Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Waspada Normalisasi Kekerasan

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 128
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Akhir-akhir ini, konten media sosial dipenuhi fenomena yang menggelisahkan: domestifikasi kekerasan. Kekerasan, khususnya dalam rumah tangga, dikemas menjadi hiburan yang mudah dikonsumsi publik. Menariknya, latar rumah tangga dalam video-video ini sangat beragam, mulai dari keluarga mapan, keluarga miskin (terlihat dari kondisi rumah), hingga keluarga yang berpenampilan seperti tokoh agama. Meski biasanya korban kekerasan adalah suami, tidak jarang pula istri menjadi sasaran.

Video seorang istri menggebuk suaminya dengan wadah galon kosong, memukul dengan panci, mengancam dengan parang atau melempar sandal sering kali viral, dan masuk FYP. Penonton berbondong-bondong menonton, memberikan like, komentar, dan membagikan video tersebut. Bagi pembuat konten, cuan pun mengalir deras.

Di permukaan, fenomena ini tampak lucu, ringan, dan menghibur. Ada efek komedi slapstick yang membuat orang tersenyum, seolah-olah kekerasan hanyalah bagian dari lelucon sehari-hari. Meme dan video pendek mengemas situasi yang seharusnya serius menjadi tontonan yang “aman” bagi penonton muda maupun tua. Namun, di balik tawa dan hiburan, tersimpan bahaya serius: normalisasi kekerasan. Kekerasan yang seharusnya dianggap sebagai pelanggaran serius kini dipandang biasa, bahkan diterima sebagai bagian dari “keseharian” digital.

Teori Peter L. Berger tentang social construction of reality bisa digunakan untuk menganalisis fenomena ini. Berger menekankan bahwa realitas sosial bukanlah sesuatu yang secara alami ada, melainkan dibentuk melalui interaksi sosial, simbol, dan komunikasi. Realitas sosial terbentuk ketika individu dan kelompok saling menegosiasikan makna dari pengalaman sehari-hari. Dalam konteks media sosial, penggambaran kekerasan sebagai hiburan secara terus-menerus menciptakan sebuah konstruksi sosial baru: kekerasan tidak lagi dilihat sebagai ancaman atau pelanggaran, tetapi sebagai bagian dari norma yang bisa diterima.

Ketika video kekerasan menjadi viral dan mendapat ribuan like serta komentar yang menertawakan adegan tersebut, masyarakat—terutama generasi muda—mulai menginternalisasi bahwa kekerasan itu normal, wajar, atau sekadar drama yang bisa ditertawakan. Media sosial, dalam hal ini, berfungsi sebagai institusi yang memperkuat konstruksi realitas tersebut. Visualisasi viral, jumlah like, komentar, dan share bukan sekadar indikator popularitas, tetapi menjadi semacam “legitimasi sosial” bagi perilaku kekerasan. Berger menjelaskan bahwa proses institusionalisasi semacam ini membuat perilaku atau fenomena sosial tampak sah dan diterima, bahkan ketika secara etika atau hukum hal itu salah.

Lebih lanjut, apa yang dulunya tabu kini didesain ulang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan karena norma hukum atau moral berubah, tetapi karena interaksi sosial secara online menciptakan reality frame baru. Orang-orang cenderung menerima realitas yang dikonstruksi sosial tanpa pertanyaan kritis, terutama jika realitas itu terus-menerus muncul dalam lingkaran sosial mereka. Inilah yang terjadi pada kekerasan “lucu-lucuan” di media sosial: tawa menutupi pelanggaran, like menutupi trauma, dan FYP menutupi bahaya jangka panjang yang ditimbulkan pada korban maupun penonton yang terbiasa dengan kekerasan.

Selain itu, normalisasi ini memiliki efek yang lebih luas pada persepsi publik. Kekerasan yang direpresentasikan secara ringan dapat mengubah cara masyarakat melihat hubungan gender, kekuasaan dalam rumah tangga, dan batas-batas perilaku yang dapat diterima. Fenomena ini juga membentuk budaya digital di mana kekerasan dipandang sebagai hiburan, sehingga semakin sulit untuk menegakkan kesadaran kritis atau norma moral yang sehat. Konstruksi realitas semacam ini bukan hanya terjadi dalam kasus domestik, tetapi juga dapat menular ke ranah sosial lain: bullying di sekolah, kekerasan antar teman, dan bahkan perilaku kekerasan di masyarakat bisa mulai dianggap “biasa” karena telah diterima dalam ranah digital.

Maka, kita perlu waspada. Menonton, menertawakan, atau membagikan video kekerasan bukan sekadar hiburan—ia berpotensi menjadi partisipasi dalam normalisasi kekerasan. Kesadaran kritis menjadi kunci untuk menahan diri dari menyebarkan fenomena ini. Mengingat teori Berger, masyarakat harus mampu membedakan antara apa yang dikonstruksi sebagai realitas di media sosial dan realitas yang sehat secara etis dan sosial. Tidak semua yang viral mencerminkan nilai-nilai yang benar atau pantas dijadikan norma sosial, dan tidak semua yang lucu aman untuk dijadikan acuan perilaku.

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dua Bocah SD Salurkan Donasi, Jamil: Anak Sekecil Itu Memang Sangat Menggetarkan Batin

    Dua Bocah SD Salurkan Donasi, Jamil: Anak Sekecil Itu Memang Sangat Menggetarkan Batin

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Tepat pada Senin, 1 Desember 2025 pukul 10 pagi WIB, di sebuah posko penggalangan donasi bencana alam yang terjadi di Sumbar, Sumut dan Aceh yang berlokasi di kantor PB PMII, Dua anak berseragam SD datang membawa pesan moral. Dengan tangan mungil yang belum mengenal rumitnya dunia Mereka menyerahkan uang lima ribu rupiah. Nilai […]

  • Studi Ungkap “Jam Kematian Sel”: Ukuran Nukleolus Bisa Prediksi Penuaan

    Studi Ungkap “Jam Kematian Sel”: Ukuran Nukleolus Bisa Prediksi Penuaan

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 362
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sebuah studi terbaru mengungkap mekanisme baru yang mengatur proses penuaan pada tingkat sel. Para ilmuwan menemukan bahwa ukuran nukleolus, struktur kecil di dalam inti sel, dapat menjadi indikator kapan sebuah sel mendekati akhir masa hidupnya. Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Weill Cornell Medicine menunjukkan bahwa perubahan ukuran nukleolus dapat memengaruhi stabilitas bagian […]

  • Korupsi, Pemakzulan, dan Ketegasan Moral

    Korupsi, Pemakzulan, dan Ketegasan Moral

    • calendar_month Kamis, 25 Agt 2022
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Pada suatu kesempatan, Kamis, 15 Mei 2015, Rais Syuriyah PBNU Masdar F. Mas’udi dimintai pandangannya terkait hukum pemakzulan kepala negara, kepala daerah, atau pejabat publik lain yang terbukti terlibat dalam pelanggaran kemanusiaan. Menurut Kiai Masdar, karena Indonesia adalah negara hukum, mekanisme pemakzulan terhadap pejabat publik yang bermasalah tentu dimungkinkan. Argumentasi ini, kata dia, bahkan dapat […]

  • Ketika Hujan Turun: Ini Doa dan Amalan yang Dianjurkan Rasulullah

    Ketika Hujan Turun: Ini Doa dan Amalan yang Dianjurkan Rasulullah

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Hujan merupakan rahmat dan berkah dari Allah SWT. Dalam ajaran Islam, turunnya hujan bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga momen istimewa yang mengandung keberkahan dan doa yang mustajab. Rasulullah SAW banyak mencontohkan doa dan amalan yang bisa dilakukan saat hujan turun. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam yang berpijak pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, turut […]

  • PCINU Jerman Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    PCINU Jerman Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 190
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Dengan demikian, ibadah puasa dimulai pada hari tersebut dan salat Tarawih pertama dilaksanakan Rabu malam, 18 Februari 2026. Pengumuman itu disampaikan melalui akun Instagram resmi PCINU Jerman dan dikutip nulondalo.com, Selasa (17/2/2026). Ketua PCINU Jerman, Miftah […]

  • Nihayatul Wafiroh Resmikan Kantor Baru DPW PKB Gorontalo

    Nihayatul Wafiroh Resmikan Kantor Baru DPW PKB Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, menghadiri peresmian Sekretariat Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Gorontalo, Selasa (12/8/2025). Acara berlangsung di kantor baru PKB di Jalan KH. Adam Zakaria, Dembe II, Kota Gorontalo. Dalam sambutannya, Nihayatul menyampaikan selamat kepada jajaran pengurus DPW PKB atas peresmian sekretariat baru. Ia berharap ke depan […]

expand_less