Apakah Kita Dididik untuk Bertanya atau Sekadar Manggut-Manggut?
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 40
- print Cetak

Muhammad Kamal, Penulis. Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Masalahnya, di Indonesia, budaya feodal ini berkelindan erat dengan sikap paternalistik. Ada asumsi tak tertulis bahwa sosok pengajar pasti selalu benar. Akibatnya, muncul rasa sungkan yang berlebihan untuk mendebat, bahkan ketika argumen yang disampaikan dosen atau guru jelas-jelas lemah. Situasi ini makin diperparah oleh sistem birokrasi lembaga pendidikan kita yang kerap kali lebih menghargai kepatuhan administratif ketimbang keberanian intelektual.
Dampaknya cukup fatal karena kita akhirnya mencetak generasi yang takut salah dan gamang setiap kali punya opini berbeda. Mereka lebih memilih mencari jawaban aman demi nilai daripada mengasah argumen. Kita sukses melahirkan penghafal yang hebat, tapi gagap saat diajak berpikir kritis. Dalam jangka panjang, ini adalah lampu kuning bagi masa depan demokrasi kita, sebab demokrasi tidak cuma butuh orang-orang pintar bergelar akademis, melainkan warga negara yang berani berdialog dan kritis terhadap kekuasaan.
Ada kontradiksi yang menggelitik ketika dunia akademik sibuk mengampanyekan inovasi, kreativitas, dan kebebasan akademik, namun di saat yang sama atmosfer ketakutan masih dipelihara. Bagaimana mungkin kreativitas bisa tumbuh kalau ruang kelasnya antikritik, dan bagaimana riset bisa berkembang kalau mahasiswa hanya menjadi pelaksana kehendak dosen pembimbing tanpa ruang diskusi yang setara. Di atas kertas kita bicara modernisasi, tapi dalam praktiknya kita masih merawat hierarki yang kaku.
Tentu saja, menghilangkan feodalisme bukan berarti kita kehilangan rasa hormat kepada guru atau dosen. Menghargai pengajar itu wajib, tapi jangan sampai berubah menjadi pengkultusan yang mematikan nalar. Dalam dunia akademik yang sehat, sebuah argumen harus diuji lewat logika dan data, bukan lewat jabatan atau gelar sosial orang yang menyampaikannya. Sudah saatnya kita membebaskan ruang belajar dari intimidasi simbolik ini agar mahasiswa punya ruang untuk berbeda pandangan tanpa perlu takut dicap tidak sopan, dan sebaliknya, dosen serta guru bisa melihat kritik sebagai bagian dari proses belajar bersama, bukan serangan personal pada harga diri mereka.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar