Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Apakah Kita Dididik untuk Bertanya atau Sekadar Manggut-Manggut?

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
  • visibility 282
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Masalahnya, di Indonesia, budaya feodal ini berkelindan erat dengan sikap paternalistik. Ada asumsi tak tertulis bahwa sosok pengajar pasti selalu benar. Akibatnya, muncul rasa sungkan yang berlebihan untuk mendebat, bahkan ketika argumen yang disampaikan dosen atau guru jelas-jelas lemah. Situasi ini makin diperparah oleh sistem birokrasi lembaga pendidikan kita yang kerap kali lebih menghargai kepatuhan administratif ketimbang keberanian intelektual.

Dampaknya cukup fatal karena kita akhirnya mencetak generasi yang takut salah dan gamang setiap kali punya opini berbeda. Mereka lebih memilih mencari jawaban aman demi nilai daripada mengasah argumen. Kita sukses melahirkan penghafal yang hebat, tapi gagap saat diajak berpikir kritis. Dalam jangka panjang, ini adalah lampu kuning bagi masa depan demokrasi kita, sebab demokrasi tidak cuma butuh orang-orang pintar bergelar akademis, melainkan warga negara yang berani berdialog dan kritis terhadap kekuasaan.

Ada kontradiksi yang menggelitik ketika dunia akademik sibuk mengampanyekan inovasi, kreativitas, dan kebebasan akademik, namun di saat yang sama atmosfer ketakutan masih dipelihara. Bagaimana mungkin kreativitas bisa tumbuh kalau ruang kelasnya antikritik, dan bagaimana riset bisa berkembang kalau mahasiswa hanya menjadi pelaksana kehendak dosen pembimbing tanpa ruang diskusi yang setara. Di atas kertas kita bicara modernisasi, tapi dalam praktiknya kita masih merawat hierarki yang kaku.

Tentu saja, menghilangkan feodalisme bukan berarti kita kehilangan rasa hormat kepada guru atau dosen. Menghargai pengajar itu wajib, tapi jangan sampai berubah menjadi pengkultusan yang mematikan nalar. Dalam dunia akademik yang sehat, sebuah argumen harus diuji lewat logika dan data, bukan lewat jabatan atau gelar sosial orang yang menyampaikannya. Sudah saatnya kita membebaskan ruang belajar dari intimidasi simbolik ini agar mahasiswa punya ruang untuk berbeda pandangan tanpa perlu takut dicap tidak sopan, dan sebaliknya, dosen serta guru bisa melihat kritik sebagai bagian dari proses belajar bersama, bukan serangan personal pada harga diri mereka.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Profil Panji Sukma Nugraha, Eks Bendum PB PMII Yang Kini Menjabat Tenaga Ahli Utama Atau Jubir Kantor Staf Presiden RI

    Profil Panji Sukma Nugraha, Eks Bendum PB PMII Yang Kini Menjabat Tenaga Ahli Utama Atau Jubir Kantor Staf Presiden RI

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 544
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Jakarta – Ir. Panji Sukma Nugraha S.T., M.M., IPM., CP merupakan Seorang insinyur kelahiran Balikpapan, 24 Juni 1991 dengan latar belakang pendidikan Sarjana Teknik Elektro dan Magister Manajemen Bisnis. Aktif berkiprah di dunia profesional, organisasi, serta kegiatan bisnis, dengan pengalaman yang memadukan keahlian teknis dan kapasitas manajerial. Dalam dunia prefesional pernah menjabat sebagai Manager […]

  • Ilmu yang Masuk Angin

    Ilmu yang Masuk Angin

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak
    • visibility 293
    • 0Komentar

    Di pesantren, ada petuah sederhana: “Ilmu iku kudu manfaat, nek mung pinter tok yo mblenger.” Ilmu itu harus bermanfaat, kalau cuma pintar saja bisa bikin kembung. Sayangnya, sebagian akademisi hari ini tampak bukan kembung karena terlalu banyak makan, tetapi karena terlalu lama tinggal di menara gading, ruang tinggi, dingin, dan jauh dari sawah, laut, serta […]

  • Sebanyak Delapan RS di Gorontalo Ikuti Reasesment Reviu

    Sebanyak Delapan RS di Gorontalo Ikuti Reasesment Reviu

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Wilayah Gorontalo melakukan re-assesment reviu kelas terhadap delapan rumah sakit yang tersebar di wilayah provinsi tersebut. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari permohonan delapan direktur rumah sakit terkait penyesuaian kelas rumah sakit tahun 2025. Pelaksanaan re-assesment ini disampaikan oleh Kepala […]

  • Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Anggota Karang Taruna Desa Majannang, Akbar Ramadhan, menyampaikan komitmennya untuk mengawal proses pengisian sejumlah jabatan yang saat ini masih kosong di Desa Majannang. Menurutnya, kekosongan beberapa posisi penting di desa harus segera mendapat perhatian serius demi menjaga stabilitas pelayanan dan jalannya pemerintahan desa. Adapun posisi yang menjadi sorotan di antaranya jabatan Kepala […]

  • Pemilihan Duta Anti Narkoba Maros 2025 Tuntas, Wakil Bupati Tekankan Aksi Nyata

    Pemilihan Duta Anti Narkoba Maros 2025 Tuntas, Wakil Bupati Tekankan Aksi Nyata

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros – Rangkaian Pemilihan Duta Anti Narkoba Kabupaten Maros Tahun 2025 resmi berakhir. Grand Final yang digelar di Gedung Serbaguna Pemkab Maros, Sabtu (13/12/2025), melahirkan generasi muda terpilih yang diharapkan menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba di Bumi Turikale. Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Muh Saipul Amry, mahasiswa Universitas Negeri Makassar asal Kecamatan […]

  • Prabowo Kelakar PKB “Harus Diawasi”, Cak Imin: Itu Bercanda

    Prabowo Kelakar PKB “Harus Diawasi”, Cak Imin: Itu Bercanda

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 287
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan soliditas koalisi partai pendukung pemerintah saat menyampaikan taklimat awal tahun 2026 dalam sesi pembuka retret Kabinet Merah Putih di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Selasa (6/1/2026), dikutip nulondalo.com Dalam suasana santai, Prabowo sempat melontarkan kelakar dengan menyebut Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) “harus diawasi terus”. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo […]

expand_less