Puasa dan Neraca Hati
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
- visibility 163
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan selalu datang seperti auditor independen: tidak bisa disuap, tidak bisa dinegosiasi, dan tidak menerima “opini titipan”. Ia hadir untuk memeriksa sesuatu yang sering luput dari laporan keuangan yakni neraca hati. Kalau dalam akuntansi kita mengenal aset, liabilitas, dan ekuitas, maka dalam puasa kita mengenal sabar sebagai aset, nafsu sebagai liabilitas, dan takwa sebagai ekuitas spiritual.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan diri dari “rekayasa laporan batin”. Humor ala pesantren sering berkata: yang batal itu bukan cuma makan dan minum, tapi juga pamer kebaikan. Kalau di laporan keuangan ada creative accounting, dalam ibadah ada creative piety tampak saleh di luar, tapi hatinya masih defisit.
Almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengajarkan bahwa agama jangan dibawa terlalu tegang. Kalau terlalu tegang, yang ada bukan khusyuk tapi keram. Maka Ramadhan seharusnya menjadi momentum relaksasi moral. Kita diajak menertawakan diri sendiri: sudah puasa 15 hari, tapi marahnya masih seperti belum sahur. Sudah tarawih 20 rakaat, tapi komentar di media sosial tetap 40 halaman.
Dalam perspektif akuntansi, puasa adalah sistem pengendalian internal (internal control) yang paling efektif. Tidak ada CCTV di kamar, tidak ada auditor di dapur, tetapi kita tetap tidak minum. Artinya, mekanisme kontrol itu berbasis kesadaran, bukan pengawasan. Ini pelajaran penting bagi tata kelola publik. Korupsi terjadi bukan karena kurang aturan, tetapi karena kurang iman yang konsisten.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar