Puasa dan Neraca Hati
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
- visibility 165
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan juga mengajarkan konsep materialitas. Dalam audit, sesuatu dianggap material jika memengaruhi keputusan pengguna laporan. Dalam puasa, hal kecil seperti satu teguk air menjadi sangat material. Di luar Ramadhan mungkin kita menyepelekan gosip, fitnah, atau komentar kasar. Namun saat puasa, semua itu menjadi signifikan karena memengaruhi kualitas ibadah. Artinya, standar materialitas moral kita dinaikkan.
Mari kita bicara neraca hati. Aset spiritual kita bertambah melalui zakat, infak, sedekah, dan amal sosial. Tetapi liabilitas batin juga bisa meningkat melalui riya, ujub, dan merasa paling benar. Banyak orang rajin membayar zakat, tetapi lupa mencatat kewajiban sosial lainnya: empati, kejujuran, dan tanggung jawab publik. Dalam bahasa sederhana, jangan sampai saldo pahala kita habis untuk membayar bunga kesombongan.
Humor ala Nahdliyin sering mengingatkan: “Setan diikat, tapi manusia masih kreatif.” Ini sindiran halus namun tajam. Dalam teori fraud triangle, ada tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Ramadhan mengurangi kesempatan karena atmosfer religius meningkat. Namun jika rasionalisasi tetap dipelihara (“ah, semua orang juga begitu”), maka fraud tetap berjalan. Artinya, puasa adalah latihan integritas, bukan sekadar ritual.
Konsep going concern dalam akuntansi mengasumsikan bahwa entitas akan terus beroperasi. Pertanyaannya: apakah ibadah kita juga going concern, atau hanya seasonal seperti diskon Lebaran? Ramadhan sering menjadi bulan “kejar target”, tetapi setelah Syawal, laporan spiritual kita kembali stagnan. Padahal tujuan puasa adalah membangun sustainability takwa, bukan euforia temporer.
Di sisi lain, Ramadhan mengajarkan distribusi kekayaan yang lebih adil. Zakat fitrah, misalnya, bukan hanya kewajiban fikih, tetapi instrumen redistribusi ekonomi. Dalam kacamata akuntansi publik, ini adalah bentuk akuntabilitas sosial. Kita tidak boleh puas dengan laporan surplus pribadi sementara tetangga masih defisit pangan. Neraca hati yang sehat adalah yang seimbang antara kepentingan individu dan kepentingan kolektif.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar