Breaking News
dark_mode
Trending Tags

NU di Persimpangan Jalan: Analisis Geopolitik dan Sosio-Keagamaan

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
  • visibility 297
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar di dunia tengah menghadapi ujian eksistensial yang menempatkannya pada persimpangan jalan sejarah yang krusial. Memasuki akhir tahun 2025, organisasi ini terjebak dalam pusaran konflik internal yang melibatkan dua pilar utamanya, jajaran Syuriyah yang merepresentasikan otoritas ulama dan jajaran Tanfidziyah sebagai pelaksana organisatoris. Ketegangan ini bukan sekadar perselisihan administratif biasa, melainkan manifestasi dari pergeseran paradigma kepemimpinan dan orientasi ekonomi organisasi yang telah berlangsung sejak Muktamar ke-34 di Lampung.

Puncak dari krisis ini ditandai dengan pernyataan keras Rais Aam KH Miftachul Akhyar yang menghentikan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dari jabatan Ketua Umum PBNU per 26 November 2025, sebuah langkah yang segera memicu dualisme kepemimpinan di tingkat pusat. Fenomena ini mencerminkan krisis legitimasi yang mendalam, di mana batas-batas wewenang antara Syuriyah dan Tanfidziyah menjadi medan tempur interpretasi konstitusi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.

Konflik ini diperparah oleh kebijakan strategis PBNU dalam menerima konsesi tambang batu bara dari pemerintah, yang kemudian menjadi instrumen polarisasi di kalangan elit dan warga Nahdliyin. Sementara faksi Tanfidziyah memandangnya sebagai langkah revolusioner menuju kemandirian ekonomi, faksi oposisi dan sejumlah kiai sepuh melihatnya sebagai ancaman terhadap integritas moral dan spiritual NU yang dapat menjauhkan organisasi dari Khittah 1926.

Implikasi dari krisis ini sangat luas, mencakup risiko degradasi reputasi internasional NU, ketidakpastian tata kelola organisasi di tingkat wilayah dan cabang, hingga potensi perubahan peta jalan ekonomi ormas keagamaan di Indonesia.

Kepemimpinan di tubuh NU secara tradisional didasarkan pada prinsip kepemimpinan kolektif-kolegial yang menempatkan Syuriyah sebagai pengarah tertinggi dan Tanfidziyah sebagai pelaksana. Namun, dinamika yang berkembang di bawah kepemimpinan Gus Yahya dinilai oleh sebagian pihak telah melampaui batas-batas konsultatif yang lazim.

Pada 20 November 2025, Rapat Harian Syuriyah mengeluarkan risalah yang menuntut pengunduran diri Gus Yahya atas dasar beberapa poin pelanggaran serius, termasuk keterlibatan dalam jaringan internasional yang kontroversial dan indikasi ketidakterbukaan dalam tata kelola keuangan. Ketika ultimatum tiga hari untuk mengundurkan diri tidak dipenuhi, Rais Aam secara resmi mencabut mandat Gus Yahya pada 26 November 2025 pukul 00.45 WIB.

Penolakan Gus Yahya terhadap keputusan tersebut didasarkan pada argumen hukum bahwa Rapat Harian Syuriyah tidak memiliki wewenang konstitusional untuk memberhentikan Ketua Umum yang dipilih oleh forum Muktamar. Gus Yahya menegaskan bahwa secara de jure dan de facto, dirinya tetap menjabat hingga akhir periode kepengurusan pada 2026 atau 2027.Ketidaksinkronan ini menciptakan kekosongan otoritas yang diakui secara universal di dalam organisasi. Di satu sisi, Rais Aam memegang supremasi moral dan fatwa, sementara di sisi lain, Ketua Umum memegang kendali administratif dan infrastruktur organisasi di Kramat Raya.

Krisis ini mencapai puncaknya dengan penunjukan KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum melalui Rapat Pleno di Hotel Sultan pada Desember 2025. KH Zulfa Mustofa, yang merupakan keponakan dari KH Ma’ruf Amin, diposisikan sebagai jembatan untuk menormalisasi organisasi dan mempersiapkan Muktamar 2026. Namun, dualisme ini tetap membeku karena kubu Gus Yahya menganggap rapat pleno tersebut ilegal dan tidak mewakili aspirasi seluruh elemen NU

Perpecahan di tingkat pusat memiliki implikasi sosio-legal yang rumit bagi kepengurusan di tingkat wilayah (PWNU) dan cabang (PCNU). Berdasarkan data dari lapangan, terjadi divergensi sikap yang cukup tajam. PWNU se-Indonesia dalam pertemuan di Surabaya secara terbuka menolak pengunduran diri Gus Yahya dan menyatakan loyalitas pada hasil Muktamar Lampung. Di Yogyakarta, PWNU dan PCNU se-DIY mengeluarkan pernyataan sikap untuk tetap berpegang pada struktur kepemimpinan hasil Muktamar, sembari mengimbau adanya upaya tabayyun (klarifikasi) dan ishlah (perdamaian) demi menjaga kehormatan organisasi.

Namun, penunjukan KH Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketua Umum oleh faksi Hotel Sultan menciptakan dualisme administratif yang nyata. Hal ini berpotensi membekukan proses administrasi organisasi, seperti penerbitan Surat Keputusan (SK) kepengurusan di tingkat bawah, yang memerlukan tanda tangan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal yang sah.

Jika Kementerian Hukum dan HAM memutuskan untuk mengesahkan kepengurusan baru versi Rapat Pleno Hotel Sultan, maka kubu Gus Yahya akan kehilangan legitimasi hukum negara, meskipun mungkin tetap memegang legitimasi kultural dari mayoritas PWNU. Sebaliknya, jika pemerintah tetap mengakui Gus Yahya, maka otoritas Rais Aam sebagai penjaga moral organisasi akan terdelegitimasi secara sistemis.

Dalam perspektif sosiologi agama, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran dari kepemimpinan yang berpusat pada kiai karismatik (Syuriyah) menuju kepemimpinan birokratis-profesional (Tanfidziyah) yang didukung oleh sumber daya ekonomi besar. Krisis 2025 adalah resistensi dari struktur tradisional (Syuriyah) terhadap akselerasi modernisasi dan “politisasi” yang dianggap terlalu jauh dilakukan oleh sayap Tanfidziyah.

Soal tambang, jika dikembalikan ke negara, NU perlu memperkuat strategi ekonomi berbasis komunitas dan syariah yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Misalnya membangun jaringan pusat perkulakan di 250 lokasi di seluruh Indonesia untuk memotong rantai distribusi pangan, optimalisasi Baitul Maal wat Tamwil di tingkat pesantren dan cabang sebagai motor penggerak ekonomi mikro, transformasi aset tanah wakaf menjadi unit usaha produktif seperti rumah sakit, ritel, atau property, pembangunan marketplace komunitas untuk memasarkan produk santri dan warga lokal ke pasar yang lebih luas serta mengembangkan unit usaha pesantren di bidang agribisnis, jasa, dan industri kreatif.

Kembalinya fokus pada ekonomi berbasis umat dianggap lebih selaras dengan jati diri NU sebagai organisasi “rakyat” daripada mengandalkan konsesi tambang yang elitis dan penuh risiko. Langkah ini, meskipun lambat secara akumulasi modal, dinilai lebih memiliki “keberkahan” dan daya tahan jangka panjang dalam menghadapi fluktuasi politik dan ekonomi global.

Polemik di PBNU pada tahun 2025 ini juga harus dilihat dalam konteks geopolitik nasionalIndonesia. Sebagai ormas dengan basis massa sekitar 100 juta jiwa, stabilitas NU adalah variabel penting bagi stabilitas nasional. Konflik internal yang berlarut-larut dapat melemahkan peran NU sebagai pilar moderasi beragama (wasathiyah) di tengah tantangan radikalisme dan polarisasi politik. Pemerintah Indonesia, yang awalnya memberikan konsesi tambang sebagai bentuk apresiasi dan upaya merangkul NU, kini berada dalam posisi dilematis antara mendukung status quo atau memfasilitasi rekonsiliasi.

Secara internasional, polemik mengenai kunjungan atau hubungan dengan jaringan Zionisme yang menjadi salah satu dasar pemberhentian Gus Yahya menunjukkan betapa sensitifnya posisi NU dalam isu Palestina-Israel di mata konstituen domestik. Masa depan NU akan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam melakukan navigasi di antara kepentingan diplomasi global yang modern dengan sentimen keagamaan yang tradisional-nasionalistik. Wallahu a’alam.

Penulis Tenaga Pengajar di Universitas Negeri Gorontalo

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Adab di Atas Algoritma

    Adab di Atas Algoritma

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Ahmad Kadir
    • visibility 515
    • 0Komentar

    Zaman terus bergerak. Teknologi melaju tanpa menunggu siapa pun. Informasi datang bertubi-tubi, nyaris tanpa jeda untuk berpikir. Apa yang dulu dibahas berjam-jam di pesantren, melalui kitab, halaqah-halaqah, dan bimbingan guru namun hari ini kerap hadir dalam potongan video berdurasi tiga puluh detik. Cepat, ringkas, tetapi sering kali tidak utuh. Di tengah arus itu, santri hidup […]

  • Tanggapi Polemik Mananggu Cup, Ketua Panitia Ajak Semua Pihak Bersikap Bijak

    Tanggapi Polemik Mananggu Cup, Ketua Panitia Ajak Semua Pihak Bersikap Bijak

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • account_circle Faisal Husuna
    • visibility 94
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM – MANANGGU – Turnamen sepak bola Mananggu Cup 1 yang direncakan pada bulan November 2026 mendatang mulai menuai polemik, utamanya mengenai sumber anggaran. Ketua Panitia Noldy Biya mengajak semua pihak agar menyikapinya dengan bijak. Sebab menurutnya, perbedaan pandangan, ada pihak yang suka atau tidak suka terhadap turnamen, itu hal yang biasa. Kata dia, dinamika […]

  • Akuntansi Langit

    Akuntansi Langit

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 372
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan dua jenis laporan keuangan: laporan keuangan dunia dan laporan keuangan langit. Yang pertama disusun dengan standar PSAK, direviu auditor, lalu dipresentasikan dengan PowerPoint penuh grafik naik-turun. Yang kedua? Disusun tanpa Excel, tanpa auditor eksternal, tapi konon auditornya langsung Malaikat. Dan yang paling menegangkan, opini yang keluar bukan WTP, melainkan “diterima” atau “perlu […]

  • Pelantikan Massal IKA PMII se-Gorontalo Usung Tema “Sahabat Pangan”

    Pelantikan Massal IKA PMII se-Gorontalo Usung Tema “Sahabat Pangan”

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan  Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII), Drs. H. Fathan Subhi, M.AP., melantik pengurus cabang IKA PMII se-Provinsi Gorontalo. Acara tersebut dihadiri Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, para kepala daerah kabupaten/kota, Rektor Universitas Gorontalo, Ketua PWNU Gorontalo, serta anggota DPRD Provinsi, Senin (11/8/2025), Aston Hotel. Ketua Pengurus Wilayah IKA PMII […]

  • Supremasi Sipil: Sebuah Refleksi Tentang Realitas dan Harapan

    Supremasi Sipil: Sebuah Refleksi Tentang Realitas dan Harapan

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Di banyak tempat, kita sering mendengar narasi tentang supremasi sipil, sebuah konsep di mana masyarakat sipil—atau masyarakat yang bebas dari pengaruh langsung negara atau militer—dianggap sebagai entitas yang memegang kendali atas jalannya pemerintahan. Idealnya, masyarakat sipil adalah ruang di luar struktur formal negara, tempat kebebasan berkembang dan hak-hak individu dihargai. Namun, bagaimana jika kenyataannya tidak […]

  • Diduga Belum Memiliki Izin Lokasi, KOPRA INSTITUT Soroti PT. Pangkatan Indonesia

    Diduga Belum Memiliki Izin Lokasi, KOPRA INSTITUT Soroti PT. Pangkatan Indonesia

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Komite Perjuangan Rakyat (KOPRA) INSTITUT, menyoroti PT. Pangkatan Indonesia salah satu perusahan kelapa sawit yang beroperasi di wilayah desa Tanjung Siram Billah Hulu kabupaten Labuhanbatu. Perusahan ini di duga belum memiliki izin lokasi dan perizinan kebun. Ketua Bidang Kajian Lingkungan KOPRA INSTITUT Julkifli mengungkapkan bahwa berdasarkan data dan informasi yang ia peroleh ada dugaan PT. […]

expand_less