Apakah Kita Dididik untuk Bertanya atau Sekadar Manggut-Manggut?
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 36
- print Cetak

Muhammad Kamal, Penulis. Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pendidikan seharusnya menjadi ruang paling aman bagi lahirnya gagasan, perdebatan, dan keberanian berpikir. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali berbicara lain. Ruang belajar kita masih dibayangi oleh warisan feodal yang mengekang kebebasan berpikir. Murid dituntut manut, mahasiswa diminta tunduk, sementara guru atau dosen ditempatkan di atas altar otoritas yang tidak boleh dipertanyakan. Ujung-ujungnya, pendidikan gagal memenuhi tugas utamanya untuk membentuk manusia yang kritis dan merdeka.
Budaya feodal ini sering kali menyusup lewat bungkus tak kasat mata, seperti penerapan unggah-ungguh atau sopan santun yang salah kaprah. Kritik dianggap tidak sopan, beda pendapat dicap membangkang, dan debat ilmiah dirasa mengancam wibawa pengajar. Kalau sudah begini, kelas berubah menjadi ruang monolog di mana ilmu hanya mengalir satu arah, dan peserta didik dipaksa jadi penonton pasif yang sekadar manggut-manggut.
Padahal, kalau kita berkaca pada sejarah, ilmu pengetahuan tidak pernah lahir dari kepatuhan mutlak. Sains berkembang karena para ilmuwan berani meragukan teori lama, dan filsafat tumbuh subur dari tradisi bertanya. Tokoh besar seperti Socrates mendidik lewat dialog kritis, sementara Paulo Freire sejak dulu sudah mengkritik model pendidikan yang memperlakukan murid seperti celengan kosong yang hanya diisi hafalan tanpa pernah diajak berpikir. Semua sejarah itu membawa satu pesan jelas bahwa pendidikan yang sehat selalu membutuhkan kebebasan berpikir.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar