Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Khutbah Jumat : Kemenangan Hanya Dapat Diraih dengan Persatuan

  • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
  • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
  • visibility 391
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ada satu ironi besar dalam tubuh umat Islam hari ini: kita sering berbicara tentang kemenangan, tetapi berjalan di jalan yang menjauhkannya.

Kita berdoa agar umat ini kuat, namun pada saat yang sama kita sibuk memperlemah satu sama lain. Kita berharap Islam kembali berjaya, tetapi energi kita habis untuk memperdebatkan hal-hal yang sejak dahulu telah diperselisihkan para ulama—tanpa pernah memutus ukhuwah di antara mereka.

Padahal, sejarah telah mengajarkan kita satu hukum yang tidak pernah berubah: tidak ada kemenangan tanpa persatuan.

Rasulullah ﷺ tidak hanya membangun individu yang saleh, tetapi juga membentuk masyarakat yang saling menguatkan satu sama lain. Bahkan, beliau mengibaratkan umat Islam laksana satu tubuh, yang bilamana salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh lainnya turut merasakannya.

Namun hari ini, tubuh itu terasa mati rasa. Ketika satu anggota tubuh merasa sakit, anggota tubuh lainnya tidak merasakan lagi sakit yang sama. Ini isyarat bahwa, tubuh ini tidak sekedar sakit, bahkan mungkin ia sudah sekarat.

Di tengah realitas seperti ini, khutbah Jumat bukan hanya sekadar ritual mingguan, tetapi ia harus menjadi ruang kesadaran kolektif—mengembalikan umat kepada akar kekuatannya: yaitu persatuan.

Khutbah ini mengajak kita semua untuk merenung: bahwa perbedaan bukanlah sebuah ancaman, tetapi perpecahanlah yang menjadi bencana nyata.

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون

قال الله تعالى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
(QS. آل عمران: 102)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ—takwa yang tidak hanya menghadirkan kita di hadapan-Nya dalam sujud, tetapi juga menghadirkan kasih sayang di antara sesama hamba-Nya.

Karena takwa yang sejati tidak mungkin melahirkan perpecahan, justru seharusnya ia menghadirkan persatuan.

Allah ﷻ berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya:
“Berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)

Dan Allah juga memperingatkan:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

Artinya:
“Janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan.” (QS. Al-Anfal: 46)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Rasulullah ﷺ bersabda:

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد، إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى

Artinya:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan empati mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari ini, kita perlu bertanya: apakah kita masih menjadi satu tubuh? Atau justru menjadi serpihan-serpihan yang mudah dipatahkan? Ibnu al-‘Arabi dalam kitab al-Washaya memberikan perumpamaan bahwa umat ini seperti sapu lidi. Ketika terikat, ia kuat. Ketika tercerai, ia lemah.

Dan hari ini—yang mengkhawatirkan— bukan karena kita sedikit, tetapi karena kita tidak lagi terikat satu sama lain dalam tali Allah.

Ma’asyiral muslimin,

Ada satu ironi besar dalam tubuh umat Islam hari ini: kita sering berbicara tentang kemenangan, tetapi berjalan di jalan yang menjauhkannya.

Kita berdoa agar umat ini kuat, namun pada saat yang sama kita sibuk memperlemah satu sama lain. Kita berharap Islam kembali berjaya, tetapi energi kita habis untuk memperdebatkan hal-hal yang sejak dahulu telah diperselisihkan para ulama—tanpa pernah memutus ukhuwah di antara mereka.

Padahal, sejarah juga telah mengajarkan kita satu hukum yang tidak pernah berubah: tidak ada kemenangan tanpa persatuan.

Kita lihat, bagaimana Rasulullah ﷺ mempersatukan antara kaum muslim Muhajirin dan Anshor. Saat itu, Rasulullah tidak hanya membangun individu yang saleh, tetapi juga membentuk masyarakat yang saling menguatkan satu sama lain. Bahkan, beliau mengibaratkan umat Islam laksana satu tubuh, yang bilamana salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh lainnya turut merasakannya.

Namun hari ini, tubuh itu terasa mati rasa. Ketika satu anggota tubuh merasa sakit, anggota tubuh lainnya tidak merasakan lagi sakit yang sama. Ini isyarat bahwa, tubuh ini tidak sekedar sakit, bahkan mungkin ia sudah sekarat.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Jika kita ingin memahami makna hadis ini “seperti satu tubuh”, maka lihatlah realitas dunia Islam hari ini.

Mengapa rakyat Palestina menderita begitu lama? Bukan semata karena mereka lemah. Bukan pula karena mereka tidak memiliki keberanian.

Tetapi karena—dan ini yang paling menyakitkan— saudara-saudaranya tidak lagi mampu merasakan sakit yang mereka rasakan.

Padahal penderitaan di Gaza telah berlangsung lama dan menelan korban yang sangat besar, yang seharusnya menggugah persatuan dan solidaritas umat Islam.

Sebaliknya, mari kita belajar dari fenomena lain. Mengapa sebuah negara seperti Iran bisa bertahan kuat dalam tekanan global?

Salah satu sebab utamanya adalah: persatuan internal yang relatif solid.

Dari rakyat, pemerintah, hingga elit politik— mereka berdiri dalam satu garis besar kepentingan.

Dari kekuatan persatuan inilah yang membuatnya tetap berdiri tegap di tengah tekanan global, tidak mudah digoyahkan oleh tekanan luar.

Ia berdiri— bagai karang di tengah samudera, diterpa gelombang, namun tidak runtuh.

Ma’asyiral muslimin,

Dari dua realitas ini kita belajar bahwa, perpecahan hanya melahirkan penderitaan yang panjang, dan persatuan akan melahirkan ketahanan dan kekuatan.

Maka, jika umat ini ingin bangkit, hentikan memperbesar perbedaan, tetapi mulailah untuk menyatukan hati dan menyamakan persepsi.

Ma’asyiral muslimin,
Dalam aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dikatakan bahwa:

عن زاهر بن خالد يقول لما قرب حضور أجل أبي الحسن الأشعري في داري ببغداد دعاني فأتيته فقال أشهد أني لا أكفر أحدا من أهل القبلة لأن الكل يشيرون إلى معبود واحد وإنما هذا كله اختلاف العبارات.

Diriwayatkan dari Zahir bin Khalid, bahwasannya beliau bercerita “Ketika telah dekat ajal Abu al-Hasan al-Asy’ari di rumahku di kota Baghdad, beliau memanggilku maka aku pun mendatanginya. Abu al-Hasan al-Asy’ari berwasiat “Aku bersaksi bahwa aku tak pernah mengkafirkan satu pun orang dari golongan ahlul qiblah (umat Islam), karena seluruhnya menghadap kepada Dzat yang disembah yang satu. Dan sesungguhnya perbedaan yang ada adalah perbedaan dalam penjelasannya saja.”

Oleh karenanya, jangan jadikan perbedaan sebagai alasan perpecahan. Karena yang mempersatukan kita jauh lebih besar daripada yang memisahkan kita.

  • Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UU Pers Tak Diskriminatif, MK Sebut Penulis Lepas Punya Payung Hukum Lain

    UU Pers Tak Diskriminatif, MK Sebut Penulis Lepas Punya Payung Hukum Lain

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 263
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers) tidak bersifat diskriminatif meskipun perlindungan hukum dalam Pasal 8 hanya secara limitatif ditujukan kepada wartawan. Menurut MK, penulis lepas, kolumnis, dan kontributor nonwartawan tetap memiliki payung hukum lain di luar UU Pers. Penegasan tersebut disampaikan Wakil Ketua MK Saldi Isra […]

  • Tak Hanya Zakat, Ekonom NU Dorong Optimalisasi Wakaf dan Sedekah untuk Pengentasan Kemiskinan

    Tak Hanya Zakat, Ekonom NU Dorong Optimalisasi Wakaf dan Sedekah untuk Pengentasan Kemiskinan

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 308
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pernyataan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, terkait potensi dan pengelolaan dana umat kembali memantik diskursus publik mengenai peran keuangan sosial Islam dalam pembangunan nasional. Menanggapi hal tersebut, Ekonom Nahdlatul Ulama, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., menegaskan bahwa pengelolaan dana umat tidak boleh berhenti pada zakat semata. “Zakat adalah fondasi. Namun, ekosistem dana […]

  • Atalia Praratya Soroti Maraknya Kekerasan Seksual di Kampus, Minta Tidak Dinormalisasi

    Atalia Praratya Soroti Maraknya Kekerasan Seksual di Kampus, Minta Tidak Dinormalisasi

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 322
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, menyoroti maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia. Ia menilai fenomena tersebut menjadi peringatan serius bagi seluruh pihak untuk tidak menormalisasi tindakan kekerasan seksual dalam bentuk apa pun. Atalia mengaku prihatin terhadap terbukanya berbagai kasus di institusi pendidikan tinggi yang selama […]

  • Camat Bontoa Kukuhkan 25 Anggota Paskibraka Kecamatan Bontoa Tahun 2026

    Camat Bontoa Kukuhkan 25 Anggota Paskibraka Kecamatan Bontoa Tahun 2026

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Bontoa — Camat Bontoa, Muh. Maudu, S.Hut., M.Si., secara resmi mengukuhkan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, pada 16 Agustus 2026. Prosesi pengukuhan berlangsung di Aula Kantor Camat Bontoa. Sebanyak 25 pelajar putra dan putri terbaik dari SMA/MA se-Kecamatan Bontoa dikukuhkan setelah melalui proses seleksi dan pelatihan intensif selama […]

  • Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 376
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pesantren Khatamun Nabiyyin bersama Khatam Institute menggelar Stadium Generale bertajuk “Peran Filsafat dalam Kehidupan Kontemporer: Antara Kemajuan Teknologi dan Krisis Kemanusiaan” pada Rabu, 13 Mei 2026, di Auditorium Khatamun Nabiyyin, Condet, Jakarta Timur. Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. Amsal Bakhtiar sebagai narasumber utama dan dipandu oleh Muh. Agus Salim selaku moderator. Dalam pemaparannya, […]

  • Akuntansi Tidak Menjual Angka, Melainkan Kepercayaan

    Akuntansi Tidak Menjual Angka, Melainkan Kepercayaan

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Sutanti Idris
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Di tengah gelombang transformasi digital, ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, dan otomatisasi mulai mengambil alih berbagai pekerjaan administratif, profesi akuntan kerap dipertanyakan relevansinya. Jika mesin mampu menyusun laporan keuangan dalam hitungan detik dengan tingkat akurasi yang tinggi, apakah akuntan masih dibutuhkan? Pertanyaan tersebut sesungguhnya berangkat dari pemahaman yang keliru bahwa akuntansi hanyalah aktivitas […]

expand_less