Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Idul Adha: Antara Pengorbanan, Air Mata, dan Harapan Ampunan Allah

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
  • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
  • visibility 163
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hari raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum agung untuk meneguhkan iman, membersihkan hati, serta merenungi makna pengorbanan dan ketaatan yang diwariskan Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Ismail alaihissalam. Di tengah gemuruh dunia yang sering melalaikan manusia dari Tuhannya, Idul Adha hadir mengingatkan kita bahwa kehidupan sejati bukan tentang siapa yang paling kaya dan paling berkuasa, tetapi tentang siapa yang paling ikhlas dalam mencintai Allah, paling tulus dalam berkorban, dan paling sungguh-sungguh dalam memohon ampunan-Nya.

KHUTBAH PERTAMA

Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil hamd…

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah…

Hari ini, umat Islam di seluruh dunia bertakbir mengagungkan dan membesarkan Allah Swt. Di tanah suci, jutaan jamaah haji sedang berkumpul di Mina dan Arafah. Sementara kita di tanah air berkumpul di masjid dan lapangan dengan gema takbir yang sama. Meskipun kita tidak sedang berdiri di Padang Arafah, sesungguhnya ruh Arafah dan ruh pengorbanan Nabi Ibrahim hadir di tengah-tengah kita pada hari raya ini.

Takbir yang kita kumandangkan bukan sekadar kalimat yang mengalir di bibir dalam bisu, melainkan denting sukma yang menggetarkan relung-relung jiwa. Ia adalah tarian kalbu yang mengagungkan keagungan Allah yang tiada tara, Sang Maha Besar yang merajai langit dan bumi. Oleh karena itu, saya selaku khatib mengajak diri saya sendiri beserta saudara-saudari sekalian: mari tundukkan hati dan jiwa kita, singkirkan kesombongan dan angkuh yang menjauhkan kita dari rahmat Ilahi, sebab sebesar apapun kedudukan kita dalam dunia ini, di

hadapan Allah kita hanyalah hamba yang lemah, berpasrah sepenuh jiwa. Karena, hanya Allah yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, yang tiada banding dan tandingan-Nya.

Idul Adha, bukan hanya tentang penyembelihan hewan qurban. Idul Adha adalah momentum untuk mengenali diri. Mengenali betapa lemahnya kita di hadapan Allah. Mengenali betapa banyak dosa yang selama ini kita sembunyikan di balik senyum dan penampilan kita.

Kadang, kita terlihat baik di hadapan manusia, tetapi hati kita jauh dari Allah. Kadang, lisan kita dipenuhi dzikir, tetapi hati kita masih dipenuhi iri, dendam, dan kesombongan. ,Kadang kita sibuk memperbaiki citra di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki diri di hadapan Allah Swt. Padahal, suatu hari nanti, seluruh jabatan, seluruh kemewahan, seluruh pujian manusia akan dan ditanggalkan dan ditinggalkan ketika sang penguasa kehidupan yaitu ajal datang menagih janji. Karena sejatinya, ajal itu pasti datang dan semua makhluk hidup pasti akan merasakannya. Sebagaimana firman Allah Swt:

(ﻛُ ﱡﻞ ﻧَﻔْﺲٍ ذَاﺋِﻘَﺔُ اﻟْﻤَﻮْتِ)

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Hari raya ini sejatinya sedang mengajarkan kepada kita tentang arti pengorbanan. Lihatlah Nabi Ibrahim alaihissalam…

Beliau diuji dengan sesuatu yang paling beliau cintai. Putra yang lahir setelah penantian panjang. Putra yang menjadi cahaya mata dan penghibur hati serta pelipur lara di usia tua. Tetapi ketika Allah memerintahkan untuk mengorbankan Ismail, Nabi Ibrahim tidak membantah. Dan lebih menggetarkan lagi, Nabi Ismail juga tidak menolak dan memberontak. Beliau berkata:

 

 

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kepasrahan penuh keikhlasan dari hati yang paling murni dan rohani itulah yang mengalirkan spirit pengorbanan dan keteguhan yang tak tertandingi dalam sejarah. Meski iblis berupaya menggoda dengan bisikan dan rayuan, Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail tak tergoyahkan. Bahkan, Siti Hajar pernah berkata, “Jika memang perintah Allah, aku pun siap menggantikan Ismail.”

Tetapi dengan rahmat-Nya, Allah mengganti Ismail dengan seekor kibasy dari surga, menyatakan bahwa pengorbanan itu adalah ujian, sekaligus rahmat bagi hamba-Nya yang beriman.

“Dan   Kami   tebus   anak   itu   dengan   seekor   sembelihan   yang   besar.”

(QS As-Shaffat : 107)

Saudara-saudaraku, Ini dalah bukti, bahwa hanya dengan keikhlasan jiwa dan ketulusan hati, pertolongan Allah akan segera datang. Bahkan, anugerah-Nya terkadang melebihi ekspektasi kita sebagai manusia.

Saudara-saudaraku…

Allah sebenarnya tidak membutuhkan darah Ismail. Allah juga tidak membutuhkan darah hewan qurban kita. Allah hanya ingin melihat: apakah cinta kita kepada-Nya lebih besar daripada cinta kita kepada dunia. Karena itu Allah berfirman:

 

“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.”

Hari ini, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apa yang paling sulit kita korbankan demi Allah? Ego kita? Kesombongan kita? Kebencian kita? Ataukah dosa yang terus kita pelihara?

Kalau Ibrahim rela mengorbankan sesuatu yang paling beliau cintai demi Allah, lantas, kenapa kita sangat susah untuk berkorban demi Allah? Mengapa kita masih sulit meninggalkan maksiat? Mengapa kita masih sulit memaafkan dan sulit untuk meminta maaf? Mengapa kita masih mudah menyakiti sesama?

Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahil hamd…

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Hari raya ini juga, sejatinya harus menjadi momentum untuk menangisi dosa-dosa kita kepada kedua orang tua. Idul Adha hendaknya menjadi momentum membangun kembali silaturrahmi yang terjalin renggang oleh jarak, perselisihan, atau kesibukan dunia. Rasulullah SAW sendiri

bersabda:

 

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang       siapa       tidak       menyayangi,       maka      dia       tidak       akan       disayangi.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah panggilan untuk membuka pintu maaf, menghapus permusuhan, dan menyambung kembali tali kasih yang Allah perintahkan. Karena, sejatinya, silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan menambah keberkahan hidup, serta mengokohkan ukhuwah yang merupakan pondasi seluruh kebaikan. Terkhusus, bakti kita kepada kedua orang tua yang telah bersusahpayah membesarkan kita.

Saudara-saudariku…

Hari ini , coba kita renungkan dosa-dosa kita. Coba hadirkan Kembali dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Mari kita mengingat dosa kita, khususnya kepada kedua orang tua kita. Betapa banyak anak yang sibuk mengejar dunia tetapi lupa memeluk ibunya yang sudah tua renta, bahkan kulitnya sudah keriput dikarenakan seluruh hidupnya digunakan untuk bekerja dan berusaha untuk membahagiakan anak-anaknya. Tapi, apa yang mereka dapat dari anak-anaknya? Tidak jarang dari mereka yang mendapatkan perluan kasar dari anak-anaknya.

Betapa banyak anak yang lembut kepada orang lain tetapi keras kepada ayahnya? Padahal ayah dan ibu kita adalah manusia yang paling tulus mencintai kita. Bahkan, malam-malam mereka selalu dipenuhi doa untuk kebahagiaan dan keselamatan kita. Tetapi sayang seribu sayang, balasan kita hanya kesibukan dan kelalaian.

Hari ini…Kalau ibu kita masih hidup, ingat wajahnya. Kalau ayah kita masih hidup, ingat tangannya yang dahulu bekerja demi kita. Dan kalau mereka sudah wafat…Maka jangan tahan air mata kita di momentum ini. Doakan mereka. Sebab, saat ini, di alam kubur sana mereka sedang menunggu doa anaknya. Allah berfirman:

وَﺑِﺎﻟْﻮَاﻟِﺪَﯾْﻦِ إِﺣْﺴَﺎﻧًﺎ

“Hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.”

Saudara-saudaraku…

Di tengah suasana Idul Adha ini, Rasulullah SAW juga mengingatkan kita agar menjaga persaudaraan dan jangan saling melukai.

Oleh karena itu, hari ini, kita juga harus menangisi dosa kita kepada sesama manusia. Betapa banyak lisan kita melukai. Betapa banyak fitnah kita sebarkan. Betapa banyak orang yang diam-diam menangis karena sikap kita. Padahal Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah suci.”

Beliau juga bersabda:

“Janganlah kalian kembali menjadi kafir sepeninggalku, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain.”

Betapa Rasulullah ﷺ takut umatnya saling menyakiti. Takut umatnya saling membenci. Takut umatnya saling menghancurkan. Tapi lihatlah hari ini…Betapa mudah manusia menghina saudaranya sendiri. Betapa mudah manusia menyebar kebencian. Betapa mudah manusia memutus persaudaraan hanya karena perbedaan. Padahal Idul Adha datang membawa pesan kasih sayang dan pengorbanan.

Hari ini coba kita bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang paling kita cintai selain Allah? Harta? Jabatan? Popularitas? Atau dosa yang tidak pernah mau kita tinggalkan? Kalau Ibrahim rela mengorbankan Ismail demi Allah… Mengapa kita tidak mampu mengorbankan ego demi meminta maaf? Mengapa kita tidak mampu meninggalkan dosa demi menggapai ridha Allah?

Saudara-saudaraku…

Tidak ada satu manusiapun setelah Rasulullah yang ma`sum atau luput dari salah dan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

ﻛﻞ ﺑﻨﻲ آدم ﺧﻄﺎؤون وﺧﯿﺮ اﻟﺨﻄﺎﺋﯿﻦ اﻟﺘﻮاﺑﻮن

 

“Setiap anak cucu Adam pasti pernah berdosa. Tetapi, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan dan dosa adalah mereka yang bertaubat”.

Sejatinya, Allah Swt tidak pernah mencari orang yang tidak pernah melakukan salah dan dosa. Tetapi, Allah senantiasa mencari orang-orang yang tidak pernah lelah untuk kembali kepada-Nya. Mungkin, kita sebagai manusia susah untuk memaafkan kesalah orang lain. Tetapi, Allah tidak pernah letih dan Lelah untuk memaafkan dan mengampuni semua kesalahan hamba-Nya. Yang Allah butuhkan dari kita adalah i`tiraf pengakuan diri selaku hamba yang lemah, pengakuan atas dosa yang telah kita lakukan dan pengakuan bahwa, meskipun dosa-dosa saya menumpuk setinggi gunung, tetapi saya memiliki Rab, Tuhan yang Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun serta Maha Penerima Taubat, dan rahmat-Nya lebih besar dan lebih luas dari segala sesuatu.

أﻗﻮل ﻗﻮﻟﻲ ھﺬا، وأﺳﺘﻐﻔﺮ ﷲ اﻟﻌﻈﯿﻢ ﻟﻲ وﻟﻜﻢ وﻟﺴﺎﺋﺮ اﻟﻤﺴﻠﻤﯿﻦ، ﻓﺎﺳﺘﻐﻔﺮوه إﻧﮫ ھﻮ اﻟﻐﻔﻮر اﻟﺮﺣﯿﻢ.

 

KHUTBAH KEDUA

ﷲ أﻛﺒﺮ ﷲ أﻛﺒﺮ ﷲ أﻛﺒﺮ، ﻻ إﻟﮫ إﻻ ﷲ وﷲ أﻛﺒﺮ، ﷲ أﻛﺒﺮ و¨ اﻟﺤﻤﺪ.

اﻟﺤﻤﺪ ¨ ﺣﻤﺪاً ﻛﺜﯿﺮاً طﯿﺒﺎً ﻣﺒﺎرﻛﺎً ﻓﯿﮫ ﻛﻤﺎ ﯾﺤﺐ رﺑﻨﺎ وﯾﺮﺿﻰ، وأﺷﮭﺪ أن ﻻ إﻟﮫ إﻻ ﷲ وﺣﺪه ﻻ ﺷﺮﯾﻚ ﻟﮫ، وأﺷﮭﺪ أن ﺳﯿﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪاً ﻋﺒﺪه ورﺳﻮﻟﮫ، اﻟﻠﮭﻢ ﺻﻞ وﺳﻠﻢ وﺑﺎرك ﻋﻠﻰ ﺳﯿﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ وﻋﻠﻰ آﻟﮫ وﺻﺤﺒﮫ أﺟﻤﻌﯿﻦ.

أﻣﺎ ﺑﻌﺪ، ﻓﯿﺎ ﻋﺒﺎد ﷲ، اﺗﻘﻮا ﷲ ﺣﻖ ﺗﻘﺎﺗﮫ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…

Hari ini kita bertakbir mengagungkan Allah. Tetapi jangan sampai takbir hanya bergema di lisan sementara hati kita masih dipenuhi kesombongan dan kebencian. Karena hakikat Idul Adha bukan sekadar pakaian baru, makanan melimpah, atau ramainya perayaan.

Hakikat Idul Adha adalah hati yang baru. Hati yang lebih lembut. Hati yang mudah meminta maaf. Hati yang mudah menangis ketika mengingat dosa-dosa. Hati yang lebih peduli kepada sesama.

Saudara-saudaraku…

Kalau sebelum Idul Adha kita mudah menyakiti pasangan, maka setelah ini jadilah lebih lembut. Kalau sebelum Idul Adha kita sering melukai orang tua, maka setelah ini jadilah anak yang berbakti. Kalau sebelum Idul Adha kita mudah memfitnah dan menghina sesama, maka setelah ini jagalah lisan kita. Karena Allah tidak melihat rupa dan penampilan kita, tetapi melihat hati dan amal kita.

Hari ini bangsa kita tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar. Bangsa ini membutuhkan orang yang hatinya hidup. Hati yang penuh kasih sayang. Hati yang takut menyakiti orang lain. Dan sesungguhnya umat ini tidak akan hancur hanya karena musuh-musuhnya. Tetapi umat ini bisa hancur karena saling melukai satu sama lain.

Karena itu, bawalah pulang pesan Idul Adha ini ke rumah-rumah kita:

Jadilah pribadi yang lebih lembut kepada keluarga. Lebih hormat kepada orang tua. Lebih sayang kepada anak-anak. Lebih peduli kepada tetangga. Lebih menjaga persaudaraan sesama muslim dan sesame manusia. Dan tentu, lebih takut kepada Allah Swt.

  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sukses Digelar,HARLAH KE 74 dan LDK PD IP DDI Maros Bentuk Kader Muda DDI Berakhlak dan Berdaya Pimpin

    Sukses Digelar,HARLAH KE 74 dan LDK PD IP DDI Maros Bentuk Kader Muda DDI Berakhlak dan Berdaya Pimpin

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 240
    • 0Komentar

    Nulondalo.com,MAROS–Harlah ke 74 IP DDI Dan Semangat spiritual serta kepemimpinan menyatu dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan atau LDK Keagamaan PD IP DDI Kab Maros sukses digelar pada tanggal 24-28 Juni 2026 di Pondok Pesantren Ulumul Qur’an DDI hasanuddin Maros

  • Kebakaran Hebat di Jalan Parwasal, Siantan Utara, Pontianak: Beberapa Rumah Terbakar, Pemadam Dikerahkan

    Kebakaran Hebat di Jalan Parwasal, Siantan Utara, Pontianak: Beberapa Rumah Terbakar, Pemadam Dikerahkan

    • calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 442
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Warga Jalan Parwasal, Siantan Utara, Pontianak, dikejutkan oleh kebakaran besar yang menghanguskan beberapa rumah di kawasan padat penduduk, Rabu (25/3/2026). Insiden ini terekam dalam video berdurasi 46 detik yang memperlihatkan kobaran api menyala terang dan cepat menyebar, menimbulkan kepanikan di antara warga. Video rekaman yang beredar di media sosial seperti Instagram dan Facebook […]

  • Pembangunan Kopdes Merah Putih di Bonto Matene Resmi Dimulai, Menteri Yandri: “Ekosistem Ekonomi Desa Harus Terbentuk”

    Pembangunan Kopdes Merah Putih di Bonto Matene Resmi Dimulai, Menteri Yandri: “Ekosistem Ekonomi Desa Harus Terbentuk”

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 163
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros– Pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Desa Bonto Matene, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, resmi dimulai setelah dilakukan peletakan batu pertama oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) RI, Yandri Susanto, bersama Wakil Menteri Koperasi dan UKM RI, Farida Farichah, Selasa (2/12/2025). Kopdes ini dibangun di atas lahan hibah dari […]

  • Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 246
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wacana mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menguat di kalangan elite politik nasional. Usulan ini memantik perdebatan luas karena dinilai berpotensi menyempitkan hak politik rakyat dan menandai kemunduran demokrasi pasca-Reformasi. Lebih dari dua dekade setelah Reformasi 1998 dan hampir 20 tahun sejak pilkada langsung pertama kali digelar […]

  • Ketika Azan Bersahutan Menjelang Fajar: Rahasia Gorontalo Serambi Madinah yang Masih Terjaga

    Ketika Azan Bersahutan Menjelang Fajar: Rahasia Gorontalo Serambi Madinah yang Masih Terjaga

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Husin Ali
    • visibility 260
    • 1Komentar

    Pukul tiga dini hari. Kota Gorontalo masih terbungkus gelap. Jalan-jalan utama yang pada siang hari dipenuhi kendaraan tampak lengang. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya kekuningan di antara pepohonan yang diam diterpa angin malam. Dari kejauhan, siluet menara-menara masjid berdiri tenang menembus langit yang masih pekat. Pada jam-jam seperti inilah sebuah daerah memperlihatkan wajahnya yang paling jujur. […]

  • Julaybib (Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #1)

    Julaybib (Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #1)

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 354
    • 0Komentar

    Pada edisi Ramadhan 2026 kali ini, saya ingin mengisinya dengan menceritakan orang-orang yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW, yang kita kenal sebagai sahabat Nabi tetapi sangat sedikit disebut dalam catatan sejarah. Julaybib adalah salah satunya. Siapa di antara kita umat Islam yang mengenal sosok ini. Mungkin ada, tetapi sangat sedikit. Termasuk saya yang baru […]

expand_less