Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ramadan: Bulan Ketercelupan Ontologis dalam Sibghah Ilahi

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 30 Mar 2025
  • visibility 203
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Prolog: Warna yang Mengubah Jiwa

Bayangkan selembar kain putih yang dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Semakin lama ia terendam, semakin pekat warna yang menyatu dengan serat kain itu. Begitu pula dengan manusia di bulan Ramadan, ia tercelup dalam keheningan ibadah, dalam doa yang mendalam, dalam puasa yang meluruhkan kerak-kerak duniawi.

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah ketercelupan ontologis, di mana jiwa manusia menyerap esensi ilahi dan terlahir kembali dengan warna spiritual yang lebih dalam. Dalam perspektif Islam, konsep ini dikenal sebagai sibghah, suatu celupan ilahiah yang mengubah hakikat seseorang.

Namun, ketercelupan ini tidak terjadi secara instan. Seperti seorang seniman yang mencelupkan kuasnya berulang kali ke dalam warna untuk menciptakan lukisan yang hidup, manusia pun harus melalui proses panjang yang mencakup refleksi, pengendalian diri, dan kesadaran penuh terhadap makna keberadaannya.

Ramadan menjadi laboratorium spiritual di mana seseorang diuji bukan hanya dalam menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dalam mengendalikan ego dan hawa nafsu. Dalam momen-momen keheningan saat sahur dan berbuka, dalam tarawih yang menghidupkan malam, dalam sedekah yang melapangkan hati—di sanalah terjadi transformasi mendalam yang mengakar ke dalam jiwa.

Lebih dari sekadar ibadah, Ramadan mengajarkan manusia untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ia mengajarkan kita bahwa manusia bukan sekadar makhluk biologis yang membutuhkan makanan dan minuman, tetapi juga entitas spiritual yang harus dipelihara dengan ibadah dan kepedulian terhadap sesama. Dengan setiap detik yang dilewati dalam bulan suci ini, manusia semakin larut dalam warna ilahi, meninggalkan jejak-jejak duniawi, dan berusaha meraih pencerahan yang lebih tinggi.

Ramadan dan Celupan Ilahi: Menyelami Makna Sibghah

Dalam Al-Qur’an, sibghah disebut dalam QS. Al-Baqarah: 138:
“Celupan Allah, dan siapakah yang lebih baik sibghah-nya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya kami menyembah.”

Para ulama menafsirkan sibghah sebagai pewarnaan jiwa manusia dengan nilai-nilai ketuhanan. Ibnu Katsir mengartikannya sebagai bentuk ketundukan total kepada Allah, sementara Fakhruddin Al-Razi mengaitkannya dengan perubahan esensial yang membentuk karakter spiritual seseorang. Dalam tafsir Raghib Al-Isfahani, sibghah adalah kondisi tetap yang muncul setelah manusia menyerap hakikat ilahi.

Murtadha Muthahhari menafsirkan sibghah sebagai proses internalisasi nilai-nilai ketuhanan yang tidak hanya berdampak pada aspek spiritual individu, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku sosialnya. Baginya, Ramadan adalah waktu di mana manusia mengalami “pencelupan ulang” dalam sifat-sifat Tuhan, sehingga keluar dari bulan ini dengan kepribadian yang lebih sempurna.

Sementara itu, Allamah Thabaththabai dalam tafsirnya menekankan bahwa sibghah adalah kondisi ontologis yang menunjukkan hubungan erat antara manusia dan Tuhan. Ramadan, dalam perspektifnya, adalah saat ketika manusia bisa mencapai tingkat eksistensi yang lebih tinggi, di mana kesadaran akan kehadiran Tuhan menjadi lebih dominan daripada keterikatan pada dunia material.

Jika demikian, Ramadan adalah proses pencelupan yang memungkinkan manusia menyerap warna ketuhanan secara lebih dalam. Puasa, shalat malam, tilawah Al-Qur’an, dan refleksi diri bukan sekadar ibadah formal, melainkan medium untuk meresapkan sifat-sifat ilahi ke dalam eksistensi manusia. Sebagaimana kain yang berubah warna setelah dicelupkan, manusia yang menjalani Ramadan dengan kesadaran penuh akan keluar dari bulan ini dengan diri yang berbeda.

Ramadan sebagai Ketercelupan Ontologis

Ketercelupan dalam spiritualitas Ramadan bukan hanya metafora, tetapi juga realitas eksistensial. Puasa, misalnya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembebasan diri dari kecenderungan material yang menghalangi seseorang mencapai kesadaran ruhani. Dalam perspektif filsafat Islam, ini merupakan bentuk transformasi ontologis, yaitu perubahan hakikat manusia dari tingkat keberadaan yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi.

Selain itu, Ramadan juga berfungsi sebagai momen penghapusan ego, di mana manusia menanggalkan identitas-identitas superfisialnya dan kembali kepada fitrah murni yang lebih dekat dengan Tuhan. Dalam ketercelupan ini, manusia belajar untuk tidak lagi dikendalikan oleh hawa nafsu, melainkan diarahkan oleh nur ilahi yang membimbing setiap langkahnya. Dengan kata lain, Ramadan menjadi wadah untuk mengaktifkan potensi ruhani yang selama ini terpendam di bawah lapisan kesibukan duniawi.
Lebih jauh lagi, ketercelupan ontologis ini tidak hanya berdampak pada individu secara personal, tetapi juga pada tatanan sosial. Ramadan menciptakan suasana kolektif yang penuh dengan kepedulian, empati, dan solidaritas.

Dalam kesadaran spiritual yang mendalam, manusia melihat dirinya sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih besar, di mana setiap tindakan memiliki resonansi moral dan spiritual. Dengan demikian, ketercelupan dalam Ramadan bukan hanya membentuk individu yang lebih baik, tetapi juga komunitas yang lebih harmonis dan penuh kasih sayang.

Ramadan dan Identitas Spiritual: Warna yang Bertahan

Ketercelupan dalam warna ilahi selama Ramadan bukanlah sesuatu yang bersifat sementara. Sebagaimana pewarna alami yang menyerap hingga ke dalam serat kain, perubahan spiritual yang terjadi selama bulan suci ini seharusnya meresap dalam keseharian manusia. Ramadan bukan hanya tentang berpuasa sebulan penuh, tetapi tentang bagaimana pengalaman itu membentuk karakter seseorang setelahnya. Seorang yang telah merasakan kedalaman ibadah dan refleksi dalam Ramadan seharusnya membawa serta pengalaman itu ke dalam sebelas bulan berikutnya.

Transformasi spiritual yang terjadi dalam Ramadan menciptakan identitas baru bagi manusia, di mana kesadaran akan kehadiran Tuhan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidupnya. Ibadah yang dilakukan bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan yang muncul dari kesadaran batin yang lebih tinggi. Puasa, shalat, dan amal kebaikan menjadi ekspresi dari jiwa yang telah tersentuh oleh warna ilahi. Dalam pandangan ini, sibghah bukan hanya perubahan sementara, tetapi fondasi bagi pola hidup yang lebih suci dan bermakna.

Mempertahankan warna ilahi ini bukanlah hal yang mudah. Setelah Ramadan berakhir, manusia akan kembali berhadapan dengan distraksi duniawi yang dapat mengikis perubahan yang telah terjadi. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk senantiasa menjaga intensitas hubungan spiritualnya. Dzikir, doa, dan kebiasaan baik yang diperoleh selama Ramadan harus dijaga agar warna ilahi yang telah menyatu dengan jiwanya tidak memudar. Sebagaimana seorang seniman yang terus memperkuat warna dalam lukisannya, manusia pun harus terus memperbarui ketercelupannya dalam spiritualitas agar tetap berada dalam cahaya kebenaran.

Ketika Ramadan berlalu, pertanyaannya bukanlah apakah seseorang telah berhasil menyelesaikan puasanya, tetapi apakah dirinya telah benar-benar berubah? Sebab Ramadan bukan hanya bulan yang datang dan pergi, tetapi jejak yang mengubah perjalanan manusia dalam mendekati Tuhan. Ramadan adalah celupan yang tidak hanya mewarnai sejenak, tetapi harus meresap dalam kehidupan sehari-hari. Jika benar-benar terserap, warna itu tidak akan pudar, melainkan terus menerangi jalan menuju kebenaran dan kedekatan dengan Tuhan.

Catatan: Istilah Ketercelupan Ontologis saya kutip dari diksi yang sering dilontarkan oleh Kanda Prof. Mohammad Sabri Ar

Oleh : Dr. Sabara Nuruddin – Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KH. Asrul Lasapa Ajak Personel Polda Gorontalo Jaga Amanah Lewat Binrohtal

    KH. Asrul Lasapa Ajak Personel Polda Gorontalo Jaga Amanah Lewat Binrohtal

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Wakil Katib PWNU Gorontalo KH. Asrul Lasapa hadir memberikan ceramah dalam kegiatan Pembinaan Rohani dan Mental (Binrohtal) yang rutin digelar oleh Polda Gorontalo, Rabu pagi (6/8/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Polda Gorontalo dalam menumbuhkan karakter personel yang berintegritas, profesional, dan berakhlak mulia. Binrohtal dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu dan melibatkan seluruh personel […]

  • EduArt Exhibition 2026 Jilid XI Digelar di UNG, Hadirkan “Satu Ruang Seribu Bahasa Visual”

    EduArt Exhibition 2026 Jilid XI Digelar di UNG, Hadirkan “Satu Ruang Seribu Bahasa Visual”

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Fitri Nur'aini
    • visibility 160
    • 0Komentar

    BONE BOLANGO, NULONDALO.COM – Himpunan Mahasiswa Jurusan Seni Rupa dan Desain (HMJ SRD), Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG), menggelar pameran seni rupa tingkat nasional bertajuk EduArt Exhibition 2026 Jilid XI dengan tema “Satu Ruang Seribu Bahasa Visual”. Pameran tahunan tersebut berlangsung pada 24–30 September 2026 di gerbang depan Kampus IV Universitas Negeri Gorontalo, Bone […]

  • Sidak Subuh di SPPG Boalemo, Wagub Gorontalo Temukan Sejumlah Pelanggaran Higienitas MBG

    Sidak Subuh di SPPG Boalemo, Wagub Gorontalo Temukan Sejumlah Pelanggaran Higienitas MBG

    • calendar_month Rabu, 17 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 283
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Gorontalo kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Rabu pagi (17/12/2025). Kali ini, sidak dilakukan di SPPG Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo. Tepat pukul 04.30 Wita, Wagub Idah bersama Tim Satgas MBG […]

  • Wali Kota Adhan Dambea Ubah Jam Kerja Guru, Mulai Berlaku 1 April 2026

    Wali Kota Adhan Dambea Ubah Jam Kerja Guru, Mulai Berlaku 1 April 2026

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 581
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo kembali menunjukkan komitmennya dalam menghargai dedikasi para pahlawan tanpa tanda jasa. Sebagai bentuk apresiasi terhadap pengabdian guru, Wali Kota Adhan Dambea resmi menetapkan kebijakan perubahan jam kerja khusus bagi guru dan tenaga kependidikan. Kebijakan strategis ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 April 2026 dan menyasar seluruh tenaga pendidik berstatus […]

  • Adhan Dambea Tegaskan Siap Tindak Tegas Caffe dan Warung Penjual Miras di Kota Gorontalo

    Adhan Dambea Tegaskan Siap Tindak Tegas Caffe dan Warung Penjual Miras di Kota Gorontalo

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Calon Wali Kota Gorontalo terpilih, Adhan Dambea, menegaskan komitmennya untuk memberantas peredaran minuman keras (miras) di wilayah Kota Gorontalo. Ia menyatakan tidak akan memberi toleransi bagi caffe maupun warung yang kedapatan menjual miras, termasuk menindak tegas oknum yang menjadi backing di balik aktivitas ilegal tersebut. Adhan menuturkan, langkah tegas ini akan langsung ia buktikan setelah […]

  • Hilal Belum Terlihat Saat Magrib, Mengapa Ramadan 2026 Berpotensi Beda Hari?

    Hilal Belum Terlihat Saat Magrib, Mengapa Ramadan 2026 Berpotensi Beda Hari?

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Fajrullah
    • visibility 383
    • 0Komentar

    Menjelang Ramadan 1447 Hijriah (2026 Masehi), umat Islam di Indonesia berpotensi kembali dihadapkan pada perbedaan penetapan awal puasa. Kali ini, pemicunya adalah fenomena astronomis unik: Sang Bulan Baru (Hilal) sejatinya belum lahir saat tanggal 29 Syakban 1447 H. Penentuan awal Ramadan akan berpusat pada Selasa, 17 Februari 2026 (29 Syakban). Kunci perdebatan ada pada waktu […]

expand_less