Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Relevansi Kritik Pendidikan ala Paulo Freire

  • account_circle Multazam. R
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • visibility 246
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Indikator utama kemajuan sebuah bangsa adalah memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Negara dengan sistem pendidikan yang baik, umumnya memberikan jaminan terhadap mutu proses pembelajaran, masa depan murid, dan menciptakan SDM yang inovatif serta kritis, yang nantinya akan menopang pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial.

Di tengah himpitan arus globalisasi yang bebas nilai, pendidikan di Indonesia masih berkutat pada masalah klasik. Model pendidikan yang mengedepankan hafalan, komunikasi satu arah, dan suasana belajar dialog interaktif yang minim, mengingtkan kita pada model pendidikan banking of education (model pendidikan gaya bank), yang dikritik oleh praktisi pendidikan berkebangsaan Brazil, yakni Paulo Freire.

Kritik atas Model Pendidikan Gaya Bank

Model pendidikan yang ditawarkan Paulo Freire sebagai kritik terhadap banking of education adalah problem based learning (pendidikan berbasis masalah) sangat layak untuk ditelaah. Brazil pada tahun 1960-an, mayoritas penduduknya buta aksara, hak ikut pemilu dikaitkan dengan kemampuan baca-tulis. Sehingga program baca-tulis sering dikaitkan dengan kesadaran politik, meminimalisir masyarakat digunakan sebagai alat kepentingan politik.

Menurutnya, pendidikan tidak pernah lepas dari kepentingan politik, sebab pendidikan menjadi alat untuk merawat ideologi, sebagaimana pemikiran Louis Althusser yang melihat ideologi bekerja melalui Aparatus Ideologis Negara: merawat dan melestarikan ideologi. Dari latar belakang kejadian tersebut, Paulo Freire mengabdikan hidupnya menjadi praktisi pendidikan, menjadikan pendidikan sebagai proses memanusiakan.

Paulo Freire menolak konsep murid sebagai objek atau rekening kosong yang bebas diisi oleh “nasabah” dalam hal ini guru. Menurutnya, model pendidikan seperti itu bersifat hierakis dan non egaliter, dimana guru berperan sebagai subjek aktif sedangkan murid sebagai objek pasif. Dampaknya, pendidikan sebagai instrumen penting bangsa justru malah menghasilkan lulusan kontraproduktif, tandus, dan konservtif. Dalam model pendidikan berbasis masalah, Paulo Freire memperkenalkan istilah konsientisasi: proses membangun kembali kesadaran kritis untuk mengubah kesadaran individu dari tingkat magis menuju kritis.

Freire menyadari model pendidikan gaya bank justru mengekang kebebasan kreativitas murid, dan menafikkan fitrah yang telah Tuhan berikan kepada manusia dengan potensi yang berbeda-beda. Atau lebih tepatnya, pendidikan model bank adalah bagian dari proses dehumanisasi. Kritiknya mula-mulau terkait hakikat guru dan murid. Murid bukan objek, pihak tidak aktif atau menerima dan guru bukan subjek, pemilik pengetahuan, pihak aktif yang bercerita menyampaikan pelajaran.

Lebih dari itu, guru harus berperan sebagai fasilitator atau mitra bagi murid, yang mengembangkan daya kritis, mengeksplor pengetahuannya, memberi stimulus untuk imajinasi murid, sehingga murid mampu berekspresi berdasarkan pemahamannya.

Menemukan Jalan Pendidikan Indonesia

Di Indonesia, model pendidikan yang digunakan masih bergaya bank, dengan instrumen hafalan, pola komunikasi satu arah, dan evaluasi berbasis nilai. Selain itu, tenaga pendidik diberikan beban administrasi kurikulum baru, jam kerja banyak, dan ketimpangan distribusi tenaga pengajar yang tidak merata ditambah upah yang rendah. Model dan kebijakan dalam dunia pendidikan Indonesia semakin memperluas kesenjangan jarak antara harapan, cita-cita dengan realitas pendidikan.

Sehingga harapan mencapai bonus demografi tahun 2045, sebagaimana ramalan akademisi dan kaum intelektual menjadi tidak berdasar. Padahal sumber daya alam (SDA) Indonesia sangat melimpah ruah, sisa bagaimana SDM diberikan vitamin melalui mutu pendidikan yang baik.

  • Penulis: Multazam. R

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wagub Gorontalo Tekankan Politik Sejuk di Muswil VI PPP

    Wagub Gorontalo Tekankan Politik Sejuk di Muswil VI PPP

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 439
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, menekankan pentingnya menjaga iklim politik yang sejuk, harmonis, serta memperkuat sinergi antara partai politik dan pemerintah daerah. Hal itu disampaikan saat menghadiri pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Provinsi Gorontalo di Grand Q Hotel Gorontalo, Sabtu (3/1/2026). Dalam sambutannya, Idah menyampaikan apresiasi kepada […]

  • Kuliner Khas Gorontalo : Binte Biluhuta Masih Layakkah Dimakan?

    Kuliner Khas Gorontalo : Binte Biluhuta Masih Layakkah Dimakan?

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 219
    • 0Komentar

    Orang-orang bilang, jika datang ke Gorontalo dan belum pernah menyantap kuliner khas serambi madinah; Binte biluhuta, belum afdol, katanya. Tak lengkap jika belum  merasakan gurihnya sup jagung manis yang dihidangkan bertabur cakalang suir, daun kemangi, dan parutan kelapa itu. Belum lagi, ia ditemani potongan jeruk nipis untuk melengkapi rasa. Seperti biasa ada juga bumbu tambahan […]

  • Runtuhnya Masyarakat Sipil?

    Runtuhnya Masyarakat Sipil?

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 283
    • 0Komentar

    Pada dekade 1990-an, masyarakat sipil di Indonesia menemukan momentumnya. Ia hadir sebagai kekuatan penekan terhadap negara. Organisasi mahasiswa, LSM, kelompok intelektual, hingga komunitas berbasis agama dan budaya membentuk jejaring resistensi yang relatif solid. Dalam konteks itu, masyarakat sipil berfungsi sebagai oposisi ekstra-parlementer—sebuah ruang di mana kritik tidak hanya diproduksi, tetapi juga dikonsolidasikan menjadi gerakan yang […]

  • Dilepas ke Papua, 450 Prajurit Yonif 713 Diingatkan Disiplin dan Profesional

    Dilepas ke Papua, 450 Prajurit Yonif 713 Diingatkan Disiplin dan Profesional

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 287
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebanyak 450 prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 713/Satya Tama resmi diberangkatkan untuk menjalankan misi negara di Papua, Kamis (26/03/2026). Pelepasan ini menjadi momentum penting dalam upaya memperkuat stabilitas keamanan di wilayah Indonesia Timur. Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, hadir langsung memimpin prosesi pelepasan sekaligus memberikan arahan tegas kepada seluruh personel. Ia menekankan pentingnya menjaga disiplin […]

  • Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Kabel Listrik Berserakan di Tanah, Pasar Malam Dusun Taipa Diduga Abaikan Keselamatan Pengunjung

    Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Kabel Listrik Berserakan di Tanah, Pasar Malam Dusun Taipa Diduga Abaikan Keselamatan Pengunjung

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Keselamatan pengunjung pasar malam di Dusun Taipa, Desa Majannang, Kabupaten Maros, patut dipertanyakan. Hasil investigasi wartawan di lapangan menemukan kabel listrik yang menjalar di atas permukaan tanah tanpa pengamanan yang memadai, sehingga dinilai berpotensi membahayakan masyarakat yang datang ke lokasi. Dari pantauan langsung, kabel-kabel listrik terlihat membentang di jalur yang dilalui pengunjung. […]

  • Lailatul Qadar dalam Retorika Kekuasaan

    Lailatul Qadar dalam Retorika Kekuasaan

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Suko Wahyudi
    • visibility 340
    • 0Komentar

    Pada 6 Maret 2026, dalam sebuah acara buka puasa bersama dan peringatan Nuzulul Quran di kantor DPP Partai Golkar di Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, melontarkan sebuah kelakar yang segera menarik perhatian publik. Dalam suasana santai ia mengatakan bahwa bagi Golkar “Lailatul Qadar itu kalau kursi bertambah.” […]

expand_less