Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Idul Adha: Antara Pengorbanan, Air Mata, dan Harapan Ampunan Allah

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
  • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
  • visibility 123
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hari raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum agung untuk meneguhkan iman, membersihkan hati, serta merenungi makna pengorbanan dan ketaatan yang diwariskan Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Ismail alaihissalam. Di tengah gemuruh dunia yang sering melalaikan manusia dari Tuhannya, Idul Adha hadir mengingatkan kita bahwa kehidupan sejati bukan tentang siapa yang paling kaya dan paling berkuasa, tetapi tentang siapa yang paling ikhlas dalam mencintai Allah, paling tulus dalam berkorban, dan paling sungguh-sungguh dalam memohon ampunan-Nya.

KHUTBAH PERTAMA

Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil hamd…

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah…

Hari ini, umat Islam di seluruh dunia bertakbir mengagungkan dan membesarkan Allah Swt. Di tanah suci, jutaan jamaah haji sedang berkumpul di Mina dan Arafah. Sementara kita di tanah air berkumpul di masjid dan lapangan dengan gema takbir yang sama. Meskipun kita tidak sedang berdiri di Padang Arafah, sesungguhnya ruh Arafah dan ruh pengorbanan Nabi Ibrahim hadir di tengah-tengah kita pada hari raya ini.

Takbir yang kita kumandangkan bukan sekadar kalimat yang mengalir di bibir dalam bisu, melainkan denting sukma yang menggetarkan relung-relung jiwa. Ia adalah tarian kalbu yang mengagungkan keagungan Allah yang tiada tara, Sang Maha Besar yang merajai langit dan bumi. Oleh karena itu, saya selaku khatib mengajak diri saya sendiri beserta saudara-saudari sekalian: mari tundukkan hati dan jiwa kita, singkirkan kesombongan dan angkuh yang menjauhkan kita dari rahmat Ilahi, sebab sebesar apapun kedudukan kita dalam dunia ini, di

hadapan Allah kita hanyalah hamba yang lemah, berpasrah sepenuh jiwa. Karena, hanya Allah yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, yang tiada banding dan tandingan-Nya.

Idul Adha, bukan hanya tentang penyembelihan hewan qurban. Idul Adha adalah momentum untuk mengenali diri. Mengenali betapa lemahnya kita di hadapan Allah. Mengenali betapa banyak dosa yang selama ini kita sembunyikan di balik senyum dan penampilan kita.

Kadang, kita terlihat baik di hadapan manusia, tetapi hati kita jauh dari Allah. Kadang, lisan kita dipenuhi dzikir, tetapi hati kita masih dipenuhi iri, dendam, dan kesombongan. ,Kadang kita sibuk memperbaiki citra di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki diri di hadapan Allah Swt. Padahal, suatu hari nanti, seluruh jabatan, seluruh kemewahan, seluruh pujian manusia akan dan ditanggalkan dan ditinggalkan ketika sang penguasa kehidupan yaitu ajal datang menagih janji. Karena sejatinya, ajal itu pasti datang dan semua makhluk hidup pasti akan merasakannya. Sebagaimana firman Allah Swt:

(ﻛُ ﱡﻞ ﻧَﻔْﺲٍ ذَاﺋِﻘَﺔُ اﻟْﻤَﻮْتِ)

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Hari raya ini sejatinya sedang mengajarkan kepada kita tentang arti pengorbanan. Lihatlah Nabi Ibrahim alaihissalam…

Beliau diuji dengan sesuatu yang paling beliau cintai. Putra yang lahir setelah penantian panjang. Putra yang menjadi cahaya mata dan penghibur hati serta pelipur lara di usia tua. Tetapi ketika Allah memerintahkan untuk mengorbankan Ismail, Nabi Ibrahim tidak membantah. Dan lebih menggetarkan lagi, Nabi Ismail juga tidak menolak dan memberontak. Beliau berkata:

 

 

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kepasrahan penuh keikhlasan dari hati yang paling murni dan rohani itulah yang mengalirkan spirit pengorbanan dan keteguhan yang tak tertandingi dalam sejarah. Meski iblis berupaya menggoda dengan bisikan dan rayuan, Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail tak tergoyahkan. Bahkan, Siti Hajar pernah berkata, “Jika memang perintah Allah, aku pun siap menggantikan Ismail.”

Tetapi dengan rahmat-Nya, Allah mengganti Ismail dengan seekor kibasy dari surga, menyatakan bahwa pengorbanan itu adalah ujian, sekaligus rahmat bagi hamba-Nya yang beriman.

“Dan   Kami   tebus   anak   itu   dengan   seekor   sembelihan   yang   besar.”

(QS As-Shaffat : 107)

Saudara-saudaraku, Ini dalah bukti, bahwa hanya dengan keikhlasan jiwa dan ketulusan hati, pertolongan Allah akan segera datang. Bahkan, anugerah-Nya terkadang melebihi ekspektasi kita sebagai manusia.

Saudara-saudaraku…

Allah sebenarnya tidak membutuhkan darah Ismail. Allah juga tidak membutuhkan darah hewan qurban kita. Allah hanya ingin melihat: apakah cinta kita kepada-Nya lebih besar daripada cinta kita kepada dunia. Karena itu Allah berfirman:

 

“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.”

Hari ini, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apa yang paling sulit kita korbankan demi Allah? Ego kita? Kesombongan kita? Kebencian kita? Ataukah dosa yang terus kita pelihara?

Kalau Ibrahim rela mengorbankan sesuatu yang paling beliau cintai demi Allah, lantas, kenapa kita sangat susah untuk berkorban demi Allah? Mengapa kita masih sulit meninggalkan maksiat? Mengapa kita masih sulit memaafkan dan sulit untuk meminta maaf? Mengapa kita masih mudah menyakiti sesama?

Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil hamd…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Hari raya ini juga, sejatinya harus menjadi momentum untuk menangisi dosa-dosa kita kepada kedua orang tua. Idul Adha hendaknya menjadi momentum membangun kembali silaturrahmi yang terjalin renggang oleh jarak, perselisihan, atau kesibukan dunia. Rasulullah SAW sendiri

bersabda:

 

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang       siapa       tidak       menyayangi,       maka      dia       tidak       akan       disayangi.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah panggilan untuk membuka pintu maaf, menghapus permusuhan, dan menyambung kembali tali kasih yang Allah perintahkan. Karena, sejatinya, silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan menambah keberkahan hidup, serta mengokohkan ukhuwah yang merupakan pondasi seluruh kebaikan. Terkhusus, bakti kita kepada kedua orang tua yang telah bersusahpayah membesarkan kita.

Saudara-saudariku…

Hari ini , coba kita renungkan dosa-dosa kita. Coba hadirkan Kembali dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Mari kita mengingat dosa kita, khususnya kepada kedua orang tua kita. Betapa banyak anak yang sibuk mengejar dunia tetapi lupa memeluk ibunya yang sudah tua renta, bahkan kulitnya sudah keriput dikarenakan seluruh hidupnya digunakan untuk bekerja dan berusaha untuk membahagiakan anak-anaknya. Tapi, apa yang mereka dapat dari anak-anaknya? Tidak jarang dari mereka yang mendapatkan perluan kasar dari anak-anaknya.

Betapa banyak anak yang lembut kepada orang lain tetapi keras kepada ayahnya? Padahal ayah dan ibu kita adalah manusia yang paling tulus mencintai kita. Bahkan, malam-malam mereka selalu dipenuhi doa untuk kebahagiaan dan keselamatan kita. Tetapi sayang seribu sayang, balasan kita hanya kesibukan dan kelalaian.

Hari ini…Kalau ibu kita masih hidup, ingat wajahnya. Kalau ayah kita masih hidup, ingat tangannya yang dahulu bekerja demi kita. Dan kalau mereka sudah wafat…Maka jangan tahan air mata kita di momentum ini. Doakan mereka. Sebab, saat ini, di alam kubur sana mereka sedang menunggu doa anaknya. Allah berfirman:

وَﺑِﺎﻟْﻮَاﻟِﺪَﯾْﻦِ إِﺣْﺴَﺎﻧًﺎ

“Hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.”

Saudara-saudaraku…

Di tengah suasana Idul Adha ini, Rasulullah SAW juga mengingatkan kita agar menjaga persaudaraan dan jangan saling melukai.

Oleh karena itu, hari ini, kita juga harus menangisi dosa kita kepada sesama manusia. Betapa banyak lisan kita melukai. Betapa banyak fitnah kita sebarkan. Betapa banyak orang yang diam-diam menangis karena sikap kita. Padahal Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah suci.”

Beliau juga bersabda:

“Janganlah kalian kembali menjadi kafir sepeninggalku, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain.”

Betapa Rasulullah ﷺ takut umatnya saling menyakiti. Takut umatnya saling membenci. Takut umatnya saling menghancurkan. Tapi lihatlah hari ini…Betapa mudah manusia menghina saudaranya sendiri. Betapa mudah manusia menyebar kebencian. Betapa mudah manusia memutus persaudaraan hanya karena perbedaan. Padahal Idul Adha datang membawa pesan kasih sayang dan pengorbanan.

Hari ini coba kita bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang paling kita cintai selain Allah? Harta? Jabatan? Popularitas? Atau dosa yang tidak pernah mau kita tinggalkan? Kalau Ibrahim rela mengorbankan Ismail demi Allah… Mengapa kita tidak mampu mengorbankan ego demi meminta maaf? Mengapa kita tidak mampu meninggalkan dosa demi menggapai ridha Allah?

Saudara-saudaraku…

Tidak ada satu manusiapun setelah Rasulullah yang ma`sum atau luput dari salah dan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

ﻛﻞ ﺑﻨﻲ آدم ﺧﻄﺎؤون وﺧﯿﺮ اﻟﺨﻄﺎﺋﯿﻦ اﻟﺘﻮاﺑﻮن

 

“Setiap anak cucu Adam pasti pernah berdosa. Tetapi, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan dan dosa adalah mereka yang bertaubat”.

Sejatinya, Allah Swt tidak pernah mencari orang yang tidak pernah melakukan salah dan dosa. Tetapi, Allah senantiasa mencari orang-orang yang tidak pernah lelah untuk kembali kepada-Nya. Mungkin, kita sebagai manusia susah untuk memaafkan kesalah orang lain. Tetapi, Allah tidak pernah letih dan Lelah untuk memaafkan dan mengampuni semua kesalahan hamba-Nya. Yang Allah butuhkan dari kita adalah i`tiraf pengakuan diri selaku hamba yang lemah, pengakuan atas dosa yang telah kita lakukan dan pengakuan bahwa, meskipun dosa-dosa saya menumpuk setinggi gunung, tetapi saya memiliki Rab, Tuhan yang Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun serta Maha Penerima Taubat, dan rahmat-Nya lebih besar dan lebih luas dari segala sesuatu.

أﻗﻮل ﻗﻮﻟﻲ ھﺬا، وأﺳﺘﻐﻔﺮ ﷲ اﻟﻌﻈﯿﻢ ﻟﻲ وﻟﻜﻢ وﻟﺴﺎﺋﺮ اﻟﻤﺴﻠﻤﯿﻦ، ﻓﺎﺳﺘﻐﻔﺮوه إﻧﮫ ھﻮ اﻟﻐﻔﻮر اﻟﺮﺣﯿﻢ.

 

KHUTBAH KEDUA

ﷲ أﻛﺒﺮ ﷲ أﻛﺒﺮ ﷲ أﻛﺒﺮ، ﻻ إﻟﮫ إﻻ ﷲ وﷲ أﻛﺒﺮ، ﷲ أﻛﺒﺮ و¨ اﻟﺤﻤﺪ.

اﻟﺤﻤﺪ ¨ ﺣﻤﺪاً ﻛﺜﯿﺮاً طﯿﺒﺎً ﻣﺒﺎرﻛﺎً ﻓﯿﮫ ﻛﻤﺎ ﯾﺤﺐ رﺑﻨﺎ وﯾﺮﺿﻰ، وأﺷﮭﺪ أن ﻻ إﻟﮫ إﻻ ﷲ وﺣﺪه ﻻ ﺷﺮﯾﻚ ﻟﮫ، وأﺷﮭﺪ أن ﺳﯿﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪاً ﻋﺒﺪه ورﺳﻮﻟﮫ، اﻟﻠﮭﻢ ﺻﻞ وﺳﻠﻢ وﺑﺎرك ﻋﻠﻰ ﺳﯿﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ وﻋﻠﻰ آﻟﮫ وﺻﺤﺒﮫ أﺟﻤﻌﯿﻦ.

أﻣﺎ ﺑﻌﺪ، ﻓﯿﺎ ﻋﺒﺎد ﷲ، اﺗﻘﻮا ﷲ ﺣﻖ ﺗﻘﺎﺗﮫ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Hari ini kita bertakbir mengagungkan Allah. Tetapi jangan sampai takbir hanya bergema di lisan sementara hati kita masih dipenuhi kesombongan dan kebencian. Karena hakikat Idul Adha bukan sekadar pakaian baru, makanan melimpah, atau ramainya perayaan.

Hakikat Idul Adha adalah hati yang baru. Hati yang lebih lembut. Hati yang mudah meminta maaf. Hati yang mudah menangis ketika mengingat dosa-dosa. Hati yang lebih peduli kepada sesama.

Saudara-saudaraku…

Kalau sebelum Idul Adha kita mudah menyakiti pasangan, maka setelah ini jadilah lebih lembut. Kalau sebelum Idul Adha kita sering melukai orang tua, maka setelah ini jadilah anak yang berbakti. Kalau sebelum Idul Adha kita mudah memfitnah dan menghina sesama, maka setelah ini jagalah lisan kita. Karena Allah tidak melihat rupa dan penampilan kita, tetapi melihat hati dan amal kita.

Hari ini bangsa kita tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar. Bangsa ini membutuhkan orang yang hatinya hidup. Hati yang penuh kasih sayang. Hati yang takut menyakiti orang lain. Dan sesungguhnya umat ini tidak akan hancur hanya karena musuh-musuhnya. Tetapi umat ini bisa hancur karena saling melukai satu sama lain.

Karena itu, bawalah pulang pesan Idul Adha ini ke rumah-rumah kita:

Jadilah pribadi yang lebih lembut kepada keluarga. Lebih hormat kepada orang tua. Lebih sayang kepada anak-anak. Lebih peduli kepada tetangga. Lebih menjaga persaudaraan sesama muslim dan sesame manusia. Dan tentu, lebih takut kepada Allah Swt.

  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akhirnya Anjing Masuk Surga

    Akhirnya Anjing Masuk Surga

    • calendar_month Sabtu, 26 Feb 2022
    • account_circle Dr. Hi. Mansur Basie
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Kalau ada hewan atau binatang yang berterima kasih (numpang viral) karena hiruk pikuk social media dua hari terakhir ini, maka binatang itu adalah anjing. Betapa tidak, tanpa diminta “persetujuannya”, ia disebut dan diviralkan oleh mungkin dari lebih separuh penduduk negeri +62. Berdasarkan laporan We Are Social dari situs dataIndonesia.com, jumlah pengguna aktif media sosial di […]

  • Nusron Wahid Targetkan Semua Rumah Ibadah Bersertipikat: “Jangan Sampai Ada yang Belum”

    Nusron Wahid Targetkan Semua Rumah Ibadah Bersertipikat: “Jangan Sampai Ada yang Belum”

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 214
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Upaya penyelesaian sertipikasi tanah wakaf dan rumah ibadah di Indonesia terus diperkuat dengan melibatkan peran strategis tokoh-tokoh keagamaan. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menegaskan komitmennya untuk mempercepat sertipikasi aset keagamaan demi memberikan kepastian hukum dan mencegah konflik di masa mendatang. “Karena itu Bapak-bapak sekalian, hari ini kita […]

  • Pemprov Sulsel Genjot Preservasi Jalan Paket 3 Senilai Rp478,1 Miliar, Ruas Strategis di Pinrang Dikebut

    Pemprov Sulsel Genjot Preservasi Jalan Paket 3 Senilai Rp478,1 Miliar, Ruas Strategis di Pinrang Dikebut

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 236
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) terus menggenjot penanganan preservasi jalan melalui Paket 3 dengan total anggaran mencapai Rp478,1 miliar. Program ini mencakup penanganan jalan sepanjang 254,85 kilometer yang tersebar di 15 ruas jalan pada sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan. Salah satu ruas yang saat ini tengah dikerjakan berada di Kabupaten Pinrang, yakni […]

  • “Tuhan-tuhan Kecil” Yang Suka Menghukumi

    “Tuhan-tuhan Kecil” Yang Suka Menghukumi

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Lagi-lagi belakangan ini media sosial kita khususnya Facebook, dipenuhi dengan berbagai postingan yang mengekspresikan penolakan terhadap keberadaan kelompok LGBT di Gorontalo. Banyak pengguna yang mengangkat isu seperti “Tolak LGBT”, “Selamatkan Gorontalo sebagai Serambi Madinah dari Kelompok LGBT”, dan “Hilangkan kaum LGBT dari Bumi Gorontalo”. Fenomena ini mencerminkan adanya gelombang penolakan yang kuat terhadap keberadaan LGBT […]

  • Aliansi Pemuda Kalumbatan Gelar Aksi Jilid V, Desak Pemdes Segera Perbaiki Jembatan Rusak

    Aliansi Pemuda Kalumbatan Gelar Aksi Jilid V, Desak Pemdes Segera Perbaiki Jembatan Rusak

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 306
    • 0Komentar

    Banggai Kepulauan, nulondalo.com – Aliansi Pemuda Kalumbatan kembali menggelar aksi demonstrasi jilid V di depan Kantor Desa Kalumbatan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Senin (6/7/2026). Aksi tersebut merupakan lanjutan dari rangkaian perjuangan masyarakat yang telah berlangsung selama lebih dari empat bulan dalam mengawal berbagai persoalan tata kelola pemerintahan desa. Sejumlah isu menjadi sorotan massa aksi, mulai dari dugaan […]

  • Korporasi Langit

    Korporasi Langit

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 429
    • 0Komentar

    Ramadhan sering dianggap sebagai bulan spiritual, bulan ibadah, bulan diskon pahala. Namun jika kita meminjam kacamata akuntansi—yang biasanya sibuk menghitung debit, kredit, dan laporan keuangan—Ramadhan sebenarnya menyerupai sebuah perusahaan besar. Bukan perusahaan biasa, melainkan semacam holding company raksasa yang dalam bahasa jenaka bisa kita sebut sebagai “Korporasi Langit.” Dalam korporasi ini, manusia adalah para pemegang […]

expand_less