Puasa dan Neraca Hati
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
- visibility 164
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gus Dur pernah menyindir, “Tuhan tidak perlu dibela.” Dalam konteks Ramadhan, mungkin bisa ditambahkan: Tuhan juga tidak perlu laporan laba-rugi yang dimanipulasi. Ibadah bukan soal pencitraan. Jika dalam audit dikenal opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), maka dalam kehidupan spiritual, yang kita harapkan adalah “Wajar Tanpa Pameran”.
Pada akhirnya, puasa adalah proses tutup buku tahunan bagi hati. Kita menghitung ulang: berapa banyak sabar yang bertambah, berapa banyak amarah yang berkurang, berapa besar empati yang tumbuh. Jika neraca menunjukkan surplus kesombongan dan defisit kepedulian, maka perlu dilakukan koreksi jurnal.
Ramadhan mengajarkan bahwa akuntansi bukan sekadar teknik pencatatan, melainkan etika pertanggungjawaban. Bukan hanya kepada publik, tetapi kepada Tuhan dan nurani. Di sinilah humor menjadi penting agar kita tidak merasa paling suci. Kita tertawa, lalu merenung. Kita bercanda, lalu berbenah.
Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan berapa kali kita berbuka dengan menu lengkap, tetapi apakah hati kita ikut berbuka dari keserakahan. Dan mungkin, di situlah makna terdalam puasa: menyusun neraca hati yang jujur, transparan, dan siap diaudit bukan oleh manusia, tetapi oleh Yang Maha Mengetahui.
Penulis : Dosen/Ekonom Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar