Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ratusan Santri Seblak Belajar Ekologi dan Toleransi di Festival Jagat

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
  • visibility 53
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NULONDALO.COM – JOMBANG – Ratusan santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) mengikuti rangkaian acara Fun Games dalam Festival Jagat di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Agenda ini dirancang secara khusus sebagai ruang edukasi alternatif yang mengenalkan isu ekologi, etika digital, hingga nilai-nilai karakter bangsa melalui metode permainan interaktif.

Kegiatan tersebut difasilitasi oleh sejumlah komunitas penggerak, antara lain jaringan GUSDURian dari berbagai wilayah, Kampoeng Sinaoe, hingga Kampung Lali Gadget.

Masing-masing komunitas membawa pendekatan spesifik, mulai dari permainan tradisional, medium kartu edukasi, hingga permainan modern, untuk membuktikan bahwa pemahaman nilai substansial dapat diserap peserta didik secara efektif tanpa harus bergantung pada metode ceramah satu arah di dalam ruang kelas.

Fokus konservasi kawasan pesisir dibawakan oleh GUSDURian Subang melalui program bertajuk ‘Amal Mangrove’. Di lantai dua Gedung MTs Salafiyah Syafiiyah, lebih dari 40 peserta didik diajak memahami fungsi ekologis melalui permainan memori, ular tangga, dan susun gambar (puzzle).

Fasilitator GUSDURian Subang, Ahmad Syifa Sidik, menjelaskan bahwa pendekatan ini dipilih untuk memenuhi kebutuhan penyampaian materi lingkungan yang ramah anak.

Menurut Ahmad, antusiasme tertinggi terlihat pada sesi permainan susun gambar.

“Sesi puzzle mengasah otak sekaligus mengenalkan dampak nyata jika mangrove rusak dan bagaimana kondisinya jika lestari,” kata Ahmad.

Di ruang kelas berbeda, GUSDURian Makassar menggunakan media kartu kuartet untuk mengajarkan klasifikasi sampah dan konservasi kepada sekitar 45 santri.

Fasilitator membagi peserta ke dalam sepuluh kelompok kecil agar interaksi berjalan optimal. Fasilitator GUSDURian Makassar, Indri, menyebut permainan ini dirancang untuk merombak stigma negatif, agar limbah dipandang sebagai material yang bisa diolah menjadi kompos.

Selain isu sampah, fasilitator juga menyisipkan refleksi krisis sumber daya air. Danu, fasilitator lainnya, mengingatkan peserta untuk bersyukur atas kemudahan akses air bersih di Jombang, yang kontras dengan realitas di beberapa desa dampingan mereka di Sulawesi.

Fasilitator lain, Indi pun mengapreasi atas semangat dan keterlibatan aktif peserta dalam mengikuti fun games. Ia pun mendorong para peserta untuk menjadi lebih peka terhadap penggunaan air.

“Adik-adik harus mulai gerakan kecil, seperti segera memelankan kran yang menyala keras sebagai bentuk penghematan,” tambah Indri.

Pendekatan pengenalan karakter diusung oleh GUSDURian Mojokerto yang menguji coba prototipe Kartu 9 Nilai Utama Gus Dur. Sesi ini dikemas secara kompetitif menggunakan instrumen proyektor dan kartu.

Peserta dari tingkat SMP/MTs dibagi ke dalam tiga kelompok untuk beradu cepat menjawab studi kasus riil, seperti etika komunikasi saat sekelompok murid membuat akun media sosial palsu, hingga penolakan musyawarah desa oleh pemuda karang taruna.

Sistem poin diterapkan secara tegas: jawaban benar pertama mendapat tambahan 10 poin, benar kedua 20 poin, sedangkan jawaban salah dikurangi 5 hingga 10 poin.

Penggerak GUSDURian Mojokerto, Arini, menyatakan bahwa permainan ini merupakan tahap uji interaksi sebelum diintegrasikan ke kurikulum rutin Rumah Belajar binaan mereka.

GUSDURian Semarang turut hadir membawa kelas bertajuk Ruang Bercerita. Menggunakan media dakon (congklak), puzzle metamorfosis katak, dan flashcard, peserta diarahkan mengenali relasi dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Proses dimulai dengan penulisan identitas serta harapan di sticky notes, sebelum peserta dibagi menjadi lima kelompok. Fasilitator Anna menggunakan kepingan puzzle katak untuk menganalogikan kehidupan manusia.

Ia menegaskan kepada para santri bahwa setiap individu membutuhkan tahapan faktual dan tidak instan dalam mencapai cita-cita, sama halnya dengan metamorfosis katak dari fase telur hingga dewasa.

Upaya mengenalkan kembali kearifan lokal turut didukung oleh kehadiran komunitas Kampung Lali Gadget asal Sidoarjo, yang secara khusus memadukan pelestarian budaya dan kesadaran ekologi.

Kampung Lali Gadget mengajak 45 santri di Festival Jagat bermain aneka permainan tradisional, seperti cublak suweng dan jamuran, guna menekan dampak buruk kecanduan gawai.

Fasilitator Ahmad Irfandi menegaskan bahwa masifnya penggunaan gawai telah merampas ruang interaksi sosial anak, sehingga aktivitas fisik dan pembuatan wayang bambu ini menjadi metode strategis untuk mengembalikan kepekaan mereka terhadap lingkungan sekitar.

Sebagai penyeimbang dari dominasi permainan tradisional dan medium kartu, Kampoeng Sinaoe, lembaga pemberdayaan masyarakat asal Desa Siwalanpanji, Sidoarjo, menyuguhkan permainan modern bertajuk Mission X di area TK Khoiriyah mulai pukul 09.30 WIB.

Perwakilan tim Kampoeng Sinaoe, Edwin Firmansyah, menjelaskan bahwa pihaknya sengaja mengambil langkah berbeda agar rangkaian permainan terasa lebih beragam.

Dalam Mission X, santri diwajibkan menyelesaikan tantangan berbasis kekompakan tim di lima pos secara berurutan. Setiap kelompok dipacu oleh tenggat waktu yang ketat, yakni 8 hingga 9 menit per pos.

“Tujuannya memberikan tantangan agar peserta bisa bersinergi dan menyelesaikan masalah di dalam tim,” tegas Edwin.

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kabar Duka: Kiai Imam Aziz, Murid Gus Dur dan Intelektual NU, Wafat di Usia 63 Tahun

    Kabar Duka: Kiai Imam Aziz, Murid Gus Dur dan Intelektual NU, Wafat di Usia 63 Tahun

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Dunia aktivis sosial dan warga Nahdlatul Ulama (NU) tengah berduka. Salah satu tokoh penting pergerakan Islam progresif, KH. Imam Aziz, wafat di usia 63 tahun pada Sabtu dini hari (12/7/2025) di Yogyakarta. Kiai Imam dikenal luas sebagai murid langsung Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia adalah figur kiai sekaligus intelektual yang aktif […]

  • PMD Maros Ungkap Penyebab Dua Desa Belum Serap ADD 100 Persen

    PMD Maros Ungkap Penyebab Dua Desa Belum Serap ADD 100 Persen

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Serapan Alokasi Dana Desa (ADD) di Kabupaten Maros tahun anggaran 2025 hampir mencapai target maksimal. Namun demikian, masih terdapat dua desa yang belum mampu menyerap ADD secara penuh, yakni Desa Tunikamaseang, Kecamatan Bontoa, dan Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Maros, Idrus, mengungkapkan belum maksimalnya serapan […]

  • Petuah yang Disangka Mantra

    Petuah yang Disangka Mantra

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Suaib Prawono
    • visibility 510
    • 0Komentar

    Saya masih ingat betul suasana Kongres Kedua Rakyat Mandar di Assamalebuang, Majene, sekitar tahun 2002 silam. Di tengah ruangan yang hening, budayawan Mandar; Muis Mandra yang kala itu tampil sebagai pembicara menyampaikan sebuah pasang (petuah). Dengan suara yang menggelegar, ia melafalkan petuah leluhur Mandar yang terdengar begitu sakral hingga membuat para peserta terpesona. Petuah itu […]

  • NU dalam Cengkeraman Kekuasaan: Ke Mana NU Bergerak?

    NU dalam Cengkeraman Kekuasaan: Ke Mana NU Bergerak?

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Misbah Yamin
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Satu abad Nahdlatul Ulama (NU) seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai keberhasilan organisasi keagamaan bertahan dalam lintasan sejarah bangsa, tetapi juga sebagai momentum evaluasi kritis atas arah gerak institusionalnya. Dalam konteks ini, pertanyaan nya “Ke mana NU bergerak?” bukanlah ungkapan emosional, melainkan problem akademik tentang representasi, otonomi organisasi, dan relasi kuasa antara agama dan negara. Secara […]

  • Cerita Gus Dur yang Berpulang Bersama Jenderal Salim

    Cerita Gus Dur yang Berpulang Bersama Jenderal Salim

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 799
    • 0Komentar

    Ada sebuah kisah yang sejatinya akan terdengar pada peringatan Haul ke-16 Gus Dur, yang diselenggarakan di Masjid At-Taqwa, Pambusuang, Polewali Mandar, 12 Februari 2026. Kisah itu semula hendak disampaikan oleh Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga. Namun, cerita sejarah tersebut tampaknya tidak akan pernah terucap, sebab Puang Salim, sapaan akrab beliau telah berpulang ke hadirat […]

  • Masyarakat Adat Halmahera Timur Murka, Ultimatum Amin Bahrun Segera Buka Inaport dan EPNBP

    Masyarakat Adat Halmahera Timur Murka, Ultimatum Amin Bahrun Segera Buka Inaport dan EPNBP

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 242
    • 0Komentar

    Kemarahan masyarakat adat Maba, Halmahera Timur mencapai puncaknya. Mereka menuding Amin Bahrun, yang hanya berstatus Pjs KTT PT ANI, bertindak semena-mena dengan menjadikan laut Maba sebagai lokasi parkir tongkang berminggu-minggu. Hal ini sengaja tongkang tersebut telah di Sandra oleh saudara Amin Bahrun sangat berbahaya terhadap pencemaran laut dan akan menghancurkan mata pencaharian nelayan tradisional. ” […]

expand_less