Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Supremasi Sipil dan Ancaman Normalisasi Militerisasi

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • visibility 163
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Karena itu, kecemasan terhadap gejala militerisasi hari ini bukan paranoia yang lahir dari ruang kosong. Ia berangkat dari ingatan sejarah. Samuel P. Huntington, dalam teorinya tentang objective civilian control, pernah menegaskan bahwa profesionalisme militer hanya bisa dijaga ketika tentara fokus pada fungsi pertahanan, bukan ditarik terlalu jauh ke dalam urusan politik dan sosial domestik. Ketika batas antara sipil dan militer mulai kabur, bukan hanya demokrasi yang terancam, tetapi juga profesionalisme tentara itu sendiri. Militer akan semakin sering berhadapan dengan rakyat sipil menggunakan logika komando dan disiplin tempur, sesuatu yang sangat berbeda dari prinsip pelayanan publik dalam negara demokratis.

Bahaya terbesar dari normalisasi militerisasi sebenarnya tidak selalu tampak dalam bentuk represif yang kasar. Kemunduran demokrasi sering berjalan perlahan, nyaris tanpa disadari. Ia dimulai dari kompromi-kompromi kecil yang dianggap sementara, lalu berubah menjadi kebiasaan. Publik mulai terbiasa melihat aparat bersenjata hadir di ruang sipil, dan negara semakin mudah menggunakan pendekatan keamanan untuk menjawab persoalan sosial, ekonomi, bahkan kritik politik. Dalam kondisi seperti itu, dialog dianggap lamban, perdebatan dipandang mengganggu stabilitas, sementara kepatuhan dijadikan ukuran utama ketertiban.

Kita bisa belajar dari banyak negara yang pernah mengalami kemunduran demokrasi secara bertahap. Myanmar adalah contoh paling ekstrem tentang bagaimana dominasi militer yang dibiarkan terlalu kuat pada akhirnya meruntuhkan seluruh bangunan demokrasi. Tentu konteks Indonesia tidak sepenuhnya sama, tetapi sejarah selalu menunjukkan pola yang mirip: demokrasi melemah bukan hanya karena kudeta besar yang dramatis, melainkan karena publik perlahan kehilangan sensitivitas terhadap penyempitan ruang sipil.

Yang paling mengkhawatirkan dari situasi ini sesungguhnya adalah perubahan cara berpikir dalam melihat negara. Ketika setiap persoalan publik diselesaikan dengan pendekatan keamanan, kita sedang bergerak menuju budaya politik yang miskin dialog. Konflik agraria, kritik kebijakan, demonstrasi mahasiswa, hingga persoalan sosial masyarakat tidak lagi dilihat sebagai bagian dari dinamika demokrasi, melainkan sebagai gangguan yang harus ditertibkan. Padahal demokrasi yang sehat justru tumbuh dari keberanian berbeda pendapat, bukan dari keseragaman yang dipaksakan.

Karena itu, menegaskan batas antara wilayah sipil dan militer bukan berarti anti terhadap tentara. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk penghormatan agar militer tetap menjadi institusi yang kuat, profesional, dan terhormat di bidangnya. Negara membutuhkan tentara yang tangguh untuk menjaga perbatasan dan kedaulatan. Tetapi negara juga membutuhkan supremasi sipil yang kokoh agar kekuasaan tidak terkonsentrasi pada satu institusi bersenjata.

kebebasan warga untuk bersuara tanpa rasa takut. Sebab negara yang terlalu bergantung pada pendekatan keamanan lambat laun akan kehilangan kemampuan untuk mendengar rakyatnya sendiri. Reformasi 1998 seharusnya terus dirawat sebagai pengingat bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa banyak aparat hadir di ruang publik, melainkan dari seberapa kuat institusi sipil dan kesadaran demokrasinya mampu berdiri tanpa bayang-bayang senjata.

Reformasi 1998 seharusnya terus diingat bukan sebagai nostalgia politik, melainkan sebagai kesepakatan sejarah: bahwa militer adalah pelindung bangsa di garis pertahanan, bukan pengawas kehidupan sipil warga negara.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Laporan ke Tindakan: A. Abbas dan A. Rudi Buktikan Pelayanan Tanpa Basa-Basi

    Dari Laporan ke Tindakan: A. Abbas dan A. Rudi Buktikan Pelayanan Tanpa Basa-Basi

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Keluhan warga Dusun Taipa, Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, terkait padamnya lampu penerangan jalan akhirnya terjawab. Pemerintah Kabupaten Maros melalui Dinas Perhubungan bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat. Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Maros, H.A. Maskur Abbas, SE,.M.Si., bersama Camat Maros Baru, A. Rudi, S.IP, M.M, menunjukkan respons sigap dengan langsung melakukan penggantian lima […]

  • SulSel darurat perbaikan jalan, Gubernur Paving Blok!!!

    SulSel darurat perbaikan jalan, Gubernur Paving Blok!!!

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros — Provinsi Sulawesi Selatan adalah Provinsi yang paling strategis di pulau Sulawesi namun menyimpang dalam perbaikan jalan. Hampir setiap hari sosial media menjadi media kritik namun gubernur Sulawesi Selatan A. Sudirman Sulaiman lamban dalam menangani kritik yang hadir akan daerahnya Berbeda dengan saudaranya A. Amran Sulaiman selaku menteri Pertanian yang sangat jelas Kinerjanya […]

  • PMD Maros Ungkap Penyebab Dua Desa Belum Serap ADD 100 Persen

    PMD Maros Ungkap Penyebab Dua Desa Belum Serap ADD 100 Persen

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Serapan Alokasi Dana Desa (ADD) di Kabupaten Maros tahun anggaran 2025 hampir mencapai target maksimal. Namun demikian, masih terdapat dua desa yang belum mampu menyerap ADD secara penuh, yakni Desa Tunikamaseang, Kecamatan Bontoa, dan Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Maros, Idrus, mengungkapkan belum maksimalnya serapan […]

  • Kalau Punya Empat Orang Tua, Siapa yang Harus Dibakti? Begini Jawaban Menyejukkan Gus Aniq Play Button

    Kalau Punya Empat Orang Tua, Siapa yang Harus Dibakti? Begini Jawaban Menyejukkan Gus Aniq

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 265
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketika keluarga berubah bentuk, orang tua bercerai, lalu masing-masing menikah lagi yang sering kebingungan bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak. Mereka tumbuh dengan ayah kandung, ibu kandung, sekaligus ayah tiri dan ibu tiri. Lalu pertanyaan muncul: bagaimana cara berbakti dalam keluarga seperti itu? Pertanyaan itulah yang dibahas KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA […]

  • Bentrokan Demonstran Pro-Iran dan Aparat Pecah di Karachi, Puluhan Tewas dan Terluka

    Bentrokan Demonstran Pro-Iran dan Aparat Pecah di Karachi, Puluhan Tewas dan Terluka

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 193
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bentrokan antara demonstran anti-Amerika Serikat dan pasukan keamanan pecah di Karachi, Pakistan, menyusul kabar dugaan serangan AS yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Aksi massa yang awalnya berupa unjuk rasa solidaritas terhadap Iran berubah ricuh ketika aparat berupaya membubarkan kerumunan. Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan polisi antihuru-hara menembakkan gas […]

  • Wali Kota Gorontalo Siapkan Perda LGBT, Adhan Dambea: Tidak Ada Ruang untuk LGBT

    Wali Kota Gorontalo Siapkan Perda LGBT, Adhan Dambea: Tidak Ada Ruang untuk LGBT

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 205
    • 0Komentar

    Adhan menjelaskan, penyusunan regulasi tersebut nantinya akan melibatkan sejumlah pihak, termasuk lembaga adat dan unsur terkait lainnya agar perda yang dirancang memiliki dasar sosial dan hukum yang kuat. Ia menegaskan, regulasi tersebut disiapkan sebagai dasar hukum dalam melakukan penertiban terhadap aktivitas yang dianggap bertentangan dengan visi pemerintah daerah. “Ini akan menjadi dasar hukum menertibkan mereka. […]

expand_less