahanan awal selama 20 hari. KPK menyatakan penahanan dilakukan berdasarkan pertimbangan yuridis, yakni kekhawatiran tersangka melarikan diri, […]

  • Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 535
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Metode tahfidz yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren As’adiyah kembali mendapat sorotan publik nasional. Dalam sebuah program TV nasional yang tayang baru-baru ini, pendekatan khas As’adiyah dalam menghafal Al-Qur’an disebut sebagai salah satu metode yang konsisten melahirkan para hafidz berkualitas, dengan kekuatan pada tradisi, disiplin, dan kesinambungan sanad keilmuan. Metode Tahfidz As’adiyah bertumpu […]

  • Menakar Efisiensi APBN: Tantangan Menjaga Akuntabilitas di Balik Penghematan Anggaran

    Menakar Efisiensi APBN: Tantangan Menjaga Akuntabilitas di Balik Penghematan Anggaran

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Ai Dila Umul Hidayah
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Fenomena ini menunjukkan bahwa akuntabilitas APBN di Indonesia masih cenderung bersifat formal. Selama laporan keuangan disusun dengan baik dan angka-angka terlihat terkendali, pengelolaan anggaran sering kali dianggap berhasil. Padahal, akuntabilitas yang sesungguhnya tidak berhenti pada kepatuhan administratif, melainkan pada kemampuan pemerintah untuk menunjukkan manfaat nyata dari setiap kebijakan anggaran. Jika dilihat dari perspektif value for […]

  • Libur Lebaran Bingung Mau ke Mana? Ini 7 Destinasi “Hidden Gem” Kaltim yang Wajib Kamu Coba!

    Libur Lebaran Bingung Mau ke Mana? Ini 7 Destinasi “Hidden Gem” Kaltim yang Wajib Kamu Coba!

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Pantai ini menawarkan berbagai fasilitas modern seperti ATV, sepeda, voli pantai, hingga area camping yang cocok untuk liburan santai. Bagi pencari keseruan air, Jungle Water World bisa menjadi pilihan. Wahana ini menghadirkan berbagai permainan air yang menyegarkan di tengah suasana tropis. Sementara itu, pengalaman wisata edukatif bisa ditemukan di Desa Wisata Pela, Kutai Kartanegara. Desa […]

  • Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    Kompetisi Renang Provinsi Gorontalo Digelar di Lahilote

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Staf Ahli Gubernur bidang Kemasyarakatan dan SDM Yosef P Koton mewakili Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memberikan sambutan dan membuka lomba Renang “Pinguin Aquatic Fun Swimming Competition Series 2 tahun 2025” di kolam Renang Lahilote Kota Gorontalo, Sabtu (28/7/2025). Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pemuda dan OIahraga Provinsi Gorontalo,  Pengurus klub renang se-Provinsi Gorontalo, pelatih, ofisial […]

  • Budak Ambisi

    Budak Ambisi

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 380
    • 0Komentar

    Ada begitu banyak manusia meniti karier, namun tanpa sadar, mereka bukan lagi tuan atas dirinya, melainkan budak dari ambisi yang mereka pelihara. Khalid Bin Salih Al-Munif pernah mengingatkan, manusia bisa tenggelam dalam pekerjaan, entah mengumpulkan ilmu atau harta, tetapi tetap saja terjerat sebagai tawanan dari ambisi mereka sendiri. Ambisi yang tak terkendali ibarat api. Ia […]

expand_less