Breaking News
light_mode
Trending Tags

Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month 6 jam yang lalu
  • visibility 46
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Karena itu, kecemasan terhadap gejala militerisasi hari ini bukan paranoia yang lahir dari ruang kosong. Ia berangkat dari ingatan sejarah. Samuel P. Huntington, dalam teorinya tentang objective civilian control, pernah menegaskan bahwa profesionalisme militer hanya bisa dijaga ketika tentara fokus pada fungsi pertahanan, bukan ditarik terlalu jauh ke dalam urusan politik dan sosial domestik. Ketika batas antara sipil dan militer mulai kabur, bukan hanya demokrasi yang terancam, tetapi juga profesionalisme tentara itu sendiri. Militer akan semakin sering berhadapan dengan rakyat sipil menggunakan logika komando dan disiplin tempur, sesuatu yang sangat berbeda dari prinsip pelayanan publik dalam negara demokratis.

Bahaya terbesar dari normalisasi militerisasi sebenarnya tidak selalu tampak dalam bentuk represif yang kasar. Kemunduran demokrasi sering berjalan perlahan, nyaris tanpa disadari. Ia dimulai dari kompromi-kompromi kecil yang dianggap sementara, lalu berubah menjadi kebiasaan. Publik mulai terbiasa melihat aparat bersenjata hadir di ruang sipil, dan negara semakin mudah menggunakan pendekatan keamanan untuk menjawab persoalan sosial, ekonomi, bahkan kritik politik. Dalam kondisi seperti itu, dialog dianggap lamban, perdebatan dipandang mengganggu stabilitas, sementara kepatuhan dijadikan ukuran utama ketertiban.

Kita bisa belajar dari banyak negara yang pernah mengalami kemunduran demokrasi secara bertahap. Myanmar adalah contoh paling ekstrem tentang bagaimana dominasi militer yang dibiarkan terlalu kuat pada akhirnya meruntuhkan seluruh bangunan demokrasi. Tentu konteks Indonesia tidak sepenuhnya sama, tetapi sejarah selalu menunjukkan pola yang mirip: demokrasi melemah bukan hanya karena kudeta besar yang dramatis, melainkan karena publik perlahan kehilangan sensitivitas terhadap penyempitan ruang sipil.

Yang paling mengkhawatirkan dari situasi ini sesungguhnya adalah perubahan cara berpikir dalam melihat negara. Ketika setiap persoalan publik diselesaikan dengan pendekatan keamanan, kita sedang bergerak menuju budaya politik yang miskin dialog. Konflik agraria, kritik kebijakan, demonstrasi mahasiswa, hingga persoalan sosial masyarakat tidak lagi dilihat sebagai bagian dari dinamika demokrasi, melainkan sebagai gangguan yang harus ditertibkan. Padahal demokrasi yang sehat justru tumbuh dari keberanian berbeda pendapat, bukan dari keseragaman yang dipaksakan.

Karena itu, menegaskan batas antara wilayah sipil dan militer bukan berarti anti terhadap tentara. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk penghormatan agar militer tetap menjadi institusi yang kuat, profesional, dan terhormat di bidangnya. Negara membutuhkan tentara yang tangguh untuk menjaga perbatasan dan kedaulatan. Tetapi negara juga membutuhkan supremasi sipil yang kokoh agar kekuasaan tidak terkonsentrasi pada satu institusi bersenjata.

kebebasan warga untuk bersuara tanpa rasa takut. Sebab negara yang terlalu bergantung pada pendekatan keamanan lambat laun akan kehilangan kemampuan untuk mendengar rakyatnya sendiri. Reformasi 1998 seharusnya terus dirawat sebagai pengingat bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa banyak aparat hadir di ruang publik, melainkan dari seberapa kuat institusi sipil dan kesadaran demokrasinya mampu berdiri tanpa bayang-bayang senjata.

Reformasi 1998 seharusnya terus diingat bukan sebagai nostalgia politik, melainkan sebagai kesepakatan sejarah: bahwa militer adalah pelindung bangsa di garis pertahanan, bukan pengawas kehidupan sipil warga negara.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 228
    • 0Komentar

    “Teknologi tanpa filsafat adalah pedang tanpa sarung—tajam dan berguna, namun berbahaya di tangan yang tidak memahami arah dan tujuannya,” tambahnya. Sementara itu, Muh. Agus Salim menegaskan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab untuk tetap hadir dalam percakapan-percakapan besar mengenai masa depan peradaban manusia. Menurutnya, pesantren tidak boleh dipandang sebagai lembaga yang tertinggal dari perkembangan zaman. Sebaliknya, […]

  • Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Rabu 18 Februari 2026, Ini Penjelasan Lengkapnya

    Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Rabu 18 Februari 2026, Ini Penjelasan Lengkapnya

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 220
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Penetapan tersebut dijelaskan secara rinci oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, dalam Pengajian Tarjih dikutip nulondalo.com, Selasa (3/1/2026). Rahmadi menerangkan bahwa KHGT dibangun […]

  • KPMI BOGANI sukses menggelar Debat Ilmiah Paguyuban se-Bolaang Mongondow Raya 2025

    KPMI BOGANI sukses menggelar Debat Ilmiah Paguyuban se-Bolaang Mongondow Raya 2025

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Nulondalo.com — Kerukunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Bolaang Poigar Bilalang Passi (KPMI BOGANI) sukses menggelar kegiatan  Debat Ilmiah Paguyuban se-Bolaang Mongondow Raya (BMR) 2025, Rabu (24/12/2025). Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Universitas Gorontalo dan diikuti oleh paguyuban-paguyuban Bolaang Mongondow Raya yang berada di Gorontalo. Kegiatan debat ilmiah ini menjadi ruang akademik dan kultural bagi mahasiswa BMR […]

  • Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

    Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Di zaman ketika ilmu melimpah dan akses pengetahuan terbuka lebar sepertinya makin Ada jarak yang antara mengetahui dan menjadi—jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kecerdasan. Ternyata tidak semua Ilmu menjadi jalan kebijaksanaan, ilmu yang tidak meneduhkan, sering kali hanya menjadi beban kesombongan. Dalam tradisi lisan masyarakat Mandar, ada satu kata yang diucapkan dengan penuh […]

  • Puasa dan Neraca Hati

    Puasa dan Neraca Hati

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Ramadhan juga mengajarkan konsep materialitas. Dalam audit, sesuatu dianggap material jika memengaruhi keputusan pengguna laporan. Dalam puasa, hal kecil seperti satu teguk air menjadi sangat material. Di luar Ramadhan mungkin kita menyepelekan gosip, fitnah, atau komentar kasar. Namun saat puasa, semua itu menjadi signifikan karena memengaruhi kualitas ibadah. Artinya, standar materialitas moral kita dinaikkan. Mari […]

  • Studi Ungkap “Jam Kematian Sel”: Ukuran Nukleolus Bisa Prediksi Penuaan

    Studi Ungkap “Jam Kematian Sel”: Ukuran Nukleolus Bisa Prediksi Penuaan

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 195
    • 0Komentar

    Kesalahan tersebut dapat memicu berbagai masalah genetika seperti penghapusan, duplikasi, hingga ketidakstabilan genom—kondisi yang diketahui meningkat seiring bertambahnya usia. “Penuaan adalah faktor risiko tertinggi untuk berbagai penyakit,” ujar ilmuwan Jessica Tyler dari Weill Cornell Medicine, seperti dikutip dari SciTech Daily. Nukleolus Membesar Saat Sel Menua Para peneliti telah lama mengamati bahwa nukleolus cenderung membesar pada […]

expand_less