Relevansi Kritik Pendidikan ala Paulo Freire
- account_circle Multazam. R
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 68
- print Cetak

Ilustrasi ini menggambarkan transformasi pendidikan dari model “gaya bank” yang pasif dan berorientasi hafalan menuju pembelajaran berbasis masalah yang dialogis, kolaboratif, dan kontekstual. Di sisi kiri, terlihat suasana kelas tradisional dengan komunikasi satu arah dan penekanan pada nilai serta hafalan. Sementara di bagian tengah hingga kanan, siswa dan guru berinteraksi aktif, berdiskusi, serta terlibat langsung dengan realitas sosial dan lingkungan. Visual ini menegaskan pentingnya pendidikan yang memanusiakan, mendorong berpikir kritis, kreatif, dan solutif dalam menghadapi tantangan kehidupan (Sumber Gambar AI Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Indikator utama kemajuan sebuah bangsa adalah memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Negara dengan sistem pendidikan yang baik, umumnya memberikan jaminan terhadap mutu proses pembelajaran, masa depan murid, dan menciptakan SDM yang inovatif serta kritis, yang nantinya akan menopang pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial.
Di tengah himpitan arus globalisasi yang bebas nilai, pendidikan di Indonesia masih berkutat pada masalah klasik. Model pendidikan yang mengedepankan hafalan, komunikasi satu arah, dan suasana belajar dialog interaktif yang minim, mengingtkan kita pada model pendidikan banking of education (model pendidikan gaya bank), yang dikritik oleh praktisi pendidikan berkebangsaan Brazil, yakni Paulo Freire.
Kritik atas Model Pendidikan Gaya Bank
Model pendidikan yang ditawarkan Paulo Freire sebagai kritik terhadap banking of education adalah problem based learning (pendidikan berbasis masalah) sangat layak untuk ditelaah. Brazil pada tahun 1960-an, mayoritas penduduknya buta aksara, hak ikut pemilu dikaitkan dengan kemampuan baca-tulis. Sehingga program baca-tulis sering dikaitkan dengan kesadaran politik, meminimalisir masyarakat digunakan sebagai alat kepentingan politik.
Menurutnya, pendidikan tidak pernah lepas dari kepentingan politik, sebab pendidikan menjadi alat untuk merawat ideologi, sebagaimana pemikiran Louis Althusser yang melihat ideologi bekerja melalui Aparatus Ideologis Negara: merawat dan melestarikan ideologi. Dari latar belakang kejadian tersebut, Paulo Freire mengabdikan hidupnya menjadi praktisi pendidikan, menjadikan pendidikan sebagai proses memanusiakan.
Paulo Freire menolak konsep murid sebagai objek atau rekening kosong yang bebas diisi oleh “nasabah” dalam hal ini guru. Menurutnya, model pendidikan seperti itu bersifat hierakis dan non egaliter, dimana guru berperan sebagai subjek aktif sedangkan murid sebagai objek pasif. Dampaknya, pendidikan sebagai instrumen penting bangsa justru malah menghasilkan lulusan kontraproduktif, tandus, dan konservtif. Dalam model pendidikan berbasis masalah, Paulo Freire memperkenalkan istilah konsientisasi: proses membangun kembali kesadaran kritis untuk mengubah kesadaran individu dari tingkat magis menuju kritis.
Freire menyadari model pendidikan gaya bank justru mengekang kebebasan kreativitas murid, dan menafikkan fitrah yang telah Tuhan berikan kepada manusia dengan potensi yang berbeda-beda. Atau lebih tepatnya, pendidikan model bank adalah bagian dari proses dehumanisasi. Kritiknya mula-mulau terkait hakikat guru dan murid. Murid bukan objek, pihak tidak aktif atau menerima dan guru bukan subjek, pemilik pengetahuan, pihak aktif yang bercerita menyampaikan pelajaran.
Lebih dari itu, guru harus berperan sebagai fasilitator atau mitra bagi murid, yang mengembangkan daya kritis, mengeksplor pengetahuannya, memberi stimulus untuk imajinasi murid, sehingga murid mampu berekspresi berdasarkan pemahamannya.
Menemukan Jalan Pendidikan Indonesia
Di Indonesia, model pendidikan yang digunakan masih bergaya bank, dengan instrumen hafalan, pola komunikasi satu arah, dan evaluasi berbasis nilai. Selain itu, tenaga pendidik diberikan beban administrasi kurikulum baru, jam kerja banyak, dan ketimpangan distribusi tenaga pengajar yang tidak merata ditambah upah yang rendah. Model dan kebijakan dalam dunia pendidikan Indonesia semakin memperluas kesenjangan jarak antara harapan, cita-cita dengan realitas pendidikan.
Sehingga harapan mencapai bonus demografi tahun 2045, sebagaimana ramalan akademisi dan kaum intelektual menjadi tidak berdasar. Padahal sumber daya alam (SDA) Indonesia sangat melimpah ruah, sisa bagaimana SDM diberikan vitamin melalui mutu pendidikan yang baik.
- Penulis: Multazam. R

Saat ini belum ada komentar